
"Aylaaaaa..." teriak Brio dari kamar mandi.
Bagaimana tidak dia berteriak, Ayla sudah menghabiskan seluruh sabunnya. Dan sialnya dia tidak memiliki sabun cadangan lagi.
Sungguh istrinya itu tidak tahu diri, sudah ditampung tapi bertindak kelewatan.
Ayla yang mendengar teriakan Brio seketika saja lari terbirit-birit dengan masih menggunakan selimut dibadannya.
Tentu saja dia sudah tahu, kesalahan apa yang sudah dia perbuat.
Akhirnya dia menunggu Brio di sofa.
Dia sedang memikirkan rencana selanjutnya, yaitu pindah dari apartemen Jimny siang ini juga.
Ayla sudah tidak bisa melanjutkan kisah cintanya bersama Jimny.
Masa bodo dengan kuliahnya sekarang.
Dia akan nencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya dan juga untuk membayar kuliahnya.
Semoga saja orang tuanya dikampung masih mau memberikannya uang jajan bulanan.
Dan kalaupun tidak, dia akan mencari tambahan pekerjaan lainnya, seperti pada awal dia masuk kuliah.
Ayla sudah membenci Jimny sekarang. Tidak hanya itu dia juga membenci semua orang kaya. Baginya orang kaya selalu memandang rendah orang yang lebih miskin darinya.
Seperti sebelum-sebelumnya mantan Ayla pun selalu memandang rendah pada dirinya. Tapi mereka hanya merendahkannya dengan kata-kata atau menodai hubungannya dengan perselingkuhan saja.
Berbeda dengan yang Jimny lakukan sekarang, dia hampir saja melecehkan dirinya. Dan itu sudah tidak bisa Ayla maafkan lagi.
Sebenarnya sebelum mereka ingin memacari Ayla, Ayla sudah mengajukan persyaratan terlebih dahulu. Jika mereka mau maka Ayla akan memacarinya, jika tidak maka ya sudah! Ayla tidak ada waktu untuk orang-orang yang tak penting dihidupnya, begitulah motto hidupnya.
Tapi sekarang nasibnya seperti sedang membolak-balikan prinsipnya itu. Dia menikah dengan orang yang sama sekali tidak ingin dia nikahi. Orang cupu, culun dan miskin yang hanya bisa menghalangi mimpinya saja. Bahkan tak ada satupun mantannya yang bentukannya seperti Brio itu.
Tapi..
Ya sudahlah, mau bagaimana lagi? Dia sudah menjadi suaminya sekarang. Urusan tentang pernikahannya biar waktu yang tentukan.
Namun dalam satu hari ini dia melihat sisi lain dari Brio, dia memiliki sesuatu yang berbeda dari laki-laki lain. Rasa hormat terhadap wanita dan rasa ingin melindunginya. Itulah sesuatu yang Ayla sukai dari pria tersebut.
Sungguh seandainya saja dia tidak menyukai wanita lain, mungkin saja Ayla sudah langsung jatuh cinta pada dirinya sejak saat ini pula. Meskipun dia culun, cupu dan miskin. Tidak apa, seperti layaknya mobil dia masih bisa dimodifikasi.
"Arrrghhh..." Ayla menghembus nafasnya kasar. "Seandainyaa.." gumamnya.
"Seandainya apa?" tanya Brio yang sudah berada di hadapannya sekarang.
"Hah!" Ayla tampak terkejut. Apa yang tadi dia pikirkan, jatuh cinta pada orang dihadapannya ini..
TIDAK!!!
Ayla menjawab pertanyaan Brio dengan gelengan kepala. "Kamu mau kemana?" tanyanya.
"Mau beli pisang biar Ny*tnya aku manut dan tidak kelewatan," ketusnya.
"Yeh, ditanya baik-baik jawabnya begitu." Ayla mencebikkan bibirnya.
"Mau beli sabun, tadi ada yang mandi tidak tau diri. Sabunnya habis begitu saja," sindirnya.
"Hehe..." Ayla pun nyengir kuda. "Maaf ya, nanti aku belikan yang baru. Tapi sekarang antar aku dulu, ku mohon!" ucapnya meminta sungguh-sungguh.
"Serius, kamu mau.." ucapannya l as ngsung terpotong oleh Ayla.
"Suer!" Ayla mengangkat kedua jarinya membentuk V.
"Ya sudah, mau kemana??"
"Mau beresin pakaian aku di apartemen itu. Itukan punyanya Jimny. Aku ingin putus dengannya. Aku tidak ingin ada kontak lagi bersamanya."
"Terus kenapa mengajakku? Minta diberesin?"ucapnya dengan nada kesal. Jujur saja dia masih sedikit marah dengan kelakuan Ayla.
