The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Balada Suzu


__ADS_3

Pagi ini di kediaman keluarga Suzuki.


Baleno sedang memikirkan bagaimana caranya agar dia segera memiliki Avanza seutuhnya. Sungguh dia sangat merasa resah karena banyak sekali orang yang menyukai Avanza terlebih si cupu, culun, miskin, itu yang selalu mencuri-curi waktu untuk dekat bersamanya.


Meski dia tau bahwa Avanza sudah menjadi kekasihnya, tetapi tetap saja kejadian kemarin benar-benar membuatnya geram.


Dia juga sudah memberikannya sedikit pelajaran agar dikemudian hari Brio tidak lagi mendekati kekasihnya.


"Kali ini aku harus memutar otak untuk bisa menikahinya. Salah satu jalannya adalah aku harus membatalkan perjodohanku dengan Livina atau menukar diriku dengan Jimny," monolognya.


"Papa pasti bisa membantuku.."


Baleno pun segera turun ke bawah untuk mengikuti sarapan pagi lalu setelah itu dia akan melancarkan aksinya.


Memanglah sedari kecil jika Baleno mempunyai masalah maka papanyalah, Ignis Suzu yang akan menjadi pahlawan baginya.


Karena Baleno adalah anak yang diharapkan olehnya, sedangkan Jimny, karena dia terlahir sebagai laki-laki bukan perempuan maka dari itu papanya sangat malas jika berurusan dengan anak itu.


Meskipun begitu, Jimny adalah anak kesayangan mamahnya, Arena. Jimny selalu mendapat perhatian lebih dari ibunya.


"Pagi semua.."


Baleno menyapa semua anggota keluarganya yaitu papa, mama, dan juga Jimny.


"Pah, apa setelah ini aku bisa berbicara berdua dengan Papa?" ucap Baleno sambil mengolesi selai stroberi di rotinya.


"Bisa, memangnya kamu ada perlu apa?"


"Tentang bisnis, Pah."


"Kak Bal mau apa?" batin Jimny.


"Pah, mama mau kerja dulu ya, ada meeting sama klien," pamit Arena sambil bercipika-cipiki dengan suaminya itu.


*Cipika-cipiki (cium pipi kanan cium pipi kiri)


"Sayang, mama berangkat dulu," pamitnya pada Jimny sambil mengelus pelan pucuk rambutnya.


"Bal, mama berangkat dulu ya," pamitnya pada Baleno tanpa mengelusnya atau apapun. Hanya seutas senyum yang memancar dari wajah wanita itu.


Keluarga Suzu memang termasuk keluarga sibuk. Tak jarang saat Baleno dan Jimny kecil, mereka selalu merasa kesepian saat kedua orang tuanya bekerja.


Baleno yang terpaut usia dua tahun lebih tua dari Jimny selalu menjaga adiknya itu. Namun setelah mereka dewasa mereka bak musuh dalam ruang yang sama.


Sarapan pun sudah selesai mereka lakukan. Baleno tidak menyia-nyiakan waktunya dia segera mengikuti Papanya ke ruang kerja.


"Pah!" serunya ketika mereka sudah di ruang kerja.


"Ada apa?" tanya papanya sambil membereskan


"Aku tidak bisa menerima perjodohan ini," ungkapnya.


"Apa? Jadi kamu mau mempermalukan keluarga besar kita, hah!"


"Pah, bukan gitu. Lagi pula perjodohan ini belum diresmikan, 'kan? Dan lagi pula kita hanya baru satu kali pertemuan. Dan aku kenal siapa Livina, dia adik tingkat aku di kampus. Dan dia mencintai Jimny bukan aku?" ungkap Baleno. Dia jabarkan semuanya agar papanya itu mau membatalkan rencana perjodohannya.


"Jimny? Bal, ini pernikahan anak pertama dengan anak pertama dan juga kamu harus ingat perjodohan ini demi kemajuan bisnis kita," terang Ignis tak mau kalah dari anaknya.


