The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
8.395 Jam


__ADS_3

Kini hari sudah malam. Mereka sudah makan dan kembali pada aktifitasnya masing-masing.


Brio dan Ayla belum menyelesaikan masalahnya juga, tampak dari keduanya masih diam. Brio diam karena dalam pikirannya, dia sedang mencari cara lain untuk kedamaian mereka berdua.


Brio sedang duduk diam di kamar Ayla sambil membaca bukunya. Sementara Ayla yang baru masuk menatapnya sekilas lalu mengalihkannya lagi.


Brio bangkit dan secepat kilat langsung memeluknya dari belakang.


"Maafkan aku, maaf, maafkan aku..." lirihnya tanpa terasa air matanya jatuh di bahu Ayla.


Begitupun sama dengan Ayla. Dia pun menangis tak kuasa menahan ini semua.


"Maafkan aku, Ayla. Aku tidak bermaksud untuk membohongimu. Aku lakukan ini semua demi mendapatkan pasangan yang sepertimu. Mencintaiku tanpa memandang harta, tahta dan rupaku." Ayla tersentak dengan perkataan Brio. Namun, kali ini dia memilih untuk tidak mempercayainya lagi.


"Hum, lepaskan, Brio! Jika Avanza melihat ini pasti dia akan memurkaiku lagi."


"Aku yang akan melindungimu," katanya lagi sambil mengeratkan pelukannya. "Lagipula, aku memeluk istriku sendiri bukan orang lain."


"Tuan Brian, tolong hentikan sandiwara ini!" ucap Ayla berintonasi tinggi sembari meronta melepaskan pelukan Brio. Lalu berbalik menatapnya. "Apa kamu tidak kasihan padaku? Apa kamu ingin melihatku hancur? Jangan pernah memanggilku, istri. Jika dihatimu hanya ada orang lain. Lagi pula aku tidak menikah dengan Tuan Brian. Suamiku, Brio. Si cupu, si culun dan si miskin. Tiga paket lengkap itu melekat dalam dirinya." Beberapa kali air matanya jatuh. Hatinya benar-benar kacau dan berkecamuk hebat.


"Aku Brio-mu.. Dan, dan tetap akan menjadi Brio-mu. Selamanya." Brio pun menitikan air matanya kembali. Setitik kesal dalam dirinya karena pernah melakukan penyamaran. Akan tetapi, jika tidak seperti ini dia tidak akan pernah bertemu Ayla.


"Aku pernah bilang padamu, jika aku ini adik Oddysey. Tapi, kamu tidak mempercayaiku. Aku memang salah mengatakan kebenaran saat sedang seperti itu. Maafkan aku. Selama ini aku bingung, bagaimana caranya mengatakan padamu kalau aku ini Brian Rio. Karena kamu pernah bilang kalau kamu membenci orang kaya. Lalu, kamu juga tidak ingin aku tampil sebagai Brian yang tanpa kacamata dan rambut klimis. Aku semakin bingung dengan permintaanmu itu. Aku takut jika aku mengatakannya kamu akan pergi dariku," papar Brio menjelaskan unek-unek yang ada dihatinya. Ayla pun mencoba mengingat. Ya, dia memang pernah mengatakannya. Jadi, semua ini tidak sepenuhnya salah Brio.


"Ayla..." Brio menggenggam kedua tangan Ayla, "Aku memang menyamar menjadi orang lain. Tapi cintaku bukanlah penyamaran, aku tulus mencintaimu. Aku ingin membahagiakanmu dan aku tidak ingin kamu terluka lagi, menangis lagi. Meskipun itu karenaku. Aku tidak mau... Aku sangat, sangat, sangat mencintaimu," ucapnya sambil menekan kata sangat yang terakhir.


Ditatapnya lagi wajah yang tak akan jemu dia pandangi, wajah yang selama beberapa bulan ini selalu paling pertama dia lihat.


Dari genggaman tangan, beralih ke tangkupan pada kedua pipi Ayla. Menarik wajahnya agar mendekat dengan wajahnya sendiri. Kemudian dia memiringkan wajahnya sekitar 90 derajat ke arah kiri. Lalu,


Cup..


