
Avanza menatap heran foto Baleno, ada apa dengannya sekarang. Dia sangat jarang menghubungi Avanza. Tidak mungkin jika dirinya selingkuh, Avanza menepis kemungkinan itu. Karena,
Lusa kemarin dia tidak sengaja melihat Baleno jalan bersama dengan sahabatnya Livina.
Awalnya memang dia tidak curiga, namun karena sudah dua kali dia melihat Baleno dan Livina bersama, kecurigaannya itu muncul.
Ia ikuti kedua orang terdekatnya itu. Mereka terlihat memasuki toko peralatan bayi.
"Ada apa dengan mereka? Siapa yang punya bayi?" gumam Avanza sambil mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Baleno
"Hallo, Sayang!" Tampak Baleno menjauh dari Livina.
"Hai, Sayang! Kamu ada dimana?" tanya Avanza.
"Aku sedang ada di mall," ucapnya jujur.
"Bersama siapa?" Baru saja Avanza bertanya nampak ponsel Baleno terjatuh. Panggilan pun terputus begitu saja.
"His, kenapa sih?" Avanza hentakan kakinya. "Tapi dia sudah berkata jujur. Tidak mungkin jika dia selingkuh. Apalagi dengan Livina, sahabatku sendiri," imbuhnya lagi.
Saat Avanza sudah memasukan ponselnya ke tas, dia tidak melihat adanya Baleno lagi.
Kemana dia? Avanza pun tidak tahu. Baleno hilang begitu saja.
Tadi pagi ini Avanza melihat Livina berada dilingkungan apartemen pacarnya.
Ada apa? Dia bertanya-tanya sendiri. Akhirnya, dia hubungi Livina.
"Liv, aku ingin main ke rumahmu boleh?"
"Tumben, ada apa? Tapi aku sedang tidak ada disana," jawab Livina sejujurnya. Ini adalah kesepakatannya dengan Baleno, jika Avanza bertanya atau apapun soal selain pernikahannya, ia harus menjawabnya dengan jujur. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kecurigaan Avanza.
"Ohh, dimana dirimu?" tanyanya pura-pura tidak tahu.
"Aku ada di apartemen Chanwell," balasnya lagi jujur. Membuat Avanza tidak mencurigainya lagi.
"Oh, ya sudah lain kali saja." Panggilan itu pun kembali terputus.
"Hais. Aneh jika mereka selingkuh mereka tidak akan menjawab pertanyaanku dengan jujur. Tapi sekarang dia jarang menghubungiku. Lihat saja Baleno! Jika sampai kamu menyelingkuhiku aku tidak akan memaafkanmu! Apalagi bersama dia," tukasnya sambil menunjuk-nunjuk foto Baleno.
"Hah, setiap hari aku merasa bosan. Baleno jarang memperdulikanku. Brio? Ah, mainan itu juga sudah hilang. Baguslah setidaknya dia tidak menagih-nagih janji palsuku itu," tuturnya lagi.
"Apa aku telpon Agya? Sebaiknya tidak, dia juga dua hari ini hilang entah kemana."
Avanza membuka aplikasi belanjanya. Men-scroll-nya kebawah mencari barang menarik lainnya. Tiba-tiba ada sebuah notifikasi dari akun beritanya.
March Manager Club Terkenal di Temukan Pingsan di Jalanan, di Duga Karena Mabuk.
"March? Astaga ini 'kan berita dua hari yang lalu. Pantas saja Agya hilang tanpa sebab. Pasti dia sedang mencari dalang dibalik semua ini," terkanya.
Sementara itu di apartemen Chanwell.
__ADS_1
"Baleno, benar apa yang dikatakan olehmu. Avanza mulai mencurigai kita," lirih Livina.
"Kan aku bilang apa? Jangan memintaku untuk mengantar kesana kesini, memintaku membelikan ini dan itu. Kamu selalu saja tidak mengerti."
"Tapi wajar 'kan bila aku memintamu ini dan itu. Lagi pula kamu bapaknya anak yang ada dikandunganku. Dan soal kemarin di Mall, bukankah ayahmu sendiri yang menyuruhmu membeli peralatan bayi?" Livina bersungut-sungut. Saat dirinya hamil moodnya sering berubah-ubah. Terkadang dia sangat merindukan Baleno dan terkadang juga dia benci Baleno.
"Ahh, sudahlah, Liv! Sebaiknya kamu tinggal dirumahmu saja."
"Iya, jika aku di perbolehkan. Mami dan Papi sudah tidak mau menampungku," ketusnya lagi.
"Atau aku pesankan apartemen satu lagi untukmu?"
"Tidak mau, aku takut kalau sendiri. Disini saja aku selalu mengganggumu tengah malam. Apalagi beda apartemen. Aku tidak mau!"
"His, merepotkan."
"Baleno, kenapa kamu tidak putus saja dengan Avanza?" ucapnya hati-hati.
"Apa? Ngawur kamu! Satu-satunya wanita yang aku cintai adalah Avanza bukan kamu. Dan aku menikahimu hanya untuk bertanggung jawab saja dan harta itu. Ingat harta itu dan tanggungjawab, bukan cinta!" tekannya disetiap kata-kata yang diucapkan terakhir.
