Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Pancingan


__ADS_3

Rasya melanjutkan langkahnya menuju ke taman yang ada di halaman. Ia melihat seorang gadis yang duduk di bawah pohon cemara, posisi gadis itu membelakanginya. Pakaiannya persis dengan pakaian yang dipakai Nadia. Rasya pun mendekat.


Gadis itu menunduk dengan bahu bergetar seperti sedang menangis.


"Asa!" panggil Rasya.


Gadis itu tetap bergeming tidak menyahut. Rasya pun kembali mendekat, makin dekat. Ia berjongkok di depan gadis itu. Ditangkupnya kedua pipi gadis itu hingga wajahnya terangkat. Kini terlihat wajahnya yang sembab, Rasya menyeka air mata yang membasahi kedua pipi gadis itu.


Rasya memegang kedua bahu gadis itu. Membimbingnya hingga berdiri, lalu memeluknya. "Maaf!" ucapnya.


"Pak Rasya jahat, hiks hiks hiks." Tangis Nadia kembali pecah saat kepalanya berada di dada bidang pria tersebut.


"Iya, Pak Rasya jahat. Pak Rasya minta maaf, tadi cuma bercanda. Sudah dong nangisnya, jangan ngambek lagi ya!" sahut Rasya memohon dan menenangkan pujaan hati yang tengah merajuk.


Ponsel Rasya berbunyi, ia mengeceknya. Tertera nama Amir di sana.


"Nadia tidak ada di basemen, Pak Rasya," ucap Amir langsung terdengar panik dalam sambungan telepon.


"Dia sudah bersama saya, Mir. Kami ada di taman yang ada di halaman hotel. Kamu bawa mobilnya keluar sekalian saja," terang Rasya.


"Alhamdulillah. Iya baik Pak, saya segera ke luar," sahut Amir yang terdengar lega.


Pim pim


"Tuh, sudah ditunggu Amir di mobil," tunjuk Rasya. Ia meraih tas ransel Nadia yang teronggok di rerumputan kemudian menggandengnya menuju ke mobil.


Rasya membukakan pintu bagian belakang, menaruh tas di jok. Nadia masuk dan duduk. Ternyata Rasya juga ikut masuk dan duduk di sebelah Nadia, akhirnya Nadia memangku tas ranselnya. Sebenarnya Nadia merasa rikuh duduk di samping pria tersebut, tetapi saat ini ia sedang tidak ingin banyak bicara dengan mengeluarkan otot.


Saat mobil melaju hanya ada keheningan. Namun, tiba-tiba Nadia teringat danau, pasti banyak ikannya, pikir Nadia. Ia punya ide untuk memancing saja nanti saat di sana.


"Pak, Amir" panggil Nadia.


"Iya, Nad. Ada apa?" tanya Amir tanpa menoleh karena ia tengah fokus memegang kendali stir.


"Nanti kalau melewati toko alat pancing, mampir ya," pinta Nadia.


Rasya mengernyitkan keningnya. "Mau apa ke toko alat pancing?" tanyanya heran.


"Mau beli alat pancing, saya mau memancing di danau. Pasti di sana ikannya banyak," cetus Nadia.


Rasya memandangi gadis di sampingnya. Penasaran, itu yang sekarang bersarang di pikirannya. 'Apalagi keahlian yang dimiliki gadis ini?' batinnya bertanya.


"Gimana, Pak Rasya?" Amir meminta persetujuan dari bosnya.


"Turuti saja, Mir. Nanti dia ngambek lagi kalau enggak dituruti," sahut Rasya dengan nada menyindir membuat Nadia jadi cemberut.


"Baik, Pak," sahut Amir.


"Nggak jadi saja kalau enggak ikhlas," timpal Nadia ketus.


"Ikhlas, Asa. Kamu kenapa jadi ngambekan gini sih?" ucap Rasya tanpa menoleh ke arah yang di ajak bicara. Ia sedang membuka google map untuk mencari keberadaan toko alat pancing sesuai permintaan gadis pujaan hatinya.


Nadia hanya diam. Ia menyandarkan punggungnya dan memandang ke arah luar jendela, menikmati pemandangan Kota Bandung di pagi hari yang sejuk. Pagi ini Amir sengaja mematikan AC mobil dan membuka semua jendela agar bisa menikmati udara kota ini.


"Di depan ada perempatan, belok kiri, Mir." Pak Rasya memberikan arahan kepada Amir sesuai google map yang bukanya.


"Baik, Pak." Amir kembali menyahut.


