Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Makan Siang


__ADS_3

Nadia membuka mata saat alarm alaminya membangunkannya. Ia mendapati wajah makhluk tampan di depannya. Tubuhnya sama polosnya dengan dirinya, hanya tertutup selimut. Tangan Nadia terulur untuk memainkan bagian tubuh laki-laki tersebut. Mulai dari wajah, menekan-nekan pipi lalu memencet hidung.


"Mas, bangun! Nanti keduluan sama Atar loh,"


"Hemmh ... " hanya lenguhan yang keluar dari bibir laki-laki itu.


Nadia kini beralih memainkan dada suaminya. Menusuk-nusuk dengan jarinya, terkadang membuat garis-garis yang tidak jelas.


"Mas, Bangun!" ucapnya lagi.


"Ini udah bangun, Sayang," jawab Rasya dengan suara serak nya dan masih dengan mata terpejam.


"Mana? Orang dari tadi masih merem gitu."


Namun, satu tangan Rasya meraih tangan Nadia. Menuntunnya ke bawah sana menuju ke benda pusaka miliknya.


"Ih!" Nadia mencebik sambil mendelik, tetapi tidak ada penolakan. Bahkan ia malah memainkan benda kenyal yang kini sudah tegak berdiri tersebut.


"Satu ronde saja kamu yang pimpin, nanti kita mandi sama-sama," ucap Rasya dengan suara parau tersulut gairah.


Akhirnya satu ronde mereka lakukan dengan sangat hati-hati, takut Atar terbangun dan melihat kegiatan mereka. Rasya mengijinkan Atar tidur di kamarnya. Ia bahkan telah memindahkan ranjang mini bekas tempat tidur Tiara ke kamar tersebut sebagai tempat tidur pemuda kecil yang telah menjadi yatim sejak umurnya yang baru tiga bulan itu.


Azan subuh berkumandang merdu. Membangunkan setiap insan yang terlelap untuk datang memenuhi panggilannya ke masjid dan ke surau-surau.


Bunyi gemericik air terdengar dari kamar mandi di kamar Rasya dan Nadia. Nadia mempercepat ritual mandinya takut kalau dia belum selesai mandi Atar sudah bangun.


"Enggak usah tergesa-gesa mandinya, Sayang," ucap Rasya yang kini sedang menggosok punggung istrinya dengan shower puff.


"Kalau Atar bangun enggak ada orang di sekitarnya kan bisa bahaya, Mas. Takutnya dia turun sendiri dari ranjang," sahut Nadia.


"Kan ranjangnya ada pagarnya," timpal Rasya.


"Bisa saja kan dia nekad manjat," ucap Nadia masih khawatir.


"Udah selesai, bilas sana di shower," ucap Rasya yang kini berganti menggosok kulit tubuhnya sendiri dengan shower puff dan sabun cair.


Nadia membilas tubuhnya dengan air shower hingga bersih, lalu ia meraih bathrob untuk membalut tubuhnya dan handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Ia keluar dari kamar mandi.


"Nda," terdengar Atar memanggil bundanya.


"Mama di sini, Sayang," seru Nadia dengan setengah berlari. "Atar udah bangun?" ucapnya lagi. Pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban sebenarnya.


"Pipis dulu yuk!" ajak Nadia. Atar hanya menurut saja saat tubuh kurusnya dibopong oleh Mama kutilang darat ke kamar mandi.


Di pintu kamar mandi, mereka berpapasan dengan Rasya yang sudah selesai mandi dengan sehelai handuk melilit di pinggang dan handuk kecil tersampir di pundak.


"Mau apa?" tanya Rasya memicingkan mata. Padahal ia pasti sudah dapat menebak kau istrinya pasti mau nganterin anak kecil itu pipis.


"Nganterin Atar pipis," jawab Nadia.


"Biar sama Mas, kamu enggak boleh ya lihat-lihat apalagi pegang punya orang lain," tukasnya. "Sama Papa saja yuk pipisnya, Sayang."


