
"Maaf, tadi aku membentakmu," ucapnya ditengah-tengah perjalanan. Namun, Ayla yang berada dibelakangnya hanya terdiam dan sesekali mengikuti gaya bicara suaminya.
Tak kehabisan akal Brio kembali berbicara pada Ayla, "Ay, tolong buka kancing lengan aku, dong!" Brio memberikan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanan masih fokus pada gagang stir motor.
"Please, Ay! Susah kalau tidak dibuka, sesak." Dengan setengah hati Ayla membuka kancing itu. Tapi sesaat kemudian Brio meraih tangan Ayla agar dirinya dipeluk. Ini adalah salah satu modus yang bisa para lelaki gunakan untuk membuat pasangannya tidak merajuk lagi.
"Kamu mau apa, sih? Lepas!" ucapnya sambil terus menarik tangannya sendiri.
"Ay, jangan gerak-gerak! Nanti jatuh tahu rasa."
"Ya, makanya jangan..."
"Ay, keep silent, please!" Ayla pun diam seribu bahasa sambil mengikuti keinginan suaminya itu. Tak apa untuk kali ini saja, tidak ada lain kali. Daripada dirinya ikut terjatuh dan semakin banyak luka ditubuhnya, lebih baik ikuti saja.
Sedangkan Brio bersorak kegirangan disana. Oh, inikah rasanya beromantisan dengan istri? Mengapa berbeda sekali rasanya? Lebih bahagia juga indah dirasa.
Waktu terus berlalu. Beberapa kilometer lagi mereka akan sampai. Dan sebelum itu Brio kembali memecah keheningan.
"Ay, kamu mau makan?" tanyanya perhatian.
"Tidak."
"Pulang?"
"Ya."
"Kamu mau kerja?"
"Tidak."
Ya dan tidak hanya itulah kata yang keluar dari mulut Ayla. Suasana yang ia ciptakan begitu romantis itu mendadak menjadi suasana yang menyeramkan. Horor sekali wanita yang ada dibelakangnya ini. Tidak jauh beda dirinya dengan tukang ojek yang diberi ongkos daun. Huh, sungguh irit dan membuat bulu kuduk merinding.
***
Pagi berganti siang berlanjut menjadi malam yang mencekam. Suasananya masih horor. Tak ada satupun dari mereka yang membuka mulutnya lebih dulu kecuali untuk makan.
Saat Ayla sedang sibuk dengan buku-buku, tiba-tiba ponselnya bergetar. Ada sebuah notifikasi pesan dari March.
"Hi, how are you?"
Seketika Ayla teringat dengan masalahnya dengan si pengirim pesan tersebut.
"Fine," balas Ayla cepat.
"Kamu masih ingat, tidak? Dengan hutang makan malam denganku?" balas March disertai emotikon tertawa lebar.
"Ya, rupanya dia menagih. Memang si, janji harus di tagih," gumam Ayla tidak senang, "Mm, aku harus persiapkan semuanya agar dia tidak curiga jika aku yang sudah melakukannya,"
"Ya, aku masih mengingatnya. Bagaimana jika besok malam kita bertemu?" ajaknya melalui aplikasi chat itu.
__ADS_1
"With pleasure, Baby!"
"Cih, baby? Dia tak tahu jika orang yang dia panggil baby ini sudah menikah. Dan menikah karenanya pula," gerutunya masih dalam hati.
Setelah itu dia letakan ponselnya disamping kasurnya. Matanya sedikit melirik Brio yang ternyata sedari tadi menatapnya dengan lekat.
Ayla membalas dengan pandangan sinis padanya. Lalu dia rebahkan tubuhnya agar Brio berhenti menatapnya.
"Ada apa dengan ponselnya? Kenapa dia cemberut saat melihatnya? Humm, Tuhan! Bagaimana membaca dan memenangkan hati wanita ini.." jerit Brio didalam hati. Sungguh dia kehilangan akalnya untuk meminta maaf pada makhluk yang satu ini. Ayla benar-benar membuat dirinya kacau balau.
***
Tibalah waktunya makan malam bersama March. Ayla berdandan tidak seperti kemarinnya. Malam ini dia tampil biasa saja. Entah kenapa rasa-rasanya dia malas sekali berdandan setelah kejadian kompetisi itu. Hidupnya sudah seperti tak memiliki tujuan lagi.
Mereka pun sudah janjian di kafe Umai yang berada cukup jauh dari kontrakan Ayla. Dan kali ini Ayla datang lebih dulu dibanding March.
"Hah, lama sekali orang itu," batin Ayla.
"Hai, sudah lama menungguku?" tanya March yang baru saja tiba. Dia menepuk bahu gadis itu dan membuatnya sedikit terperanjat.
"Tidak."