Amir membelokkan mobilnya ke kiri saat sampai di perempatan sesuai petunjuk dari Rasya.


"100 meter lagi di depan kiri jalan," ucap Rasya lagi.


Amir masih melajukan mobilnya pelan, matanya menelisik setiap papan toko yang akan dilewatinya.


"Stop depan, Mir!" titah Rasya.

__ADS_1


"Yang ini, Pak?" tanya Amir, lalu membawa mobilnya masuk ke halaman dan memarkirkan.


Amir langsung keluar dari dalam mobil. Mata Nadia berbinar saat melihat sebuah toko alat pancing yang begitu besar. Namun, ia sama sekali tidak berniat untuk keluar dari dalam mobil.


"Ayo keluar, jadi beli alat pancing enggak?" tanya Rasya memastikan.


"Pak Rasya saja yang belikan. Aku malas keluar," sahutnya.


"Bapak 'kan tidak tahu, tingkat keahlian memancing kamu sampai dimana." Rasya masih menunggu gadis itu untuk keluar.


"Saya tidak ahli memancing kok, Pak. Cuma lagi pengen saja," tutur Nadia yang masih alot.


"Kalau kamu tidak mau turun, mendingan tidak usah beli alat pancing deh," ucap Rasya pasrah sekaligus mengancam.


Akhirnya Nadia membuka pintu yang ada di sebelah kanannya, dan keluar dari mobil dan melangkah menuju ke dalam toko, Rasya melangkah di belakangnya.


"Mas, pancingan yang paling murah berapa harganya?" tanya Nadia kepada salah seorang pelayan toko.


"Paling murah 50 ribu, Mbak. Sudah dapat suku cadang senar dan kail," jawab si pelayan.


"Iya, Mas. Aku ambil satu ya, Mas," ucap Nadia antusias.


Sementara Rasya sedang memilih dan menimang-nimang alat pancing yang lain. "Kamu yakin mau beli yang itu?" tanyanya pada Nadia.


"Iya," jawab Nadia singkat. "Cuma buat mancing selama di sini saja kok, kalau sudah mulai kuliah 'kan enggak kepakai lagi. Enggak punya waktu," imbuhnya menjelaskan.


"Ini, Mbak. Yang harganya 50 tidak dapat bonus tas. Kalau mau sama tas, paling murah ada yang 30 ribu," tutur pelayan toko.


"Iya, Mas. Sama tasnya sekalian. "Harga alat pancing yang paling mahal berapa?" Nadia kembali bertanya.


"Ada yang sampai 200 juta, Mbak, Tetapi di sini stok yang paling mahal yang harganya 30 juta," tutur pelayan toko.


"Dua ratus juta? Masya Allah, bisa buat bikin rumah tuh," timpal Nadia tercengang sambil tersenyum.


"Banyak banget buat apa, Pak?" tanya Nadia yang heran dengan sikap dosennya.


"Buat mancing lah, gantian sama yang lain. Nanti siang Rayan sama Prima bilang mau berangkat nyusul ke mari," jawab Rasya.


"Serius, Pak?" tanya Nadia dengan wajah berbinar.


"Serius, Nanad," sahut Rasya tersenyum mencubit hidung Nadia.


"Bapak kok tahu panggilan itu?" Nadia semakin mengembangkan senyumnya.


"Sering dengar Mas Yayan suka keceplosan, hehehe," sahut Rasya di akhiri tawa.


'Asal kamu senang Nanad Sayang,' ucap Rasya di dalam hati tetap dengan senyum masih mengembang.


Pelayan yang tadi keluar membawakan pesanan mereka. "Ini pesanan bapak, apakah ada lagi?" tanyanya pada Nadia dan Rasya.


"Sepertinya sudah cukup, Mas," jawab Rasya.


Pelayan itu mencatat barang-barang tersebut ke dalam nota. "Semuanya 680 ribu, Pak," ucapnya.


Rasya mengeluarkan dompetnya dari dalam saku celana dan membayarnya kontan. Mereka lalu keluar dari toko tersebut. Amir sudah menunggu di teras.


"Kamu beli juga, Mir?" tanya Rasya pada Amir.


"Cuma beli suku cadangnya saja, Pak," jawab Amir yang langsung berdiri melihat kedatangan majikannya dari dalam toko. Mereka berjalan beriringan menuju ke tempat mobil mereka terparkir.


Setelah dari toko pancing, Nadia melihat di sebelah toko tersebut ada sebuah minimarket. "Pak, saya mau ke minimarket dulu mau beli cemilan dan air mineral," pamitnya pada Rasya sembari melangkah.


