
"Bund, dimana dia sekarang?"
"Dia ada diruang tamu.." Tanpa mendengarkan lebih jelas lagi Brian langsung berlari ke arah ruang tamu.
Begitu dia sampai disana, keterkejutan yang dia dapatkan. Yang kini sedang duduk di ruang tamunya bukanlah orang yang dia khawatirkan. Akan tetapi orang yang sangat dia benci.
"Avanza?" lirihnya sangat terkejut. Karena tak mendapat Ayla disana, Brian pun membalikan tubuhnya dan berlari keluar. Namun, satu tangan lembut berhias gelang bertabur berlian itu menahannya.
"Kamu mau kemana? Sambut dulu tamunya? Dia Avanza, putri dari keluarga Toyota. Orang yang selama ini kamu cari, 'kan?" papar sang Bunda.
"Tapi, Bund. Bukan dia orangnya. Aku harus mencari orang yang aku maksud..."
"Apa yang kamu katakan?" City menatapnya penuh tanda tanya. Dia pernah mendengar kalau Brian ingin mencari gadis yang ditolongnya. Gadis yang baru pertama melihatnya saja sudah membuat jatuh hati. Dan City amat sangat yakin jika gadis yang dimaksud Brian adalah Avanza.
"Brian!" seru sang Ayah yang menunggunya dari tadi. Bagaimana pun Jazz juga cukup bingung. Disini sudah ada tamu yang berharga untuknya tapi kenapa anaknya memilih untuk berlari keluar?
"Nanti saja kamu jelaskan pada Bunda. Sekarang kamu sambut dulu tamunya. Jika dianggurkan kita yang malu," terangnya memberi saran.
Mau tak mau, sudi tak sudi Brian pun menghampiri keluarganya dan juga keluarga Avanza.
"Hai, Brian! Senang berjumpa denganmu lagi. Apa kamu masih mengingatku? Avanza.." Ya, saat ini Avanza masih belum tahu jika orang yang ada dihadapannya ini adalah orang yang dulu sering memberikannya coklat.
"Cih," Brian berdecih sambil tak menerima uluran tangan Avanza. "Dulu saja saat aku mengejarmu, tersentuh sedikit saja kamu sudah geli. Baikpun saat ada maunya. Dan karenamu aku menghancurkan mimpi istriku," batinnya dalam hati seraya menatapnya dengan tatapan jengkel.
Brian pun duduk sambil mengacuhkan Avanza.
Avanza yang mendapat perlakuan itu tersenyum kikuk dan menarik kembali uluran tangannya.
Dalam hati dia bergumam, "Kenapa dia sombong sekali? Awas saja nanti!" Satu tangannya sudah mengepal kuat.
***
Ayla berjalan menyusuri setiap ruangan yang ada dirumah bak istana tersebut. Tak jarang dia kembali lagi ke tempat asal karena tidak menemukan jalan keluar. Dua kali dia sudah seperti ini. Dan jika dia harus membuka satu persatu pintu yang ada dirumah tersebut, dia khawatir dia akan di teriaki maling.
__ADS_1
"Ini rumah siapa, sih? Pintunya banyak sekali seperti lawang sewu," gerutunya kesal. Lama-lama dia bisa gempor kalau terus mengelilinginya seperti ini.
Saat dia membuka pintu yang berada di tengah, Ayla mendapatkan seseorang yang memakai pakaian hitam putih. Dapat dipastikan pakaian itu adalah pakaian seragam. Wanita itu sedang meringkik kesakitan sambil terus memegangi perutnya.
"Mbak? Mbak kenapa?" tanyanya saat Ayla baru saja menghampirinya.
"Shhh.. Aduh, Mbak. Bisa tolong saya?" Ayla pun mengangguk. "Tolong berikan ini pada tamu yang ada di ruang tamu disana," ucapnya seraya menunjuk nampan yang berisi gelas-gelas cantik diatas nakas.
"Tapi, Mbaknya bagaimana?" Ayla lebih khawatir dengan maid itu.
"Tidak apa-apa, Mbak. Saya biasa kalau sedang datang bulan sakit begini. Perut saya terasa melilit, Mbak. Seperti di aduk-aduk. Hanya saja, saya tidak tahu bagaimana caranya memanggil teman-teman saya yang lain. Saya baru hari ini bekerja, menggantikan ibu saya," paparnya menjelaskan.
