
Rinai hujan menemani senja, kian malam kian kental derasnya. Tak dapat ditolak jika banjir melanda di kota, yang penghuninya tidak tahu tempat sampah yang sebenarnya.
Sehabis sholat maghrib Nadia dijemput oleh Rayan menggunakan mobil Tania setelah sebelumnya menjemput Prima terlebih dahulu. Rayan sengaja meninggalkan motornya di rumah Tuan Ardi. Malam ini mereka akan menghadiri Acara Syukuran empat bulan kehamilan Tania.
Tuan Ardi sengaja mengundang santri dari Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an untuk melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Ada 30 orang santri yang masing-masing akan membacakan satu juz.
Sampai di rumah Tuan Ardi, mereka langsung menuju ke ruang tengah. Di sana sudah ada Rifki bersama Erika istrinya juga Niken dan kerabat yang lainnya.
Ada kejadian tidak mengenakkan saat Pak Ustadz menanyakan nama calon ayah dan calon ibu dari calon bayi yang akan dihadiahi do'a.
"Nama calon ayah dan ibu, siapa bin siapa? tolong dicatat di selembar kertas ya, Pak!" pinta Pak Ustadz pada Tuan Ardi.
"Saya calon ayahnya, Pak Ustadz. Bramantyo Ardiansyah,"
Bram yang kebetulan berada satu ruangan dengan Pak Ustadz mengaku sebagai calon ayahnya.
Ardi menasehati anak sulungnya, "Bram, kamu jangan seperti anak kecil. Bagaimanapun juga suami Tania itu Edos. Kamu jangan menambah malu keluarga dengan tingkah mu seperti ini," tukasnya berbisik.
"Tapi Bram yakin anak yang dikandung Tania itu anak saya, Pa," ucap Bram ngotot.
Mendengar perdebatan antara ayah dan anak sulungnya itu, Dewi meninggalkan ruangan tersebut untuk memanggil Tania. Sesampai di dapur, ia mengamati Tania dan Edos sedang bercengkrama.
"Ee.. calon Ayah dan Bundanya kok malah masih di sini, ayo ke ruang depan! acaranya udah mau dimulai lho," cetus Dewi.
"Ayo, Sayang!" ajak Edos.
Edos dan Tania bangkit dari duduknya, melangkah bergandengan tangan menuju ke ruang Depan. Di ruang tengah juga banyak orang. Mereka bertiga menerobos ke ruang depan dan duduk lesehan di sana.
"Ini calon ibunya, Pak Ustadz. Namanya Tania Sari Dewi binti Syarifudin," tutur Dewi.
"Calon ayahnya siapa namanya?" tanya Pak Ustadz.
"Saya calon ayahnya, Pak Ustadz. Muhammad Azhar Firdaus bin Burhanudin," jawab Edos.
Menyadari ada Bram di ruangan tersebut Tania menggerutu, 'Dasar kakak tiri brengsek, masih berani menampakkan diri di depanku,' gerutunya dalam hati.
Pak Ustadz segera memulai acara dengan pembacaan surat Alfatihah, selanjutnya pembacaan Al-Qur'an 30 juz secara serentak, sebab jika dibaca dan disimak per juz akan memakan waktu yang lama hingga malam.
Setelah pengajian selesai, acara ditutup dengan do'a dan makan-makan.
"Yank, sepertinya kamu lelah, aku antar ke kamar yuk," ucap Edos pada istrinya. Tania mengangguk.
Mereka bangkit dan melangkah meninggalkan ruang depan. Sampai di ruang tengah Tania berhenti, ada teman-temannya di sana. Tania menghampiri untuk sekedar menyapa Rifki, Erika dan Niken, serta Nadia, Prima dan Rayan.
"Mbak Erika, kata Mas Rifki udah isi juga," kata Tania mengelus perut Erika.
"Alhamdulillah, Tan. Jalan dua bulan," jawab Erika.
"Selamat ya, Mbak. Semoga Mbak Erika dan dede bayi sehat, lancar sampai persalinan," ucap Tania mendoakan Erika.
"Terimakasih, Tania. Semoga kamu juga, semoga kamu dan bayimu sehat dan lancar sampai persalinannya," balas Erika.
"Terimakasih juga, Mbak. Mohon maaf ya teman-teman, saya permisi ke kamar dulu, silahkan kalian lanjutkan," pamit Tania.
"Iya, Tan, kamu istirahat saja. Biar kami yang membantu menghabiskan makanannya," celetuk Nadia yang langsung mendapat lemparan buah duku dari Prima yang mengenai kepalanya.