Nadia hanya menghela napas menyerahkan Atar ke gendongan suaminya. "Ya ampun suamiku, sama anak kecil saja dicemburui," batinnya.


"Ya udah, aku bikinin susu buat Atar saja," ucap Nadia.


Nadia membuatkan susu untuk Atar dan ia letakkan di atas nakas. Sebentar kemudian ia lalu berganti baju. Saat keluar dari walk in closet ia mendapatinya Atar yang tengah berbaring di tempat tidurnya sedang meminum susu dengan botol yang dipegangnya sendiri.


"Atar pinter ya, bisa mimik susu sendiri. Jangan kemana-mana ya, Sayang. Mama Nanad mau sholat dulu."


Nadia meninggalkannya karena ia hendak kembali ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Saat keluar dari kamar mandi Rasya sudah menunggunya untuk sholat berjamaah. Mereka pun melaksanakan sholat berjamaah subuh.


***


Hari-hari berikutnya selama PKL, Nadia selalu berangkat bersama sang suami. Namun saat masuk ke dalam gedung kantor mereka berjalan sendiri-sendiri, seakan menunjukkan kepada penghuni kantor bahwa mereka mengenal hanya sebatas antara dosen dan mahasiswanya. Hanya segelintir orang kantor saja yang mengetahui bahwa mereka adalah sepasang suami istri.


Rayan juga telah kembali bekerja di kantor menjabat sebagai direktur. Ia menempati ruangan di sebelah ruangan yang dipakai oleh Rasya di lantai dua belas. Ia mengambil salah seorang pegawai dari divisi manajemen menjadikannya sebagai seorang sekretaris sampai Prima lulus kuliah dan menggantikan posisi sekretaris tersebut.


Sementara itu sesampai di kantor Nadia menjalani perannya sebagai seorang pegawai dengan baik. Ia melakukan pekerjaan yang dibebankan kepadanya dengan tekun.


"Sudah waktunya istirahat. Silakan kalian pergunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai nanti saat sudah waktunya masuk kalian malah pergunakan untuk istirahat," Ucap Amir yang tiba-tiba sudah berada di ruang kubikel divisi Litbang.


"Nanggung ini sebentar lagi, Pak," sahut Nadia yang masih khusyuk dengan pekerjaannya.


"Mau makan dimana, Nad?" tanya Arif yang sudah menyelesaikan pekerjaan dan duduk bersandar di meja Nadia.


"Di luar saja ya? Bosen di kantin terus. Aku bonceng motor kamu," cetus Nadia.

__ADS_1


"Yakin, Mbak Nadia mau bonceng Arif?" tanya Amir yang ternyata belum beranjak dari tempatnya berdiri tadi.


"Eh, Pak Amir ternyata masih di sini. Saya cuma bonceng saja kok, Pak," sahut Nadia.


Karena setahu Nadia suaminya tadi ada jadwal di kampus. Tadi pagi setelah mengantar Nadia ke perusahaan ia langsung pergi ke kampus.


"Pakai mobil aku saja, Nad. Biar muat semua," cetus Melani.


"Ya sudah tidak apa-apa pakai mobil Melani saja," ucap Nadia akhirnya. Padahal dalam hati mah ogah.


Mereka keluar bertiga. Nadia, Arif dan Melani. Nadia mengajak kedua teman magangnya ke Planet kafe dan resto yang letaknya tidak jauh dari kantor Baskoro Groups.


Arif yang memegang kendali stir, di sampingnya duduk Melani. Sementara Nadia duduk di kursi penumpang sendirian. Rasanya ia seperti obat nyamuk saja duduk di belakang sendirian.


Tidak berapa lama mereka sampai di tempat yang mereka tuju. Rumah makan yang masih menjadi milik ayah mertua Nadia, Planet kafe n Resto. Mereka keluar dari area parkir dan berjalan masuk menuju ke dalam rumah makan dengan penuh canda tawa.


"Kita pilih meja di privat room saja ya, Rif, Mel?" ajak Nadia pada kedua orang temannya.


