The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Polisi Tidur


__ADS_3

Setelah makan, Yaris segera berpamitan kepada mereka. Dia tidak ingin mengganggu kebersamaan mereka yang tercipta oleh waktu itu. Kebersamaan yang tidak dapat mereka sangkal lagi.


"Sepertinya aku harus segera pulang dari sini. Tujuanku untuk menginap seminggu sepertinya benar-benar harus dibatalkan," oceh Yaris saat dia mendudukan dirinya di sofa.


"Pulanglah, aku tidak melarang. Tapi ingat, jangan beritahu siapapun tentang pernikahanku apalagi ayah dan bunda. Jika kamu memberitahunya, hmm! Maka tunggu akibatnya," ancamnya.


Dia tidak ingin dimarahi keluarganya karena sudah menikah diam-diam terlebih dengan kejadian yang mengharuskannya menikah. Dan bukan hanya itu, yang menjadi ketakutannya saat ini adalah dia takut tidak bisa mengejar gadis pujaannya lagi.


"Ye, siap..!" ucapnya sedikit malas. Inilah yang tidak membuatnya bisa bergerak bebas. Ketika dia tahu segalanya tapi dia di ancam agar selalu menutupnya rapat-rapat.


"Tapi kamu tidak bisa selamanya seperti itu, Brio. Kamu harus jujur pada orang tuamu dan juga jangan sampai menyakiti wanita. Ingatlah reputasimu.."


"Hais.. Lama tak berjumpa denganku, omonganmu seperti emak-emak.." kekehnya.


"Kamu mengataiku seperti emak-emak sedangkan kamu sendiri seperti nenek-nenek," baliknya lagi.


"Sudahlah, kamu pergi sana!" usirnya sambil melemparkan bantal sofa kearahnya.


"Cihh... Awas saja kalau menghubungiku karena membutuhkanku.." ucapnya lalu dia pergi meninggalkan Brio sendiri.


"Enak saja dia bilang, disini memang siapa yang asistennya," sungut Brio.


Saat rumah dalam keadaan sepi, Brio menjadi kesal karena tidak ada lawan bicara. Akhirnya dia mencari Ayla kekamarnya. Yang sudah lama berada dikamar. Dia takut Ayla melakukan hal-hal aneh, hal-hal bodoh seperti sebelum mereka makan.


**


Setelah makan Ayla masuk kekamar Brio untuk menyegarkan tubuhnya, badannya sudah lengket karena keringat saat dia makan. Belum lagi semalam dia bertarung melawan Jimny.


Huh k*parat itu!


Jika mengingatnya, wajah Ayla menjadi murung kembali. Kali ini bukan murung karena sedih melainkan karena kecewa. Kecewa pada dirinya sendiri yang mempercayakan hatinya, prinsipnya pada orang yang tidak bisa dia percayai.


"Arrrggh, sudahlah Ayla lupakan," monolognya. Saat ini ia tengah merendam dan menggosok badannya menggunakan sebotol sabun. Dia tidak ingin aroma parfum jimny melekat ditubuhnya.


"Sabunnya wangi sekali, aromanya menenangkan sarafku. Tapi jika dilihat mereknya, sabun ini sabun mahal. Apa ini juga milik atasannya? Hehe.. pintar sekali dia me-loby atasannya itu. Sampai-sampai mau memberikan sabun ini," monolognya lagi sambil melihat-lihat sabunnya.


"Pakai saja mumpung gratis, hehe!"


Setelah dia mengguyur badannya, dia memakai handuk yang mana handuk itu adalah milik Brio.


"Tak apalah untuk kali ini saja. Orangnya 'kan sedang mengobrol diluar. Dia tidak akan tahu kalau aku memakai handuknya." Dia berbicara sendiri lagi.


Saat dia keluar dari kamar mandi, dia tidak memperhatikan kesekeliling kamarnya. Sedangkan Brio yang tengah duduk disofa sebrang kasur kingsize-nya, menatap melongo melihat Ayla yang hanya menggunakan handuk miliknya.


