
Sudah menjadi kebiasaannya akhir-akhir ini, Rasya memarkir mobilnya di depan lobi kantor bapaknya. Kemudian security yang berjaga di gerbang kantor tersebut akan melanjutkan memarkirkan mobilnya ke basemen parkir. Rasya langsung menuju ke ruangannya.
Rasya menghempaskan bokongnya di singgasananya. Di meja di depannya sudah ada setumpuk berkas yang harus ia periksa dan tanda tangani. Namun, berkas-berkas tersebut sekarang tidak menarik minatnya sama sekali. Ia lebih tertarik pada ponsel yang diberikan oleh Doddy tadi sewaktu di Planet Resto.
Namun, akhirnya demi mengurangi beban yang ada di pundaknya, ia akhirnya menunda keinginannya untuk membuka ponsel yang diberikan oleh sahabatnya, Doddy. Ponsel yang katanya berisi hasil retasan seluruh isi dari ponsel milik Celine.
Rasya mulai berkutat dengan laporan-laporan serta berkas-berkas yang harus ia pelajari dan tanda tangani. Hingga Linda, sekretaris Pak Baskoro masuk ke dalam ruangannya, menambah beberapa berkas lagi.
"Apa Mas Rasya tidak membutuhkan seorang sekretaris?" tanya Linda yang melihat saudara sepupunya tidak memiliki sekretaris, dan ia merasa lelah kalau harus bolak-balik naik-turun dari lantai 13 ke lantai 7 setiap waktu setiap hari.
Rasya menghentikan aksinya lalu mengalihkan pandangannya ke arah Linda. "Tidak," jawabnya singkat. "Kalau jadwal mengajar kuliahku sudah aktif seperti semula, aku juga bakal jarang bisa ke kantor ini," imbuhnya.
"Mas Rasya enggak kasihan sama Om Baskoro?" sergah Linda.
"Yah, mau bagaimana lagi? Aku memang merasa enggak cocok duduk di kursi ini. Jadwalku di kampus sampai malam, karena ada kelas extensi akhir pekan," Rasya mengedikan bahunya. "Nanti Rayan yang akan menggantikan posisiku. Nanti kamu tanya Rayan saja kalau dia sudah mulai bekerja," pungkas Rasya. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Linda pun hanya bisa diam dengan keputusan Rasya.
"Mas Rasya sudah makan siang?" tanya Linda.
"Sudah, barusan sebelum ke sini," jawab Rasya tanpa beralih dari pekerjaannya.
"Kalau gitu aku pamit mau makan siang dulu ya, Mas," pamit Linda.
"Silakan, Linda," sahut Rasya. Lalu kembali berkutat dengan pekerjaannya.
******
"Mas Rayan nanti jemput aku di rumah ya! sekalian bawa bukunya," pinta Prima pada Rayan saat di perpus.
Rayan mengerutkan keningnya. "Aku kira langsung bawa bukunya ke tempat kost Nadia. Kamu enggak bawa motor sendiri?" tanya Rayan.
"Aku takut kalau pulang kemalaman bawa motor sendiri, niatnya mau minta anterin Mas Rayan pulang," sahut Prima nyengir kuda memperlihatkan deretan giginya yang putih.
"Jadi aku harus nunggu kamu selesai mengerjakan tugas donk," sesal Rayan.
"Enggak usah ditunggu juga enggak apa-apa, Mas. Nanti pas pulang aku kirim chat WA," sergah Prima.
"Okelah kalau begitu," timpal Rayan menyetujui.
Rayan dan Prima lalu menghampiri Nadia dan Radit yang tengah duduk di ruang baca.
"Udah, Nad. Enggak usah banyak-banyak pinjam bukunya. Nanti Mas Rayan mau bawakan buku ke tempat kost kamu kok," tutur Prima mencegah Nadia.
"Aku kembalikan buku ini dulu ke rak," pamit Nadia menunjuk ke tumbukan buku-buku di hadapannya.
Mereka berempat keluar dari ruang perpustakaan beriringan, Nadia melangkah sejajar dengan Radit, sementara Prima bersama Rayan.
"Nadia, mau ke mana? Aku antar sampai kostan kamu," cegah Radit saat Nadia terus berjalan ke arah gerbang ketika mereka sampai di depan area parkir.
Nadia menoleh. "Makasih, Dit. Enggak usah, deket kok," tolaknya kemudian kembali melangkahkan kaki.