"Enggak mau ah, mending kita cari kursi yang kosong di sini saja deh, Nad. Kalau di privat room pasti enggak bisa cuci mata," tolak Melani.


"Iya, Nad. Di sini saja," timpal Arif mendukung Melani.


"Ya udah deh," akhirnya Nadia mengalah.


Mereka duduk di salah satu kursi yang kosong. Seorang pelayan langsung menghampiri mereka untuk mencatat pesanan. Nadia memilih menu soto Betawi. Entah mengapa tiba-tiba ia ingin makan kuliner tersebut. Sementara kedua teman lainnya lebih memilih untuk memesan rawon.


Tidak menunggu lama makanan yang mereka pesan pun datang. Mereka segera mengeksekusi semua makanan yang dipesan.


Nadia meminta ijin kepada kedua temannya untuk melaksanakan sholat dhuhur. Ia akan menumpang sholat di mushola yang disediakan oleh rumah makan.


Saat sampai di mushola Nadia segera mengambil air wudhu. Untung antriannya tidak panjang karena ia tadi makan terlebih dahulu.


Selesai sholat Nadia hendak kembali menemui kedua temannya. Namun, ia menangkap siluet suaminya sedang duduk di kursi ruangan out door sedang merangkul mesra seorang perempuan tanpa penutup kepala.


Ia mempertajam penglihatannya barangkali ia salah lihat, tetapi warna celana dan kemeja yang pria itu pakai masih sama dengan yang dipakai oleh suaminya tadi pagi. Nadia merogoh ponselnya dan mengirim pesan WhatsApp.


[Mas dimana sekarang? Udah kembali dari kampus?]


Nadia menunggu beberapa menit, tetapi belum juga dibalas oleh suaminya.


SuamiQ


[Nggak usah, aku udah makan kok. Mas sama siapa?]


SuamiQ


[Sama teman. Beneran nggak pengen nitip makanan?]


"Sama teman kok mesra begitu," gerutu Nadia yang langsung pergi ke luar tanpa menghampiri kedua temannya lagi. Ia hanya mengirim pesan kepada kedua temannya untuk tidak menunggunya karena ia ada keperluan lain mendadak.


"Ada apa, Rif?" tanya Melani kepada Arif.


"Nadia enggak bisa balik ke kantor bareng kita, katanya ada urusan mendadak," sahut Arif. "Yuk kita balik saja, sebentar lagi waktu istirahat selesai," ajaknya.


Saat keluar dari tempat duduknya Melani melihat Rasya berjalan dari dalam dengan seorang wanita yang sedang menggandeng pinggangnya.


"Eh, Rif. Itu kan Pak Rasya," tunjuk Melani.


"Mana?" tanya Arif.


"Itu yang gandengan sama cewek cantik dan seksi lagi berjalan kemari. Itu istrinya kali ya," sahut Melani.


"Oh iya," timpal Arif.


Rasya mengenali Melani dan Arif sebagai mahasiswanya karena ia yang mengantar ke perusahaan bapaknya.


"Loh, kalian makan di sini juga ternyata. Kok cuma berdua? Yang satunya mana?" cecar Rasya yang tidak mendapatkan Nadia di antara mereka.


"Tadi kami bertiga bareng Nadia kok, Pak. Tadi Nadia ke mushola untuk sholat, tetapi barusan dia kirim pesan kalau dia tidak bisa ikut kembali ke kantor bareng kita karena ada urusan mendadak," jawab Arif.


Mendengar penuturan Arif, Rasya langsung melepas rangkulan tangan Linda yang posesif itu.


"Maaf, saya duluan ya," pamitnya.


Lalu dengan langkah tergesa Rasya keluar dari restoran.


"Mas mau kemana, Sih?" seru Linda.

__ADS_1


Di pintu masuk Rasya berpapasan dengan Rayan.


"Mas, kakak ipar diapain sih? Kok mukanya cemberut gitu tergesa-gesa keluar dari restoran," tutur Rayan.


"Kemana dia?" tanya Rasya.


"Katanya tadi mau beli es kelapa muda. Mungkin ke penjual es kelapa muda yang ada di sebelah kanan resto, Mas," sahut Rayan.


