Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Wanita Ular


__ADS_3

Namanya Asa Nahdiana, dia dipanggil Nadia. Nanad adalah panggilan kesayangan dari teman-teman akrabnya. Gadis pintar yang selalu mendapatkan rangking satu di kelasnya ini mempunyai postur tubuh yang ramping, wajahnya tidak begitu cantik namun sedap dipandang mata, dia gadis yang cerdas tetapi minder dalam pergaulan. Dia berbakat menjadi teman akrab yang baik jika sudah cocok. Kadang juga keluar sisi kocaknya.


Nadia sempat putus asa saat ia baru lulus SMA, ayahnya tidak bisa membiayainya kuliah. Namun tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya, ternyata dia telah mendaftar di beberapa perguruan tinggi lewat jalur prestasi.


"Nadia, Mamak sudah tidak sanggup membiayai pendidikan kamu, adik-adik kamu masih membutuhkan banyak biaya. Pabrik penggilingan padi Mamak sudah jarang beroperasi. Para petani sudah malas untuk menanami sawah mereka dengan padi. Kakang kamu juga membiayai kuliahnya sendiri, jadi kalau kamu ingin kuliah kamu ikuti jejak Kakang kamu," tutur Mamak suatu malam beberapa saat setelah Nadia selesai ujian akhir.


"Iya, Mak. Nadia bisa mengerti. Nadia sudah mendaftar di lima universitas lewat jalur prestasi, Mak. Sudah ada tiga perguruan tinggi yang memberikan surat panggilan, di Bandung, Semarang dan Jakarta," sahut Nadia.


"Pilih yang di Bandung saja, biar dekat sama kakangmu, universitasnya sama kan?" usul mamak.


"Di Bandung hanya bebas uang kuliah saja, Mak. Tapi yang di Jakarta Kita juga dapat uang transport setiap bulannya," jelas Nadia.


"Ya Mamak setuju yang di Jakarta, nanti untuk makan Mamak dan Mimik akan kirim beras setiap bulan. Kalau yang di Semarang bagaimana?" tanya Mamak.


"Yang di Semarang belum ada penjelasan terperinci, Mak," jawab Nadia.


"Ya sudah, pilih yang di Jakarta saja, Kapan kamu berangkat?"


"Awal bulan depan, Mak," sahut Nadia.


"Kasih tahu kakang kamu, biar nanti Mamak dan dia yang antar, sekalian kita cari kos-kosan," usul Mamak.


"Sudah, Mak. Kakang bilang minggu depan mau pulang. Kakang juga mau bantu buat bayar uang kost, dia sudah nyambi bekerja sekarang," sahut Nadia.


"Ya sudah, sekarang kamu istirahat. Besok pagi mau bantu mamak panen padi kan?" suruh Mamak.


"Iya, Mak. Do'akan Nadia jadi orang sukses ya, Mak," pinta Nadia.


"Tentu, Sayang. Do'a terbaik selalu buat anak-anak Mamak supaya menjadi orang yang berguna bagi masyarakat, terutama buat diri sendiri," sahut Mamak. "Tidurlah!" imbuhnya lagi.


*********


Hari yang dinantikan telah tiba. Nadia diantar oleh Mamak dan Nadhif kakaknya berangkat ke Jakarta dengan menaiki bis. Mereka tiba di terminal bis Pulogadung pukul 09.20 wib. Dari terminal Pulogadung menuju ke kampus tempat Nadia akan menempuh pendidikan dengan menaiki taksi online.


"Kita istirahat di kantin dulu ya, Mak, Dik," ajak Nadhif ketika mereka baru sampai di depan kampus.


Mereka berjalan mengikuti papan petunjuk arah menuju ke kantin, lalu duduk di kursi yang kosong. Di dinding kantin terdapat tempelan kertas HVS berupa iklan indekos, jasa laundry, jasa pengetikan dan sebagainya.


Seorang wanita berusia 35 tahunan datang menghampiri mereka bertiga. "Selamat pagi, mau pesan apa, Pak, Dek?" tanya wanita tersebut.


"Teh tawar satu, teh manis hangat dua, Mbak," jawab Nadhif.


"Ada lagi?" tanya wanita itu kembali.


"Sudah cukup, Mbak. Eh Mbak, itu ada iklan indekos lokasinya di sebelah mana ya, Mbak?" tanya Nadhif.


