
"Huh, berita sialan! Langsung menyebar ke mana-mana. Aku tidak menyangka beritanya akan sebesar ini. Pasti Ayah dan Ibuku sudah membacanya," keluh March saat sesudah membaca berita tentangnya.
Kini dia sedang berada di apartemennya bersama sahabatnya, Baleno.
"Hem, kenapa kamu begitu bodoh? Bungkam saja mereka!" ucapnya santai sambil terus mem-push rank game online-nya.
"Baru saja aku lakukan tadi." Dia hempaskan tubuhnya di sofa yang sedang di duduki Baleno.
"Menurutmu apa kasus ini tidak asing?" tanyanya sambil meletakan ponselnya. Dia sudah selesai dengan game-nya itu.
"Tidak asing?"
"Ya, bukankah kita pernah melakukan ini pada seseorang?" Baleno menatap pasti March.
"Brio? Tidak mungkin dia pelakunya. Dia miskin dan ah, biaya kuliah saja dia pakai beasiswa."
"Aku tahu. Tapi aku merasa dia tidak sesederhana itu. Kamu pun tahu 'kan kalau dia tahu rahasia keluargaku? Jika dia orang biasa dia tidak akan tahu apapun tentangku," jelas Baleno.
"Hm, perkataanmu memang ada benarnya juga, tapi aku tidak yakin jika dia yang melakukannya."
"Hm, jika bukan dia lalu siapa? Oh, ya. Kamu pergi terakhir dengan Ayla, bisa jadi wanita itu, 'kan?"
"Tapi apa masalahnya denganku? Aku bahkan tidak pernah mengusiknya sama sekali. Dan lagipula saat itu dia pulang lebih dulu dari pada diriku. Dia mempunyai urusan penting dengan temannya, Leva," papar March lagi. Sungguh dia sangat tidak percaya jika pelakunya adalah Ayla.
"Aku tidak tahu masalahmu dengannya apa? Tapi apa kamu percaya dia punya urusan penting? Setahuku dia wanita yang licik. Jika tidak, tidak mungkin dia menjerat Jimny, ya 'kan?"
"Aku rasa dia tidak menjerat Jimny. Memang Jimny yang jatuh cinta padanya. Kamu tidak tahu dia punya pesona yang tersembunyi," kekeh March.
"Astaga, virus cinta. Kamu sudah jatuh cinta padanya?"
"Tidak. Memang dia punya pesona yang luar biasa. Dan jika memang dia pelakunya harusnya aku menemukan rekaman cctv-nya. Tapi saat aku periksa aku tidak menemukannya hanya seorang laki-laki yang membawaku pulang."
"Laki-laki?" March mengangguk cepat. "Kita harus mencarinya sekarang."
"Aduh, kenapa aku begitu bodoh? Kamu benar, Baleno. Kita harus segera mencarinya."
****
Di apartemen Chanwell.
Livina sedang asik mengemil buah mangga muda dan di temani drama china Go Go Squid yang dibintangi oleh Li Xian. Drama yang sangat romantis dengan karakter Li Xian yang pendiam, dingin, dan cuek. Membuatnya terbayang pada seseorang yang selama sebulan ini menemaninya. Siapa lagi jika bukan Baleno.
"Aish, kenapa aku berpikiran tentangnya? Jelas lebih baik Li Xian daripada dia, ya 'kan? Pemuda itu menyebalkan. Apa yang baik darinya? Hah, otakku sudah tidak waras. Seandainya malam itu dia tidak melakukannya, mungkin saja hidupku akan bahagia sekarang. Tidak akan di keluarkan dari rumah dan juga tidak akan bersusah payah disini," keluhnya.
"Tenang, Nak! Saat kamu sudah lahir dan memiliki akta bahwa kamu adalah anak kandungnya, kita tinggalkan saja dia. Dia bukan ayah yang baik juga bukan suami yang baik. Jika saja harta Kakek buyutmu tidak dia inginkan mungkin dia sudah membuang kita. Aku harus lebih tegar untuk anakku," monolognya lagi.
__ADS_1
Drtt drtt...
Sebuah notifikasi pesan dari Ayla.
"Wah, lambat sekali dia membalas pesanku." Livina membuka pesan itu.
Hai, Liv! Semalam aku ketiduran. Maafkan aku tidak balas pesanmu. Aku sudah save nomormu. Jika kamu ada perlu apapun katakan padaku. Aku akan datang😊
"Hm, dia pikir aku tinggal sendiri. Aku ada suami meskipun tidak tahu diri," celetuknya.
Karena saat ini dia sedang senggang dan membutuhkan teman, akhirnya Livina memberanikan diri untuk menelponnya.
"Ayla..."
"Hai, Liv!" seru Ayla membalasnya.
