
Sore hari setelah pertemuannya dengan klien Ayahnya yang berasal dari Colombia, buru-buru Brian berubah kembali menjadi Brio yang berkacamata dan berambut klimis ala-ala zaman dulu. Tidak itu saja dia juga memakai kemeja dan memasukannya ke dalam celana.
Dia juga kembali menggunakan vespa bututnya dan meninggalkan Bugatti veyron untuk pulang ke kontrakan. Tampak peluh-peluh Brio bercucuran deras. Karena meski sore dan matahari akan pulang ke peraduannya, tapi sinarnya masih memancarkan aura panas.
Dengan cepat dia menembus keramaian jalanan. Tapi pada saat dia tiba, ia tidak mendapatkan kehadiran istrinya, yang di rindukan entah pergi kemana. Di lihatnya jam dinding menunjukan pukul 4 sore.
"Huh, aku berusaha pulang cepat ternyata dia tidak ada. Pasti dia bekerja. Setelah ini aku tidak akan membiarkannya bekerja sedikitpun. Biar saja dia mengikutiku selama 24 jam," gerutunya pada dirinya sendiri.
Jam berganti, tampak matahari sudah tenggelam. Malam menyambut dengan taburan bintang dan bulan. Brio ingin segera bertemu dengan wanita yang dicintainya. Ia pun berniat untuk menjemput sang istri.
Laki-laki itu kembali mengendarai skuter kuning butut miliknya. Jika dibilang butut sih kasihan juga, jika tidak di bilang butut tapi kenyataannya begitu. Ya, bagaimana? Intinya dia teman penjemput cinta sejati.
Tepat jam 9.30 malam, Ayla dan temannya, Mbak Navara, di perbolehkan pulang oleh managernya.
Saat dia akan memesan ojek online, tiba-tiba ada yang mencolek lengannya dari belakang.
Dengan risih Ayla pun membalikan badannya, "Kamu?" tanya Ayla dengan terkejut.
"Hehe, aku datang menjemputmu. Naiklah!" Brio sedikit menolehkan wajahnya kearah belakang, menyuruh Ayla untuk segera duduk.
"Kamu sudah lama menunggu?" tanya Ayla seraya naik ke motor.
"Lumayan. Aku lapar bagaimana kalau kita makan di nasi goreng di depan sana?" tawar Brio. Tapi Ayla diam saja seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kamu tidak takut gemuk, 'kan?" tanyanya khawatir. Setahunya wanita itu sangat ribet makan malam saja katanya pamali, takut gemuk lah, apalah, dan banyak lagi alasan.
"Kata siapa? Aku tidak takut, kok. Aku sedang pikir bagaimana kalau kita makan sate? Sudah lama aku tidak makan sate ayam," ocehnya. Jika terlihat air liur itu seperti akan menetes segera.
"Boleh, ide bagus!" Brio pun segera men-starter motornya.
Kini mereka makan dengan khidmat. 20 tusuk sate ayam mereka bagi dua, ditambah dengan nasi masing-masing satu porsi.
Ayla ingin menanyakan sesuatu pada Brio tentang pekerjaan yang mengharuskannya berlembur. Tapi dia urungkan karena melihat Brio yang makan dengan lahap dan seperti tidak ingin di ganggu.
"Apa dia tidak makan, ya? Jarang sekali dia makan seperti itu," gumam Ayla yang terheran-heran melihatnya.
"Kamu itu makan, ya, hati-hati," cicit Ayla seraya menyeka sudut bibir Brio dengan tisu.
Seketika waktu terasa berhenti, jantung Brio berdetak kencang. Wajah Ayla, hanya wajah Ayla yang memenuhi netra hitam milik Brio.
"Bumbu kacang ke mana-mana." Kekehan Ayla menyadarkannya kembali.
"Hah, masih ada?" Dia kembali menyekanya.
"Sudah aku bersihkan, kok. Makan lagi, ayo!" ucapnya seraya memasukan daging sate kedalam mulutnya.
"Hah, dia sudah menjadi istriku, aku sudah mengatakan jika aku mencintainya, tetap saja bertemu dengannya cinta ini seperti baru lagi," batin Brio sambil menenangkan hatinya yang sedang bertalu-talu.
Setelah kenyang mereka pun kembali pulang. Hari juga sudah menunjukan setengah sebelas malam. Kendaraan pun mulai jarang berlalu lalang. Tapi tiba-tiba sialnya motor itu mogok, sedangkan perjalanan masih satu kilo meter lagi.
Brio memeriksa mesinnya, namun sayangnya dia tidak memiliki kunci untuk membuka.
Dengan terpaksa dan di sertai senyuman kecut dia berlirih, "Ay..."
