Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Duplikat


__ADS_3

Sepertinya dia sayang padaku


Sepertinya dia mencintaiku


Tapi cintanya hanya di mata


Sedangkan bibir tak mampu berucap


Sebait lirik lagu tersebut terdengar mengalun di kantin kampus tempat Nadia menimba ilmu. Lagu milik ratu dangdut Elvy Sukaesih yang banyak didaur ulang oleh artis dangdut Pantura. Nadia dan Prima sedang menikmati makan siang di Kantin tersebut saat waktu istirahat.


"Boleh gabung?" tanya seseorang yang tiba-tiba meminta izin, tetapi sudah duluan duduk di samping Nadia. Dia adalah mahasiswa yang mengaku bernama Radit.


"Eh, Radit. Silakan ini tempat buat umum kok," sambut Prima.


"Makasih, kalian udah kenal gue. gue malah belum mengenal kalian. Lo Asa, 'kan, yang waktu hari pertama Ospek dapat hukuman nyanyi dari Kakak panitia?" tebak Radit.


"Eh, iya. Masih ingat saja kamu," sergah Nadia.


"Pasti ingat lah, kan Lo nyanyi lagu tarling, benar-benar gadis unik. Hahaha ... , tetes banyu mata ... ," kekeh Radit.


"Ketawa saja terus sampai kaku perut kamu," sungut Nadia menyumpahi Radit yang menertawakannya.


"Dih, cemberut gitu manisnya ilang entar. Udah bodi kutilang darat, manisnya ilang. Duh ... dapat apa nanti cowok Lo?"


"Biarin," Nadia masih memasang wajah cemberutnya.


"Maaf deh, maaf," Radit menangkupkan kedua telapak tangannya.


"Mari makan," tawarnya sekedar basa-basi. Radit menyesap minuman yang dibelinya sebelum menyantap nasi. "Oh iya, nama Lo siapa?" beralih ke Prima.


"Prima," jawab Prima singkat karena ia sebenarnya tidak suka saat makan diajak bicara.


"Udah pada punya bahan buat ngerjain tugas Pak Rasya buat bikin makalah belum?" tanya Radit lagi.


"Belum, Lo udah punya?" tanya Prima balik.


"Sama, belum juga. Habis ini kita ke perpus yuk," ajak Radit.


"Iya, mau," Prima jadi antusias. "Kamu ikut kan, Nad?" beralih kepada Nadia.


"Ikut donk. Memangnya kita bisa dapat darimana selain di perpus?" sergah Nadia.


"Di toko buku," sahut Radit. "Eh, Asa. Memang Lo berasal dari Cirebon ya, kok bisa nyanyi lagu tarling?" tanyanya.


"Bukan, sebelahnya Cirebon," jawab Nadia berteka-teki.


"Brebes?" tanya Radit lagi.


"Bukan, Brebes kan Jawa Tengah, yang Jawa Barat."


"Oh, Indramayu?" Nadia mengangguk.


Mereka kini telah selesai menghabiskan makan siang mereka. Setelah membayar makanan yang dipesan masing-masing, mereka meninggalkan kantin. Melangkah menyusuri koridor mencari ruang perpus. Saat langkah mereka di depan ruang dosen, Rasya muncul membuka pintu dari ruangan tersebut hendak pergi ke kantor papanya.


"Pak Rasya," sapa Radit menundukkan kepala. Nadia dan Prima juga melakukan hal yang sama.


"Eh, Kalian. Mau pada kemana?" sahut Rasya.


"Kita mau ke perpus, Pak," sahut Radit.


"Oh, silakan. Saya permisi dulu, buru-buru." Rasya langsung menyeret kakinya menjauhi mereka, menuju ke tempat parkir mobilnya.

__ADS_1


"Kalau belum jadi member perpus, apa boleh pinjam buku dibawa pulang?" tanya Nadia kepada kedua temannya.


"Nanti kita sekalian mendaftar jadi anggota," sahut Radit.


"O, begitu," timpal Prima. "Lo asli Jakarta ya, Dit?" tanyanya kemudian.


"Bukan, gue anak kost juga," sahut Radit. Sepertinya Radit tidak ingin menyebut kota asalnya. Prima pun menyimpan kembali pertanyaan yang hendak dilontarkannya. 'Kenapa sapaanya Lo-Gue?' batinnya.


Sampai di perpustakaan banyak pengunjung, tetapi semua diam tidak menimbulkan suara. Radit mendaftarkan dirinya dan kedua orang temannya sebagai anggota perpustakaan yang baru. Setelah kartu anggota perpustakaan sudah mereka pegang masing-masing, kini mereka menuju ke rak buku-buku. Mereka menuju ke rak buku bagian manajemen.


