
Selama seharian penuh orang yang dibayar Dyna terus mengikuti kemanapun Baleno dan Livina pergi. Dia terus mengumpulkan bukti-bukti untuk di laporkan pada orang yang membayarnya.
Dan hari ini dia mempunyai bukti kuat bahwa mereka berdua mempunyai hubungan yang spesial.
Dirumah Toyota.
Seharian kemarin Avanza terus melamun. Meski sudah ditenangkan oleh Mamahnya. Namun tetap saja kekhawatiran itu selalu membelenggunya. Dia takut apa yang dipikirannya benar-benar menjadi nyata. Baleno menyelingkuhinya dengan Livina. Dia tidak mau, dia sangat mencintai Baleno. Baleno adalah segalanya bagi dirinya. Dan jika bukan dengan Baleno, laki-laki mana yang pantas dengan dirinya? Jawabannya tidak ada. Baleno adalah pasangan yang pantas untuk bersanding dengan dirinya.
"Sayang! Lho, kok kamu melamun saja?" Kecemasan itu terpampang diwajah Dyna. Dia tidak suka melihat anaknya menjadi murung. Karena kemurungan adalah kekalahan yang tertunda.
"Aku takut, Mah. Aku takut mereka benar-benar ada hubungan spesial."
"Tenang, Sayang! Mamah yakin dia tidak seperti itu. Mamah tau dia sangat mencintai kamu. Sudah, tenang! Sebaiknya kamu ke bawah, tenangkan pikiranmu dan rileks saja."
"Mm, begitu ya, Mah?"
"Iya. Ayo!"
Saat mereka baru saja turun dari lantai dua. Tiba-tiba datanglah seseorang yang sudah mereka nanti-nantikan itu.
Avanza dan Dyna pun duduk dan langsung menerima bukti foto yang didapatkan oleh orang bayarannya itu.
"Mahh...." lirihnya saat ia melihat foto Livina masuk bersama Baleno ke dalam apartemennya.
Dadanya bergemuruh, badannya terasa memanas akibat darah yang sudah naik, hatinya terasa sakit. Ternyata mimpi buruk itu menjadi kenyataan.
"Mah..." Air bening itu terkumpul di bibir matanya, "Ini tidak benar 'kan, Mah?"
"Sayang!"
"Ini tidak benar 'kan, Mah?" ucapnya seraya bangkit menjauh dari sang ibu.
"Kamu pasti bohong! Kamu pasti sudah mengeditnya." Tunjuknya pada orang bayaran itu. "Iya 'kan?" tanyanya lagi memastikan.
"Dia tidak mungkin begitu, Mah! Mamah juga tahu 'kan kalau dia mencintaiku. Tidak mungkin! Ini tidak mungkin!" Avanza berlari keluar dari rumahnya.
"Sayang! Sayang! Kamu mau kemana, Sayang?" Dyna pun ikut berlari mengejarnya.
Namun sayang, Avanza sudah melajukan mobilnya. Tak ingin ada apa-apa, Dyna pun segera mengemudikan mobilnya.
"Tidak, tidak mungkin! Baleno tidak akan seperti itu. Akan kupastikan sekarang juga pada orang suruhan Mama. Dia salah mengambil gambar. Tidak mungkin. Itu tidak mungkin, Baleno!" teriaknya masih tidak percaya. Avanza mengemudikan mobil itu seperti orang yang sedang kesetanan.
Dia tidak peduli dengan pengemudi lain diluar sana. Intinya sekarang dia harus menemui Baleno.
__ADS_1
Di apartemen Chanwell.
"Apa? March kamu jahat sekali!" sungut Livina. Dia yang sedang berada di dapur mendengar obrolan antara Baleno dan March yang mengatakan sudah mengerjai Ayla dan juga Brio.
"Memangnya kenapa? Dia juga sudah kelewatan dengan meletakkanku dijalanan," jawab March tak mau kalah.
"March, tapi kamu juga tidak bisa seperti itu. Tidak mungkin Ayla sengaja melakukannya jika dia tidak diusik lebih dulu. Pasti kamu melakukan sesuatu yang membuatnya sakit hati. Dan lebih parahnya kamu membalasnya dengan memfitnah dia sudah menikah dengan si cupu itu. Kamu bukan manusia, March!"
"Liv, kamu ini kenapa sih? Bukankah kamu juga sangat membencinya?" tanya Baleno.
"Dia tidak seburuk yang kalian pikirkan!" tegas Livina.
"Hah," March tersenyum sinis, "Aku pun sama pernah berpikir seperti itu, tapi sekarang tidak lagi. Dia itu wanita ular, Liv. Dan perlu kamu tahu aku tidak memfitnahnya. Dia sudah mengakui bahwa dia sudah menikahi Brio." March menatap tajam pada Livina.