"Aaaahhhh..." teriak Ayla ketika dia menyadari ada orang lain selain dirinya.


Secepatnya dia berlari kearah kamar mandi dan menutup pintunya kembali.


"Nyu, kamu sedang apa disana?" teriak Ayla.


Brio yang melihat tingkah laku Ayla hanya tersenyum, kemudian dia dengan sombongnya berbicara, "Ini kamarku, apa aku perlu izin untuk memasukinya?"


"Heh! Kamu taukan disini sedang ada aku?"


"Ya, lalu kenapa? Katanya kamu istriku.." Dia terkekeh geli mengingat Ayla saat memperkenalkan dirinya.

__ADS_1


"Brio, ayolah keluarlah sebentar..!"


"Tidak akan.." kekehnya.


"Kalau kamu tidak mau keluar, maka aku akan mengunci diriku di sini.." Ayla menggunakan trik mengancam.


"Silahkan saja!" tantangnya.


"Ahhh.. Brioo.." ucapnya dengan manja. "Jika kamu mau keluar maka aku akan memasakanmu makanan yang enak, bagaimana??" Kali ini dia akan menggunakan trik penawaran.


"Soal itu....." Dia menjeda kalimatnya.


"Apa? Mau, ya?"


"Tidak, aku masih bisa membelinya sendiri," godanya lagi.


Ayla kesal mendengar setiap jawaban dari Brio. Dia menghentakan kakinya beberapa kali.


"Aarrgh.. Bagaimana ini aku sudah kedinginan.." ucapnya sedikit bergetar.


Brio yang berada didepan pintu kamar mandi, mendengar suara gemetar Ayla. Dia benar-benar dalam kondisi kedinginan.


Saat dia hendak mengatakan sesuatu, Ayla langsung berteriak lagi, "Baiklah, apapun yang kamu mau, aku akan memberikannya. Asalkan kamu keluar dulu, aku hanya sepuluh menit dikamar ini.." teriaknya lagi.


Senyum Brio mengembang, seperti kerupuk yang digoreng. "Ok deal! Aku akan keluar dan aku akan mengatakan apa yang aku mau, setelah ini.." Brio pun keluar dari kamarnya dengan perasaan bahagia.


Ayla sedikit mengintip, tidak ada siapapun diluar sana. Akhirnya dia keluar, tapi dia melupakan sesuatu.


Seluruh pakaiannya baik bagian luar maupun dalamnya sudah basah di mesin cuci.


Kini dia sudah tidak memiliki pakaian lagi.


Dihadapannya ada lemari yang cukup besar, otaknya sedikit melalang buana pada drama-drama china dan korea. Banyak wanita memakai pakaian pasangannya, dan itu setelah melakukan sesuatu yang hanya boleh dilakukan oleh sepasang suami istri.


"Apakah aku juga harus mengikutinya? Tapi jika tidak, nanti aku memakai apa?" Bingung dia bingung sekali, apa yang harus dia lakukan?


"Arrgh, kesal pula rupanya jadi orang rajin," gumamnya.


"Ayla, cepatlah! Aku mau mandi..." teriak Brio diluar sana.


"Sebentar.." jawabnya juga dengan berteriak.


"Tidak ada waktu lagi, aku harus memakai pakaiannya.." Ayla langsung menggeledah lemari pria yang menampungnya itu.


Dia terkesima melihat isi lemari milik Brio yang tertata rapih. Dirinya sedikit tidak percaya bahwa lemari yang ada dihadapannya ini adalah milik lelaki yang selalu dia panggil 'Nyu'.


Lemari itu terdiri dari 4 pintu, 2 pintu untuk pakaian yang dilipat dan dua pintu lagi untuk pakaian yang digantung.


Saat melihat pakaian yang digantung, dia melihat hoodie berwarna hitam milik Brio.


Ukurannya cukup besar cocok untuk menutup tubuhnya. Dengan terburu, langsung dia mengambilnya lalu dia mengambil *an* milik Brio yang terlihat masih baru.


