Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Bertahan


__ADS_3

Pagi yang cerah, lantunan sholawat Jibril masih terdengar dari ponsel milik Nadia. Saat ini ia sedang mematut dirinya di depan cermin. Memastikan penampilannya supaya sempurna. Melihat dari penampilan dan pakaian yang ia kenakan pasti hari ini adalah hari yang spesial.


Tiba-tiba sepasang tangan kekar melingkar di perutnya yang sudah sangat besar, mengelusnya lembut. Kepalanya ia sandarkan di pundak perempuan hamil itu. "Kenapa tidak pakai jasa MUA yang ibu rekomendasikan sih, hem?" tanyanya menatap pantulan wajah perempuan itu di cermin.


"Nanad kan nggak mau diapa-apain, nanti malah jadi kayak ondel-ondel," sahut Nadia. "Begini juga udah cukup kok," imbuhnya seraya tersenyum puas dengan hasil jerih payahnya sendiri.


"Perutku nggak kelihatan besar banget kan, Mas?" ucapnya lagi memastikan sambil melenggak-lenggokkan tubuhnya.


"Iya, Sayang. Kelihatan juga tidak apa-apa," sahut Rasya menahan senyum. "Emmm, kalau nanti mbrojol di sana gimana?" celetuk Rasya yang sontak mendapat pukulan di lengannya. Rasya reflek langsung melepas pelukannya.


"Mas Rasya kok ngomong gitu sih? Pengen ya kita kerepotan saat ada acara penting? Ucapan itu do'a loh, Mas," tuduh Nadia. "Jangan sampai deh, Mas. Amit-amit jabang bayi," ucapnya sembari mengusap-usap perutnya.


"Mas cuma khawatir, Sayang," elak Rasya.


Tok tok tok


Suara ketukan menginterupsi kegiatan mereka. Rasya dan Nadia seketika menoleh ke arah pintu Pintu itu dibuka dari luar karena tidak dikunci.


"Sudah selesai belum, Pa, Tante Nanad?" tanya Raka yang disuruh oleh eyangnya untuk memanggil mereka.


"Sudah kok, Raka. Ayo, Mas! Jangan lupa bawakan toganya, mau Nanad pakai pas mau masuk ballroom saja," sahut Nadia. "Eh Raka, Tante Pipim sudah sampai?" tanyanya lagi.


"Om Rayan bilang dari rumahnya langsung ke sana, Tante," sahut Raka.


Nadia mengangguk paham, ia pun meraih tas yang sudah ia persiapkan lalu melangkah ke luar kamar. Rasya meraih godibag besar yang membungkus toga sebelum ikut keluar mensejajari langkah istrinya.


"Mas, nanti yang masuk jadi wali pendamping aku Bapak sama Ibu atau Mamak sama Mimik?" tanya Nadia.


"Ya Mamak sama Mimik lah, mereka kita undang ke sini kan supaya bisa menyaksikan anaknya diwisuda. Lagian Bapak sama itu udah dapat undangan sendiri kok," sahut Rasya.


"Oo, terus Raka sendirian nunggu di luar?" tanyanya lagi.


"Maaf, Tante. Raka nggak bisa hadir ada kegiatan sendiri di kampus," sela Raka.


"Lho memangnya para dosennya tidak pada di tempat wisuda?" tanya Nadia.


"Ini kegiatan sendiri kok, Tan. Tidak bersama dosen," jelas Raka.


Dua mobil beriringan keluar dari kediaman Baskoro membelah jalan ibukota menuju ke tempat berlangsungnya prosesi wisuda - Merysta Hotel. Sampai di tempat wisuda, Rasya mengantar istrinya duduk di kursi sesuai nomor urut yang didapatkan. Setelah itu ia duduk di deretan kursi para senat.


Acara wisuda pun berjalan dengan lancar hingga saat tiba giliran Nadia diwisuda terjadi tabrakan topi toga. Usai Nadia diwisuda oleh Rasya, ia mencium punggung tangan suaminya, Rasya reflek melakukan kebiasaannya mencium kening istrinya tersebut. Bukannya khidmad kejadian tersebut malah mengundang gelak tawa dan riuh ballroom.


"Sayang, tunggu Mas di kursi paling depan situ ya! Nanti kita keluar bareng," pinta Rasya yang dijawab Nadia hanya dengan anggukan.


Nadia menyerongkan tubuhnya untuk meninggalkan Rasya karena di belakangnya sudah mengantri wisudawan yang lain. Saat menuruni undakan terakhir ternyata ketinggiannya lebih tinggi dari yang sebelumnya sehingga kakinya tidak siap menahan bobot tubuhnya.


Karena pendaratan yang tidak sempurna membuat ia terkejut. Nadia terduduk di undakan memegangi perutnya. Ia mengerang. "Aww, sakit," pekiknya.


