The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Nano


__ADS_3

Ayla menolehkan wajahnya dan cukup terkejut dengan kehadiran seseorang dibelakangnya.


"B...B..B..Brio!" ucapnya gagap.


"Tanganmu lecet 'kan jadinya," ucapnya sambil menarik lengan Ayla. "Pakai sapu tangan ini dan lap seluruh air matamu!" Ayla menerimanya dan segera menghapus jejak air matanya.


Brio segera mengeluarkan plaster dari tas gendongnya, lalu menempelkannya di tangan Ayla seraya berkata, "Mengapa kamu lakukan ini?"


"Tidak apa-apa!" Ayla menarik tangannya. Lalu kembali menghadapkan dirinya kehamparan bangunan-bangunan kecil dibawahnya.


Keduanya nampak diam. Brio bingung apa yang harus dilakukannya? Menyerangnya dengan berbagai pertanyaan tentang sebab akibat dirinya menangis dan berteriak? Atau diam saja seperti ini? Tapi didalam hatinya sungguh dia ingin tahu mengapa Ayla sampai meninju tembok itu dengan tangan kosong.


"Mengapa kamu ada disini?" tanya Ayla memecah keheningan. Dan dia berharap bahwa Brio tidak mendengarkan keluh kesahnya.


"Aku sudah berada disini, jauh sebelum kamu datang."


"Maksudmu? Apakah kamu mendengar semuanya?"


"Yaa semuanya. Dari mulai kamu berteriak tidak jelas sampai kamu berteriak 'Tuhaaaaannn! Mengapa kau melakukan ini? Apakah ini adil untukku? Kau tahu aku hanya ingin hidup dengan tenang! Mengapa semua orang membenciku? Bisakah kau membuat mereka diam?' lalu kamu menghampiri tembok ini dan tiba-tiba saja meninjunya," ujarnya dengan sebenar-sebenarnya.


Ayla hanya diam dia tidak ingin menyahuti Brio.


Tapi Brio ingin dia bercerita.


"Kamu kenapa?"


"Aku tidak ingin bercerita denganmu!" jawabnya dengan ketus. Seperempat kesedihannya ini juga berasal dari Brio. Karena dirinya yang membantu Avanza, jadilah Avanza juga mendapatkan nilai yang sama dengannya, dan orang-orang mencibirnya.


Brio membuka kacamatanya lalu mengelapnya dengan pakaiannya. "Jangan memendam masalah sendiri!"


Clek..


Air mata Ayla kembali menetes, dia kesal dengan orang yang ada dihadapannya ini. Dia kesal dengan teman-temannya yang selalu menghujatinya dengan fitnah-fitnah.


Brio kembali memakai kacamatanya. Lalu menoleh kerarah Ayla. Dia melihat Ayla yang tertunduk dan menangis.


"Loh kok!" Brio menarik wajah Ayla agar menatapnya. "Kan aku sudah bilang, jangan menangis!" Brio mengusap air mata Ayla menggunakan sapu tangannya. Kini mereka sedang menatap satu sama lain.


"Kalau tidak ingin cerita, maka katakan! Apa yang bisa membuatmu tidak menangis?"


"Bisa tidak kamu jangan terlalu manis?" gumamnya tak sadar.


"Hah?" tanya Brio sedikit terkejut.


"Mmm.. maksudku aku ingin yang manis-manis seperti cokelat, eskrim. Makanan itu dipercaya bisa menghilangkan kesedihan," jawabnya gelagapan.

__ADS_1


"Ouhh, ya sudah. Ayo beli!"


"Apa?"


"Beli sekarang, ayo!"


Kini Ayla sudah berada dikantin kampusnya. Es krim sudah ada ditangannya tapi orang yang membelikannya sudah pergi begitu saja.


Menyebalkan!


Ayla kira Brio akan menemaninya nyatanya tidak.


Dia bilang jika dirinya sedang ada urusan mendadak. Entahlah apa itu? Ayla tidak ingin terlalu mengetahuinya.


"Bodoh Ayla! Kenapa tadi kamu bilang dia manis, dan kenapa kamu pikir dia akan menemanimu, " runtuknya dalam hati.


***


Hari sudah berganti dan hari ini adalah hari kedua Ayla bekerja di Kafe Meraki. Dinamakan Meraki karena disini banyak sekali corak dari bulu burung merak. Selain itu Meraki juga dapat diartikan dengan melakukan sesuatu dengan jiwa, kreatifitas dan cinta. Seseorang yang bekerja di sini harus melakukan sesuatu dengan jiwa dan cinta sedangkan kreatifitas sendiri dapat dilihat dari kafe tersebut.


"Mbak Nava, akhirnya kita satu shift."


"Iya. Oh ya, dimeja sebelah sana itu, nanti malam akan ada orang yang memesannya. Kata Pak Manager dipesan oleh seseorang yang akan mengutarakan perasaannya. Jadi dia menyuruhku untuk sedikit mendekorasinya. Kamu mau membantuku?"


"Oh oke!" sahut Ayla cepat.


"Mbak, ini kan malam minggu ya. Romantis sekali orang yang memesan meja itu."


