The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Oo, Kalian Ketahuan!


__ADS_3

Di markas.


Selama dua hari ini March mencari sopir taksi yang membawanya dari Kafe Umai ke jalanan sepi. Dia juga kerahkan anak buah Baleno untuk membantu mencarinya. Dan alhasil hanya dengan dua hari saja dia bisa menemukan sang sopir itu.


"Katakan apa orang ini yang menyuruhmu!" March menunjukan foto Brio.


"Bukan, Tuan. Yang menyuruh saya adalah seorang wanita," ungkapnya. Dia sudah tidak bisa berbohong lagi. Sopir itu sudah di ancam oleh March dengan anaknya yang sedang bersekolah.


"Apakah wanita ini?" Ia tunjukan foto Ayla. Dan sopir itu mengangguk.


"Huh, Ayla, Ayla. Rupanya kamu mencari masalah denganku," ucapnya sembari menyeringai jahat.


Ting..


Sebuah notifikasi pesan dari Baleno.


Brio sedang memboncengi seorang wanita ke arah pasar tradisional. Perawakannya seperti Ayla. Aku tidak bisa mengikutinya lebih jauh lagi. Aku sedang mengantar Livina.


Setelah menerima pesan itu dia memerintah kembali pada kedua anak buah Baleno.


"Urusi dia! Aku ada urusan lain. Soal uang akan ku transfer ke rekening kalian."


"Baik Boss."


March pun segera melajukan mobilnya ke tempat yang dikatakan oleh Baleno. Pasar tradisional yang dekat dengan daerahnya.


Sementara itu Livina dan Baleno, mereka berdua sudah berada di rumah sakit. Livina menunggu antrean yang hanya tinggal dua orang lagi. Baleno pun juga ikut menemaninya. Bukan karena keinginan dan ketulusan hatinya melainkan lagi-lagi karena keterpaksaan dari Ayahnya.


Kini giliran dirinya yang masuk. Sesuai dengan perintah Ayahnya, Baleno kembali mengekori Livina dan masuk ke dalam bersama.


"Apa keluhannya?" ucap Dokter sambil memeriksa tekanan darah Livina.


"Hanya mual saja, Dok."


"Coba ibunya kita timbang dulu." Livina pun mengikuti arahan sang Dokter dan berdiri di timbangan digital. "Oke, berat badannya 50kg ya, Bu." Dokter itu kembali ke kursinya. Dan menulis sesuatu di buku yang biasa di bawa ketika memeriksa kandungan.


"Usia kehamilannnya 8 minggu. Tekanan darahnya normal, dan bayi ibu sehat. Saya akan berikan vitamin supaya kondisi kesehatan ibu juga bayinya tetap terjaga. Tolong, asupan makanan juga harus di jaga, ya, Pak!" ucapnya pada Baleno. Baleno hanya mengangguk mengiyakan.


Sementara diluar sana, di rumah sakit yang sama dengan tempat Livina mengecek kandungan.


Avanza berjalan sambil memegangi secarik kertas berisi resep dokter.


Pagi ini Ayahnya, Alpardh, terserang penyakit lamanya. Dan Avanza diminta dokter untuk mengambil obat untuk Ayahnya itu.


Saat dia berjalan menuju ruang dokter pribadi ayahnya, dia melihat dua sosok orang yang sangat dekat dengannya. Ya, dia melihat Livina dan Baleno yang baru saja keluar dari ruangan poli kandungan.

__ADS_1


Dahinya langsung mengkerut, memperjelas siapa yang dia lihat itu. Dan tebakannya memang benar. Dia sangat hafal dengan dua orang yang sedang berjalan dihadapannya itu.


Secarik kertas itu melayang terbang terbawa angin, sedangkan tangannya menutup mulutnya yang sesaat tadi menganga karena terkejut.


"Livina... Baleno... Poli kandungan?" lirihnya. Sesaat dia diam membisu. Mencerna setiap kejadian yang terjadi sebelumnya.


Mulai dari Baleno yang menghalanginya untuk minum, apartemen, toko peralatan bayi, dan cincin.


"Tidak mungkin!" Tubuhnya lunglai dan hampir saja terjatuh. Kecurigaannya berbuah fakta. Baleno ada hubungan bersama sahabatnya.


Sebelum dua orang itu hilang dari pandangannya, Avanza bergegas mengikuti mereka.


****


Di pasar tradisional.


Ayla dan Brio sudah membeli banyak buah-buahan serta lauk pauk. Yang saat ini dia butuhkan adalah beberapa tepung tapioka dan juga bumbu instan lainnya.


"Kamu mau apa lagi?" tanya Ayla saat setelah selesai membeli bumbu.


"Aku mau makan sama sayur buatan kamu yang biasa itu. Itu enak tahu, sederhana tapi bisa buat aku rindu sama rumah nenek?" ucapnya sedikit keceplosan.


"Nenek?" tanya Ayla dan Brio hanya menyengir kuda sebagai jawaban atas pertanyaannya itu.


Ayla tidak pernah mendengar tentang keluarga Brio yang sebenarnya. Dan baru kali ini dia menyinggung tentang neneknya.


"Ya sudah, ayo kita beli sayuran!" ajak Ayla.