Dia mengecup bibir Ayla dengan sangat lembut selembut krim yang ada di kue tart.


Keduanya tampak menikmati, meski air mata mereka berderai-derai.


Brio, memperdalam ciumannya seolah memberitahukan akan perasaannya yang sangat serius pada Ayla.


Begitupun dengan Ayla yang mulai membalas ciuman Brio. Sekali dua kali dia juga membalas memagut bibir Brio. Dia juga sama ingin mengeluarkan semua perasaan yang membuncah selama ini.


Keduanya tampak diam saat mereka melepaskan pertautannya karena kehabisan nafas.


Canggung, itulah yang mereka rasakan. Meski ini bukanlah yang pertama, tapi rasanya sangat berbeda. Entahlah, apa yang membuatnya beda. Mungkin karena perasaan cinta, rindu, marah, kecewa, sebal bercampur aduk dengan perasaan ingin memiliki satu sama lain.


"Maafkan aku. Aku lancang dan tidak meminta persetujuan darimu dulu." Brio memulai kembali pembicaraannya.

__ADS_1


"Ekhemm..." Ayla hanya berdehem saja. Jujur hatinya sedang bertalu-talu, meloncat-loncat seakan ingin keluar. Sentuhan itu, ah, Ayla tidak akan melupakannya sampai kapanpun.


"Ayla, aku tidak akan pernah membohongimu lagi, apalagi sampai menyelingkuhimu. Tidak akan pernah! Dan jika itu sampai terjadi, maka kamu bebas bertindak apapun padaku. Tapi jangan pernah memintaku untuk bercerai. Karena aku tidak akan menceraikanmu."


"Bagaimana jika dengan perceraian akan membuat hidup kita bahagia? Bukankah setiap pasangan ingin pasangannya yang lain bahagia?"


Ayla menatapnya dengan pasti. Memperjelas hubungan mereka lebih dalam. Jika seandainya ingin bercerai maka lebih baik sekarang saja, jangan menunggu nanti atau akan ada kehancuran lain.


Tiba-tiba Brio terhuyung ke depan.


Srett..


"Brio," jerit Ayla sambil menahan tubuh Brio. Ayla langsung memapahnya dan membaringkannya di kasur. Tampak dirinya sangat panik saat mengetahui Brio yang masih demam.


Ayla hendak keluar untuk mengambil air. Namun, satu tangan menariknya dan Ayla langsung jatuh ke kasur.


"Brio?" terkejut Ayla.


"Sudahlah, jangan protes! Aku hanya ingin memelukmu, selalu," ucapnya seraya memeluk dan menyegel tubuh Ayla dengan kakinya.


"Ka kamu mau apa?" tanya Ayla terbata saat Brio memegang kedua bahunya. Tak dapat di pungkiri, dia masih trauma jika Brio melakukan hal itu.


"Kamu tidak ingin berhadapan denganku?" Memang sedari tadi Ayla membelakanginya.


Setelah saling berhadapan, Brio menempelkan keningnya dengan kening Ayla. Sontak Ayla memejamkan matanya.


"Jangan pejamkan matamu dan lihatlah aku baik baik!" Pandangan mereka pun bertemu setelah Ayla membuka matanya.


"Dengar dan percayalah! Aku tidak akan pernah menceraikanmu dengan alasan membiarkanmu bahagia apalagi dengan orang lain. Aku tidak akan pernah melakukannya," tegas Brio.


"Tapi..."


"Walau nanti kamu tidak bahagia denganku, maka katakanlah apa yang membuatmu bahagia. Asal satu, jangan pernah meminta cerai padaku! Mengerti?" sambung Brio. Mata Ayla menurun ke bawah seolah memikirkan sesuatu.


"Jika kamu meminta bulan padaku, aku akan membayar Nasa untuk mengajakmu menginjakkan kaki disana. Jika aku tidak punya uang, aku akan bekerja sehari semalam. Dan aku akan beristirahat hanya satu jam untuk itu. Dalam setahun ada 365 hari, dalam sehari ada 24 jam. Dan dalam 8.395 jam aku akan terus bekerja dan aku yakin dalam kurun waktu satu tahun aku bisa membawamu ke Nasa," ucapnya begitu lancar dan fasih seperti layaknya sang gladiator cinta.