Petugas kamera yang menyorotnya pun memanggil petugas keamanan dan tim medis yang berjaga. Nadia langsung dibawa ke rumah sakit. Sementara keluarga lainnya belum menyadarinya. Karena mereka fokus melihat ke panggung, tidak ke layar LCD. Padahal saat kejadian Nadia terduduk di undakan sempat terekam kamera.


"Sakit," erang Nadia yang kini berada di mobil ambulan dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.


"Tahan ya, Mbak. Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit," bujuk petugas medis.


Sementara itu, Prima yang berada tepat di urutan di belakang Nadia sempat melihat kejadian di depannya sedikit. Ia langsung menelepon suaminya setelah turun dari undakan.


"Mas, kamu dimana?" tanyanya pada Rayan di telepon.


"Di depan pintu keluar samping, Sayang. Ada apa?" sahut Rayan.

__ADS_1


"Ya udah, tunggu di situ saja," pinta Prima.


Gegas Prima segera keluar dari ballroom. Sampai di luar ia celingukan ke kiri dan kanan.


"Sayang, cari siapa sih? Mas di sini," seru Rayan memenggal kegiatan Prima.


"Eh, Mas. Ngagetin aja deh." Prima mencebik. "Mas Rayan tadi lihat Nanad jatuh di undakan terakhir tidak?" tanyanya.


"Iya lihat, tapi Mas bingung. Kan lagi nunggu kamu keluar. Tapi Mas udah nyuruh Adit ngikutin kemana petugas medis membawanya."


"Ayo kita susul, Mas," pinta Prima langsung menarik tangan suaminya melangkah.


"Kamu enggak pengen foto-foto dulu?" tanya Rayan mensejajari langkah istrinya.


Prima menghembus napas kasar. "Mana hatiku bisa tenang foto-foto, Mas? Sementara saudara kita tidak kita ketahui bagaimana keadaannya," ucapnya. "Mas Rasya juga mungkin tidak bisa dihubungi karena proses wisuda belum selesai."


Karena lorong menuju basemen parkir yang masih jauh, Rayan meminta istrinya untuk menunggu di depan lobi hotel saja yang lebih dekat. Sementara Rayan yang berjalan kaki menuju ke basemen parkir.


Mereka meninggalkan hotel menuju ke rumah sakit yang telah diinformasikan oleh asisten Rayan pada aplikasi hijau. Dua puluh menit perjalanan yang dibutuhkan untuk sampai di rumah sakit. Mereka langsung menuju ke UGD. Seorang perawat keluar dari ruang UGD. Rayan melangkah mendekatinya. Prima pun sama.


"Keluarga ibu Asa Nahdiana?" tanya perawat tersebut.


"Kami keluarganya, Sus," sahut Rayan.


"Tolong urus administrasi, pasien harus segera di operasi. Tolong siapkan juga tiga buah jarik, gurita ibu, pembalut dan baju bayi," suruh suster itu.


"Baik, Sus," sahut Rayan.


"Emm ... boleh saya masuk, Sus?" tanya prima.


"Silakan. Masnya ke bagian administrasi ya," sahut suster.


"Nanad," sapa Nadia seraya menggenggam tangan perempuan itu yang bebas dari jarum infus.


Nadia menoleh, "Pipim, kamu sama siapa? Mas Rasya udah ku telepon berulang kali belum angkat juga," ucapnya lemah dengan mata berembun.


"Sabar, mungkin belum selesai acara wisudanya," sahut Prima menenangkan. "Papa, Mama, Mamak sama Mimik sudah ku hubungi, mereka dalam perjalanan menuju kemari," tambahnya.


"Tolong telpon Mbak Nina! Suruh bawakan kemari tas besar berisi perlengkapan lahiran yang sudah ku persiapkan di kamar bawah," pinta Nadia.


"Oh, iya. Aku ke sini juga tadi mau menanyakan itu."


Prima pun melepaskan genggaman tangannya. Lalu meraih ponselnya di saku dress wisuda yang masih ia pakai. Hanya toganya saja yang dilepas dan ia tinggal di mobil. Ia menghubungi Nina.


*****


Sementara itu Rasya yang baru selesai mewisuda turun dari panggung, tetapi tidak mendapati istrinya duduk di deretan kursi terdepan sesuai pesannya tadi. Ia pun merogoh ponsel yang ia simpan di dalam saku jasnya dalam keadaan non aktif karena takut mengganggu acara.


Saat pikirannya lagi gelisah bercabang kepada Nadia, eh malah banyak wisudawan dan wisudawati yang mengajaknya untuk foto selfi maupun bareng-bareng. Akibatnya ia tak fokus pada kamera sang fotografer.


"Astaghfirullah, 99+ panggilan," pekik Rasya saat ia baru mengaktifkan ponselnya dan membuka kunci layar. Ia menekan ikon aplikasi berwarna hijau. Barulah ia gegas keluar dari ballroom tanpa mempedulikan panggilan dari rekan dosen maupun mahasiswa. Rasya masuk ke dalam lift yang bergerak turun kemudian keluar di basemen parkir.


