
Di kampus tempat Nadia menuntut ilmu, Rasya sedang duduk di kursi ruang Rektor, pikirannya kacau. Tidak dapat dipungkiri ia memang sangat merindukan gadis itu yang sejak sadar dari koma belum ia temui sama sekali.
Seorang pegawai bagian administrasi datang menemuinya setelah dipersilahkan masuk.
"Ini ada surat pembatalan dan pengalihan beasiswa yang harus segera bapak tandatangani," ucap pegawai tersebut menyerahkan sebuah map.
Karena tidak mau ambil pusing, Rasya langsung menandatangani berkas tersebut tanpa membacanya terlebih dahulu. Pegawai tersebut langsung pergi.
Setelah pegawai administrasi tersebut pergi, Rasya mengusap wajahnya kasar. Hari ini sama sekali tidak ada jadwalnya mengisi mata kuliah, ia sudah berbohong pada ibunya tadi pagi. Ia hanya ingin menenangkan diri, memantapkan hati bahwa ia benar-benar cinta terhadap gadis itu.
"Kenapa aku tidak bisa mencegahnya untuk pergi? Dasar Bodoh! Pengecut! Kamu sudah mendapatkan hatinya Rasya. Mengapa kamu sia-sia dia? Kamu menyakiti perasaannya."
Rasya hanya merutuki kebodohannya sendiri. Saat ini ia butuh sesuatu untuk menetralisir kegalauannya. Tapi mana mungkin serang rektor akan lari ke drug. Ia nampak menghubungi seseorang.
"Ada apa Pak Rasya?" tanya seseorang di dalam sambungan telepon.
"Saya minta dibuatkan secangkir kopi pahit tolong antarkan ke ruangan saya, oh iya sama rokok satu bungkus," pintanya pada seseorang di telepon tersebut.
"Apa, Pak? Sejak kapan bapak merokok?" tanya seseorang tersebut heran.
"Huh! Tidak usah banyak tanya, Asih," gerutunya kesal. Ternyata orang yang ditelepon Rasya adalah Mbak Asih, pelayan di kantin Bu Ida, saudaranya Mbak Rumi.
"Iya-iya, Pak. Tapi saya masih mau tanya, rokoknya yang apa ya, Pak?" timpal Asih.
"Bawakan yang paling mahal!" titah Rasya.
"Baik, Pak," sahut Asih.
Lima belas menit kemudian, Asih datang membawakan pesanan yang diminta oleh Rasya.
"Ini, Pak, pesanan Bapak, tapi kalau minum jangan disembur ke muka saya ya, Pak. Bapak kan belum pernah pesan kopi pahit. Minumnya juga pelan biar lidah bapak tidak kaget." Asih menasehati.
"Saya tahu, sudah kamu boleh keluar!" perintah Rasya.
"Uangnya?" tanya Asih menengadahkan tangan kanan. "Masa pemilik mall kopi saja pakai bon," sindirnya.
Rasya mengeluarkan dompet yang ada di dalam tasnya. Mengambil selembar uang berwarna merah dan menyerahkan kepada Asih.
"Nih, sisanya buat bayar bon."
"Kirain sisanya buat saya, Pak," sesal Asih.
"Kalau masih sisa ya buat kamu, Sih. Sudah sana keluar! Terima kasih ya sudah delivery order," usirnya yang diakhiri senyum.
"Terima kasih kembali, Pak," sahut Asih. Ia hendak pergi, namun saat sampai di depan pintu ia menoleh kembali ke arah Rasya. "Eh, Pak Rasya lagi galau karena Nadia pulang kampung ya, susul saja ke kampungnya, Pak. Daripada di sini nganggur," ucap asih yang dengan cepat membuka pintu dan meninggalkannya karena pintu tersebut akan tertutup otomatis.
__ADS_1
"Sok tahu, kamu!" hardik Rasya.
*****
Setelah melewati waktu perjalanan selama kurang lebih dua jam, rombongan mudik Nadia dan Tania kini telah sampai di Indramayu, kota kelahiran Nadia. Mobil berhenti di depan sebuah rumah yang halamannya sangat luas, penuh dengan jemuran padi.
Mamaknya Nadia seorang juragan padi, dia memiliki dua buah pabrik penggilingan padi di dua kecamatan yang berbeda. Sedangkan ibunya seorang pengurus rumah tangga biasa yang membantu pekerjaan suaminya di sawah. Nadia adalah anak kedua dari 5 bersaudara, kakaknya Nadhif sekarang kuluah di Harvard University atas biaya dari mantan dosennya dan ketiga adiknya Nindya, Nandito yang lebih sering dipanggil Dito dan si bungsu Nada.