"Tidak, kamu tidak perlu membereskannya juga, soal itu biar aku saja. Kamu cukup antar aku saja,"
"Kenapa perlu diantar kan tinggal kedepan? Lagi pula ini siang tidak akan ada hantu." Lagi-lagi Brio mengucapkannya dengan nada ketus.
Ayla menghembuskan nafasnya kasar.
__ADS_1
"Ya sudah kalau tidak bisa!" ucap Ayla sambil tertunduk. Baru saja tadi dia memujanya dalam lamunannya namun kini dia sudah dibuat kesal lagi.
"Eehh.. Tunggu!" Brio menarik tangannya.
"Aku temani." Sontak mata Ayla berbinar bahagia. Ternyata Brio tidak sejahat itu.
"Tapi...." Brio menjeda kalimatnya. "Kamu harus mengabulkan dua permintaan."
Hais, ternyata orang yang ada dihadapannya ini menolong dengan pamrih.
"Baiklah, asal jangan yang macam-macam."
"Ok!"
Ayla pun segera keluar masih menggunakan selimut ditubuhnya sedangkan Brio mengikutinya dari belakang.
"Sepertinya dia masih takut dengan kejadian semalam," bisiknya dalam hati.
Saat mereka sudah berada didalam apartemen. Ayla memegang tangan Brio dengan erat lalu memejamkan matanya tak kalah erat.
Dia tidak ingin terbayangi saat melihat sofanya.
Tanpa diminta lagi, Brio menuntunnya masuk kedalam kamarnya.
"Sudah, kamu sudah ada dikamar."
"Terima kasih!"
Ayla langsung mengambil semua pakaiannya dan barang lainnya tanpa terkecuali.
Karena lumayan cukup banyak, Brio pun menawarkan diri untuk membantunya.
"Biar aku bantu."
"Jika kamu ikhlas dan dengan senang hati," ucap Ayla sambil membawa celana panjang dan pakaian dalam miliknya kekamar mandi.
Briopun mengemasi satu persatu barang Ayla. Lima menit kemudian, Ayla segera kembali padanya.
"Kamu mengganti pakaianmu?"
"Tidak apa-apa!" ucapnya sambil terus mengemas. "Selanjutnya apa yang akan kamu lakukan?" tanyanya kembali.
"Aku akan mencari kontrakan."
"Kamu sudah tidak ingin tinggal disini?" Pertanyaan konyol itu keluar begitu saja.
"Tidak, sudah kubilang aku akan putus dengannya hari ini juga via telpon," jawabnya dengan nada dingin.
"Jika dia meminta maaf padamu apa kamu akan memaafkannya? Dan jika dia memintamu kembali bersamanya apa kamu akan kembali?" Untuk kali ini pertanyaannya sangat berbobot.
Ayla menghentikan aktivitasnya, "Mungkin saja aku akan memaafkannya tapi untuk kembali bersamanya aku rasa tidak. Aku sudah kecewa." Dia melanjuti mengemas barangnya lagi.
"Apa kamu sekalipun tidak pernah disentuh oleh laki laki?" Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang ingin dia tanyakan sejak semalam.
"Dengan siapapun aku berpacaran, kami hanya pernah berpelukan itupun hanya dalam keadaan tertentu saja," ungkapnya. Kini Ayla tengah memasukan alat make up-nya kedalam tas.
"Sungguh?" Brio semakin tertarik untuk mengetahui kehidupannya.
"Iya. Huh," Ayla membuang nafas kasar. "Ternyata kamu suka mendengar gosip tentangku rupanya." Ayla tersenyum kecut.
"Tidak!" sangkalnya
"Semua orang pasti akan mengira aku adalah wanita seperti itu," ucapnya sambil menggerakan kedua jari tengah dan telunjuk dari kedua tangannya.
"Tapi perlu kamu tau, aku ini masih perawan. Bibirku juga masih perawan. Aku tidak akan memberikannya pada sembarang orang," ungkapnya lagi.
Entah kenapa dia ingin menjelaskannya pada lelaki yang sudah menjadi suaminya itu.
"Kamu tidak pernah memberikan bibirmu ataupun kehormatanmu. Bukankah untuk orang di zaman sekarang semua itu lumrah diberikan pada orang yang dicintainya sebagai pembuktian cinta??" kuliknya lebih dalam.
"Bodoh, cinta ya cinta bukan nafsu. Jika dinilai dari sudut itu, berarti itu bukan cinta tapi nafsu," tegas Ayla.
"Benarkah?"
"Tidak tau, ah!" jawabnya setengah kesal. Kali ini dia sedang mengemas buku-bukunya.
