
...Diperuntukan bagi yang sudah menikah!...
...Dimohon untuk yang belum menikah melewati part ini!...
...***...
"Livina??" ucapnya sedikit terkejut.
Dengan setengah mabuk namun masih bisa terkontrol, pria itu mengangkat Livina dan menggendongnya. Pria itu merasa tidak tega melihat seorang perempuan terkapar ditempat umum, apalagi di toilet.
Akhirnya dia membawa Livina ke mobilnya, dan langsung melaju menuju hotel. Tidak mungkin dia mengantarkan Livina langsung kerumahnya dalam kondisi mabuk berat seperti ini.
"Apa disini ada kamar kosong?" tanya Si Pria pada resepsionis hotel. Saat ini mereka sudah berada dihotel.
"Ada, Pak. Silahkan selesaikan administrasinya dulu!" sahut resepsionis tersebut.
Setelah selesai chek-in, "Ini kuncinya, mari saya antar." Pria itu langsung mengikutinya.
"Terima kasih!!"
Pria itupun langsung membaringkan tubuh Livina di kasurnya. Beberapa menit kemudian, dia hendak pergi namun Livina menahan tangannya.
"Uhuk! Uhuk!" Dia membuka matanya. Samar-samar dia melihat seseorang yang begitu mirip dengan pujaannya, Jimny. Dia tersenyum manis.
"Jangan tinggalkan aku.." ucapnya dengan nada suara parau khas bangun tidur.
"Tapi aku harus pulang, Liv!" tolak pria itu dan mencoba melepaskan cengkraman Livina.
"Jangan..!! Temani aku saja..!!" pintanya lagi. Kali ini dia menarik tangan pria yang menolongnya. Bukannya terhuyung jatuh, malah Livina yang tertarik dan bangkit.
"Kamu harus istirahat, Liv!" Pria itu langsung melangkah pergi. Namun sebelum dia sampai pada pintu, sepasang tangan sudah melingkar di badannya.
"Jangan pergi..!! Kumohon jangan pergi..!!" Tangan Livina mulai nakal dan meraba dada sang lelaki. Apapun caranya Livina tidak ingin ditinggalkan oleh orang yang dicintainya.
"Hentikan, Liv!!" bentaknya. Sangat berbahaya sekali jika dia terus merabanya seperti itu. Cepat atau lambat jika dibiarkan pasti dirinya akan terangsang.
"Tidak bisa, hanya kamu yang bisa hentikan. Tolong jangan pergi!" rengeknya. Tangannya terus menggerayang dibagian dada lelaki tersebut. Bahkan satu tangannya sudah masuk kedalam sana, dan menyentuh kulitnya langsung.
"Liv!" bentak pria tersebut dengan geram. Dia membalikan tubuhnya dan memegang erat kedua tangan Livina.
"Kenapa? Kamu tidak ingin menghabiskan malam denganku? Kamu lebih memilih wanita kotor itu, hah! Katakan!" bentaknya sambil terus meronta melepaskan tangannya sendiri. Saat ini dia tengah mabuk berat, dia mengira pria yang ada dihadapannya itu adalah Jimny. Dan maksud dari wanita kotor itu adalah Ayla.
"Aku mencintaimu. Aku.. aku rela melakukan apa saja asalkan kamu bersamaku."
__ADS_1
"Liv, aku tau kamu sedang teler. Dan yang sedang kamu pikirkan adalah Jimny. Bukan aku, aku Baleno.." ucapnya dia berusaha menyadarkannya.
"Bohong! Kamu Jimny.." Livina merapatkan badannya. Dia melingkarkan tangannya pada leher Baleno, mencium bibir Baleno.
"Akkh.." Pekik Livina kesakitan, karena Baleno mengigit bibirnya. "Sayang, jangan main kasar!" ucapnya lalu dengan cepat dia menyambar lagi bibir Baleno, dan memperdalam aktivitasnya.
Saat mereka tengah mengambil nafas, tangan Livina kembali masuk kedalam pakaian Baleno.
Sedangkan tangan yang satunya lagi menarik tengkuk leher Baleno dan memulai kembali aksi yang tadi. Menyatukan kembali kedua pintu masuknya makanan dan minuman.
Livina semakin menjadi-jadi, otaknya sudah tidak waras. Mungkin ini adalah dari efek minuman dan hasrat birahi yang tidak dapat dia kendalikan lagi.
"Kamu yang memaksaku, Livina! Jangan menyesal!" ucapnya.
Baleno yang juga menjadi gila karena kelakuan Livina, kini dirinya sendiri yang saat ini lebih agresif dibanding Livina. Sedangkan gadis itu pasrah saja seperti kambing yang akan disembelih.
Mereka menjatuhkan diri mereka pada kasur king size milik hotel tersebut. Dengan bibir yang masih saling berta*tan. Kemudian menutupinya dengan selimut.
Mereka pun melakukan yang seharusnya dilakukan oleh Brio dan Ayla. Karena hanya merekalah dinovel ini pasangan muda yang sudah halal.