"Tunggu sebentar ya, Pak Sopir!" pinta Mimik setelah keluar dari dalam mobil.
Mimik segera masuk ke dalam rumah, sementara Mamak dan Edos membantu menurunkan barang-barang milik Nadia dan milik Mamak sendiri.
"Tan, mampir ke rumah yuk. Menginap barang satu malam, pulang ke Pekalongan besok lagi. Aku masih pengen bareng kamu," tawar Nadia pada Tania.
"Terimakasih, Nad. Lain kali saja kalau ada kesempatan. Yang penting aku sudah lihat rumah kamu," sahut Tania. Seketika Tania memeluk Nadia dengan menangis sesenggukan.
"Eh, ini kenapa?" tanya Nadia yang kaget.
"Terimakasih ya, Nad. Kamu telah mengorbankan nyawa kamu untuk aku dan anak yang aku kandung. Entah apa yang akan terjadi denganku jika kamu tidak menghalanginya waktu itu, aku berhutang nyawa sama kamu, Nad." Tania berbicara dengan berurai air mata.
"Semua sudah kehendak Yang Maha Kuasa, Tan. Jika bukan aku yang menyelamatkan kamu, mungkin orang lain juga akan menyelamatkanmu, berterimakasihlah pada Allah." Nadia menolak Tania untuk berterimakasih kepada dirinya.
"Tetap saja kamu yang sudah menyelamatkan aku," pungkas Tania.
"Eh, ada apa ini? Kok pada melo-melo?" tanya Mimik saat jaraknya tidak jauh dari Tania dan Nadia berdiri.
"Biasa, Mik. Tania tidak mau pisah dari Nadia," jawab Nadia berbohong.
"Ini ada sedikit mangga cengkir buat pak supir, kebetulan kami panen mangga sendiri," ucap Mimik.
"Wah, Terima kasih banyak, Bu. Taruh di jok depan saja, Bu, sudah kosong," sahut pak sopir.
Mimik menaruh kardus tersebut di jok depan di samping kursi kemudi. Kemudian beralih ke Tania dan Nadia. "Kalau Neng Tania enggak mau berpisah dengan Nadia, mendingan menginap di sini saja, pulang besok-besok lagi," ucapnya.
Tania melepas pelukannya dari Nadia, "Enggak ah, Mik. Nanti kalau bayi Tania mbrojol di sini malah merepotkan Mimik, Tania belum siap perlengkapannya juga," tolak Tania malah membuat yang lain jadi tertawa.
Edos menghampiri Tania, "Sudah, Yank? Ayo masuk. Biar sampai di rumah sebelum maghrib," ajak Edos.
"Kami pamit ya, Mimik, Mamak," pamit Tania pada kedua orang tua Nadia.
"Mimik, ini taruh mana?" tanya adik Nadia yang masih membopong sebuah kardus berisi mangga cengkir.
"Oh, iya. Ini mangga buat neng Tania, Mimik taruh di jok belakang ya?" pamit Mimik yang langsung meletakkan kardus tersebut di kursi paling belakang.
"Iya, Mik. Terima kasih banyak ya," sahut Tania dan Edos serempak.
__ADS_1
"Kami juga mengucapkan terima kasih, sudah dikasih tumpangan gratis," ucap Mimik.
Tania dan Edos serta pak sopir sudah masuk ke dalam mobil, mobil segera melaju meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan perjalanan ke kampung halaman Tania, Pekalongan.
Nadia melangkah tertatih-tatih menuju rumahnya, karena luka bekas jahitan di pinggang bagian kanannya masih menimbulkan rasa nyeri. Flek darah berwarna kecoklatan juga masih keluar dari dalam rahimnya seperti orang haid atau nifas, padahal ia tidak sedang mengalami kedua hal itu dan sudah satu bulan berlalu.
Sampai di dalam rumah Nadia duduk di sofa ruang tengah.
"Makan dulu, Sayang. Setelah itu istirahat di kamar," suruh Mimik.
"Iya, Mik. Nindy masak apa?" sahut Nadia bertanya.
Nadia menghampiri meja makan, menilik masakan yang dimasak oleh adiknya. Ia membuka tudung saji meja makan tersebut.