Rasya mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Berkali-kali ia harus menekan klakson karena lalu lintas yang padat menghalangi jalannya.


[Langsung ke depan ruang operasi ya, Sya. Nadia sudah masuk ruang operasi beberapa menit yang lalu.]


Satu pesan dari Bu Nastiti yang dikirim setengah jam yang lalu sempat ia baca setelah turun dari mobil. Tanpa membalas pesan tersebut Rasya langsung melewati koridor menuju ke ruang operasi yang sudah ia hafal di rumah sakit tersebut.


Rasya jadi teringat dulu ia juga menunggui Nadia di depan ruang operasi, bedanya dulu karena gadis itu kena tusukan yang dilakukan orang suruhannya Celine. Sedangkan sekarang gadis itu sedang menjalani operasi caesar untuk mengeluarkan bayi, buah cinta mereka berdua.

__ADS_1


"Bu, Nanad sudah lama di dalam?" Tanya Rasya setelah mencium tangan kedua orang tuanya.


"Hampir satu jam, Nak. Duduklah," sahut Bu Nastiti seraya menepuk bangku kosong di sampingnya.


Rayan menawarkan sebotol air mineral kepada sang kakak. Rasya pun meraihnya dan meneguk beberapa kali.


"Berdo'a saja semoga operasinya lancar serta sehat ibu dan bayinya," ucap Bu Nastiti seraya mengusap punggung anak sulungnya yang terlihat gelisah.


Eh yang dinasehati malah bangkit dari duduknya. "Rasya sholat dhuhur dulu ya, Bu," pamitnya. Bu Nastiti mengangguk, memandangi punggung anak sulungnya yang kian menjauh.


Beberapa saat kemudian Rasya kembali dari mushola, tetapi lampu di pintu ruang operasi masih menyala. Setelah lama menunggu operasi akhirnya selesai. Nadia dipindahkan ke ruang rawat sementara bayinya masih di ruang bayi.


Rasya menghampiri Nadia yang masih berbaring karena belum hilang efek biusnya.


"Mas, anak kita sudah kamu azani?" tanya perempuan itu kepada suaminya.


"Sudah barusan, dia cantik seperti kamu. Kamu mau lihat," sahut Rasya kemudian menunjukkan galeri foto di ponselnya. Nadia tersenyum memandangi foto bayinya.


"Nangisnya kenceng banget tadi. Namanya siapa, Mas?"


"Em, Mas kasih nama Inara, Inara Rasya Bagaskara. Kamu suka enggak?" sahut Rasya.


"Inara Rasya Bagaskara. Suka, itu artinya cahaya kan?"


Rasya mengangguk, tangannya meraih dan menggenggam tangan Nadia yang bebas dari infus, lalu bergerak maju untuk mengecup kening istrinya. Dalam dan lama.


"Terimakasih, Sayang. Sudah berkorban dan bertahan sampai sejauh ini. Sudah menghadirkan putri cantik, harta yang paling terindah yang akan melengkapi hidup kita. Maaf ya, Mas belum bisa membahagiakan kamu," ucapnya.


Perlahan bulir-bulir bening keluar dari pelupuk mata Nadia. "Nanad bahagia, Mas. Apalagi sekarang sudah ada Inara yang akan memperkuat jalinan cinta kita. Asalkan Mas Rasya tetap di sisi Nanad dan tak akan berpaling kepada siapapun, kita akan meniti bersama jembatan untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Terima kasih juga juga Mas Rasya sudah menerima Nanad apa adanya, kekurangan dan kelebihan Nanad, walaupun sebelumya Nanad sempat divonis mandul sejak operasi beberapa tahun yang lalu."


Rasya kembali menciumi wajah Nadia rakus seperti enggan untuk berpisah.


"Ehm ... ehm ..."


Terdengar suara dehaman dari arah pintu, Rasya dan Nadia serempak menoleh.


"Maaf, Pak, Bu saya mengantar bayi kalian. Nanti tolong disusui ibunya ya, jangan dikasih susu formula," ucap seorang perawat yang mendorong box bayi.


"Baik, Suster, tetapi saya belum bisa bangun."


"Nanti kalau efek biusnya sudah hilang, kaki ibu sudah bisa digerakkan, silakan latihan duduk ya ibu. Besok pagi sudah bisa latihan berjalan ke toilet," tutur perawat


"Oh, begitu ya, Suster? Baiklah."


"Ada yang perlu ditanyakan lagi?" tanya perawat memastikan.


"Apa istri saya sudah boleh makan, Suster?" tanya Rasya.


"Untuk makan jangan dulu ya, Pak. Tapi sebaiknya diminum teh hangat sedikit demi sedikit biar perut tidak kembung. Jangan satu gelas diminum sekaligus ya, Pak, Bu, sedikit-sedikit saja," jawab perawat.


"Baik, Suster. Sepertinya cukup itu saja," ucap Rasya.


Suster pun meninggalkan ruangan setelah berpamitan.


.


.


.

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2