Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Anak Majikan


__ADS_3

Hubungan persahabatan antara Nadia, Prima dan Tania semakin akrab. Hampir setiap hari mereka menginap di rumah Tania karena membantu Tania mengerjakan tugas-tugas yang tertinggal yang harus dikumpulkan minggu depan.


Seperti hari ini, ketiga sahabat tersebut sore ini sedang berada di gazebo, berkutat dengan laptop dan alat tulis, ditemani es buah dan rujakan yang dibuat oleh Siti. Karena akhir-akhir ini keadaan Tania memang buruk. Setiap pagi ia selalu muntah-muntah. Tidak bisa mencium bau masakan. Ia hanya ingin makan yang asam-asam saja. Setiap waktu ia harus mengemut permen untuk menetralisir rasa aneh di lidahnya.


"Kamu udah periksa ke dokter, Tan? Mungkin saja ada sesuatu di perut kamu."


Prima bertanya sambil berkutat dengan laptopnya, sesekali ia mencolekkan mangga muda yang diambilnya dengan sambal kacang lalu segera menyantapnya. Mau tidak mau mereka juga ikut menikmati makanan yang ingin dimakan oleh Tania tersebut.


"Aku belum sempat," sahut Tania.


"Kalau kamu mau periksa mungkin saja nanti kamu dikasih vitamin buat menghilangkan rasa mual itu, Tan," timpal Nadia.


"Mama sudah nawarin sih, mau menemaniku ke dokter. Tapi kamu kan tahu sendiri kita setiap sore selalu mengerjakan tugas," tutur Tania.


Ponsel Prima di atas meja berdering, tertera nama Mas Rayan di layar ponsel.


"Assalamu'alaikum, Mas Rayan," sapa Prima.


"Wa'alaikumussalam, nanti malam kamu masih mau menginap di rumah Tania, Prim?" tanya Rayan.


"Kayaknya iya, Mas, ini saja bikin dua makalah belum kelar. Kenapa memangnya? Mau kirim martabak telur kah?" tanya Prima berharap lebih.


"Hehehe ... mau martabak telur ya? Nanti jam tujuh aku jemput kalau mau pulang," sahut Rayan.


"Iya, Tania lagi pengen makan martabak telur. Sama Nadia juga, Mas?" tanya Prima lagi.


"Aku bawa motor, Nadia biar besok pagi saja sekalian berangkat kuliah," jawab Rayan.


"Ya udah, iya aku mau," timpal Prima tersenyum.


"Sampai nanti ya, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Prima kembali meletakkan ponselnya ke atas meja.


"Mas Rayan ya, Prim?" tanya Nadia kepo karena sejak tadi hanya jadi penyimak saja.


"Iya, nanti malam mau menjemput aku pulang. Kamu di sini saja ya temani Tania, Nad," sahut Prima sekaligus meminta kepada Nadia.


"Iya, semoga sukses ya, Prim. Aku kapan ya dapat telepon dari orang yang kucintai," sahut Nadia sambil berandai-andai.


"Sabar," sahut Prima dan Tania kompak sambil tersenyum.


Prima kembali berkutat dengan keyboard laptop, sementara Nadia sekarang memilih membantu Tania mengerjakan tugas dalam bentuk tulis tangan.


"Kayaknya udah selesai ini, Tan. Coba kamu periksa dulu sini, barang kali menurut kamu ada yang kurang," pinta Prima menepuk tempat di sebelahnya pada Tania.


Tania pun duduk di samping Prima dan mengambil alih laptop tersebut. Ia mulai memeriksa dan mengedit hal-hal yang dirasa kurang pas. "Cukuplah, Prim." Tania kemudian langsung mencetak makalah tersebut.


Prima beralih ke Nadia. "Butuh bantuan nggak, Nad?" tanyanya.


"Enggak, tinggal menyelesaikan satu halaman ini doang kok, udah tinggal jilid," sahut Nadia tersenyum.


Kelar sudah tugas Tania untuk membuat makalah hari ini.


Sudah lebih dari pukul tujuh malam, tetapi Rayan belum juga nampak batang hidungnya untuk menjemput Prima sesuai janjinya. Saat ini Tania, Prima dan Nadia sedang mengobrol di kamar Tania setelah selesai sholat Isya'.


"Mana Mas Rayan, katanya mau jemput kamu, Prim?" tanya Nadia pada Prima.


"Tahu, tadi bilangnya jam tujuh. Mungkin lagi Otewe ke sini," sahut Prima mengira-ngira.

