
Setelah mengacak-acak seisi kamarnya, Avanza duduk meringkuk memeluk lututnya di tepian kasur. Merasakan sakit rasanya di khianati oleh pacar dan sahabatnya sendiri. Jika di ibaratkan hatinya seperti tertusuk ribuan jarum dan di cincang ratusan samurai.
Sungguh, hatinya tak tersisa lagi.
Laki-laki yang dia cintai ternyata seorang brengsek. Semasa hidupnya baru kali ini dia merasakan pahitnya bercinta.
"Baleno, kamu akan menyesal!" Kata itulah yang sering diucapkannya.
"Sayang, Sayang..." panggil Mamanya dari luar kamar. Tapi, tak satu inci pun pintu kamar putrinya terbuka. Buru-buru dia berlari ke bawah menghampiri suaminya.
"Pah, bagaimana ini? Dia mengunci pintu kamarnya?" ucap Dyna cemas.
"Ya, kamu tinggal minta buka saja," ucapnya acuh sambil terus membaca koran.
"Pah, kamu ini bagaimana sih? Anak kita sedang frustasi. Kok malah kamu biasa saja," sungut istrinya tak suka.
"Dia sudah besar, untuk apa aku urusi lagi. Lagi pula bukankah aku sudah melarangnya berhubungan dengan Baleno? Aku tahu latar belakangnya, tapi dia tetap saja malah memilih Baleno," tuturnya sambil membolak-balikan koran yang ia baca.
"Pah, iya aku mengerti jika kamu sedang marah. Tapi, untuk kali ini saja kamu datang dan menghiburnya," pintanya dengan sangat.
"Aku bukan badut yang pandai menghibur, Dyna!" Sorot mata Alpardh mengatakan jika dia tidak bersedia.
"Kamu kenapa sih, Pah? Selama setahun ini kamu berubah total. Dulu saja saat awal-awal menikah kamu tidak seperti ini," kesal Dyna.
"Heh.." Alpardh mengangkat sudut bibir kanannya. "Aku berubah selama setahun ini karena aku tahu kelakuan culasmu. Kamu 'kan yang membunuh Sienta?"
"Sudah berapa kali aku katakan, aku tidak tahu soal kematiannya." Pandangan Dyna berpindah kearah lain.
"Jangan bohong kamu!" bentak Alpardh. "Semua bukti mengarah padamu. Seandainya saja, seandainya saja kamu tidak membunuh Sienta! Mungkin aku sudah punya penerus sekarang yang bisa membantuku bekerja. Bukan seperti dia yang hanya bisa membuat masalah terus," imbuhnya lagi penuh penekanan disetiap kata-katanya.
Dyna hanya bisa menatap kepergian Alpardh dengan dada yang bergemuruh menahan marah.
"Jadi, dia sudah tahu. Hum," dengusnya kesal. "Tidak apa. Untung saja aku sudah membunuh Sienta yang sedang hamil tua itu. Jika tidak Avanza akan ada saingannya dirumah ini," gumamnya.
Flash back.
Dua puluh tiga tahun yang lalu.
Saat Dyna bekerja sebagai sekretaris Alpardh, ia diam-diam mulai menyukai bosnya itu. Akan tetapi Alpardh sudah memiliki istri yang bernama Sienta. Alpardh amat sangat mencintainya sehingga tidak ada satu celah pun bagi Dyna untuk merebutnya.
Tapi, bukan Dyna jika dia tidak memiliki rencana untuk merebut apa yang dia inginkan.
Suatu hari Alpardh dan dirinya terpaksa bekerja lembur. Dan dikesempatan itulah dia mulai mencari kesempitan. Dia seduhkan teh tidur untuk bos tercintanya, lalu memfotonya bersama dengannya. Dia buat seakan mereka sudah melakukan hal yang dilarang agama. Lalu tentu saja dia kirimkan foto itu pada Sienta.
Akan tetapi rencana liciknya tidak berhasil. Sienta yang tengah hamil tua memilih untuk bertahan dalam mahligai rumah tangganya. Tentu Dyna merasa geram. Dia buat mobil yang Sienta kendarai rem-nya blong. Dan dia menuntun Sienta lewat pesan untuk masuk dalam jebakannya, yaitu pergi ke puncak. Dan Sienta pun terjerembab jatuh ke jurang yang di lewatinya.
Boom
Mobil itu meledak dan hangus terbakar. Senyum Dyna mengembang lebar. Jika Sienta meninggal maka kursi nyonya dirumah Alpardh akan kosong. Dan dia memaksa Alpardh untuk bertanggungjawab kepadanya.
Flashback off.
Di perusahaan Honda.