"Kamu sedang apa sepertinya sibuk sekali?" Livina melihat Ayla yang sesang memotong buah melon.
"Tidak, Liv. Aku hanya sedang membuat es buah. Mendadak aku mau es buah, cuacanya juga mendukung sekali disini," jawabnya.
"Wah, segar kayaknya, Ayla."
Ayla belum menjawab karena dia sedang menghancurkan es yang ia buat semalam. Hidup sederhana apapun harus dia buat sendiri. Menghemat uang adalah hal utama yang harus dilakukannya.
"Kalau mau kamu tinggal beli, ya. Jangan minta!"
"Haha, nanti kalau habis gajihan aku punya uang, aku traktir kamu sop buah, deh. Itu pun kalau kamu mau."
"Oke, aku tunggu hari gajihannya," candanya.
"Ayla, kamu lihat celanaku tidak?" teriak Brio dari dalam kamar. Seketika wajah Ayla menjadi pias. Salivanya amat sangat susah dia telan. Livina pasti mendengar suara teriakan Brio.
Bagaimana dia menjelaskannya?
"Aduh, aku lupa kalau Brio belum berangkat," batinnya.
Sedangkan Livina mendekatkan telingnya ke ponselnya sendiri. Saat dia mendengar suara laki-laki di rumah Ayla. Suara itu sangat familiar tapi dia lupa siapa pemilik suara itu.
Livina pun menatap heran padanya, seolah tatapan itu meminta penjelasan.
"Ayla..." panggil Brio lagi.
Ayla pun langsung mematikan ponselnya, berharap Livina tidak mendengar apapun.
"Ayla..." Kali ini Brio menghampirinya. Tampak raut wajah Ayla yang kebingungan juga cemas.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanya Brio. "Hai!" serunya lagi saat tak mendapat jawaban. Dia hadapkan istrinya itu padanya.
"Ayla..." ujar Brio yang entah keberapa kali.
"Kamu kenapa sih, teriak-teriak? Yang begitu bisa dicari sendiri 'kan?" Kecemasan itu memenuhi raut wajahnya.
"Ay, aku sudah mencarinya tapi aku tidak menemukannya," tutur Brio. Dia sama sekali tidak tahu kenapa istrinya berubah menjadi seperti ini.
"Kamu kenapa?" Dia tanya lagi.
"Aduh, Brio! Tadi aku lagi ada telpon sama Livina, dan dia pasti dengar suara kamu," kesal Ayla.
"Oh, ya sudah. Jelaskan saja jika kita sudah menikah!" Dengan entengnya dia bicara seperti itu.
"Masalahnya tidak semudah itu, Brio."
"Lalu apa, Ayla? Apa kamu malu punya suami seperti aku? Oh, iya sih. Aku cupu, culun, miskin. Siapa yang tidak malu?" Kini berbalik Brio yang marah padanya.
"Bukan begitu, Brio. Tapi ...."
"Tapi apa, Ayla? Iya, 'kan kamu malu?"
"Kamu mau celana yang mana?" tanya Ayla mengalihkan pembicaraannya.
"Ah, sudahlah. Aku tidak membutuhkannya lagi." Brio hendak pergi dari sana.
"Brio, Brio. Kamu pms ya?" Ayla menangkap wajah Brio yang ditekuk.
"Begini saja, jika kamu malu mengungkap aku sebagai suamimu. Katakan saja kalau aku adalah tetanggamu dan jemuran kita berdekatan. Itu jauh lebih mudah. Tapi jangan anggap aku mengajarimu berbohong!" Kata-kata itu tercetus begitu saja dari dirinya. Saat mengingat jika dia juga sedang melakukan kebohongan ada rasa sedikit merutuki dirinya sendiri. Kenapa dia harus berbicara seperti itu?
Karena tidak ingin terlalu bersalah pada Ayla, Brio memutuskan untuk pergi keluar. Namun tiba-tiba tangan yang masih terasa sedikit dingin itu mencekalnya.
"Tunggu! Ayo, kita bilang kalau kita suami istri!" ajaknya pada Brio. Brio menatapnya penuh heran. Siapa yang tidak heran dengan perubahan Ayla yang mendadak seperti ini?
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tak disangka Livina lebih dulu memberinya pesan.
Ayla, kamu baik-baik saja, bukan?
Dia seperti ingin tahu tentang Ayla. Bukankah karena Ayla juga sudah tahu rahasianya?
Ayla pun segera menghubungi Livina. Saat panggilan itu belum diangkat, tampak Ayla yang beberapa kali menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia sangat bingung harus berbicara seperti apa pada Livina.
Tak hanya itu dalam hati yang paling dalam Brio pun juga tidak tega melihat istrinya yang kebingungan dengan permintaannya itu.
CNP
__ADS_1
Continue in my Next Post.