"Sini kunci motor kamu, kamu pakai mobil Mas, kuncinya ada sama pak satpam," tukas Rasya yang langsung merebut kunci yang ada di tangan Rayan.


Sementara itu Nadia sudah sampai di tempat penjual es kelapa muda. Ia duduk di tikar lesehan.


"Bukain kelapa muda satu ya, Mas. Jangan dikasih es," ucapnya pada si penjual.


"Hijau biasa atau kelapa hijau Wulung, Mbak?" seru si penjual bertanya.


"Yang wulung harganya berapa, Mas?" tanya Nadia.


"Yang kecil 20 ribu, yang besar 25 ribu, Mbak," jawab si penjual.


"Wulung yang kecil saja ya, Mas," ucap Nadia


"Baik, Mbak. Silakan ditunggu."


Rasya baru saja tiba di tempat penjual es kelapa muda. Ia merasa lega karena menemukan sosok istrinya tanpa memerlukan waktu yang lama. Ia duduk di depan Nadia. Mereka terhalang meja.


"Kenapa enggak bilang kalau kamu juga ada di resto? Kenapa enggak temui Mas? Hem?" cecar Rasya.


"Takut gangguin Mas yang lagi mesra-mesraan sama cewek seksi," sahut Nadia ketus.


"Mas nggak lagi mesra-mesraan, Sayang," elak Rasya.


"Siapa pun yang melihat pasti juga akan bilang kalau Mas sama cewek itu mesra," kekeuh Nadia.


"Cewek itu Linda, Sayang. Anak adiknya Bapak, saudara sepupu Mas Rasya," terang Rasya yang sebenarnya Nadia juga sudah pernah mendengar.


Pesanan kelapa muda murni yang dipesan Nadia datang. "Silakan, Mbak!" ucap si penjual.


"Makasih, Mas," Nadia menyahut. Ia menyeruput air kelapa muda yang segar itu beberapa kali sebelum kembali berucap.


"Tania sama Edos juga saudara sepupu, mereka menikah dan punya anak, Atar dan Bita," begitulah Nadia, selalu punya argumen untuk menguatkan pendapatnya.


"Mereka kan saling cinta, Mas cintanya cuma sama kamu, Sayang."


"Cinta sama aku, tetapi berani pelukan sama cewek lain di tempat umum," Nadia mencebik.


"Huft ... begini ya resiko punya istri pintar, ada saja balasannya," decak Rasya.


"Pokoknya aku nggak suka ya, Mas Rasya pelukan sama siapapun. Saudara Mas atau bukan, apalagi cuma saudara sepupu. Mas sebenarnya sadar enggak sih, kalau Linda itu suka sama Mas Rasya," ucap Nadia mengungkapkan unek-uneknya.


"Maafin Mas ya. Lain kali Mas akan menghindar," janji Rasya.


Rasya mengambil sebatang sedotan yang disediakan di depannya bermaksud ikut menyeruput air kelapa muda yang yang diminum oleh Nadia kayaknya segar banget. Namun, Nadia langsung memundurkan kelapanya dan menutupinya dengan punggung tangannya.


"Bagi donk, Yang!" pintanya dengan muka memelas.


"Pesan saja sendiri," perintah Nadia.


"Mas takut enggak habis kalau pesan sendiri," ucap Rasya.


"Kalau enggak habis tinggal dibuang atau dibungkus bawa pulang. Lagian cuma 25 ribu itung-itung ngasih rejeki sama Mas penjualnya," tutur Nadia.


"Mahal amat 25 ribu," cela Rasya.


"Ini kelapa hijau wulung, Mas. Kalau kelapa hijau biasa paling 15 ribu," tutur Nadia.


"Oo ... " ucap Rasya. "Mas, pesan kelapa muda yang kayak istri saya pesan satu ya," serunya pada si penjual.


"Baik, Mas. Silakan ditunggu."


.


.


.


TBC

__ADS_1


Terima kasih yang masih berkenan hadir😘


__ADS_2