__ADS_1
"Aku sudah menduganya semua itu pekerjaan March, tapi aku tidak bisa menuduhnya secara langsung," ujar Brio pada Yaris.
"Lalu bagaimana? Kamu ingin aku memberesinya sekarang?" tanya Yaris yang sudah siap tempur.
"Tidak, aku ingin bermain-main dengannya dulu. Biarkan saja dia seperti itu. Aku akan mencari cara lain agar dia tidak mampu menyakitiku dan istriku lagi," tegasnya.
"Aku menyukai dirimu yang sekarang," ucap Yaris di barengi dengan senyum bahagianya.
"Suatu saat aku akan membuatmu mengerti kamu sedang bermain dengan siapa, March!" batin Brio.
Setelah dirasa cukup malam, Brio pun bergegas menjemput istri tercintanya di rumah sakit. Dia tidak ingin Ayla kelelahan demi orang lain. Cukup nanti saja dia kelelahan oleh dirinya sendiri. Maksudnya adalah lelah membuatkannya makan, mencuci pakaiannya, merapihkan kontrakannya, dan lain sebagainya.
Livina yang melihat kedatangan Brio pun mengerti akan arti datangnya pria culun itu. Pasti dia akan menjemput sang istri. Livina tidak bisa berbuat apa-apa selain menyuruh Ayla untuk pulang dan istirahat.
"Tenang saja, Ayla. Aku masih banyak dokter, suster, dan aku juga bisa meminta orang rumah untuk datang kesini lagi."
"Tapi..." Ayla merasa kasihan padanya.
"Aku bisa meminta Baleno kesini, kok. Tenang saja! Dia 'kan orang yang harus bertanggungjawab," ucapnya lagi meyakinkan Ayla.
"Kalau begitu, baiklah. Jaga dirimu baik-baik, ya! Jika perlu sesuatu katakan saja padaku," ucap Ayla sebelum dirinya benar-benar pulang.
Dalam perjalanan pulang Ayla terus menceritakan tentang pertemanannya dengan Livina pada Brio. Tidak hanya itu dia juga menceritakan Livina yang sudah menikah dengan Baleno.
"Brio, Avanza pasti sudah putus dengan Baleno. Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu ingin terus mengejarnya?" tanya Ayla. Dengan hati yang dag dig dug menantikan jawaban Brio.
"Iya, ya! Dia sudah terlepas dari siapapun," ucapnya menggoda sang istri.
"Lalu kamu ingin hadir dan menjadi pahlawan kesiangannya? Kamu ingin mengejarnya kembali? Kamu masih mencintainya?" tanyanya bertubi-tubi.
"Mengapa? Aku tidak mau!"
"Jangan membantah! Lakukan saja!" Akhirnya dengan keterpakasaan Ayla memeluknya dari belakang.
"Dengarkan baik-baik! Aku tidak akan pernah membiarkan orang yang tengah memelukku lepas begitu saja. Dan aku juga tidak akan membiarkan diriku lepas darinya. Aku sangat mencintaimu, Ayla. Jangan ungkit lagi kata Avanza," ucapnya seraya terus memegang erat tangan yang tengah memeluknya itu. Mendengarnya Ayla pun semakin mengeratkan pelukannya itu. Ia sangat bahagia ternyata Brio sungguh-sungguh mencintainya.
Byuuur...
Tiba-tiba guyuran hujan deras membasahi mereka berdua. Brio tidak menemukan tempat untuk mereka berteduh. Tidak ada cara lain selain menembus guyuran hujan tersebut. Ayla menyembunyikan wajahnya dibalik punggung suami. Sedangkan sang suami tampak fokus pada jalan yang mereka lalui.
Tujuh belas menit kemudian, mereka pun datang di kontrakannya dengan keadaan basah kuyup. Brio segera menyuruh istrinya untuk mandi. Biarlah mereka kini mandi tengah malam yang terpenting Ayla dan dirinya tidak sakit.
Masa bodo dengan penyakit rematik yang katanya menyerang akibat sering mandi malam hari. Ini keadaanya sangat darurat, sekali-kali bolehlah di langgar, pikir mereka begitu.
"Brio," teriak Ayla dari dalam kamar mandi.
"Iya, ada apa?" tanya Brio sembari menahan dingin.
"Aku..." lirihnya "Aku lupa tidak mengambil handuk dan pakaian," tuturnya lagi malu-malu.
Brio terkekeh mendengarnya, "Ya sudah, kamu keluar saja," godanya.
"Brio!" teriak Ayla mulai kesal. "Ya sudah, aku tidak akan keluar," ancamnya.
__ADS_1
"Ya, ya. Aku akan membawakanmu handuk, ya?" tutur Brio lembut. Tentu dia tidak ingin istrinya kedinginan di dalam kamar mandi sana.
