Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Bolos Kuliah


__ADS_3

Setelah selama satu minggu Tiara ditunggui oleh Nadia di rumah sakit. Ia sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Rasya menyewa jasa seorang baby sitter untuk merawat Tiara, karena Nadia akan kembali menjalani aktivitas kuliahnya.


Di kampus tempat Nadia kuliah kini sedang sibuk-sibuknya kegiatan, karena di tempat tersebut akan kedatangan tamu Tim Assesor utusan dari BAN (Badan Akreditasi Nasional) yang akan melakukan penilaian terhadap 3 fakultas sekaligus di kampus tersebut.


Saat waktu jeda kuliah, Nadia dan Prima seperti biasa mengisi amunisi di kantin Bu Ida. Saat itu sedang rame-ramenya, karena kebanyakan kelas dengan waktu jeda sama tumplek blek menjadi satu. Meski kantin yang tersedia tidak cuma satu tetapi sebagian besar penuh juga.


Mbak Asih yang sedang kerepotan menghadapi para pelanggaran menghampiri Nadia dan Prima. "Nadia, Mbak Asih boleh minta tolong enggak?" tanyanya.


"Minta tolong apa, Mbak? Kalau aku bisa membantu akan aku bantu," ucap Nadia bertanya.


"Anterin kopi ke ruangan Pak Rasya," sahut Mbak Asih.


"Apa? Kenapa harus aku?" sergah Nadia.


"Mbak enggak tahu harus minta tolong sama siapa lagi selain kamu, kamu lihat sendiri 'kan kalau kantin rame?" keluh Mbak Asih penuh harap.


"Ya wis lah, bawa sini pesanannya." Akhirnya Nadia menyanggupi walau berat hati.


Sementara di ruangan Rasya, ia sedang berkutat dengan berkas-berkas laporan yang harus ia tanda tangani. Di sofa duduk Ifada, salah seorang staf pegawai bagian administrasi keuangan yang sedang melipat berkas-berkas laporannya supaya mudah untuk ditandatangani oleh Pak Rasya. Tiba-tiba,


"Aduh mataku kenapa ini? tiba-tiba pedih banget enggak bisa dibuka," teriak Ifada.


"Kok bisa?" tanya Rasya dari kursinya.


"Enggak tahu Pak, sepertinya ada bulu mataku yang jatuh dan masuk ke dalam mataku," sahut Ifada. "Gimana ini Pak? Aku enggak bisa lihat tulisan," keluhnya.


Rasya bangkit dari duduknya, lalu menghampiri Ifada dan duduk di sofa di samping pegawai tersebut. "Coba lihat," pintanya menghadap ke Ifada, Ifada pun menoleh menghadap ke arah Rasya.


Kini mereka duduk berhadapan, tangan kiri Rasya memegang kepala Ifada sebelah kanan, sementara tangan kanannya menekan bawah mata kiri Ifada untuk membuka sedikit kelopak matanya mencari sesuatu di bagian bawah. "Tidak ada apa-apa," ucap Rasya.


"Tapi pedih banget, Pak," timpal Ifada yang memang terlihat begitu terganggu, matanya sebelah kiri merah dan keluar air mata dari sana.


"Saya tiup kamu siap ya," perintah Rasya.


"Iya, Pak," sahut Ifada.


Rasya sudah bersiap untuk meniup mata Ifada, ia mendekatkan bibirnya ke mata pegawai tersebut, lalu ....


Nadia yang masuk lupa mengetuk pintu seketika melongo melihat pemandangan yang terhampar di depannya. Namun, secepatnya ia berusaha mengendalikan diri.


"Eghm ... Eghm, maaf saya lupa mengetuk pintu, saya cuma disuruh Mbak Asih untuk mengantarkan pesanan Pak Rasya. Saya Permisi."


Dengan secepat mungkin Nadia meletakkan nampan di meja yang kosong dan keluar dari ruangan itu.


"Nanad tunggu!" seru Rasya. "Pasti dia telah salah sangka," ucapnya frustrasi.


"Alhamdulillah, mata saya sudah bisa dibuka, Pak," ucap Ifada lega. "Bapak kenapa?" tanyanya ketika menyadari Pak Rektor yang terlihat sedih.


"Barusan dia yang mengantarkan pesanan ku di kantin," keluh Rasya.


"Dia siapa, Pak?" tanya Ifada lagi.

__ADS_1


"Mahasiswi yang kamu cabut beasiswa kuliahnya," jawab Rasya.