__ADS_1
"Oh ya, Brio. Aku ingin meminta tolong padamu, untuk menampungku selama beberapa hari ini. Lalu setelah itu aku akan pergi mencari kontrakan. Tolong bantu aku, aku tidak ingin bertemu Jimny dulu. Aku takut dia akan datang mencariku." Meski sebenarnya tanpa dimintapun Brio wajib untuk membawanya tinggal bersama. Tapi karena hubungan mereka yang tiba-tiba, membuat Ayla tidak bisa bergerak bebas kepadanya.
"Baiklah. Oh ya, bagaimana dengan kuliahmu? Kamu sudah memutuskan hubunganmu dengan Jimny lalu kamu pun tidak memiliki perkerjaan sekarang?"
"Aku akan mencari kerja seperti dulu."
"Kamu pernah bekerja?"
"Tentu saja, aku pernah bekerja sebagai waitress, sebagai kasir dan masih banyak lagi. Dan aku berhenti ketika aku berpacaran dengan mantanku," ucapnya sedikit bernostalgia.
"Kenapa berhenti?
"Saat itu aku sudah lelah bekerja. Lalu ada orang kaya yang menyukaiku, aku mengajukan persyaratan padanya. Aku kira dia tidak akan setuju, tapi ternyata dia setuju. Dari situlah aku tidak bekerja lagi."
"Berarti kamu memanfaatkannya."
"Tidak sepenuhnya, karena aku juga mencintainya tapi cintaku memakai logika," ucapnya sambil terus mengemasi bukunya yang banyak itu.
"Jika suatu saat nanti kamu lelah bekerja dan ada orang kaya yang mencintaimu, apa kamu akan menerimanya??"
"Tergantung, mungkin tidak."
"Mengapa?"
"Karena aku sudah membenci orang kaya.
Mereka selalu berbuat seenaknya. Baik wanita maupun laki-laki semuanya sama..Bahkan sekarang aku hanya punya satu orang teman saja. Teman-temanku pergi meninggalkanku," sendunya.
"Begitu.. Tapi perlu kamu ingat tidak semua orang kaya seperti itu," ucapnya. Sedikit tersentak saat Ayla mengatakan 'membenci orang kaya'.
"Bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu?" tanyanya kemudian.
"Apa?"
"Apakah kamu menyesal menikah denganku??"
Deg..
Pertanyaan macam apa ini? Kenapa dia mengatakan hal ini? Ayla tidak bisa menjawabnya.
Dirinya langsung mengatur nafasnya agar teratur kembali.
"Semua yang harus terjadi, sudah terjadi. Menyesali ataupun tidak, sudah tidak ada gunanya."
"Benar.. Mm, sebagai permintaan maafku atas kesalahan yang pernah ku buat kemarin. Bagaimana jika aku yang membiayai sekolahmu?"
Bagaimanapun tawaran ini akan hadir dikehidupnnya. Baik itu sekarang ataupun nanti. Tapi bukankah sekarang juga adalah waktu yang tepat??
"Haha.. Bukannya aku menolak. Tapi, aku juga tahu masalah finansialmu. Tinggal disini saja kamupun belas kasihan dari atasan. Lagi pula kamu juga membutuhkan biaya untuk dirimu sendiri."
"Aku mendapatkan beasiswa. Soal makan aku mengandalkan gajiku. Gajiku juga cukup untuk makan kita berdua. Bahkan bisa lebih..."
Kali ini Brio akan melakukan nasihat dari Yaris. Dia tidak ingin menyakiti hati Ayla, dan saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakan rencananya.
"Tidak, Brio."
"Ayla, maaf aku membicarakan hal ini sekarang. Jika kamu tidak terima maka bagaimana caranya aku menebus kesalahanku yang tempo lalu itu? Aku tidak bisa terus bersamamu, Ayla. Kamu tidak mencintaiku aku juga tidak mencintaimu. Aku mencintai wanita lain, dan aku berencana akan menceraikanmu. Untuk kebaikan kita berdua.. Bukankah hidup dengan orang yang tidak kamu cintai itu akan sulit..."
Deg!!
Sesak rasanya mendengar ucapan Brio.
Tapi kenapa dia bisa sesesak ini, apakah dia sudah mencintai lelaki dihadapannya?
"Tidak, Ayla kamu tidak menyukainya! Dia bukan tipe mu, lagipula yang dikatakannya memang benar. Hidup dengan orang yang tidak mencintaimu akan sangat sulit," batin Ayla berbisik.
"Baiklah, akanku terima tawaran itu."
"Itu lebih baik!"
Merekapun sudah selesai mengemasi. Bahkan saat ini mereka sudah mengangkutnya keluar satu persatu. Kini apartemen itu sudah kosong melompong. Penghuninya sudah tidak ada lagi.
CNP
Mohon dukungannya. Karena dukungan kalian adalah penyemangatku. Untuk dukungannya bisa berupa Like, komentar, share, vote, rate 5, dan jangan lupa untuk mem-faforitkan novel ini. Stay tuned terus, terima kasih !!
__ADS_1