"Pfftttt," Ayla menahan tawanya yang sedikit keluar dari bibirnya. Apakah benar ini Brio? Atau orang lain yang masuk ke tubuh Brio? Sungguh gombalannya kuat sekali.


"Kenapa kamu tertawa?" Ayla pun diam dan memilih menatap laki-laki yang sedang tidak berjarak dengannya.


"Ayla, tolong! Jangan mendiamiku seperti suami-suami di novel lain. Aku ingin kamu yang cerewet, marah-marah tidak jelas, aku ingin istri yang seperti itu..."


Mendengar kata cerewet dan marah-marah tidak jelas, membuat tingkat kesebalannya meningkat.


"Ooh, jadi aku cerewet? Suka marah-marah tidak jelas?" Ayla membulatkan matanya, menentang laki-laki yang tengah memeluknya itu.

__ADS_1


"Ti tidak, bukan begitu maksudku. Huh..." Brio menghela nafasnya kasar, "Maafkan aku, aku kepeleset bicara," sesalnya sambil menunduk.


Ayla gemas melihat Brio yang meyerah seperti ini. Di kecupnya bibir Brio, yang membuatnya sontak terkejut dan membelalakan mata.


"Sudah, aku tidak marah lagi. Tapi jangan pernah berbohong padaku. Katakan semua apa yang belum aku ketahui. Jangan pernah selingkuh baik di depan, di kiri, di kanan dan di belakangku," pintanya dengan sangat.


"Jadi, kamu sudah memaafkanku?" tanya Brio dengan mata yang berbinar.


"Belum. Aku hanya tidak marah lagi padamu."


"Baiklah, yang terpenting kamu tidak marah lagi padaku," ucap Brio sembari merangkul pinggang Ayla.


"Jangan jadi pembohong yang ulung, ya!" kecam Ayla.


"Hemm..." Brio yang sedang memejamkan matanya, berdehem mengiyakan.


Cup.. Ayla mengecup lagi bibir Brio.


"Vitamin B6 untukmu malam ini. Dan juga supaya kamu sembuh dari demammu..."


Brio membuka matanya, "Ada yang bisa membuatku sembuh langsung dari demam ini."


"Apa?" tanya Ayla terheran. Brio segera membisikinya.


"Brio!" teriak Ayla. Bisikan itu seperti mendayu-dayu ditelinganya. Dengan segera dia membelakangi Brio.


"Maaf, maafkan aku. Aku masih takut," ucap Ayla dengan sedikit gemetar.


"Tidak apa." Brio memeluknya lagi. "Aku akan bersabar dan secepatnya aku akan menghilangkan traumamu itu. Tapi, kamu tahu, 'kan. Itu wajib untuk kita berdua?" Bukannya menjawab Ayla malah berbalik menatapnya.


"Maaf. Kamu mau mengambilnya sekarang?" tanyanya hati-hati. Ditatapnya mata suaminya untuk mencari kebenaran disana.


"Tidak. Nanti saja." Brio menelusupkan wajah Ayla ke dada bidangnya. Dan mereka saling berpelukan. Dia tidak ingin melakukan hubungan yang terjadi dengan keterpaksaan dan ketidak-ikhlasan. Sebab, akan ada orang yang tersakiti, jika itu terjadi. Dan tentu Brio pun tidak akan enak hati mengambilnya.


Akhirnya malam ini berakhir dengan mereka yang berbaikan. Keduanya pun menyambut mimpinya masing-masing dengan pelukan yang erat dari keduanya.


CNP


Continue in my Next Post


...Aku tidak jemu untuk terus meminta dukungan dari kalian. Bagaimanapun aku bukan apa-apa tanpa kalian.....


...Like, share, rate, komentar, faforitkan dan vote serta hadiahnya. Jangan lupa!...


...Terima kasih!...

__ADS_1


__ADS_2