"Mogok, ya?" tanya Ayla dan Brio tak mampu menjawab hanya sekedar mengangguk saja.
"Ya sudah, kita dorong saja..." ucap Ayla dengan santainya.
"Kamu naik ojek saja, ya! Masih jauh perjalanannya. Kalau jalan kamu pasti capek apalagi habis kerja. Kasihan kaki kamu..." ucap Brio dengan khawatirnya.
"Tidak usah, Brio. Masa kamu aku tinggal disini? Dorong motor lagi. Tidak lah, aku tidak mau. Kita dorong saja."
"Tapi 'kan."
__ADS_1
"Jangan ada tapi!" Ayla langsung mengambil posisinya ke belakang motor. Mendorong skuter kuning itu.
"Ayla, kamu naik saja. Aku kuat kok dorong kamu," saran Brio lagi.
"Tidak lah, ngawur kamu! Nanti kamu juga capek. Lagi pula tadi aku sudah diisi bensin sama kamu, 10 tusuk sate ayam." Ayla terkekeh sendiri.
Mereka pun mendorong motor itu bersama-sama. Seperti halnya pribahasa berat sama di pikul ringan sama di jinjing. Suka duka kehidupan bahtera rumah tangga harus di lakukan secara bersama. Kalau tidak bersama tentu bukan rumah tangga.
"Huh, akhirnya sampai," ucap Ayla. Dia pun segera masuk ke kontrakannya. Lalu membersihkan diri dari keringat yang bercucuran.
"Maafkan aku, Ayla. Bersabarlah untuk seminggu lagi saja. Kamu tidak akan kesusahan seperti ini," batin Brio seraya menatap kepergian Ayla dengan sendu.
Brio menunggu Ayla di kasur sambil memijat pelan kakinya. Ia pun sama lelahnya mendorong motor itu. Kakinya sangat pegal sekali, motor yang disangkanya ringan karena bodynya kecil tapi ternyata berat juga. Ini pun kali pertama baginya mendorong motor. Duh, sebenarnya kehidupan sederhana ini tidak cocok untuknya yang terlahir serba ada.
"Brio..." panggil Ayla, Brio pun mendongkak.
"Aku baru sadar, kok kasurnya kamu satu-in?" tanya Ayla sembari menghampirinya.
"Ah, masa? Kemarin 'kan kamu tidur disini sendiri, terus kemarin malam tidurnya selalu aku peluk. Sudah berapa hari posisinya sudah seperti ini masa kamu baru sadar?" Seketika Brio menjadi cemberut.
"Iya, sih. Tapi aku benar lho, aku baru sadar. Hehe.." Ayla tertawa malu.
Brio menariknya untuk tidur di pangkuan. Dia menatap istrinya, dari wajahnya terpancar lelah.
"Kamu lelah, ya?" tanyanya sambil mengusap pelan kepalanya. Ayla merasa familiar dengan adegan ini. Seketika dia langsung bangkit kembali. Malah kini dia meraih kaki suaminya untuk dipijat.
Dia takut, takut sekali mimpi itu sampai menjadi kenyataan. Bahkan sesuatu yang sama persis dengan mimpinya pun ia berusaha hindari. Ah, boleh katakan dia lebay, karena ketakutannya di permainkan, di khianati oleh suaminya sendiri. Apalagi setelah ia mencintai.
"Ay, kamu kenapa?"
"Kakimu pasti pegal, 'kan? Makanya tadi kamu pijat sendiri.." kilahnya.
"Ah, memang sih. Tapi tidak apa, besok pasti sembuh." Brio mencoba menarik kembali Ayla ke dalam pangkuannya.
Brio yang merasa sedang di hindari pun berpikir keras agar Ayla mau bercerita, mengapa sampai dirinya seperti tadi?
Laki-laki itu juga ikuti jejak istrinya merebahkan tubuhnya dikasur.
Ayla diam matanya pura-pura dia pejamkan.
Grep..
Brio memeluknya dari belakang.
"Kamu marah karena aku menyatukan kasur kita?" tanyanya tapi tidak mendapat jawaban dari Ayla. Orang itu memilih terus berpura-pura tertidur.
"Maaf, Ayla. Aku hanya ingin seperti pasangan halal lainnya saja. Hal yang pertama mereka lihat saat bangun tidur adalah wajah pasangan mereka. Katanya akan membuat hari-harinya menjadi bahagia. Ternyata memang, iya. Aku bahagia menjadi laki-laki yang pertama kali melihatmu bangun tidur," ocehnya. Sedang sang Istri hanya diam mendengarkan.
"Soal yang motor mogok, maafkan aku juga. Sebagai seorang suami harusnya aku membahagiakanmu bukan malah menyusahkanmu," sesalnya.