"Bal, aku pergi dulu dari sini. Aku muak dengan orang yang masih membela ular itu." Tatapan itu tidak pernah lepas dari Livina sampai dirinya keluar dari apartemen itu.
"Kamu kenapa sih, Liv? Bukannya aku sudah bilang, jangan campuri urusanku! Tadi kamu secara tidak langsung sudah mengusir March. Dia temanku!" Baleno menghampirnya juga menghunusnya dengan tatapan tajam.
"Apa salahnya? Memang temanmu yang kejam! Semua orang juga punya rahasia, kita juga punya rahasia." Livina melipat kedua tangannya di dada sambil mengalihkan pandangannya.
"Heh!" Baleno mengarahkan Livina untuk berhadapan dengannya, lalu dia menatapnya dengan tajam.
"Jika kamu tidak ingin punya rahasia," ucapnya sambil menunjuk-nunjuk Livina dan menggiringnya menuju tembok.
Sementara diluar apartemennya.
Avanza sedang memasukan kata sandi apartemen Baleno. Dia sangat hapal karena kata sandinya adalah tanggal dirinya dan Baleno lahir serta bulan mereka jadian.
Di dalam apartemen.
"Aku tidak mau!" bisik Livina tepat ditelinganya. Dia sama sekali tidak takut dengan laki-laki dihadapannya itu.
Ceklek...
Pintu terbuka dan pemandangan yang pertama kali dilihat Avanza adalah Baleno yang sedang mengukungnya dan Livina yang sedang mencium pipinya.
"Baleno!" teriaknya. Keduanya menoleh. Avanza langsung menghampirinya. Dengan wajah yang sudah memerah.
Plak.
Dia menampar pipi Baleno. Lalu dia menatap Livina
"Hum, ternyata aku berteman dengan pelakor. Apa ini balasanmu padaku? Kamu mengambilnya dariku!"
__ADS_1
Plak
Avanza pun menampar Livina. Dengan geram dia menjambak rambutnya.
"Arrgghhh..." Tanpa ampun dia menghajar wanita yang tengah hamil muda itu.
"Ah, lepaskan!" jerit Livina sambil mencakar tangan Avanza. Tak mau kalah dari Livina, Avanza pun menginjak kakinya.
"Sayang, Sayang!" Baleno menarik menjauhkan Avanza dari Livina.
"Apa?" teriaknya ada Baleno. "Kamu jahat, Baleno! Jahat!" teriaknya lagi. Kali ini dia menatap laki-laki yang dicintainya itu.
"Kenapa kamu menyelingkuhiku dengan dia?" tunjuk bentiknya pada Livina. Wajah cantik itu, wajah sinis itu sudah dihiasi dengan air matanya.
"Kamu tidak punya hati, Baleno! Dan kamu, aku tidak sudi berteman denganmu lagi!" Dia mendorong Livina. Dan berlari meninggalkan mereka.
Sedangkan Baleno lebih memilih mengejar Avanza dari pada membantu Livina.
Dyna yang baru saja tiba langsung masuk ke apartemen Baleno mencari Avanza.
Akan tetapi bukan sang anak yang dia dapatkan melainkan Livina yang sedang berusaha bangkit.
"Jadi, benar ya. Kamu sudah merebut pacar anak saya! Kamu keterlaluan, Livina! Bahkan seekor anjing pun tidak cocok disandingkan denganmu!" kecamnya lalu dia pun pergi meninggalkannya juga. Ibu mana yang tidak sakit hati saat anaknya dilukai seperti ini. Jawabnya tidak ada! Bagaimana pun bentuk dan caranya seorang ibu adalah malaikat yang tak bersayap bagi setiap anak.
Dengan tertatih Livina mencoba bangkit. Dia menekan tangannya ke tembok untuk membantunya bangkit.
Perutnya terasa sakit sekali. Tiba-tiba darah segar keluar mengucur dari daerah kewanitaannya. Seketika saja Livina menjadi syok, dadanya sakit seperti tertimpa mobil tronton, tubuhnya bergetar, dan air matanya berlinang.
"Tidak!" lirihnya seraya mengusap darah itu dari kakinya. "Tidak mungkin! Nak!" dia mengelus lembut perutnya yang belum membesar itu. Lalu tak lama kemudian tangisnya menjadi pecah. Buru-buru dia menelpon Ayla untuk meminta bantuannya.
CNP
Continue in my Next Post.
Terima kasih sudah mendukung cerita ini. Baik yang hanya nongol, membaca, melike, memberi hadiah dan vote, aku syukrooon banget...
Ahh cinta kalian!
Staytuned terus yaa!
Btw, judul kemarin itu jumlah angka, ya.😂
terima kasih yang sudah memikirkan tentang judul ku 😂😂
__ADS_1