"Ups," Ifada menutup mulutnya. "Pasti dia mengira tadi kita lagi adegan ciuman, gitu Pak?" tanyanya.


"Mungkin," sahut Rasya singkat.


"Aduh ... maafkan saya, Pak." Ifada memohon.


"Kamu tidak salah, Ifada," timpal Rasya.


"Terus bagaimana? Bapak kejar sana!" cetus Ifada.


Sementara itu, Nadia yang merasa dadanya sesak dan panas dengan langkah tergesa-gesa kembali menuju ke kantin menghampiri meja yang masih ada Prima di sana. Tanpa ia duduk, ia langsung meneguk habis sisa es jeruk peras miliknya yang masih tersisa. Merasa masih kurang ia merebut milik Prima dan langsung meneguknya habis.


"Kamu kenapa sih, Nad? Kaya orang kesurupan, istighfar," tanya Prima keheranan.


"Aku lagi pengen makan orang," jawabnya. Ia mengambil tas ranselnya yang masih ada di dekat Prima lalu pergi meninggalkan Prima yang masih dengan mode kebingungan. Melangkah menghampiri show case, membuka pintu dan mengambil satu botol air mineral dingin sekaligus, lalu ia pergi hendak meninggalkan kantin.


"Mau kemana kamu, Nad?" teriak Prima yang melihat sahabatnya pergi tanpa berpamitan padanya.


Namun Nadia tidak menyahut, ia terus berjalan semakin jauh meninggalkan kantin. Ternyata ia menuju ke arah Mushola. Ia meletakkan tas ransel dan botol air mineral yang di bawanya di lantai, lalu melangkah menuju ke tempat wudhu. Lama ia berdiri di depan kran air, memandang hampa.


"Semua karena Mbak Asih, kalau bukan karena dia aku pasti tidak akan melihat pemandangan menjijikkan itu," gerutu Nadia.


Nadia kemudian melangkah maju, melepas peniti hijabnya dan mulai membasahi kedua telapak tangannya dengan air. Ia berharap dengan berwudhu maka rasa sesak dan panas di dadanya akan menjadi dingin. Perlahan ia mulai membasuh muka dan diakhiri dengan membasuh kedua kakinya.


Nadia kembali memakai kerudungnya. Ia menyelipkan botol air mineral ke dalam saku samping tas ranselnya. Kemudian menggendong tas ranselnya kembali di punggungnya, melangkah pergi meninggalkan kampus lewat gerbang pintu belakang.


"Aku tidak mau mengikuti jam kuliah Pak Rasya. Aku tidak mau ketemu dia lagi untuk saat ini, lebih baik aku menenangkan diri di rumah Mbak Rumi. Aku mau tidur saja, mungkin nanti setelah bangun bisa melupakan kejadian menjijikan tadi," cetus Nadia.


Lima belas menit kemudian sampailah ia di depan pintu rumah Mbak Rumi, tempat kostnya.


"Assalamu'alaikum, Nadia datang," ucapnya seraya membuka pintu rumah yang kalau siang hari tidak pernah terkunci itu.


Nadia langsung menerobos masuk ke dalam kamarnya, mengunci pintu kembali. Menaruh tas ransel di lantai, lalu merogoh ponselnya dan menonaktifkan langsung. Ia lalu merebahkan diri di kasur. Rasa lelah akibat berjalan kaki dari kampus hingga rumah kost membuat ia mudah terlelap dibuai mimpi.


Sementara di kampus, Rasya yang sedang mengisi kuliah di kelas Nadia nampak celingukan mencari keberadaan gadis tersebut. Namun hingga ia mengakhiri materi kuliahnya, gadis itu tidak muncul juga.


Rasya pun menanyakan kepada Prima. "Prima, apa kamu tahu dimana Nadia berada?" tanyanya.


"Saya tidak tahu, Pak. Tadi sehabis dia mengantarkan kopi pesanan Bapak, dia seperti orang kerasukan. Terus dia pergi begitu saja," tutur Prima menjawab pertanyaan Rasya.


"Kerasukan, ada-ada saja kamu hahaha ...." timpal Rasya diakhiri dengan tawa.


"Iya, Pak. Masa es jeruk dia sendiri yang masih satu gelas besar ditenggak habis masih kurang, lalu punya saya langsung dihabiskan juga, apa itu tidak kerasukan namanya?" sergah Prima.


"Saya ke ruangan dulu. Nanti kalau ada kabar tentang dia kasih tahu saya ya, Prima?" pinta Rasya.