"Kenapa kamu tidak belajar mencintaiku saja?" pintanya, menatap dengan penuh harap.
"Apa? Belajar mencintaimu?" Livina mengangguk cepat. "Gila kamu, ya, sudah ditinggalkan Jimny."
"Aku tidak gila, Bal. Aku sudah belajar menerima kenyataan. Jimny tidak akan mungkin kembali kesisiku, dan jika kembali pun tidak akan bersamaku. Anak ini adalah keponakannya. Aku tidak mau membebaninya. Lagipula tidak buruk bukan jika kamu belajar mencintaiku?"
"Cih, intinya. Aku tidak akan pernah mencintaimu," ujarnya dengan lugas dan jelas.
Sekilas Livina tersenyum kecut. Hidupnya memang tak pernah mulus apalagi bagian percintaannya. Dia mencintai Jimny yang nyatanya tidak mencintainya. Dia mengandung anak dari seseorang yang juga tidak mencintainya.
Untuk menghibur dirinya sendiri, dia pergi meninggalkan Baleno. Mencari udara segar ditengah kota yang terkenal dengan kota metropolis.
Saat Livina berada di tengah-tengah taman, dia bertemu dengan Ayla yang sedang berolahraga. Livina pun memanggilnya dan melambaikan tangannya.
Tampak wajah Ayla yang sedikit terkejut dan dia memainkan ponselnya sebelum menghampiri Livina.
"Hai, Liv! Kamu disini?"
"Iya, aku ingin mencari udara segar."
"Haha, kamu ada-ada saja. Mencari udara disini sangat susah, kalau mau udara yang lebih segar kamu harus mengunjungi kampungku, disana masih asri."
"Benarkah? Lain kali aku kesana. Oh, ya. Boleh tidak kita bertukar nomor. Aku terkadang merasa kesepian."
"Oh, oke. Tapi kemana sahabatmu CTM?" Ayla bertanya sambil memasukan nomornya di ponsel Livina.
"Ayla, kondisiku saat ini tidak ada yang tahu, hanya kamu orang satu-satunya yang tahu. Jadi, aku tidak leluasa jika bercerita pada mereka."
"Oh, begitu. Liv, aku tahu kamu wanita yang kuat."
"Terima kasih, Ayla!"
__ADS_1
"Kan sudah punya nomorku, jika butuh sesuatu bilang saja padaku."
"Iya. Oh, ya. Aku ingin meminta maaf padamu soal kompetisi itu."
"Tidak usah. Lagipula yang salah sudah mengakuinya."
"Avanza?"
"Bukan dia. Mana ada muka dia meminta maaf padaku," ucapnya diselingi gelak tawa.
"Ya, begitulah dia."
"Aku sudah hafal," sahut Ayla cepat. "Bagaimana kondisi kandunganmu?"
"Baik, dede baik Tante.." Livina mengelus pelan perut itu.
"Wah, jangan nakal, ya!" kelakarnya.
Mereka pun bercanda dan mengobrol bersama. Tawa mereka terdengar lepas serasa bahwa mereka tidak memiliki masalah dalam hidupnya.
Lain halnya dengan Brio yang secara halus diusir oleh Ayla. Dia mengintip kedua wanita itu dibalik pohon-pohon yang ditata disetiap pinggir jalan kecil ditaman.
"Pantas saja Ayla memintaku pulang duluan, ternyata dia bertemu Livina. Tapi, sejak kapan mereka berteman? Bukankah seharusnya mereka bermusuhan? Jika itu menurut masalalu Livina 'kan mencintai Jimny. Ah, sudahlah lebih baik aku pulang," pikir Brio.
Drtt drttt...
"Hallo, Bu!" ucap Brio setelah menerima panggilan dari sang Ibu Mertua.
"Oh, iya, Bu. Kami baik-baik saja. Ibu sekeluarga?"
"Aylanya sedang bersama temannya, Bu. Oh, ya, Bu. Apa kesukaan Ayla?"
"Buah-buahan?"
"Semua buah-buahan?"
"Pisang? Dia paling suka pisang?"
"Ah, ya, Bu. Aku pasti belikan dia pisang, alpukat, melon, anggur," ucapnya sambil mengabsen apa yang Ibu Mertuanya katakan.
"Oke, Bu. Terima kasih!" Brio pun menutup panggilan itu seraya bergumam, "Ayla, Ayla benar-benar Miss Enyetku. Dia suka pisang, pantas saja dia bahagia saat aku mengejeknya akan membelikannya pisang." Brio geleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.
Ya, sekarang hubungan mereka mulai membaik. Meski melalui drama-drama melukai dirinya sendiri tapi demi kenyamanan bersama maka akan Brio lakukan.
Malam itu memang membuat hidupnya sedikit tidak tenang, dia harus memikirkan cara agar bisa memberitahu Ayla tentang kebenarannya. Dan sebelum mendapatkan cara, Brio hanya mampu menjalankan hari-harinya dengan sebaik mungkin.
CNP
Continue in My Next Post
Oh, ya. Boleh dilihat lagi sebelumnya kata-kata yang kemarin itu berasal dari cover sebelumnya.
__ADS_1
Jangan lupa dukung aku.
Hadiahnya juga votenya. 😂😂