Tentu saja perusahaan yang dibangun ayahnya lebih penting dari apapun.

__ADS_1


"Pah, tapi percuma 'kan kalau tidak ada cinta di antara kami."


"Cinta? Cinta itu bisa datang karena saling bertemu, Bal. Lambat laun kamu juga bisa jatuh cinta dengan Livina. Apa kurangnya Livina?"


"Dia tidak kurang apapun, Pah. Tapi cuma satu, dia tidak mencintai aku. Apa papa mau aku hidup dengan orang yang sama sekali tidak mencintai aku dan tidak aku cintai?" ucapnya memelas. Dia sangat yakin bahwa papanya itu tidak akan sanggup menolak permintaanya.


"Ya, itu PR buat kamu. Harusnya kamu buat dia cinta sama kamu, dong."


"Pah, masalah hati itu susah, Pah.. Lagi pula aku juga lagi dekat dengan anak dari keluarga Toyota."


"Toyota?"


"Iya, Pah! Avanza. Aku cinta sama Avanza, Pah.." Masih dengan wajah yang memelas.


"Toyota, keluarga itu..." batin Ignis.


"Ah begini saja, kalau kamu bisa dapatkan tender dari perusahaan mereka. Papa bakal batalin perjodohan kamu sama Livina. Bagaimana?"


"Benar, Pah?"


"Iya.. Papa serius."


"Oke, Pah!" Baleno pun keluar dari ruang kerja papanya dengan senyum yang mengembang diwajahnya.


Sungguh saat ini dia bahagia sekali seperti mendapatkan rejeki yang turun dari atas langit. Akhirnya dia memiliki jalan untuk segera memiliki Avanza seutuhnya.


"Sepertinya aku harus membujuk Jimny agar mau dijodohkan dengan Livina. Aku tidak ingin kehilangan kerja sama ini.." gumam Ignis setelah Baleno pergi.


Baleno langsung menghubungi Avanza dan memintanya untuk memberikan tender perusahaan ayahnya pada perusahaan papa Baleno.


***


Sejak kejadian tadi pagi Ayla sangat membenci Brio. Meskipun pada dasarnya memang sah-sah saja tapi bagi Ayla itu adalah tindakan yang tidak senonoh.


Brio dan dirinya tidak saling mencintai, bagaimanapun Ayla hanya akan memberikan haknya hanya pada suami yang dia cintai bukan suami yang dia dapatkan dari kesalahpahaman.


Terlebih saat ini dia mencurigai bahwa Brio sedang mengejar musuhnya yaitu anggota squad kegatelan, Avanza. Bahkan sampai rela mengerjakan tugasnya.


Hah! Rasanya dia ingin mencincang-cincang Brio layaknya bawang putih karena wanita yang disukainya adalah Avanza. Mungkin jika bukan dia, Ayla pun tidak akan semarah ini.


"Pagi-pagi sudah cemberut, kenapa?" tanya Levante yang baru saja tiba dan melihat Ayla yang sedang menekuk wajahnya.


"Bagaimana tidak cemberut, pagi-pagi aku sudah dimarahi ibu," gerutunya.


"Haha, sabar! Eh, itu bukunya udah ada ditangan kamu lagi." Tunjuk Levante pada buku tebal yang kemarin dicuri Avanza.


"Iya, gara-gara buku ini juga aku jadi kesal. Masa iya, si Nyu belain Avanza, terus dia me.." Ayla menghentikan gerutuannya.


"Me, me apa?"


"Menuduh aku mencurinya.." sahut Ayla cepat.


"Aduh hampir aja aku bilang mesum..." batin Ayla.


"Lohh, kok bisa? Lalu Nyu itu siapa?"


"Ahh, itu tetanggaku. He he... dia yang ngerjain tugas Avanza, terus aku curi lagi deh bukunya."


"Ohh, yang penting bukunya sudah kamu ambil. 'Kan itu buku orang.." ujar Levante mengingatkan.

__ADS_1


"Iya, benar. Aku juga sudah selesai. Siang nanti aku akan kembalikan buku ini bersama Jimny."