"Iya, Pak," sahut Prima. 'Sebenarnya apa yang terjadi di ruangan Pak Rasya ya?' batinnya


Rasya pun pergi meninggalkan ruangan kelas kembali ke ruangannya. Sesampai di ruangannya, Ifada masih berada di sana, duduk di sofa dengan pekerjaan yang masih sama.

__ADS_1


Menyadari kedatangan Rasya, Ifada menoleh kepadanya. "Bagaimana, Pak? Apa Bapak ketemu dengan gadis tadi?" cecarnya.


Rasya duduk di kursi kebesarannya, lalu memandang ke arah Ifada. "Dia tidak mengikuti mata kuliah saya, Ifada. Ponselnya juga tidak diaktifkan," sesalnya.


"Maafkan saya, Pak. Semua karena saya," sesal Ifada meminta maaf.


"Tidak apa-apa, Ifada. Kamu tidak bersalah. Tidak ada yang salah," timpal Rasya.


"Saya tinggal ke ruangan saya saja ya, Pak. Mau istirahat dulu sekalian makan siang," pamit Ifada.


"Silakan Ifada, saya juga mau sholat," sahut Rasya.


Azan dhuhur sudah terlewat sejak ia masih mengisi kuliah tadi di kelas, tetapi belum terlambat untuk melakukan ibadah wajib tersebut. Rasya memutuskan untuk melaksanakan sholat dhuhur di mushola kampus saja. Siapa tahu di sana bisa bertemu dengan Nadia. Kalau sampai nanti ia pulang ke rumah tidak membawa gadis itu, bisa-bisa akan mendapat ceramah panjang lebar dari sang ibu.


"Nanad, kamu kemana sih?" gerutu Rasya frustrasi.


Ia melangkah ke luar dari ruang rektor melalui ruang dosen terus menuju ke pintu keluar, menyusuri koridor hingga ke mushola. Namun tidak juga menemukan gadis yang ia cari.


*****


Sementara itu, Nadia membuka matanya sudah hampir pukul dua siang. Ia merasa perutnya sangat lapar. Ia lalu keluar dari kemar, melirik jam dinding yang bertengger di dinding ruang tengah. Cepat-cepat ia ke kamar mandi untuk menguras kemihnya yang tadi penuh terisi dengan cairan dan mengambil air wudhu.


"Nadia, kamu pulang ke sini? Sejak kapan? Kok Mbak Rumi baru lihat?" cecar Mbak Rumi yang melihat anak kostnya melewatinya.


Nadia yang sudah terlanjur berada di dalam kamar mandi pun berseru, "Tadi jam sepuluhan, Mbak. Aku bolos."


'Ups, keceplosan deh,' gumam Nadia merutuki dirinya sendiri.


"Bolos? Masa sih? Kamu ini kuliah karena beasiswa kok berani bolos?" tanya Mbak Rumi heran.


Nadia terdiam karena masih khusuk mengambil air wudhu.


"Ada apa?" tanya Mbak Rumi lagi saat melihat Nadia telah keluar dari kamar mandi.


"Nadia mau sholat dhuhur dulu ya, Mbak. Takut ketinggalan kereta," pamit Nadia. Padahal ia tidak mau Mbak Rumi sampai tahu kalau ia bolos kuliah karena dadanya yang panas membara akibat dilanda rasa cemburu. Ia pun segera masuk kembali ke dalam kamarnya.


Saat keluar dari kamarnya, Nadia sudah siap hendak Pergi. Ia menghampiri Mbak Rumi yang sedang duduk di ruang tengah. "Mbak Rumi mau bakso beranak jontor enggak? Aku mau beli," tawar Nadia.


"Eh eh eh, tunggu Nad. Kamu ini baru sembuh dari operasi loh. Jangan makan makanan yang super pedas kayak gitu," cegah Mbak Rumi.


"Yang dioperasi itu kan peranakan aku, Mbak. Bukan Pencernaan aku, apa hubungannya?" sergah Nadia.


"Eh, dibilangin orang tua juga. Mencegah itu lebih baik dari pada mengobati, Nad. Kalau udah sakit baru tahu rasa kamu," cicit Mbak Rumi.


"Ya udah kalau Mbak Rumi enggak mau. Nadia pamit ya, Mbak," ucap Nadia yang langsung nyelonong pergi.


"Tuh anak kesambet setan mana ya, kok jadi aneh begitu sikapnya," gerutu Mbak Rumi.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2