"Itu cewek keras kepala banget sih," gerutu Radit.
Nadia masih berjalan sampai di depan gerbang, Prima melajukan motornya pelan menghampiri Nadia. "Aku duluan ya, Nad. Sampai ketemu nanti malam," pamitnya.
__ADS_1
"Iya, Prima," sahut Nadia.
Setelah Prima berlalu, di belakangnya ada Rayan. "Selamat menikmati jalan kaki, Nadia," ucapnya sambil berlalu pergi menyusul Prima.
Namun, Radit menghentikan motornya di samping Nadia, "Ayo naik! Aku cuma pengen tahu tempat kost kamu, biar nanti malam enggak nyasar," perintahnya.
Nadia pun menurut, ia naik ke atas boncengan motor Radit. 3 menit kemudian motor tersebut berhenti di depan rumah kost Nadia. "Ini rumah tempat kost aku, sekarang udah tahu kan? Kalau mau main nanti malam saja bareng Prima sama Mas Rayan. Sekarang aku mau istirahat," papar Nadia.
"Siap, Bos!" sahut Radit yang kemudian membawa motornya meninggalkan Nadia yang masih mematung sendirian.
Nadia segera membuka pintu rumah berbarengan dengan ia mengucap salam, lalu menyeret langkahnya menuju ke kamarnya dan menghempaskan tubuhnya di ranjangnya. Tiba-tiba bayangan wajah Rasya hadir di pelupuk matanya. "Argh!" Nadia membuka matanya kembali mencoba menepis bayangan itu.
"Ini tidak boleh, aku tidak mau menjadi seorang pelakor," gerutunya pada diri sendiri.
*******
Sore hari Rasya pulang ke rumah orang tuanya hampir pukul 6. Ia menaiki anak tangga langsung menuju ke kamarnya. Saat hendak membuka pintu, ia melirik pintu ruang perpustakaan pribadinya tengah terbuka. Rasa penasaran mendorongnya untuk melangkah ke ruangan tersebut.
"Rayan? Sedang apa kamu?" tanyanya pada seseorang yang sedang mengobrak-abrik buku di perpustakaan pribadinya.
"Eh, Mas. Aku mau pinjam buku," jawab Rayan.
Rasya mengernyitkan dahinya heran. Bukannya jurusan mereka berbeda? "Buat apa?" tanyanya.
"Prima dan Nadia mau pinjam buat bikin makalah," jawabnya.
"Oo," Rasya cuma ber-o ria langsung menuju pintu hendak keluar.
"Cuma o doang?" gumam Rayan. "Mas!" panggilnya.
"Mas enggak mau nitip sesuatu apa gitu buat Nadia?" goda Rayan.
"Memangnya dia siapa aku?" tanya Rasya balik.
"Mas dosennya lah, dia mahasiswa kamu, Mas pake tanya," sergah Rayan.
"Ya udah, aku titip buku yang kamu pegang buat dia," Rasya mengikuti gurauan adiknya tanpa mau banyak berdebat ia sudah letih ingin segera meluruskan punggungnya.
"Buat diberikan ke dia atau cuma dipinjemin?" Eh, Rayan masih juga belum selesai ternyata.
"Terserah kamu," ucapnya acuh lalu segera pergi.
Sampai di kamar, Rasya langsung menghempaskan tubuhnya di ranjang springbed queen size nya. "Nadia," gumamnya yang langsung terlelap menuju ke alam mimpi.
Jingga makin merona di ufuk senja, cahayanya yang temaram nampak teduh menggantikan kilat keemasan yang mulai meredup. Burung pipit berkicau kembali ke sarangnya, disambut oleh anak-anak mereka yang menanti induknya membawa makanan. Para tukang angon juga menggiring ternak mereka ke kandang.
Nadia berdiri di balkon sebuah vila yang menghadap ke arah danau dengan tanaman teratai tumbuh liar di depannya. Di kejauhan nampak hamparan perbukitan dengan kebun teh nan hijau dan luas. Nadia menghirup dalam-dalam udara yang masih jernih sore itu, suasana sejuk yang berbeda 180° dengan Jakarta. Juga di tempat kelahirannya, meskipun di kampung tetapi udaranya terasa panas.