"Kalau mau makan, empal gentongnya masih di atas tungku, Ang," seru Nindya, adik Nadia secara tiba-tiba yang membuat Nadia kaget.
Nadia mengelus dadanya untuk menghilangkan rasa kagetnya. Tapi rasa kaget tersebut hilang seketika karena mendengar kata 'empal gentong.' Tumben-tumbennya Nindya masak empal gentong, dapat uang darimana dia? Masakan ini memang dikenal berasal dari Cirebon, namun masyarakat di Indramayu juga banyak yang memasak ini. Seperti nasi megono yang terkenal berasal dari daerah Pekalongan, padahal masyarakat di daerah Batang juga banyak yang memasak kuliner tersebut.
"Empal gentong?"
"Iya, ambil sendiri ya, Ang. Ada pedesan entog juga lho," sahut Nindya.
Nadia dengan pelan membawa kakinya ke dapur kotor yang berada di rumah paling belakang, di sana terdapat tungku yang terbuat dari tanah dengan bahan bakar kayu yang biasa digunakan untuk memasak. Ia meraih mangkok yang terbuat dari gerabah tanah liat sebagai wadah empal gentong.
Setelah mengambil beberapa ciduk, Nadia kembali ke meja makan untuk menikmati masakan tersebut bersama nasi dan lauk lainnya.
Sudah lebih dari setengah tahun Nadia meninggalkan rumah. Waktu liburan semester kemarin pun ia tidak pulang karena ia lebih memilih untuk magang di perusahaan Baskoro Groups. Namun, ia malah dibawa oleh Pak Rasya ke Bandung untuk mendesain villa impiannya. Di Bandung pria itu menjanjikan harapan kebahagiaan terhadapnya.
Nadia sadar taraf hidupnya tidak sepadan dengan pak dosen yang berasal dari keluarga konglomerat itu. Namun, rasa cinta yang telah bercokol di hatinya sejak pertama kali melihat sang dosen membuat ia sempat yakin bahwa ia dan pak dosen memang ditakdirkan untuk berjodoh.
Namun, kini apa yang dia dapatkan sejak awal ia membuka mata dari tidur panjangnya yang selama sebulan lebih? Bahkan telepon darinya untuk menanyakan kabar pun tidak ia dapatkan. Nadia bertekad akan membunuh rasa cinta itu sebisa mungkin, walaupun memang agak sulit. Karena pada semester yang akan datang mungkin saja ia akan bertemu kembali dengan dosen tersebut, meski dengan mata kuliah yang berbeda.
Setelah menyelesaikan makannya, Nadia membawa piring kotor ke dapur, ia lalu menemui adiknya Nindya yang sedang menonton televisi. "Nindy, kemarin kamu bilang kang Nadhif titip sesuatu buat A'ang, Mana?" tagihnya pada sang adik.
"Ada di kamar Kang Nadhif, Ang," jawab Nindya.
Nindya bangkit dari duduknya di karpet, lalu mengajak kakak perempuannya menuju ke kamar sang kakak sulung. Ia membuka pintu kamar yang tidak pernah terkunci itu. Nadia duduk di pinggir dipan menunggu sesuatu yang sedang diambil oleh adik perempuannya dari dalam lemari yang terkunci.
Nindya menghampiri Nadia dan duduk di sampingnya. "Ini, Ang. Kang Nadhif titip ini," ucapnya. "Buku-buku milik kang Nadhif ada di dalam kardus itu, barangkali A'ang membutuhkannya," imbuhnya menunjuk ke sebuah kardus yang terletak di sudut ruangan.
Nadia meraih sesuatu yang diberikan oleh Nindya kepadanya, sebuah skripsi milik Nadhif dan sebuah amplop putih. Ia membuka sekilas buku skripsi milik sang kakak lalu menutupnya kembali. Lalu pada saat ia membuka isi amplop putih tersebut, ia bingung. Ternyata isinya buku rekening dan ATM milik kakaknya.
"Kenapa Kang Nadhif memberikan ini padaku? Padahal dia sendiri memerlukan biaya untuk hidup di sana."
"Kang Nadhif bilang ia sudah membuat rekening bank internasional, Ang. Kalau yang itu milik bank daerah, daripada diambil semua dan ditutup mending diserahkan buat A'ang. Kode pinnya kata Kakang tanggal lahir kang Nadhif," tutur Nindya.
__ADS_1