March tersenyum melihat mimik wajah Ayla yang terkejut. "Maaf, aku tidak bermaksud mengagetimu."
"Tidak apa-apa aku yang melamun," balasnya dengan senyum. March terpana dibuatnya.
Merekapun duduk saling berhadapan dan sedikit berbincang. Tak lama seorang pramusaji datang dan menawarkan menu makanan yang mereka punya.
Mereka pun berbincang sambil makan. Ternyata March orangnya sedikit humoris. Namun karena Ayla yang terlanjur benci dengan kelakuannya beberapa yang waktu lalu, dia pun tidak bisa menghentikan pembalasannya sedikit pun.
Tak jauh dari mereka, ada dua pasang mata sedang meliriknya tidak suka. Ya dia adalah Brio dan Yaris.
"Yaris, lihatlah dari itulah aku ragu dengan perasaanku sendiri. Dia terlihat lebih bahagia dengan orang lain. Lihat! Lihat! Dia tertawa? Astaga, ini tidak bisa dibiarkan." Brio hendak menghampirinya, tetapi ditahan oleh Yaris.
"Kamu mau kemana?" Dia menahan sekuat tenaga.
"Aku mau memergokinya," geram Brio.
"Jangan! Kamu mau bikin keributan disini? Lalu ada berita seorang ...."
"Tidak akan ada orang yang tahu padaku," potongnya cepat.
"Iya, orang tidak akan mengenalimu dengan penampilan seperti ini secara sekilas. Tapi pasti akan ada orang yang menelaah lebih lanjut. Ingat pers dimana-mana. Kamu orang terpandang," jelasnya seraya berbisik.
"Lalu aku harus apa?"
"Kita lihat saja disini. Selanjutnya jika ada hal yang lebih kacau, tinggal kamu marahi dirumah saja. Jangan disini!" sarannya.
Brio pun menuruti kata-kata Yaris. Memang jika saat emosi sedang meledak hanya kata setan yang bersorak lebih keras dari pada kata malaikat. Beruntungnya dia sedang bersama Yaris. Atau sesuatu yang memalukan akan terjadi.
__ADS_1
"March, maafkan aku soal makan malam kemarin, aku meninggalkanmu begitu saja," ucap Ayla.
"Iya, tidak apa-apa. Kan kamu sudah menggantinya sekarang. Oh, ya. Kenapa kamu mengundurkan diri?"
"Ah, aku tidak apa-apa. Aku hanya tidak mampu melawannya."
"Oh, begitu."
Pluk, dompet Ayla terjatuh dan March mengambilkan untuknya. Disaat yang bersamaan Ayla menaruh obat tidur di minumannya.
"Ini dompetmu jatuh," ucap March seraya memberikan dompet Ayla.
***
"Yaris, lihatlah! Ayla memberi obat ke minuman March. Apa yang akan dia lakukan?"
"Kamu ini suaminya atau bukan?" jawabnya santai.
"Aku memang suaminya tapi kami baru beberapa bulan menikah. Dan aku kurang mengenal sikapnya," sungut Brio tak mau kalah.
"Mungkin saja dia sedang merencanakan sesuatu."
"Ya, itu sudah pasti, Yaris. Maksudku adalah apa yang sedang dia rencanakan?"
"Kita lihat saja, jangan berspekukasi lebih dulu. Jika dia berbuat yang tidak-tidak baru kamu hukum dia." Entah mengerti atau tidak dengan perasaan Brio, yang pasti yang dikatakan Yaris memang ada benarnya.
Mereka pun berdua terus mengawasi Ayla dan March. Dalam hati Brio, "Awas saja jika kamu melakukan hal yang melanggar pernikahan kita."
***
Ayla mendapatkan pesan dari Leva. Dan itu dijadikannya alasan untuknya pulang.
"Ini saat yang baik untukku tinggalkan dia sendiri disini," batin Ayla.
"March, sepertinya aku tidak bisa menemanimu lebih lama. Aku harus pulang ada urusan yang lebih penting. Ini baru saja aku mendapatkan pesannya." Dia sodorkan ponselnya itu, agar March percaya.
"Iya, baiklah. Biarkan aku mengantarkanmu," tawarnya.
"Tidak, tidak. Nanti kamu bisa kemalaman pulangnya, nanti aku merepotkanmu. Ya sudah, aku bayar ini lalu aku pulang, ya. Maaf, dua kali aku sudah seperti ini."
"Ya, baiklah. Tidak apa-apa. Hati-hati!"
March pun tak menaruh curiga sedikitpun pada Ayla. Dan membiarkannya pulang sendiri.
CNP
Maaf yaa telat Authornya lagi sibuk huru hara bikin semur jengkol haha... ada selametan sih hehe..
Enjoy yaa...
__ADS_1
tencu