"Oh itu, nanti Masnya keluar dari gerbang kampus ini jalan ke kiri, sekitar 100 meter ada gang masuk, tidak begitu jauh sekitar 50 meter nanti ada rumah yang di depannya ada papan dengan tulisan 'Terima kost putri'. Yang mau ngekost siapa? soalnya itu khusus kost putri?" jawab dan tanya pelayan kantin tadi.


"Ini adik saya yang mau ngekost, Mbak," jawab Nadhif menunjuk ke Nadia.


"Oo iya, kebetulan itu rumah saudara saya," timpal pelayan kantin.


"Itu saja terima kasih, Mbak," sahut Nadhif.

__ADS_1


Pelayan wanita tersebut segera meninggalkan mereka bertiga untuk membuatkan pesanan.


Setelah cukup istirahat, Nadia dan Nadhif mencari keberadaan ruang administrasi kampus, sementara Mamak masih menunggu di kantin. Di sebuah koridor mereka berpapasan dengan seorang pria yang usianya sekitar 30 tahunan dengan pakaian formal, celana bahan berwarna navy, kemeja berwarna biru laut serta dasi garis garis berwarna biru gelap. Sementara jas berwarna biru navy ia tenteng di lengannya.


"Maaf, Pak. Saya mau ke ruang administrasi, dimana ya?" tanya Nadhif.


"Calon mahasiswa baru?" tanya Pria tersebut balik.


"Adik saya, Pak. Saya cuma mengantar," jawab Nadhif dengan menunjuk ke arah Nadia.


Pandangan pria tersebut beralih kepada Nadia. Saat pandangan mereka bertemu, jantung keduanya berdetak lebih kencang seperti habis lari mengelilingi lapangan sebanyak tujuh kali putaran. Nadia segera menundukkan kepalanya untuk menepis tatapan pria tersebut. Pria tersebut tersenyum lalu kembali menghadap Nadhif.


"Kalian lurus saja, ruang administrasi berada di ujung koridor ini," ucap Pria tersebut santun.


"Terima kasih, Pak," ucap Nadhif seraya mengangguk. Nadia pun juga ikut mengangguk.


"Sama-sama," ucap pria tersebut melangkah pergi.


Saat Nadia menoleh ke belakang, pria itu ternyata sedang menoleh juga kepadanya dengan senyum manis menghiasi bibirnya. Nadia segera menepis pandangannya dengan kembali memandang ke depan sambil tersenyum malu.


"Ayo, Dik! Kamu kenapa?" tanya Nadhif.


"Eh, tidak apa-apa, Kang," jawab Nadia kikuk.


Mereka kembali mencari ruang administrasi. Sementara pria yang tadi berpapasan dengan mereka menuju ke kantin.


"Mbak, biasa bakso sama es teh manis," serunya pada pelayan kantin.


"Bukan tidak disediain sarapan, Mbak, tetapi kalau masih pagi lidah dan perut belum nikmat untuk menerima makanan," sahut pria tersebut yang ternyata bernama Rasya.


"Eh, Mbak. Itu bapak di sebelah siapa? Enggak mungkin calon mahasiswa baru kan?" tanya Rasya menunjuk ke seorang bapak yang duduk di bangku yang tidak jauh dari tempatnya duduk.


"Mungkin saja calon dosen baru," seloroh pelayan kantin tersebut.


"Tidak mungkin," sergah Rasya.


"Hahaha, Mas Rasya yakin banget. Dia itu ngantar putrinya, calon mahasiswa baru di kampus ini, mereka datang dari Indramayu," tutur sang pelayan.


"Oo ... Makasih ya, Mbak," ucap Rasya.


"Iya, Mas. Silakan dinikmati," sahut pelayan. Rasya segera menyantap baksonya karena memang sudah lapar.


Sementara itu Nadia dan Nadhif. Setelah Nadia mengisi formulir daftar ulang, ia mendapatkan satu lembar catatan time schedule kegiatan sebelum jadwal perkuliahan dimulai. Mereka kembali melewati koridor menuju ke kantin.


Di kantin mereka kembali bertemu dengan orang yang tadi berpapasan dengan mereka saat di koridor menuju ke ruang administrasi. Orang tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Rasya, dosen sekaligus Rektor muda di kampus tempat yang Nadia akan kuliah.


"Sudah selesai ya, Dik?" tanya Rasya saat pandangan mereka bertemu.


