
Setelah selesai kuliah Brio ingin mengajak Ayla makan bersama dengannya melanjutkan acara yang kemarin yang sempat tertunda karena Livina.
Namun, saat dia baru saja hendak menghampiri Ayla dan Leva, tiba-tiba ponselnya berdering. Yaris memintanya untuk segera datang ke perusahaan Ayahnya. Ada hal yang harus mereka kerjakan dan hanya bisa dilakukan oleh Brian atau Ayahnya, Jazz H. Soedrajat, saja.
Saat Leva meminta izin untuk Ayla ikut dengannya menonton konser, Brio mau tidak mau mengizinkannya. Daripada menunggunya pulang yang entah kapan, lebih baik bermain bersama temannya, begitu pikir Brio.
"Yaris, ini sudah jam 11 malam apa kamu bisa melanjutkannya sendiri?"
"Sayangnya aku tidak bisa, banyak file yang harus kamu periksa dan tanda tangani disini," jawab Yaris dengan lesu. Bukan tidak ingin dirinya beristirahat, namun pekerjaanlah yang memaksa keduanya harus terus berada disana.
Brio pun dengan lesu mengirimkan pesan pada Ayla untuk jangan menunggunya pulang.
"Huft... Ayah itu kalau bepergian selalu saja menyusahkan anak," keluh Brio.
"Haha, memang kalian itu sama saja."
"Mm, sama-sama menyusahkan menurutmu?" sungutnya serta menghunus tajam Yaris.
"Wah, bentul sih.." ucapnya langsung menyembunyikan wajah. Ia takut sewaktu-waktu Brio memukulnya. Akan tetapi orang yang di takutinya itu malah sibuk membuka dokumen-dokumen lain yang belum terperiksa olehnya.
"Oh ya, Brio. Kamu sudah mengatakan kepada Om dan Tante kalau kamu sudah mempunyai pendamping?" tanya Yaris di sela-sela membuka dokumen.
"Belum," jawabnya singkat.
"Mengapa? Jangan gantungkan status orang lain! Terlebih itu istrimu sendiri," saran Yaris.
"Aku ingin mengatakannya lewat telpon tapi aku takut Ayah dan Bunda tidak akan mempercayainya. Kamu tahu betul awal hubunganku dengannya, bukan? Aku ingin mengatakannya secara langsung tapi mereka sedang berada di Belgia. Dan Niatnya hari ini aku akan mengajak Ayla makan lagi, lalu bersenang-senang. Setelah itu aku akan mengatakan yang sejujurnya. Tapi kenyataannya juga gagal karena pekerjaan ini."
"Mengapa harus lakukan itu semua? Itu 'kan cukup ribet, katakan saja secara langsung! Aku yakin dia akan menerimamu. Lagipula wanita mana yang akan menolakmu?"
"Aku inginnya begitu. Tapi Ayla berbeda. Dia tidak lagi menyukai orang kaya."
"Hah? Hahaha, anehnya dunia ini. Aku baru tahu ada wanita yang seperti dirinya."
"Itulah mengapa aku sangat jatuh cinta padanya. Sangat jatuh cinta," ucapnya sambil membayangkan Ayla.
"Tidak lagi Avanza?" ledek Yaris.
"Tidak!" sahutnya cepat dan ketus.
"Brian, Jangan pernah sekali-kali sakiti wanita!" ucap Yaris dengan pelan namun penuh penekanan. Atmosfer dalam ruangan itu pun berubah menjadi atmosfer yang sangat berbeda.
Brio pun hanya mampu mengangguk mengiyakan ucapan Yaris.
__ADS_1
"Oh, ya. Sepertinya besok pagi sampai siang kamu tidak akan bisa bertemu dengan Ayla dulu. Soalnya kamu harus pergi meeting bersamaku," ucapnya memberitahu.
"Haihh... Bisakah gantikan aku sehari saja?"
****
Pemandangan indah, cuaca yang cerah, dan angin yang berhembus secara halus di taman yang luas nan hijau itu, dua orang manusia yang sedang di mabuk cinta sedang bermanja pada satu sama lain.
Ayla yang sedang berada di pangkuan Brio terus menatapnya penuh cinta. Sesekali dia meminta Brio untuk mengelus kepalanya.
"Brio, bukan rupa dan harta yang aku cari tapi hati. Hatimu mampu meluluh lantahkan diriku. Semula aku hanya memandang orang dengan uangnya saja. Tapi sejak mengenalmu aku tahu bukan rupa yang aku cari bukan harta yang ku dambai tapi kamu dan hatimu. Aku bahagia sudah menikah denganmu. Tuhan memberikanku pasangan yang sangat baik." Ayla mencium tangan Brio dengan lembut.
"Ayla, sebenarnya ada yang harus aku katakan padamu. Aku ingin jujur padamu." Wajah Brio tampak cemas.
"Soal apa, Brio?" Ayla pun mendadak menjadi serius.
"Aku sebenarnya...." lirih Brio pelan.
"Sebenarnya apa?" Ayla terheran-heran.
"Aku..."
"Aku apa?" desak Ayla.