"Tunggu! Bareng saya saja. Saya mau taruh ini dulu di bagasi," pinta Rasya.


Nadia menghentikan langkahnya, berdiri mematung membelakangi Rasya, menunggu Pak dosen selesai memasukan alat pancing ke dalam bagasi.

__ADS_1


"Ayo!" Rasya menyenggol lengannya dan malah ia meninggalkan Nadia.


Di dalam minimarket Nadia mengambil kuaci bunga matahari, kacang garing, keripik kentang dan beberapa roti sandwich, memasukan ke dalam keranjang belanjaannya. Mereka memang berbagi tugas, Nadia mengambil makanan, sementara Rasya mengambil minuman bias tidak membuang-buang waktu. Setelah dirasa cukup Nadia menghampiri Rasya dan menyerahkan keranjang belanjaan kepadanya yang sedang mengantri di depan kasir. Nadia memilih keluar dan menunggu dengan duduk di kursi yang ada di teras.


Nadia menyambut saat Rasya keluar dari dalam mini market. Ia membantu membawakan kantong kresek yang berisi makanan ringan.


"Kira-kira segini cukup sampai nanti siang enggak ya, Asa?" tanya Rasya sambil melangkah yang terlihat khawatir.


"Kalau nanti kurang bisa telpon kang Nadhif, minta dikirim ke sana, Pak," sahut Nadia.


"Boleh juga ya," ucap Rasya merasa lega.


Sampai di dalam mobil, Nadia menghubungi Prima. Sementara Amir sudah menjalankan mobilnya.


"Ada apa, Nanad?" tanya Prima di ujung telepon sana.


"Pipim, Pak Rasya bilang kamu mau menyusul ke Bandung?" Nadia bertanya langsung pada pokok tujuannya.


"Iya, Nanti siang jam dua kami berangkat," jawab Prima.


"Tatan enggak diajak?" tanya Nadia lagi.


"Tatan kan hari ini pulang ke kampung halaman bareng suaminya," sahut Prima.


"Oh iya lupa," ucap Nadia menepuk keningnya. "Ya udah sampai nanti ya, Pipim. Mobilnya udah melaju kencang, suara kamu jadi putus-putus," ucap Nadia mengakhiri panggilan.


"Yup, babai Nanad," sahut Prima.


"Bai, Pipim." Nadia menutup ponselnya, memasukan kembali ke dalam kantong tas ranselnya. Kemudian tersenyum memandang ke arah Rasya yang tengah duduk di sampingnya. Ia tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya.


"Kayaknya ada yang hatinya sedang senang nich," sindirnya acuh pura-pura tidak melihat ke arah Nadia.


"Terima kasih, Pak Rasya, bapak dosen ku yang paling ganteng sedunia. Karena Anda liburan saya jadi terasa berwarna, tidak monoton seperti yang selama ini saya bayangkan," ucap Nadia tulus dengan senyum menghiasi bibirnya.


Mendengar ucapan Nadia yang hiperbola membuat perasaan Rasya melambung. Namun, ia masih berusaha menahan senyumnya. Padahal di hatinya tertawa geli. Bagaimana mungkin gadis yang selama ini ia kenal polos di sampingnya ini bisa mengucapkan kata-kata yang menyanjungnya.


"Berterima kasihlah dengan benar," titah Rasya.


'Hah? Maksudnya berterimakasih dengan benar bagaimana sih?' batin Nadia bertanya.


"Maksud Bapak?" Nadia masih bingung maksud pak dosen.


Rasya menyodorkan punggung tangan kanannya. "Cium!" perintahnya.


Ragu Nadia hendak meraih punggung tangan tersebut. 'Memangnya aku istrinya?' Nadia membatin.


"Latihan dulu sebelum jadi istri!" perintah Rasya lagi seperti mengerti batin Nadia.


Nadia pun meraih tangan itu dan menciumnya. Namun, ia tidak segera melepaskannya. Ia malah menggenggam tangan itu di pangkuannya. Dan menyandarkan kepalanya di pundak Rasya. Mendadak perasaannya berubah menjadi melow.


"Pak," panggil Nadia.


"Hemm," sahut Rasya.


"Kalau besok-besok aku mengalami kecelakaan dan menjadi seorang wanita yang cacat, apa bapak masih mau menjadikan aku sebagai seorang istri?" Nadia bertanya dengan mata memandang ke arah luar jendela.


Barusan juga tersenyum bahagia, mengapa sekarang menanyakan hal-hal yang menyedihkan begini sih, Nanad?


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2