"Eh iya, sudah, Pak. Terima kasih atas bantuannya," ucap Rasya. "Kami permisi dulu, Pak," pamit Rasya.


"Sama-sama, kalian mau ke mana?" tanya Rasya.


"Kami mau mencari tempat kost untuk adik saya, Pak."

__ADS_1


"Oo, silakan," ucap Rasya.


Setelah Nadhif membayar minumannya, mereka bertiga pergi meninggalkan kampus untuk mencari tempat kost untuk Nadia. Sementara Rasya, setelah menghabiskan makanannya, ia memilih untuk pergi ke kantor papanya, karena jadwal sementara di kampus hanya sehari saja selama satu minggu.


Pukul 9 malam Rasya baru pulang dari kantor. Sesampai di rumah dia langsung menuju kamarnya. Dia mendapati Celine istrinya sedang berdandan dengan pakaian seksi yang membalut tubuhnya.


"Mau ke mana kamu malam-malam begini memakai pakaian seksi minim bahan seperti itu?" tanya Rasya.


"Ini tren, Rasya. Ada temanku yang mengadakan party di club," jawabnya santai sambil memasang maskara.


Tanpa mempedulikan jawaban istrinya, Rasya segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena tubuhnya terasa lengket. Guyuran air shower mulai terdengar gemericik. Rasya sengaja berlama-lama supaya saat ia keluar dari kamar mandi, istrinya sudah pergi.


Rasya keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang membalut di pinggangnya. Ia masih mendapati Celine duduk di bangku meja riasnya.


"Kenapa belum berangkat?" tanya Rasya sambil membuka lemari pakaian, mencari piyama tidurnya.


"Aku masih kangen sama kamu, Beb."


Tiba-tiba Celine sudah memeluk Rasya dari belakang. Tangannya menarik handuk yang membalut tubuh suaminya, handuk itu langsung terpuruk di lantai. Celine meraih benda kenyal yang sudah tidak tertutup apa-apa itu, meremas dan mengocoknya.


Rasya tampak mengerang menahan kenikmatan. Ia terlena dengan apa yang dilakukan oleh Celine. Rasya membalikkan badannya. Segera ******* bibir istrinya yang sudah tertutup dengan lipstik berwarna merah menyala itu. Mendorongnya untuk berbaring di ranjang. Saat ia hendak membuka g-string milik Celine, tangannya ditahan oleh pemiliknya.


"Kenapa?" tanya Rasya Frustasi.


"Sabar, pelan-pelan, Beb," jawab Celine santai.


Celine mengeluarkan ponsel milik Rasya yang entah sejak kapan ponsel tersebut disimpannya di bawah bantal. Celine menyodorkan ponsel tersebut kepada pemiliknya. "Buka layar kuncinya?" perintahnya.


Rasya menurut saja membuka layar kunci ponselnya, karena pikirannya sudah dibutakan oleh nafsu. Ia ingin segera menuntaskan gairahnya. Setelah layar kunci ponsel itu terbuka, Celine segera merebutnya kembali. Membuka pesan masuk di ponsel tersebut. Menghafal beberapa angka yang ada di sana.


"Terimakasih, Beb," ucap Celine sambil mengecup singkat bibir Rasya, sementara tangan kanannya meremas gemas pasak bumi milik suaminya tersebut.


Celine mendorong tubuh Rasya hingga terjatuh ke samping. Ia segera bangkit, meraih tas branded dan sepatu hight heelnya di atas nakas dan secepat mungkin berlari keluar kamar.


"Dasar wanita sialan!" umpat Rasya menyadari ia telah ditipu okeh Celine sambil melempar bantal yang hanya mengenai pintu yang tidak berdosa.


Rasya dengan sangat terpaksa masuk lagi ke dalam kamar mandi untuk menidurkan juniornya yang sudah berdiri tegak. Seperti biasa ia mandi lagi dan membasuh benda pusakanya dengan sabun cair. Selesai mandi malam untuk yang kedua kalinya Rasya keluar. Saat ia sedang mencari kembali piyama tidurnya, ponselnya berbunyi. Ada notif pesan masuk. Rasya mengabaikan pesan tersebut. Ia memakai piyamanya. Setelah berpakaian lengkap, ia baru meraih ponselnya dan membuka pesan yang telah masuk.


"Dasar wanita ular sialan!" umpatnya.


.


.


.


.


To be continued


jangan lupa like n komen ya🙏


Terima kasih 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2