
Nadhif memarkirkan motornya di basemen hotel Merysta. Sebelumnya ia sudah menanyakan kepada pak satpam yang berjaga di pintu gerbang masuk tentang keberadaan kamar nomor 105 itu di lantai berapa, supaya ia bisa langsung masuk ke dalam hotel tersebut dari pintu lift yang ada di basemen parkir hotel tanpa harus bertanya kepada customer servis.
Nadhif keluar dari pintu lift dan mencari keberadaan kamar 105 yang tadi sempat diberitahukan oleh adiknya. Saat sampai di depan kamar tersebut, Nadhif mendengar suara seorang laki-laki dari dalam kamar.
"Ayo, sekarang buka jaket kamu."
"Kurang ajar!" gerutu Nadhif geram. Ia pun langsung menerobos pintu yang sejak kedatangan Rasya tidak ditutup kembali, biar tidak menimbulkan fitnah. Namun apa yang terjadi.
"Heh, lepaskan adik saya!" teriak Nadhif.
Nadhif langsung melempar barang bawaannya ke kasur lalu menarik punggung Rasya dan menyerangnya bertubi-tubi tanpa ampun. Rasya yang tidak siap mendapat serangan mendadak itupun hanya bisa pasrah. Botol minyak angin yang hendak dibalurkan ke perut dan punggung Nadia itu jatuh ke lantai dan tumpah isinya.
Nadia yang panik hanya bisa menjerit. Tiba-tiba Amir datang ke dalam dan melerai karena mendengar suara ribut-ribut.
"STOP! STOP!"
Nadhif duduk dengan napas ngos-ngosan di tepi tempat tidur. Sementara Rasya dibimbing oleh Amir duduk di sofa.
"Kakang kenapa datang-datang main pukul orang saja sih? Pak Rasya itu tadi mau membantu aku," pekik Nadia dalam tangisnya.
"Mana kakang tahu? Orang tadi dia nyuruh kamu buka baju," kilah Nadhif.
"Bukan buka baju kang, tapi dia minta Nadia buka jaket. Dia itu tadi membantu mengambilkan Nadia minyak angin dan meminta Nadia untuk mengoleskan minyak angin sendiri, kalau aku masih pakai jaket begini kan enggak bisa," tutur Nadia meluruskan perkataan sang kakak.
"O, nanti kakang minta maaf. Sekarang kamu bangun, minum obatnya dulu," perintah sang kakak.
"Minyak anginnya pasti sudah tumpah 'kan sekarang?" gerutunya.
Nadia pun bangkit dan duduk bersandar di sandaran bed. Dengan cekatan Nadhif meladeni adiknya. Ia menyodorkan air mineral dan tablet pereda nyeri kepada adiknya. Nadia membasahi tenggorokannya dan menelan pil, lalu mendorongnya masuk ke dalam perut dengan air mineral.
"Besok kakang ganti yang baru," ucap Nadhif merasa bersalah.
Rasya memperhatikan interaksi antara kakak dengan adiknya itu dengan intens. "Benar-benar kakak yang penyayang," gumamnya sambil menyesap kopi yang tadi sempat ia abaikan.
"Ini rotinya dimakan, pasti perut kamu kosong sudah terkuras habis," ujar Nadhif menyodorkan roti sandwich ke dekat sang adik.
"Nanti saja, Kang. Aku mau pakai pembalut dulu," tolak Nadia.
"Kamu bisa jalan? Atau mau kakang gendong ke kamar mandi?" tawar sang kakak.
"Nadia bisa jalan sendiri kok, Kang," sahut Nadia.
Nadhif meletakkan roti, air mineral dan sisa obat di atas nakas, lalu menyodorkan kantong kresek yang isinya hanya tersisa pembalut itu ke hadapan Nadia. Nadia meraih kantong itu, lalu bangkit dan melangkah menghampiri sofa.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Saya mau ambil sesuatu di dalam tas saya." Nadia berkata dengan tersipu melihat tas ranselnya terhimpit tubuh Rasya yang sedang duduk.
Rasya mengambilkan tas ransel tersebut dan menyodorkan ke hadapan Nadia. Nadia meraihnya, ia tidak mungkin membuka seluruh isi tas untuk mencari underwear di hadapan Pak Rasya, maka ia membawa tas tersebut ke dalam kamar mandi.
Nadhif menghampiri Rasya, dia masih berdiri karena di sofa sudah penuh diduduki oleh Rasya dan Amir.
"Maafkan saya, Mas Rasya. Saya sudah membabi-buta memukuli anda, saya sudah salah sangka," ucap Nadhif menunduk.
"Tidak apa-apa, Nadhif. Itu wajar dilakukan oleh seorang kakak yang sangat sayang terhadap adik perempuannya," sahut Rasya tanpa emosi sedikitpun terhadap Nadhif yang pernah beberapa kali bertemu dengannya.
"Terima kasih, Mas. Oh iya, Mas satunya siapa?" tanya Nadhif.
"Saya Amir, pegawai di kantor Pak Rasya," timpal Amir mengulurkan tangan.
Nadhif pun menyambut uluran tangan tersebut seraya menyebut nama, "Nadhif."
"Kamu tinggal di sekitar sini, Nadhif?" tanya Rasya lagi.
"Iya, Mas. Tidak jauh dari ITB. Saya juga bertugas di Ardimart yang di dekat ITB," sahut Nadhif yang kini kembali duduk di tepi bed. Capek kalau harus berdiri terus.