"Apa?" teriak Ayla. Dia langsung bangun dari tidurnya. Mimpi buruk membuat dahinya berkeringat. Selain itu tubuhnya pun lemas dan dadanya merasakan sakit.
Mimpi saja sudah membuatnya sakit apalagi kenyataan. Tidak! Ini hanya mimpi tidak akan terjadi. Ayla menyeka keringat yang ada didahinya itu. Dilihatnya jam baru menunjukan pukul 03.45 pagi. Dia hirup dan hembuskan nafas memperlancar jalannya oksigen dan menenangkan hatinya yang sakit itu.
"Astaga... Kenapa aku memimpikannya? Apa aku merindukannya atau dia yang merindukanku?" tanyanya pada diri sendiri.
"Sebentar lagi pagi. Kalau tidur lagi aku akan kesiangan. Kalau tidak pasti mengantuk. Hah..." Ayla mendengus kesal.
"Seandainya ada Brio mungkin aku tidak akan mimpi buruk. Huh, suamiku itu culun tapi pesonanya besar juga sampai masuk dalam mimpiku." Tampak kedua pipinya sudsh menggembung kesal.
"Eh, tapi kenapa aku begitu familiar dengan kata jujur, ya? Oh, ya. Aku ingat dia ingin mengatakan sesuatu di mall itu. Tapi apa, ya?" Ayla mencoba mengingat-ingat kembali memorinya tiga hari yang lalu.
"Akhir-akhir ini dia juga aneh. Tiba-tiba mempunyai banyak uang. Tidak mungkin itu hanya hasil gajihan dan tabungan. Toh, dia juga tidak pernah begitu sebelumnya. Apa dia mencuri uang bosnya? Atau .... Ah, tidak-tidak. Mana mungkin dia di pelihara tante-tante genit." Pikiran Ayla menjalar kemana-mana. Namun di seperkian detik dia enyahkan lagi pikiran itu.
"Tampangnya saja tidak memungkinkan. Suamimu tidak akan seperti itu, Ayla. Benar dia tidak akan seperti itu!" Ayla beberapa kali menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Daripada fitnah lebih baik esok tanyakan saja pada, Brio. Biar jelas!" ucap Ayla lagi.
***
__ADS_1
Pagi harinya Avanza memulai kembali aktifitasnya berangkat ke kampus. Setelah selama 4 hari dia tidak masuk kuliah karena alasan sakit hati, akhirnya hari ini dia memutuskan untuk masuk dan menghadapi kenyataan.
Apalagi saat tahu Baleno malah memilih mengejarnya daripada tinggal bersama Livina membuatnya semakin percaya diri dan adigung.
"Lihat, Livian! Baru empat hari saja Baleno sudah menelponku sebanyak 2254 kali dan mengirim pesan sebanyak 1542 kali. Dia bahkan tidak memperhatikanmu sama sekali sebagai istrinya. Hah, kamu tidak akan menang melawanku jika soal laki-laki, Livina!" ucap Avanza dengan senyum yang menyeringai.
"Aku akan merebut apa yang aku miliki dan setelah puas aku akan memberikannya lagi padamu . Tunggu saja sampah dariku!" ucapnya lagi seraya mengoper gigi mobilnya. Avanza pun langsung melajukan kembali mobil yang dikendarainya itu.
Di tengah perjalanan dia melihat mobil Bugatti Veyron berwarna biru. Pikirannya melayang pada pertemuannya beberapa tahun yang lalu.
"Apa dia orang yang menyelamatkanku dulu?" tanyanya sambil terus menilik Brian yang hendak masuk ke mobil mewah tersebut.
"Ya, dia laki-laki Bugatti Veyron yang selama ini aku cari itu," seru Avanza dengan bahagianya.
"Aku harus mengikutinya," ucapnya sambil terus mengikuti Yaris dan Brian dari belakang.
Tanpa letih Avanza terus mengikutinya bahkan sampai basement perkantoran.
"Ternyata dia bekerja disini?" tanyanya dalam hati. Akan tetapi diluar sana Yaris memanggil Brian.
"Brian, hari ini kamu akan bertemu dengan klien dari colombia," kata Yaris sampai terdengar ditelinga Avanza.
"Ja-ja-jadi dia adalah Brian?" ucap Avanza dengan mulut menganga tidak percaya.
Lelaki yang di incarnya itu bukanlah laki-laki dari kalangan biasa. Dia terkejut sangat terkejut dengan fakta yang baru saja di saksikannya hari ini. Untung saja dirinya sehat. Jadi dia tidak sampai pingsan mendengar Yaris memanggilnya Brian, anak orang kaya nomor satu dinegaranya.
"Aku harus mendapatkan dia!" ucapnya dengan mantap.
Tentu saja dia tidak akan melepaskan mangsanya begitu saja. Apapun caranya akan dia lakukan. Yang menurutnya harus didapatkan harus tergenggam.
CNP
Continue in my Next Post
...Manusia itu sifatnya antara Jin dan Malaikat....
...Jangan aneh ketemu sama orang jahat sama orang baik! ...
Selamat bobo
Jangan lupa sebelum bobo
Dukungannya dulu 😊
__ADS_1
Thank you!