Awalnya Ayla ragu, takut ada masalah lain yang akan menimpanya. Tapi melihat Mbak pelayan yang sedang kesakitan, Ayla pun menjadi tidak tega untuk menolaknya. Lagi pula hanya menyuguhkan air minum, tidak susah!
Setelah ditunjukan dimana letak ruang tamu tersebut, Ayla pun membawa nampan yang berisi cangkir tersebut. Terdapat 9 cangkir dan satu buah poci beraroma teh disana. Aroma yang menenangkan bagi siapa saja yang menghirupnya. Ayla dapat menyimpulkan bahwa teh itu pasti teh mahal.
Dia berjalan sesuai dengan petunjuk yang di arahkan oleh maid tadi.
Samar-samar dia mendengar gelak tawa dari ruang yang di sebut ruang tamu itu. Jumlah mereka sembilan orang pasti sangat ramai. Wajar, jika suara tawanya menyeruak memenuhi ruangan.
"Brian," seru City.. Ayla pun melirik siapa yang di panggil Brian itu. Dia juga ingin tahu apakah orang yang diseru wanita paru baya itu adalah seorang Brian Rio, laki-laki yng terkenal tampan juga kaya?
"Kenapa kamu diam saja? Ini lho, sudah ada gadis cantik masa kamu anggurin, sih? Apa kamu mau Bunda lamar gadisnya, biar kamu tidak jaim. Tidak malu-malu," kelakar Sang Bunda dan lainnya tertawa mendengar sindir sampir itu.
Praaayy
Semua cangkir itu jatuh ke lantai bersamaan dengan nampannya. Terpecah belah tanpa sisa.
Hati Ayla sesak seketika, dadanya sakit lebih sakit dari sebelum-sebelumnya. Dia sangat hafal dan begitu kenal dengan salah satu laki-laki yang ada dihadapannya sekarang. Laki-laki itu pernah menunjukan ketampanannya di malam saat mereka hendak tidur. Laki-laki itu adalah suaminya, Brio.
"Brio..." Tak disangka, tak di duga laki-laki yang Ayla panggil namanya, menoleh kearahnya. Artinya dia mengakui jika nama itu juga namanya.
"Oddysey..." lirihnya lagi saat matanya menangkap sosok lelaki yang beberapa tahun ini di gemarinya.
__ADS_1
Makin-makin dadanya bergemuruh. Apalagi saat mengingat malam itu. Malam ketika Brio mengatakan 'Jangan puji kakakku!'
Lutut dan seluruh tubuh Ayla mendadak lemas. Air matanya sedikit menggenang. Ingin berteriak pun tidak bisa, suaranya tercekat ditenggorokan.
Ayla menghela nafasnya kasar, lalu kepalanya sedikit menunduk.
"Permisi..." Dia pun berlari sambil menyeka air matanya.
"Ayla...." panggil Brio dengan berteriak.
"Ayla? Kenapa wanita itu ada disini?" gumam Avanza kesal. "Ada apa hubungannya dengan Brian? Tunggu? Tadi dia bilang ...." Avanza pun terkejut dengan fakta yang baru dia dapatkan. Jadi, orang yang ada dihadapannya ini ....
"Sayang, Nak! Kamu mau kemana?" Cegah City dengan mencekal tangannya.
"Bund, dia wanita yang ingin aku kenalkan. Dia adalah istriku..." Tidak ada satu pun yang tidak terkejut. Semuanya menganga sempurna.
"Apa?" Koor mereka bersama.
"Wanita, wanita yang hampir kutabrak tadi itu adalah istrimu?" tanya Oddysey masih dalam keadaan keterkejutannya.
"Kamu hampir menabraknya?" tanya Brian sambil menghunus tajam.
"Wanita udik memang pantas menjadi menantumu, City. Tapi aku tidak bisa membiarkannya. Aku harus berjuang mendorong Avanza untuk bersama Brian," batin Serena gusar. Rencananya bisa gagal jika Brian sudah menikah. Dia tidak bisa mendapatkan bantuan dari keluarga Toyota.
"Apa maksudmu dengan menyebutnya istri, Brian?" tanya Jazz bernada tinggi.
Alphard buru-buru menggait tangan Dyna dan putrinya. Dia pun segera berpamitan pergi sebelum mereka menyelesaikan acara intinya. Menurutnya, keluarga Honda sedang ada masalah internal. Dan mereka sangat tidak sopan jika ikut campur dalam masalahnya.
CNP
Continue in my Next Post.
.
__ADS_1
.
Gantung lagi ya.. 😂😂