"Kamu sering belanja disini?" tanya Brio sembari menenteng barang-barang belanjaannya.


"Tidak juga. Aku hanya teringat di kampungku saja. Tata letaknya tidak jauh berbeda dengan yang ada dikampungku," jawab Ayla sambil menuntun Brio menyusuri jalanan kecil di pasar itu.


"Nah, itu penjual sayurnya. Ayo kita kesana!" tunjuknya pada penjual sayur yang sedang di kerumuni oleh sekelompok ibu-ibu.


Ayla dan Brio pun berjalan bersama menghampiri penjual sayur. Disana terdapat berbagai macam sayur, bumbu-bumbu instan, bawang, cabai dan juga ikan asin. Lengkap sudah penjual itu berdagang.


"Kenapa aku tidak kesana saja dari tadi? Kalau begitukan aku tidak capek," oceh Ayla dalam hatinya.


Saat Ayla dan Brio datang, sekelompok ibu-ibu pun langsung menatapnya. Mungkin dalam pikiran mereka sangat jarang melihat pasangan muda yang datang bersama dan berbelanja bersama.


Ayla tersenyum ramah pada sekelompok ibu-ibu itu. Sedangkan Brio dia terlihat acuh kepada semuanya. Ada rasa sangat asing karena memang ini yang pertama kalinya dia diajak ke pasar tradisional.


Ayla mulai memilih dan ibu-ibu itu pun juga langsung mulai memilih kembali.


"Nah, kalau timun ini manfaatnya banyak, Bu. Aplagi yang masih segar. Beli yang banyak ya, Bu! Ibu-ibu 'kan suka butuh tuh, kalau Pak suami sedang tidak ada?" kelakar sang penjual yang terlihat cukup dewasa.

__ADS_1


Para ibu-ibu itu pun terkekeh mendengar candaanya. Mungkin mereka biasa dengan keramah tamahan abang sayur yang seperti ini.


Sementara Ayla yang sedikit mengerti hanya menunduk malu, menurutnya kata-kata si penjual itu sangat vulgar. Sedangkan Brio sendiri mencoba memperhatikan apa yang terjadi.


"Hush. Kamu ini..." geram sang teman penjual yang satunya.


"Maaf ibu-ibu dia memang suka bercanda," ujar sang penjual yang terlihat sedikit kalem.


"Haha, tidak apa-apa, Dek! Malah tetangga saya lebih suka yang ungu. Lebih gede katanya," timpal candaan sang ibu yang dari tadi terus memilih sawi.


"Nah itu, Bu. Benar kata tetangga ibu. Puas ya, Bu. Hahaha." Para ibu-ibu itupun koor tertawa lagi.


Brio menyikut Ayla pelan, "Mereka lagi omongin apa sih?" tanyanya penasaran. Sungguh dia belum pernah mendengar istilah-istilah yang mereka ucapkan itu.


"Mereka lagi obrolin harga cabe yang naik," celetuk Ayla. Brio pun mengerutkan dahinya. Sedari tadi dia tidak mendengar kata cabe.


"Bang ini saja bang." Ayla memberikan beberapa sayuran yang dia pilih.


"Semuanya 34 ribu." Setelah membayar semua barang belanjaannya Ayla segera pergi dari sana. Hais, meski sudah pergi pikirannya masih melayang pada kata-kata si abang tukang sayur.


Hah, lain kali dia tidak akan mampir apalagi jika berbelanja bersama suaminya.


"Ay, tadi tukang sayur itu bilang. Kalau tidak ada suami penting buat beli timun, maksudnya apa?" Wajah polos Brio terpampang nyata. Ayla menggaruk-garuk kepalanya yang agak sedikit gatal.


"Sudahlah, jangan tanya-tanya yang tidak penting. Mereka itu tidak jelas," ketus Ayla.


Heran mengapa suaminya masih saja membahas abang sayur somplak.


"Ya, 'kan takutnya aku lagi pergi, bisa saja aku siapin dulu kebutuhan kamu ..."


"Brio!" teriaknya.


Brio pun cukup terkejut. Dia menjadi diam seketika hanya matanya saja yang beberapa kali mengedip-edip.


Kenapa istrinya itu marah, saat dia akan berbuat baik?


"Jangan bicara lagi! Kita pulang!" bentaknya.


Tak apalah, untuk kali ini saja jangan buat dia berdosa karena membentak suaminya itu. Dan tolonglah Tuhan buat suaminya itu sedikit mengerti tentang guyonan mereka.


Tanpa mereka berdua sadari, sedari tadi March mengikuti mereka dan juga mem-videonya.


"Apapun hubungan kalian berdua, kalian akan hancur dengan berita ini," ucapnya disertai seringai senyum jahat.


"Tapi mengapa mereka bisa berhubungan? Ayla membalasku dengan caraku mengerjai Brio. Apa mereka kakak beradik? Tidak, mana mungkin jika mereka kakak adik aku baru mengetahuinya sekarang? Atau lebih dari sekedar itu? Sebaiknya aku terus mengikuti mereka." March menduga-duganya sendiri.

__ADS_1


CNP


Continue in my Next Post.


__ADS_2