"Iya, Mbak jadi ingat dulu sebelum Mbak nikah, dia lamar Mbak di kafe dekat kampus Mbak. Aduh, romantis deh pokoknya! Apalagi suami Mbak sambil nyanyi loh."


"Mbak Nava sudah menikah? Kok aku baru tahu ya!"


"Loh, kamu ini kemana saja? Setiap hari yang jemput Mbak itu suami."


"Aku kira pacar, Mbak." Ayla terkekeh mendengarnya.


"Ya, banyak yang bilang begitu sih. Mbak pacarannya lama dari zaman SMA kelas 10 terus Mbak kuliah bareng sama dia. Bapak malah minta dia buat nikahi Mbak. Ya sudah, kita menikah."


"Mbak! Aku ingin tanya, walaupun sudah bertahun-tahun rasa cinta itu masih ada tidak sih...?"


"Cinta Mbak ke suami Mbak itu masih ada. Tapi yang lebih besar itu rasa kasihan, sayang. Begitu.."


"Oh begitu ya, Mbak! Mbak, percaya tidak? Jika waktu itu bisa merubah seseorang yang tadinya tidak mencintai jadi mencintai."


"Percaya! Tapi kalau bukan jodoh ya.. jangan dipaksa! Tapi ingat, semua manusia pasti ada jodohnya. Kamu tenang saja, orang baik pasti akan mendapatkan jodoh yang baik."

__ADS_1


"Benar, Mbak!" sahutnya sambil tersenyum.


"Ya sudah, Mbak mau kesana dulu." Navara pun segera meninggalkannya sendiri.


Ayla jadi meratapi nasib dirinya dan juga Brio.


"Memang benar, jika bukan jodoh ya jangan dipaksa! Huh!" Ayla menghembus nafas kasar.


***


Sore ini di kontrakannya, Brio sedang bersiap-siap untuk makan malamnya dengan Avanza. Seperti perjanjiannya kemarin, mereka akan makan malam di sebuah restoran. Tapi Brio tiba-tiba merubahnya menjadi di kafe. Entahlah, semua ini Yaris yang sudah siapkan, dia bilang jika restoran yang di pilih Brio terlalu mencolok dengan keadaannya yang sekarang.


Makan malam ini sebenarnya bukanlah makan malam biasa. Akan tetapi makan malam hari ini adalah sebagai pengutaraan isi hati Brio kepada wanita pujaannya, Avanza.


Dia sudah tidak sabar ingin menjadikannya kekasih dan memperkenalkannya kepada kedua orang tuanya sekaligus membuktikan ucapannya bahwa dia bisa membawa seseorang wanita yang tidak gila harta, tidak pandang fisik dan mempunyai cinta yang suci.


Masalah Baleno adalah masalah terakhir. Brio sudah memegang kartu truf-nya. Dia tahu Baleno sudah dijodohkan dengan Livina sejak dini. Karena itu bagaimanapun caranya, Baleno tidak akan pernah bersama dengan Avanza.


Kacamata sudah dia buat mengkilap, baju sudah dia masukan kedalam celananya dan rambut sudah dia beri pomed. Dia harus menampilkan dirinya yang seperti biasa.


Tentu semua ini dia lakukan untuk mendapatkan cinta yang benar-benar cinta tanpa embel-embel karena.


Kini dirinya sudah berada didalam kafe tersebut. Mendudukan dirinya di meja yang sudah dia pesan. Dan menunggu Avanza yang katanya akan datang dalam 15 menit kedepan.


Ayla yang diperintahkan oleh Manager untuk melayani konsumen terpenting dimalam itu, segera menghampirinya untuk memberikan daftar menu makanan disana, dan menanyakan apa saja yang dia butuhkan.


"Permisi.. Brio!" ucap Ayla terkejut saat tahu orang yang berada dihadapannya adalah suaminya sendiri.


"Ayla.. Kenapa kamu ada disini?"


"Harusnya aku yang bertanya, sedang apa kamu disini? Ini tempatku bekerja."


"Apa?" Kali ini dia lebih terkejut dari sebelumnya. "Tempatmu bekerja?" tanyanya lagi.


Ayla hanya mengangguk tanpa merubah ekspresi wajahnya. "Jadi kamu yang memesan meja ini?"


"Iya!"


"Hi, Brio! Sudah lama menunggu?" ucap Avanza yang baru saja tiba dan langsung menarik kursi untuk duduk.


"Permisi.." Ayla pamit dengan terburu-buru. Dia tidak ingin Avanza tahu bahwa dirinya sedang bekerja disana. Yang ada bisa gempar satu perkuliahan saat tahu dirinya saat ini adalah pelayan kafe biasa.


CNP


Continue in my Next Post ya!

__ADS_1


Di bikin greget aja dulu biar dikomen 😂


Mohon dukungannya. Karena dukungan kalian adalah penyemangatku. Untuk dukungannya bisa berupa Like, komentar, share, vote, rate 5, dan jangan lupa untuk mem-faforitkan novel ini. Stay tuned terus, terima kasih !!😂😂😂


__ADS_2