__ADS_1


Tok tok tok


Tiba-tiba pintu kamar diketuk dari luar.


"Mungkin Mas Rayan udah tiba tuh, Prim," ucap Nadia pada Prima lagi.


Prima pun bangkit melangkah ke arah pintu. Membuka pintu perlahan-lahan. "Ada apa, Mbak Siti?" tanya Prima pada seseorang yang tadi mengetuk pintu ternyata Mbak Siti.


"Mbak Prima, Mbak Nadia dan Mbak Tania sudah ditunggu untuk makan malam oleh Bapak dan Ibu di ruang makan, Mbak," sahut Siti.


"Oh iya, terima kasih, Mbak Siti," ucap Prima.


Siti pun berlalu meninggalkan tempat tersebut. Prima kembali ke ranjang.


"Mas Rayan sudah datang ya, Prima?" tanya Tania.


"Belum, barusan Mbak Siti nyuruh kita ke ruang makan, sudah ditunggu Om sama Tante," sahut Prima tanpa menunggu mereka bertanya lagi.


"Ya udah ayo! Aku juga sudah lapar nih," ajak Nadia yang langsung bangkit mendengar kata makan. Prima juga kembali bangkit.


"Ayolah, Tania!" ajak Prima pada Tania yang masih enggan untuk bangun.


"Kalian saja, aku lagi enggak mau nyium bau nasi," sahut Tania malas.


"Ya udah, nanti makan martabak saja ya kalau Mas Rayan bawa," timpal Prima.


Prima dan Nadia pun keluar dari kamar Tania hanya berdua, menuruni anak tangga dan langsung menuju ke ruang makan. Menghampiri Ardi dan Dewi yang sudah menunggu di sana.


"Silakan duduk, Tania nya enggak mau turun, Prima, Nadia?" tanya Dewi pada keduanya.


Nadia dan Prima pun duduk. "Katanya lagi enggak mau nyium bau nasi, Tante," sahut Nadia.


"Mama belum ajak dia periksa ke dokter?" tanya Ardi pada Istrinya.


Tiba-tiba bel pintu rumah berbunyi.


"Biar Mbak Siti yang buka," seru Siti tergopoh-gopoh dari Arah dapur.


Siti pun dengan langkah tergesa-gesa menuju ke arah ruang tamu untuk membukakan pintu. Tidak lama kemudian Siti muncul diikuti oleh Rayan di belakangnya dengan sebuah tas kresek di tangannya.


"Rayan, ayo makan bareng sekalian," ajak Ardi.


"Terima kasih, Om. Niatnya sih mau ajak Prima buat makan di luar, ternyata masakan di rumah ini sepertinya enggak kalah enak," sahut Rayan yang seperti mau menolak, tetapi tergiur juga.


"Ya udah ngapain pakai mikir, makan saja yang sudah ada di depan mata. Kamu bawa apa tuh?" tanya Dewi.


Rayan duduk di kursi yang kosong. "Ini martabak, Tante. Ada martabak telur juga martabak manis. Prima bilang Tania enggak mau makan nasi," jawab Rayan.


*****


Sementara itu di Bandung, Nadhif kakaknya Nadia hari ini mendapat jadwal shift malam di Ardimart cabang ITB. Sebagai seorang manager toko yang baik, ia selalu memastikan bahwa pelayanan tokonya adalah yang terbaik untuk para customer.


Saat pria lajang tersebut sedang mengecek rak penjualan, di sampingnya seorang gadis sedang memilih-milih barang belanjaan. Nadhif menoleh ke arah gadis tersebut, memperhatikannya lekat-lekat, seperti pernah melihatnya, tetapi ia lupa pernah melihat di mana.


Merasa ada yang memperhatikan gadis itu pun menoleh. "Ada apa, Kak? Kayak baru melihat gadis cantik saja," sergahnya.


"Kamu ... Aghni 'kan? Anaknya Tuan Ardi, pemilik mini market ini," tebak Nadhif.


Gadis itu hanya tersenyum menampilkan lesung pipitnya yang membuat wajahnya semakin manis untuk dipandang. Masih dengan senyumnya yang mengembang, Aghni meraih bandul kalung Id-card yang terselip di saku kaos seragam Nadhif, membaca nametag yang tertulis di sana, "M. Nadhif, Manager," gumamnya. Lalu menyelipkan kembali ke tempat semula.


Aghni melangkah pergi mencari barang di rak lainnya. Nadhif pun mengikutinya, penasaran menyelimuti hati pria lajang tersebut. Mengapa anak pemilik minimarket itu bisa berada di sana? Nadhif berhenti saat Aghni kembali memilih barang.