"Aw, jahat banget kamu, Ayang Pipim," hardik Nadia.
"Bikin malu saja, Kamu," sergah Prima.
__ADS_1
"Enggak apa-apa, Pipim. Biar nanti Nanad bantu sekalian membersihkan piringnya," timpal Tania tersenyum jahil.
Tania menghampiri Edos yang setia menunggunya. Edos membimbing istrinya menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.
Usai acara, Rayan hendak mengantar Prima pulang ke rumah orang tuanya. Sementara Nadia menginap di rumah Nadia karena Rayan pulang membawa motornya.
"Kamu menginap di sini saja ya, Nad. Pulang besok pagi. Soalnya aku pulang bawa motor," bujuk Rayan terhadap Tania.
"Iya, Mas. Sekalian mau bantu Mbak Siti bersih-bersih, kasihan Mbak Siti sendirian. Mas Rayan hati-hati bawa motornya, jalannya licin habis hujan," sahut Nadia menyetujui.
"Iya, aku pamit. Ayo Ayang Pipim!" ajak Rayan pada Prima.
Nadia mulai membantu mengangkat piring dan gelas kotor, membawanya ke dapur kotor di bagian belakang dan mencucinya.
Dewi yang sejak tadi baru melihat sahabat putrinya tersebut nampak kaget. "Nadia? Kamu tidak pulang, Nak? Ini bawa makanan ini biar dimakan teman-teman kost kamu," suruh Dewi menghentikan kegiatan Nadia.
"Tapi Mas Rayan sudah pulang, Tante. Dan ini masih banyak peralatan makan yang kotor, kasihan Mbak Siti kalau harus membersihkannya sendirian," tolak Nadia tidak enak.
"Sudah tinggal saja, biar kamu diantar sama Pak Joko saja. Siti sudah menyuruh temannya untuk membantu bersih-bersih. Besok pagi mereka baru bisa datang, takutnya kalau sampai besok sudah tidak enak makanan ini, basi. Kan mubazir," tutur Dewi menyerahkan bingkisan dalam plastik kresek.
"Baiklah, terima kasih, Tante," ucap Nadia.
"Ayo kita keluar, sekalian Tante bilangin sama Pak Joko biar mengantar kamu pulang." Dewi mengajak Nadia dan merangkulnya. Mereka melangkah menuju ke halaman rumah.
Setelah sampai di halaman, "Pak Joko, tolong antarkan nona Nadia pulang ke tempat kostnya hingga selamat ya," titah Dewi saat melihat Pak Joko.
"Baik, Nyonya," sahut Pak Joko. "Mari, Non," ajaknya.
"Nadia pulang dulu ya, Tante," pamit Nadia mencium punggung tangan Dewi.
Pak Joko dan Nadia masuk ke dalam mobil yang masih terparkir di halaman. Mobil tersebut bergerak perlahan meninggalkan rumah keluarga Ardiansyah.
"Ngekos di mana, Non?" tanya Pak Joko saat dalam perjalanan.
"Di sebelah mananya, non?" tanya Pak Joko lagi saat mereka telah sampai di depan gerbang kampus.
"Nyebrang, masuk gang sebelah kiri Pak," jawab Nadia.
Saat melewati jalan depan kampus, Nadia masih sempat melihat tiga preman yang pernah melecehkan nya. "Ternyata mereka tidak kapok ya mangkal disitu," gumamnya.
"Ada apa, Non?" tanya Pak Joko yang tidak jelas mendengar ucapan Nadia.
"Itu ada preman yang masih mangkal di depan kampus, Pak. Padahal mereka sudah pernah di hajar sama Pak Dosen Rasya," ucap Nadia mengeraskan suaranya.
"Biarkan saja, kalau bisa kita hindari saja orang kaya mereka," ujar Pak Joko.
"Stop di depan, Pak. Rumah warna krem itu," pinta Nadia saat rumah kostnya sudah terlihat.
Pak Joko menghentikan mobilnya. Nadia melepas seat belt kemudian membuka pintu di sampingnya untuk keluar.
"Terima kasih, Pak. Hati-hati nyetirnya sudah malam jalannya licin habis hujan, jangan mengantuk dan jangan ngebut," ucap Nadia pada Pak Joko.
"Sama-sama, Non. Selamat istirahat," sahut Pak Joko.
Mobil yang dikemudikan oleh Pak Joko bergerak pelan meninggalkan halaman rumah kost Nadia. Nadia menghampiri rumah dengan menenteng beberapa kantong kresek di tangannya. Ia mengetuk pintu beberapa kali. Di dalam rumah masih tampak ramai karena ini malam Minggu, teman-teman kostnya biasanya begadang sampai malam. Seseorang membukakan pintu untuknya.