"Brio, aku tidak marah soal semua itu." Akhirnya Ayla membuka suara, senyum indah terbit di wajah Brio.
"Aku hanya takut," ucalnya kembali merenggut senyuman itu.
"Takut apa?"
"Akhir-akhir ini kamu berbeda sekali." Ayla membalikan tubuhnya menatap sejajar pria yang sudah menjadi suaminya itu.
"Berbeda?" Brio menyernyitkan alisnya.
"Iya. Pertama kamu mendadak kaya. Lalu kerjamu tiba-tiba lembur."
"Lalu apa salahnya dengan itu? Aku 'kan bekerja dengan Yaris dikantor. Wajar 'kan bila aku lembur?"
__ADS_1
"Kamu sungguh bekerja dengan Yaris?"
"Tentu saja, Ayla. Hanya dia bosku.."
"Aku takut kamu menjadi simpanannya tante-tante genit," ucapnya sembari mencebik.
"Apa? Hahahah..." Brio tidak dapat menahan tawanya lagi. Jadi, Ayla mengira dirinya mendapatkan uang dengan cara seperti itu? Haih, sungguh konyol!
"Astaga, Ayla... Aku hanya simpanan seseorang."
"Siapa?" serbu Ayla tidak suka.
"Kamu, aku simpanan kamu," ucapnya lagi dengan masih tertawa. Dia pun mengusap air dari sudut matanya, yang keluar saat dirinya tertawa.
"Ah, Brio..." Ayla mengcerucutkan bibirnya, sebal. Ternyata fakta lain dari suaminya adalah dia sering membuat orang lain jantungan.
"Sudah dong, kamu jangan cemberut begitu." Brio menangkup wajah Ayla.
"Ya, kamu jangan buat aku jantungan," sungut Ayla. Sesaat waktu serasa berhenti, Ayla menatap Brio dengan lekat begitu juga dengan Brio.
Tiba-tiba tangannya terarahkan untuk membuka kacamata Brio dan mengacak-acak rambut klimisnya. Sungguh dia terpesona dengan tampilan Brio yang acak-acakan seperti sekarang.
"Tampan," lirihnya. "Mengapa kamu sembunyikan ketampananmu?"
"Karena aku tidak ingin orang lain melihatku tampan," ucap Brio.
"Bagus, aku lebih suka kamu yang cupu."
Brio memandangnya aneh, mengapa istrinya itu suka dirinya yang cupu?
"Ayla, kamu tidak menyukaiku yang tampan?"
"Tidak, punya suami yang tampan itu ribet. Banyak yang suka," ucapnya dengan lancar merasa bebas hambatan.
"Bukannya bagus?"
"Kata siapa? Tidak, kok. Aku lebih menyukaimu yang seperti ini," ucapnya seraya mengelus pelan pipi Brio.
Huh, aneh saja jika Ayla tak suka. Justru dia lebih suka jika Brio tampil tanpa kaca mata dan rambut yang sudah di klimis jadul.
Tapi dia tidak ingin Brio berubah karenanya dan menjadi tidak nyaman. Meski sebenarnya dia geli dengan penampilan Brio, tapi saat setelah di kontrakan rasa itu hilang seketika. Ya, bisa dikatakan jika sudah di kontrakan masih enak dilihat karena tidak ada acara masuk memasukan baju ke celananya.
"Apa? Jadi, dia menyukaiku yang cupu? Bagaimana caranya aku tunjukan indentitasku yang asli?" batin Brio. Dia terus menatap lekat Ayla. Sesekali ia pun menelan salivanya karena takut.
"Ayla... Sebenarnya..."
Hoaam...
"Maaf, Brio. Hari ini aku sangat lelah dan aku ingin segera tidur. Aku mengantuk sekali, hoamm..." Ayla pun meraih tangan Brio yang masih menangkupnya. Menggenggam erat tangan hangat itu.
Melihat tidur Ayla yang nyaman membuatnya juga menjadi nyaman. Memang benar Ayla adalah istri yang paling sempurna menurutnya. Sudah cantik, baik, tidak menuntutnya soal harta, juga tidak menuntutnya soal rupa. Yang dia butuhkan hanya hati yang setia dan menghargainya. Simpel, keinginannya sangatlah simpel.
"Aku bahagia menikah denganmu, Ayla," gumamnya di iringi dengan senyuman bangga. Senyuman bahagia karena sudah menemukan orang yang dia inginkan selama ini.
"Tapi, semakin kesini aku semakin takut untuk kehilanganmu...."
CNP
Continue in my Next Post
Terimakasih yang sudah mendukung.
Yang mau dan belim mendukung, mari dukung aku! Besok hari senin, vote-nya, vote-nya. 😂😂😂
__ADS_1