Ketiganya sedang asik mencari buku yang mereka butuhkan untuk membuat makalah. Mereka mengambil buku dan membaca daftar isinya sekilas. Sudah bertumpuk buku di tangan Prima dan Nadia sekarang, tetapi mereka tidak mungkin meminjam buku tersebut semuanya.


"Cari buku apa?" tanya seseorang yang tiba-tiba menepuk pundak Prima. Prima menoleh ke belakang.


"Mas Rayan, ngagetin aja dech. Ini ... , lagi nyari buku manajemen bisnis buat bikin makalah.


"Aku ada beberapa, kalau mau nanti malam aku antar ke kostan Nadia," tawarnya.


"Beneran, Mas? Kalau iya nanti malam bawa aja semua ke tempat kost nya Nadia," putus Prima.


"Bener, kamu mau ngerjain tugas di kostan Nadia?" tanyanya.


"Emmm ... , iya. Di kostan Nadia saja biar banyak teman," sahut Prima. "Jaman udah canggih gini, bikin makalah kok harus tulis tangan," imbuhnya tersungut.


"Siapa dosennya?" tanya Rayan.


"Abang kamu tuh," jawab Prima. Rayan tergelak. "Sssttt ...." Prima menempelkan jari telunjuknya di antara dua bibir.


"Mohon jangan berisik ya!" seru penjaga perpustakaan memberi peringatan.


"Ups!" Rayan menutup mulutnya dengan tangan kanannya.


Sementara Nadia membawa setumpuk buku yang diambilnya dari rak ke deretan bangku, duduk dan memindai buku yang akan dipinjamnya. Dia kini duduk berhadapan dengan Radit.


"Ini masih kupilah-pilah, rencana aku mau pinjam 3 buku. Boleh tidak ya?" sahut Nadia diakhiri pertanyaan.


Radit terkekeh, "Tanya ke petugas, jangan ke gue. Gue kan juga member baru sama kayak Lo," sergah Radit.


"Kali aja kamu tahu," tebak Nadia.


Mereka kembali diam fokus pada bacaan masing-masing.


******


Melihat Nadia bersama teman laki-laki, tubuh Rasya rasanya gerah dan panas. Sebelum sampai di tempat parkir ia membelokkan badannya menuju ke kantin, langsung menghampiri show cash. Ia membuka show cash dan mengambil soft drink. Berharap dengan meminum soft drink tersebut rasa gerahnya akan hilang. Seketika soft drink yang ia pegang ia teguk hingga tandas. Namun, rasa gerah yang merasuk di tubuhnya seakan sudah terperangkap dan tidak dapat keluar lagi.


"Mas Rasya haus banget kayaknya?" terka Bu Ida sang pemilik kantin.


"Iya, nih. Tidak tahu kenapa hari ini kok gerah banget rasanya. Bon satu ya Bu, aku buru-buru ada janji sama teman," ujar Rasya langsung melangkah pergi.


"Iya, Mas. Santai saja," seru Bu Ida.


Rasya segera pergi meninggalkan kampus dengan mobilnya. Ponselnya berdering. Ia mengaktifkan ear phone. "Halo, Doddy. Kamu di mana sekarang?" tanya Rasya.


"Aku udah di Planet Resto nih," sahut Doddy.


"Oke, aku OTW ke sana," klik, Rasya memutuskan panggilan.


Sampai di depan Planet Resto, Rasya menghentikan mobilnya di depan pos satpam. Meminta Pak Satpam untuk memarkirkan mobilnya di tempat parkir restoran. Sementara itu ia sendiri langsung masuk ke dalam restoran menuju ke privat room yang telah dijanjikan.


"Hai, Brow!" sapa Rasya pada Doddy yang telah menunggunya. "Sorry, lama nunggu." Rasya dan Doddy bersalaman ala mereka. Lalu duduk berhadapan.

__ADS_1


"Sudah pesan makanan?" tanya Rasya.


"Sudah tadi," sahut Doddy singkat.


"Kapan sampai di bandara? Kenapa tidak kasih kabar?" cecar Rasya.


"Tadi malam jam sembilan, sengaja tidak kasih kabar, takut mengganggu temanku yang super sibuk ini," kekeh Doddy memukul lengan sahabatnya.


"Heleh paling-paling sudah ada wanita spesial yang jemput," terka Rasya.


"Iya mantan pacar," timpal Doddy.