"Baru pulang, Nad?" tanya Devi yang membukakan pintu.
"Iya, Mbak. Tadi bantu bersih-bersih dulu. Ini ada kue, Mbak. Dimakan bareng-bareng," jawab Nadia menyerahkan bungkusan plastik yang dibawanya pada Devi.
__ADS_1
"Wah, banyak sekali, Nad. Pasti enak-enak ya makanan orang kaya," seru Devi antusias.
Devi membawa bungkusan tersebut ke dalam ruang tengah. Nadia mengikutinya di belakang, melangkah menuju ke dapur untuk mengambil piring, lalu kembali ikut bergabung di ruang tengah bersama teman-teman kostnya.
"Mbak Rumi sudah tidur ya?" Tanya Nadia pada teman-temannya.
"Biasa lah, Nad. Malam Minggu kan Bang Har pulang," sahut Nisa.
Nadia mengambil beberapa kue kemudian ia taruh di piring. "Ini buat Mbak Rumi ya, teman-teman, aku simpan di kulkas," ucapnya meminta ijin.
"Iya, Nad," sahut Devi dengan mulut penuh black forest.
"Nanti sisain buat si Sari ya, Mbak," pesan Nadia.
"Tenang, Nad. Ini masih banyak kok," sahut teman yang lainnya.
Nadia masih saja perhatian sama orang yang selalu membuatnya kesal. Nadia kembali ke arah dapur hendak meletakkan piring berisi kue ke dalam kulkas.
*****
Sementara itu jauh di belahan dunia sana, tepatnya di kota Boston, seorang perempuan nampak sedang uring-uringan.
"Beb, apa kamu yang mengambil semua uang kita?" tanya perempuan tersebut kepada partnernya.
"Aku tidak pernah menyentuhnya, Celine," sangkal seorang laki-laki partnernya.
"Tapi yang tahu username dan password m-banking milik aku cuma kamu, Beb. Siapa lagi kalau bukan kamu yang mengambilnya?" tuduh Celine.
"Aku sama sekali tidak mengambilnya, Celine. Aku tidak mau menyentuh uang haram kamu," pria itu masih kekeuh tidak mau mengakui. "Coba kamu buka, aku mau lihat!" perintahnya.
Celine pun membuka aplikasi M-Bankingnya di ponselnya. "Ini," ucapnya menunjukkan pada pria tersebut.
"Ini masih utuh, kan?" tanyanya memastikan.
"Itu pakai tanda koma, Beb. Bukan titik. Di Indonesia berbeda pengaturan penulisan. Uang kita tinggal 139 ribu, sia-sia sudah usahaku selama ini," ucap Celine frustrasi.
"Pasti suami palsu mu sudah mengetahuinya," tebak pria tersebut.
"Bagaimana mungkin? Pria bodoh itu tidak akan tahu tentang rekeningku. Lagi pula kenapa di sini tidak ada rekaman mutasi nya sama sekali?" Celine heran dengan aplikasi M-banking nya.
"Aku juga tidak tahu, Celine. Sejak awal aku memang tidak mendukung dengan rencana kamu. Apalagi kamu sampai menitipkan anakku diasuh sama mereka," ucap si pria menyalahkan.
"Jack, ini sudah kesepakatan kita karena kamu tidak bisa memberikan kemewahan yang aku inginkan," kilas Celine.
"Itu cuma kesepakatan kamu sepihak Celine. Mana mungkin seorang suami rela istrinya dijamah oleh laki-laki lain, kamu memang tidak pernah puas dengan apa yang kamu miliki, Celine."
"Aku sama sekali belum pernah dijamah olehnya, Jack." Celine bersumpah.
"Mana aku bisa menjamin? Cara kamu berpakaian saja sudah memancing orang untuk berbuat mes*m," ucap laki-laki tersebut tidak percaya.
"Terserah kamu! Aku akan ke Jakarta," pamitnya.
"Aku ikut," timpal Jack.
"Tidak, Rasya pasti akan mengetahuinya!" larang Celine.
"Aku mau ketemu anakku, Celine," rengeknya.
"Tidak untuk saat ini, aku harus mendapatkan uang darinya lagi," tolak Celine. "Kamu mana punya uang untuk bikin pasport dan hidup di sana," ucapnya meremehkan.
__ADS_1
"Kenapa kita tidak pisah saja sejak dulu, Celine. Biar kamu bisa hidup bebas sesukamu," ucap Jeck frustasi.
"Aku hanya mencintai kamu, Jack, tetapi kamu miskin." tukas Celine.