"Sayang," suara berat seorang laki-laki memanggil dari dalam vila, terdengar langkah kaki mendekat lalu memakaikan sebuah sweater di pundak Nadia. Sepasang tangan kekar tiba-tiba sudah melingkar di perutnya. "Sudah hampir Maghrib, ayo masuk! tidak baik kita berada di luar," bisik laki-laki tersebut tepat di telinga Nadia.
"Aku masih pengen melihat matahari itu tenggelam, Mas. Sebentar lagi ya!" ucap Nadia memohon.
"Ya udah, sebentar saja Mas tunggu di sini," ucap lelaki tersebut akhirnya mengalah, namun tidak mengubah posisi tangannya. "Kamu suka, Sayang?" tanyanya.
__ADS_1
Nadia mengangguk, "Suka," ucapnya tulus menoleh ke arah laki-laki tersebut dengan seulas senyum yang menawan.
Tiga menit kemudian matahari yang berwarna jingga tersebut mulai menyembunyikan diri di balik lazuardi. Berjanji akan terbit kembali esok hari dengan wajah yang cerah, memberikan harapan sepada setiap makhluk penghuni bumi.
"Sudah ya, Sayang? Sudah Maghrib," ajak pria tersebut yang sejak tadi setia menunggu sang kekasih hatinya menikmati matahari hingga tenggelam.
Nadia mengangguk, tiba-tiba ia merasa tubuhnya melayang. "Mas, aku bisa jalan sendiri!" teriaknya.
"Diam! Nggak usah teriak!" seru laki-laki misterius dengan suara tak kalah tinggi.
Laki-laki tersebut membawa Nadia masuk ke dalam kamar di vila tersebut. Kamar yang sepertinya sengaja dihias untuk sepasang pengantin baru. Di sebuah kasur yang berukuran queen size dengan sprei berwarna pink dan taburan kelopak bunga mawar berwarna merah di atasnya. Laki-laki itu membaringkan Nadia dengan lembut di atas kasur tersebut. Lalu ia berbaring di sampingnya. Mencium kening dan seluruh wajah si gadis dengan penuh kasih sayang.
"Mas, kita belum sholat Maghrib loh," Nadia mencoba mengingatkan.
"Sebentar saja, kita tidak akan melakukan itu kok," sahut si laki-laki. Nadia memejamkan matanya, tetapi ketika si laki-laki hendak melanjutkan kegiatannya kembali. Tiba-tiba,
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu berulangkali.
"Nadia! Nad?" suara seorang wanita memanggil nama Nadia dari luar kamar.
Saat Nadia membuka mata, seketika ruangan yang Nadia tempati berubah menjadi remang-remang.
"Tadi sepertinya sudah pulang, kenapa lampu kamarnya belum dinyalakan?" perempuan yang ternyata Mbak Rumi, pemilik rumah tempat kost Nadia itu bermonolog. "Nadia! Nad? kamu ada di dalam kamar kan?" kembali ia memanggil-manggil.
"Iya, Mbak," sahut Nadia dengan suara serak, ia masih menyesuaikan dengan keadaan kamarnya. "Mbak Rumi mengganggu kesenangan orang saja dech," gerutunya.
"Bangun, Nad! Tidak baik waktu Maghrib kok dipakai buat tidur," seru Mbak Rumi lagi.
Nadia bangkit, melangkah untuk menekan saklar. Sekarang kamar tersebut menjadi terang. Lalu membuka pintu. "Maaf, Mbak. Aku ketiduran," ucapnya sungkan.
"Sudah ditunggu Devi dan yang lainnya mau beli nasi, kamu mau ikut atau mau nitip saja?" tanya Mbak Rumi.
"Ikut dech, tapi aku sholat maghrib dulu ya," sahut Nadia.
"Ya udah, sana sholat dulu. Enggak usah tergesa-gesa, santai saja," suruh Mbak Rumi.
"Iya, Mbak," sahut Nadia yang langsung ngacir ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Mbak Rumi melangkah menuju ke teras, di sana anak-anak penghuni kostnya sedang berkumpul dan bergurau.
"Gimana, Mbak? Nadia mau nitip?" tanya Devi.
"Mau ikut katanya, dia minta ditunggu sebentar mau sholat maghrib dulu," jawab Rumi.
Sementara selesai sholat, Nadia kembali teringat mimpinya tadi. "Siapa laki-laki itu? Wajahnya dekat, tetapi tidak begitu jelas. Namun, suaranya aku seperti mengenalnya," gumamnya.
.
.
.
__ADS_1
TBC