__ADS_1


"Kamu lagi ada acara di Bandung? Sama siapa kamu ke sini?" tanya Nadhif dengan segudang penasarannya.


"Aku memang tinggal dan sekolah di kota ini kok, Kak. Aku juga sudah biasa belanja di minimarket ini, Kakak saja yang jarang ke luar," jawab Aghni tanpa memandang orang yang bertanya.


"Masa sih?" tanya Nadhif masih belum percaya.


"Tanya saja ke mereka," suruh Aghni menunjuk kepada salah seorang pegawai yang sedang menyusun barang di rak.


Nadhif menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Aghni, tetapi ketika pandangannya beralih ke tempat semula gadis itu sudah tidak ada. "Ke mana dia?"


Nadhif menelisik ke lorong di sisi kiri dan kanan rak, tidak ada. Ternyata gadis itu sedang mengantri di kasir urutan paling belakang. Nadhif menunggu hingga gadis itu selesai membayar.


"Aku antar kamu pulang," tawar Nadhif.


Aghni mendengus kesal. "Aku bawa mobil sendiri kok, Mas," tolaknya.


"Ya udah, aku ikuti kamu dari belakang," ujar Nadhif tidak mau menyerah begitu saja.


"Terserah," sahut Aghni akhirnya sambil ke luar dari pintu mini market.


Aghni langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi. Ia menunggu laki-laki yang belum dikenalnya yang menawarkan mau mengantarnya. "Mana dia? Katanya mau mengantar," gumamnya.


Nadhif segera masuk ke dalam untuk mengambil jaket. Gegas ia keluar lagi menuju ke halaman, menaiki motornya yang ia parkir di sana. Nadhif menelisik beberapa mobil yang ada di halaman, mencari tahu yang mana mobilnya Aghni. Tiba-tiba Aghni menoleh ke arahnya sambil memencet bel, 'Tet.'


Nadhif menoleh ke arah Aghni, tersenyum saat tatapan mereka bertemu. Mobil Aghni perlahan bergerak meninggalkan halaman Ardimart cabang ITB. Nadhif mengikutinya di belakang menjamin gadis itu selamat sampai di rumah atau tempat kost nya.


Dua puluh lima menit kemudian, mobil yang dikemudikan oleh Aghni memasuki halaman sebuah rumah berlantai dua. Aghni keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah.


"Dari mana saja kamu, Aghni?" tanya seorang pria paruh baya dengan suara bariton di ruang tengah.


Langkah Aghni terhenti. "Aghni habis belanja bulanan, kebetulan barang-barang Aghni pada habis, Om," jawab Aghni.


"Siapa pemuda itu? Kenapa tidak kamu ajak masuk," tanya pria itu yang ternyata adalah omnya Aghni.


"Dia manager Ardimart cabang ITB, Om," jawab Aghni tanpa ada yang ditutup-tutupi.


"Masuk ke kamar kamu sana!" suruh Pria itu.


Aghni pun menuruti perintah yang disampaikan oleh omnya tersebut. Ia meninggalkan tempat itu menuju ke kamarnya. Setelah Aghni tidak kelihatan pria tersebut langsung menekan interkom yang terhubung dengan pos satpam.


"Sam, suruh pemuda itu masuk. Antarkan ke ruang tengah menemui saya," titahnya pada satpam yang bernama Samsudin.


"Baik, Pak," sahut satpam Sam. Sam pun menyampaikan amanat dari majikannya kepada Nadhif yang kebetulan saat itu hendak pergi karena gadis yang diantarnya sudah selamat sampai di rumah.


"Tunggu, Mas!" cegah Sam.


Nadhif pun mengurungkan niatnya untuk pergi meninggalkan rumah itu dan menoleh ke arah pak satpam Sam. "Ada apa, Pak?" tanyanya kepada Sam.


"Saya disuruh oleh Pak Ardan untuk mengantarkan anda menemuinya di ruang tengah. Silakan dimasukkan ke halaman saja motornya, Mas," tutur Pak Sam.


Nadhif kembali memasukkan motornya ke halaman rumah itu. Lalu mengikuti langkah pak satpam.


"Maaf, Pak Ardan, ini pemuda yang anda maksud," ucap Pak Sam.


"Terima kasih, Sam. Kamu silakan kembali ke pos," ucap Ardan.


"Terima kasih, Pak," sahut Pak Sam lalu melangkah ke luar.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2