"Jimny?"


"Iya, Jimny pacar aku?" Dengan bangga dia memperkenalkan Jimny sebagai pacarnya.


"Ouhh..." Levante tersenyum kikuk, "Ternyata gosip itu benar," gumamnya.


"Kenapa? Kamu sudah mendengar gosip tentang aku, ya? Tentang aku yang matre?" tanya Ayla. Semua temannya selalu menjauhinya ketika mereka tau gosip buruk tentangnya. Dan kali ini pun dia sudah memantapkan hatinya untuk menerima kenyataan yang ada.


"Mm.. iya sih..!" ucapnya tidak enak.


Ayla hanya tersenyum ketika mendengar jawaban dari teman yang baru dikenalnya itu.


"Kamu mau jauhi aku juga tidak apa-apa. Aku sudah biasa tidak mempunyai teman, karena gelar itu."


"Tidak kok! Aku tidak akan menjauhimu. Aku yakin kamu punya alasan untuk itu.."


"Alasan? Kamu percaya aku punya alasan?" Mata Ayla seketika saja berbinar.


"Ya, apapun yang orang lakukan itu pasti ada alasannya, 'kan?" ucapnya dengan hati-hati. Entah mengapa meski hanya baru sehari mengenal Ayla, Levante merasa tidak enak hati jika sampai dirinya menyinggung Ayla.


"Hemm," Ayla mengembangkan senyumnya. "Terima kasih, sudah mengerti keadaanku! Cuma kamu dan baru kamu orang yang pertama yang mau menerimaku menjadi teman, setelah tau tentang gosip itu.."


"Haha, masa? Lagi pula aku rasa itu hanya sebuah gosip, 'kan?"


"Aku tidak bisa menjawab. Kamu yang tentukan jawaban kamu sendiri dengan melihat perilaku keseharianku, dan setelah itu terserah padamu mau menjauh dariku atau terus berteman denganku.."


"Iya sipp.." ucapnya seraya tersenyum menyetujui.


Tak lama kemudian dosen pun masuk dan langsung memulai MK-nya.


Saat Ayla sedang khusyuk mendengarkan penjelasan dari dosennya, tiba-tiba saja ibunya mengiriminya pesan, dia ingin meminta nomor menantu barunya itu untuk menanyakan kebenaran tentang luka yang didapatkannya.


Ibunya masih belum percaya seratus persen terhadap anaknya.


Pasalnya, saat kecil Ayla pernah memukul temannya karena kesal tidak di beri mainan oleh temannya itu. Dan Ayla selalu menyangkalnya sampai habis-habisan bahwa dia tidak pernah memukul temannya.


Tapi pada saat ditanyakan pada temannya yang lain, mereka mengatakan bahwa memang Ayla sudah memukulnya.


Karena itulah Ayla kurang mendapat kepercayaan penuh dari ibunya.


"Arrgghhh, Ibu ini bagaimana sih? Tidak tau kalau anaknya ini adalah korban tindak senonoh dari Brio. Tetapi tetap saja membelanya," dengus Ayla kesal.


Mau tidak mau perintah dari ibunya adalah hal yang harus dia kerjakan.


Meski dengan kesalpun Ayla akan tetap mengerjakannya dengan setengah hati, karena dalam pikirannya adalah yang terpenting dia sudah mengerjakannya.


CNP


Continue (in my) Next Post..


....quote....


...Tolong hilangkan mindset asal bapak senang dalam dirimu, karena mindset ini merupakan toxic dalam dirimu dan juga orang lain....


...Belajarlah menolak sesuatu yang memang tidak bisa kamu lakukan, atau tunggu kehancuran itu tiba....


Mohon dukungannya. Karena dukungan kalian adalah penyemangatku. Untuk dukungannya bisa berupa Like, komentar, share, vote, rate 5, dan jangan lupa untuk mem-faforitkan novel ini. Stay tuned terus, terima kasih !!

__ADS_1


__ADS_2