"Jangan hanya handuk, pakaianku juga," teriak Ayla meminta.
"Hais, baiklah-baiklah. Kapan kamu khilaf, Ay.." gumamnya seraya masuk kedalam kamar.
Dengan cekatan Brio mengambil semua kebutuhan Ayla, baik handuk, pakaian luar dan dalamnya tidak ada satupun yang tertinggal. Tapi, ada sesuatu yang mencuri perhatiannya. *an*-nya mengapa ada di bagian baju istrinya?
Saat dia menilik *an* itu dia teringat, dia pernah kehilangan *an* kesayangannya saat masih tinggal di apartemen. Dia kira Yaris yang mengambilnya, ternyata ....
Brio tertawa terpingkal-pingkal sendiri saat mengingat Ayla pernah memakai hoodienya. Jadi, selain hoodie dia juga pernah memakai *an*-nya. Ah, sungguh dia tidak dapat memberhentikan tawanya itu.
Penyakit jahilnya pun kembali muncul. Brio menyertakan *an*-nya kedalam pakaian Ayla. Lalu dia segera memberikannya.
Di dalam kamar mandi, Ayla mulai mengenakan handuknya dan dia melihat ada barang yang tak asing lagi baginya. Barang yang pernah terpaksa dia pakai.
"Egh.." Ayla menelan ludah dengan sangat kasar. Memikirkan bagaimana ekspresi Brio saat dia tahu bahwa *an*-nya pernah dia gunakan.
"Bodoh, bodoh, bodoh Aylaa...." gerutunya sendiri. "Mengapa kmu malah menyuruhnya mengambilkan baju? Arrggh..." Sungguh dia merutuki dirinya sendiri.
Dengan handuk yang dia tutupkan ke kepalanya, dia berjalan keluar dari kamar mandi. Dia tidak ingin wajah malunya terlihat oleh Brio. Untung saja rambutnya baru saja dia keramasi, kalau tidak mungkin dia tidak ada ide lain untuk menghadapi suaminya.
Brio yang melihatnya, mengurungkan niat untuk menggoda istrinya. Lain kali saja, pikirnya. Saat ini dia lebih butuh air hangat untuk menghangatkan badannya.
"Huh, untung dia diam saja..." Leganya batin Ayla.
"Tunggu aku selesai mandi, Sayang!" batin Brio seraya masuk kedalam kamar mandi.
Ayla yang terselimuti perasaan malu memilih untuk berpura-pura tidur. Semoga saja dengan itu dia bisa tidur sungguhan. Kalau tidak dia tidak bisa menghadapi suaminya dengan perasaan malu seperti ini.
Oh, dia sangat berharap dewi fortuna mampir ke kontrakannya itu!
Lima belas menit berlalu. Brio sudah selesai melakukan aktifitasnya di kamar mandi. Saatnya dia menyusul sang istri ke kamar. Dia tak sabar mendapat pujian atau omelan dari istrinya karena sudah menyatukan tempat tidur mereka. Tapi semoga saja kali ini pujian yang dia dapat. Jika omelan, haha... Dia akan membalikan keadaan itu dengan mempermasalahkan *an*-nya.
Dengan gembira dia masuk ke kamar, tampak Ayla yang sudah tertidur pulas. Dewi fortuna benar-benar mampir ke kontrakannya. Dengan secepat kilat wajah Brio pun berubah menjadi murung.
"Huft.." Dia hembuskan nafasnya kasar lalu dia juga turut mengikuti istrinya berbaring.
"Tak apa, Ayla. Mungkin kamu sudah lelah hari ini. Hah, acara ganggu-mengganggu, goda-menggodanya mungkin lain kali saja," ucapnya sambil menarik selimut lalu kemudian dia miringkan dirinya menatap Ayla yang sedang tertidur.
"Mungkin boleh jika hanya peluk," ucapnya lagi seraya memeluk sang istri.
"Selamat tidur pencuri celana dalamku." Brio mencium pipi Ayla.
"Brio, aku malu," lirih Ayla manja sambil menelusupkan wajahnya ke dada sang suami. Membalas pelukannya dengan erat. Sedari tadi memang dirinya sudah tertidur, tetapi kesadarannya masih terjaga.
"Haha... Iya, aku memaafkanmu. Tapi kamu pintar memilihnya, itu celana kesukaanku, lho, " bisiknya lagi menggoda.
"Brio..." pekik Ayla sambil mencubit pinggang suaminya.
"Awh," rintihnya. "Iya, iya, iya, ayo kita tidur!" ajaknya. Daripada dirinya yang selalu tersakiti, bukankah lebih baik tidur sambil saling memeluk? Like a surabi. 😁
CNP
__ADS_1
Continue in my Next Post
Bobo ya guys!