"Kenapa nggak diajak kesini sekalian?" tanya Rasya.


Dua orang pelayan membawakan pesanan makanan yang sudah mereka pesan. Doddy menunda ucapannya hingga dua orang pelayan tadi meninggalkan mereka.


"Kamu mau misi kamu terbongkar sebelum berhasil?" sergah Doddy yang mulai memegang sendok dan garpu.


"Oh, iya." Rasya memukul keningnya sendiri "mengingat istri Doddy sahabatnya ini adalah teman kuliah Celine dulu. "Gimana hasilnya? nanti saja dech. Sekarang makan dulu," ujarnya.


"Tapi istriku tidak pernah dekat dengan Celine kok, jadi kamu tenang saja." Ucapan Doddy membuat hati Rasya sedikit menghangat.


Setelah menghabiskan makan siang mereka, Doddy mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Ia menyodorkan sebuah ponsel dari dalam tasnya. Rasya yang langsung penasaran langsung bertanya, "Ini ponsel siapa?"


"Boleh dibilang itu duplikat ponselnya Celine." Rasya semakin antusias untuk mendengarkan penjelasan sahabatnya tersebut. "Segala bentuk pesan maupun percakapan telepon, semua terekam di ponsel itu sampai waktu terakhir aku meretasnya. Foto-foto serta dokumen yang disimpan oleh Celine di Drive juga ada disitu. Semua aplikasi yang ada di ponselnya sama persis ada di ponsel itu," lanjut Doddy memaparkan.


"Apa ini aman, maksudku Celine atau teman-temannya tidak bisa melacaknya?" Rasya masih merasa khawatir. "Kamu pelajari dulu ponsel itu, kamu nanti akan tahu siapa istri kamu yang sebenarnya," imbuhnya.


"Lalu tentang uangku yang sering dia curi, bagaimana?"


"Aku tadi sudah bilang, ponsel itu seperti duplikat ponselnya Celine. Jadi di ponsel itu juga ada aplikasi m-banking dia. Sudah ku retas juga username dan password-nya. Sudah aku kirim ke email kamu. Sebab jika dikirim ke email yang ada di ponsel itu, otomatis dia bisa tahu, kalau akunnya diretas. Tenang saja, pihak Bank juga tidak akan bisa melacaknya. Kapanpun kamu bisa memindahkan uang di rekening Celine ke rekening kamu kembali. Kecuali jika Celine tiba-tiba melakukan tarik tunai sebelum kamu sempat menambilnya, tetapi menurutku tidak mungkin uang sebanyak itu bisa diambil dalam sekali tarik tunai. Kamu akan kaget jika mengetahui berapa jumlah uang yang ada di rekeningnya, yang sudah ia kumpulkan selama tiga tahun ini selama hidup bersama kamu," tutur Doddy panjang lebar.


"Baiklah, terima kasih Brow atas bantuannya. Nomor rekening kamu belum ganti kan?" tanya Rasya.


"Masih lah," jawab Doddy singkat.


"Maaf, aku tidak bisa mengobrol dengan kamu lama-lama. Aku harus segera ke kantor Bapak," ucap Rasya sungkan.


"Tidak apa-apa, Sya. Aku juga masih kangen sama keluargaku. Tadi anakku ngajak jalan-jalan, mumpung aku libur," sahut Doddy.


Rasya mengetikkan sesuatu di ponselnya. "Apa segini cukup?" tanyanya menunjukkan nominal M-banking di ponselnya.


Doddy menatap layar ponsel Rasya. "Cukup, Bro. Terima kasih banyak," ucap Doddy.


"Aku yang harusnya berterima kasih sama kamu, Doddy. Tanpa bantuan kamu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada perusahaan bapakku nantinya," sanggah Rasya.


"Kita ini sahabat, Sya. Sudah seharusnya kita saling membantu," ucap Doddy sambil berdiri.


Rasya pun ikut berdiri, "Salam buat anak dan istri kamu, Brow," ucapnya. Mereka berjalan beriringan ke luar dari restoran.


"Iya nanti aku sampaikan. Salam juga buat Bapak sama Ibu. Sudah lama aku tidak berjumpa dengannya. Sejak aku nikah kali ya," ucap Doddy.


Mereka akhirnya berpisah di halaman, karena Doddy menuju ke tempat mobilnya diparkir, sementara Rasya menunggu satpam mengantarkan mobilnya di halaman.


.


.


.


TBC

__ADS_1


Terimakasih yang sudah mau menunggu 😘😘😘


__ADS_2