Dia letakan handuk itu diatas kasur, dia langsung memakai *an* dan hoodie-nya.


Saat dia akan membuka pintunya ternyata pintu itupun sudah didorong oleh Brio dari luar.

__ADS_1


Krieet


Mata Brio terkunci saat melihat Ayla yang hanya memakai hoodie miliknya, apalagi melihat bagian k*kinya yang terekspose menambah kesan se*si pada dirinya.


Ugh! Sungguh dia menelan ludahnya secara kasar.


Rambutnya yang basah berantakan, memakai pakaian yang seperti itu membuat aura kecantikan Ayla bertambah 50 persen dari sebelumnya.


Saat itu pula dia berjalan maju sedang Ayla yang juga terpaku pada tatapan Brio, mulai berjalan mundur.


Tap


Tap


"Kamu memakai pakaianku?"


"Aku, aku, aku tadi ingin meminta izin tapi tidak sempat. Kamu, kamu tadi bilang ingin cepat mandi.." ucapnya tergagap-gagap.


"Oh, ya?" Brio yang sudah tergoda malah menggodanya kembali.


Bugh


Ayla terduduk di kasur king size-nya. Dia menggunakan tangannya sebagai benteng agar Brio tidak mendekatinya bahkan menyentuhnya se-incipun.


"Brio, Brio jangan seperti ini aku takut..."


Clek.. Air matanya mengalir begitu saja. Ingatannya kembali pada kejadian naasnya


Brio yang tak tahan melihat air matanya, langsung mendekap supaya Ayla menjadi tenang. Dan dia berbisik, "Aku Brio, bukan orang lain. Aku tidak akan melakukan hal diluar nalarku.. Tenanglah! Aku sudah menutup mataku, aku tidak akan melihatmu. Percayalah padaku.."


Dia mengelus punggungnya memberikannya kenyamanan. Tapi saat dia mengelus, dia tidak merasakan polisi tidur di punggungnya.


Seketika saja pikirannya berkeliaran kemana-mana. Dia juga lelaki normal jika dihadapkan dengan sesuatu yang seperti ini tentu saja yang dibawah sana bersorak sorai. Maksudnya adalah kakinya menjadi lemas seketika.😆


Dia membuka matanya, menarik selimut yang ada di kasur itu. Slubb.. Dia menutup Ayla dengan selimut tersebut.


"Nah, jika seperti ini, pikiranku tidak akan ber-traveling kemana-mana dan kamu pun akan aman," ujarnya tanpa menyaring perkataannya lagi.


Sontak Ayla berhenti menangis. Brio benar, pakaiannya tadi memang sedikit menggoda bagi laki-laki normal lainnya.


"Maafkan aku.." Dia tertunduk malu. Tentu hatinya berkata, "Bodoh bodoh bodoh.."


Brio langsung berlari kearah kamar mandinya setelah dia mengambil handuk yang sebelumnya dipakai oleh Ayla.


"Aahhh... Pagi-pagi aku harus mandi dengan air dingin..." keluhnya saat dia sudah berada dikamar mandi.


Sedangkan Ayla yang masih terbelit selimut menjadi tertunduk dan berpikir, "Benar! Aku harus menggunakan pakaian yang tidak mengundang nafsu orang lain.." gumamnya.


"Untungnya Brio adalah pria yang baik. Tidak seperti Jimny.."


Rasa trauma itu memang sulit untuk dihilangkannya. Walaupun sekuat apapun Ayla menghalaunya tapi tetap saja trauma ya trauma. Dia selalu berada melingkari dirinya. Hanya saja kadar traumanya sedikit lebih kecil dari orang lain. Jadi dia bisa sedikit menyembunyikannya dengan cara lain.


CNP


Continue in my Next Post

__ADS_1


Mohon dukungannya. Karena dukungan kalian adalah penyemangatku. Untuk dukungannya bisa berupa Like, komentar, share, vote, rate 5, dan jangan lupa untuk mem-faforitkan novel ini. Stay tuned terus, terima kasih !!


__ADS_2