"Terima kasih, Jimny. Aku mencintaimu.." ucap Livina ketika mereka sudah selesai melakukannya. Kemudian dia memeluk dan tertidur dipelukan Baleno yang sudah lebih dulu terlelap.
*****
Karena kelelahan dengan hot activity yang sudah mereka lakukan tadi malam. Keduanya masih belum juga bangun dari mimpinya.
Mereka masih terbuai manja dengan mimpi-mimpi mereka, yang menurutnya sendiri mimpi itu adalah mimpi indah yang pernah ada.
Pukul 10.25 WIB.
Matahari sudah naik kesinggasananya, memancarkan sinarnya kearah jendela kamar mereka. Bumi sudah menjadi terang benderang sejak lima setangah jam yang lalu. Livina pun mengerjapkan matanya. Melihat kesekeliling kamar yang saat ini dia tempati.
Dia mencoba bangkit dari tidurnya, satu tangan kiri sudah memegang kepalanya. Saat dia terduduk, dia merasakan dingin di bagian punggungnya.
Dia mendongkakkan kepala sedikit terkejut, diperhatikannya selimut itu, ada sepasang kaki yang masih terbalut olehnya. Langsung dia melirik kearah depan kirinya.
Matanya membulat sempurna, mulutnya menganga sedangkan nafasnya tercekat. Tidak dihembuskan juga tidak menghirup kembali. Dia sangat sangat terkejut dengan orang yang berada disampingnya.
Dia melihat pada dirinya sendiri, banyak sekali tanda-tanda ikan hias kecil berwarna merah ditubuhnya. Kepalanya bertambah pusing dari sebelumnya, tiba-tiba saja matanya menangis. Sambil mengingat dan menangisi keadaannya.
Huhuhu!
Suara tangisannya lumayan cukup menganggu tidur Baleno. Diapun membuka matanya, memasang wajah tak suka.
__ADS_1
"Berisik, Liv!" bentaknya. Lalu dia memejamkan kembali matanya.
Livina menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Kamu berengsek, Bal. Apa yang semalam kamu lakukan? Kita tidak benar-benar ML, 'kan." Tangisnya kembali pecah.
"Kamu tidak ingat semalam bagaimana liarnya kamu?" celetuk Baleno disela-sela tidurnya.
"Bagaimana jika nanti aku hamil?"
"Ya 'kan bisa aborsi," ucapnya enteng. Seperti tindakan aborsi itu tidak berbahaya dan bukan tindakan membunuh .
"Aborsi? Aku tidak mau. Pokoknya kamu harus menikahiku!"
"Aku yang tidak mau. Lagi pula ini bukan salahku. Kamu yang menggoda aku terlebih dulu."
"Kamu yang tidak bisa tahan."
"Mana ada yang bisa tahan, Liv. Saat kucing diberi ikan. Maka dari itu harus jadi perempuan yang baik. Atau jangan-jangan kamu sering lakukan ini," sindirnya. Padahal ia sudah tahu bahwa dirinyalah orang pertama yang menyentuh Livina. Dia mengatakan seperti itu karena tidak ingin bertanggung jawab.
Livina hanya diam saja, dia tidak menggubris sindiran Baleno. Dirinya sangat takut dimarahi keluarganya, terlebih lagi yang paling dia takuti adalah benih itu berubah menjadi janin dan dia hamil.
Tidak!
Dia tidak mau hamil, apalagi anak itu adalah anaknya dan Baleno. Bagaimana bisa dia hidup dengan kakak dari orang yang dia cintai?
"Pokoknya Liv, aku tidak akan menikahimu. Aku hanya mencintai Avanza, bukan kamu. Masalah ini biar aku cari cara supaya kamu tidak hamil. Aku tidak bisa menikahimu, walaupun dengan perjodohan sekalipun." Baleno pun segera pergi setelah memakai pakaiannya.
Dikatakan tidak punya hati memang sangat tidak punya hati, tapi yang dikatakan olehnya pun ada benarnya, seandainya dia tidak mabuk dan merayunya mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi dalam hidupnya.
"Aaaarrrrghh.."
Dia membanting lampu meja yang da dinakas disamping kasurnya. Dia rusakan properti yang ada di kamar hotel tersebut.
Meratapi kehidupannya yang sudah hancur. Kehormatannya sudah dia berikan pada lelaki yang sama sekali tidak bisa bertanggung jawab. Dan sialnya laki-laki itu adalah pacar dari sahabatnya sendiri..
"Tidak, Liv. Kamu harus kuat, kamu tidak boleh lemah. Obat, obat itu bisa membunuh sel ******. Yaa! Aku harus segera mencarinya. Aku, aku tidak ingin hamil."
Dia pun segera membersihkan dirinya dan langsung mencari obat yang dia inginkan di apotek.
CNP
Continue in my Next Post.
__ADS_1
Mohon dukungannya. Karena dukungan kalian adalah penyemangatku. Untuk dukungannya bisa berupa Like, komentar, share, vote, rate 5, dan jangan lupa untuk mem-faforitkan novel ini. Stay tuned terus, terima kasih !!