"Sudah berapa lama?" tanya Rasya.
"Yah ... empat tahunan sejak saya kuliah," sahut Nadhif.
"Masih sakit?" tanyanya pada sang adik.
"Masih, Kang. Badanku juga pegal-pegal, mungkin obatnya belum bereaksi," sahut Nadia.
"Mau kakang pijit?" tawarnya.
Nadia mengulurkan tangannya, "tangan dan kaki saja," sahutnya.
Nadhif pun memijit tangan Nadia dan menarik jari-jarinya hingga terdengar bunyi 'krek.' Kemudian melanjutkan ke kaki. "Sudah hafal tiap bulan seperti ini, kenapa tidak disiapkan sih, Dek?" gerutunya.
"Tadi itu berangkatnya mendadak, Kang. Pulang kerja jam empat sore, jam lima dijemput untuk berangkat ke mari," jawab Nadia.
"Kamu kerja?" tanya Nadhif kaget, dia pikir adiknya ke Bandung untuk urusan kuliah.
"Aku magang di kantor Pak Rasya selama liburan semester dua Minggu ini. Kebetulan dia mau bikin villa di daerah sini. Dia ngajak aku untuk meninjau lokasi pembangunan villa itu besok pagi," ungkap Nadia.
"Sudah tidur, ini sudah malam sekali. Kakang juga nanti mau balik ke toko ya, nggak enak sama pegawai yang lain," ucap Nadhif sambil mengelus-elus kepala adiknya supaya bisa segera tidur.
"He'eh," sahut Nadia seperti sambil menguap.
__ADS_1
Mungkin karena obatnya mulai bereaksi, Nadia mulai memejamkan mata. Melihat adiknya sudah tertidur pulas, Nadhif bangkit dan melangkah menghampiri Rasya.
"Adik saya sudah tertidur pulas, Mas. Saya permisi mau kembali ke toko, tidak enak dengan karyawan yang lain," pamit Nadhif pada Rasya dan Amir.
"Kami juga mau kembali ke kamar kami, Nadhif," sahut Rasya.
Mereka pun keluar bersamaan dari kamar Nadia. Nadhif menutup pintu kamar tersebut lalu masuk ke dalam lift yang bertanda panah turun. Sementara Rasya dan Amir masuk ke dalam kamar masing-masing.
Rasya berbaring di tempat tidur kamarnya, mencoba memejamkan mata. Namun, hingga berpuluh menit berlalu, ia tidak bisa memejamkan matanya. Ia masih kepikiran pintu kamar gadis itu yang tidak terkunci. Ia berfikir seseorang bisa saja masuk dan menjahilinya. Atau mungkin saja ia tidak bisa tidur karena pengaruh kopi yang diminumnya, entahlah. Yang pasti perasaannya saat ini gelisah.
Rasya sudah tidak bisa menahan dirinya. bayangan gadis yang meringkuk itu semakin pekat dalam pikirannya. Ia pun bangkit dari tempat tidur, menyeret selimut keluar dan mengunci pintu kamarnya.
Rasya masuk ke dalam kamar Nadia dan mengunci pintunya. Ia membaringkan tubuhnya di sofa, memandang gadis itu dari kejauhan. Namun, tetap saja ia tak jua bisa memejamkan mata.
Rasya pun kembali bangkit menghampiri tempat tidur Nadia. Menyusup ke dalam selimut yang sama di belakang gadis itu. Memeluk gadis yang masih tertidur meringkuk membelakanginya tersebut, menciumi puncak kepalanya dan sebelah tangannya mengelus-elus perutnya.
Gadis itu melakukan pergerakan, ia membalikan tubuhnya 180⁰ dan sekarang posisi mereka berhadapan. Jantung Rasya berdetak cepat saat itu, perasaannya sudah tidak karuan, ia takut Nadia akan membuka matanya.
"Kang Nadhif, masih di sini. Tadi bilang mau balik ke toko. Kakang ganti parfum baru ya?" gumam Nadia yang masih dengan mata terpejam, lalu ia malah mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya di dada milik Rasya membuat hati Rasya semakin bergetar hebat. Meskipun kini ia merasa lega karena gadis itu mengira bahwa yang ia peluk saat ini adalah kakak kandungnya, Nadhif.
'Ini kang Rasya, Asa. Kang Rasya sangat menghawatirkan kamu. Kang Rasya sangat menyayangimu. Kang Rasya cinta sama kamu,' yah, pria pengecut itu hanya mampu memperdengarkan kata-katanya di dalam hatinya sendiri saja, bukan untuk didengar oleh orang lain.
Menjelang dini hari, barulah Rasya bisa memejamkan mata. Hingga pukul empat pagi, Nadia yang sudah terbiasa bangun sebelum subuh itu pun membuka mata. Tubuhnya terasa berat karena ditimpa sesuatu. Ternyata ada lengan dan kaki kekar yang menindihnya.
Nadia memperhatikan pakaian yang dipakai orang itu. 'Ini bukan baju kang Nadhif,' batinnya. Lalu matanya menyusuri dada hingga ke atas. Matanya membulat menyadari siapa yang saat ini berada di hadapannya, yang tidur memeluknya. "Pak Rasya! Kenapa Pak Rasya tidur di sini?" pekiknya mendorong sekuat-kuatnya tubuh laki-laki tersebut. Namun sepertinya tenaganya hanya sia-sia belaka, tubuh itu tak bergeser sesenti pun.
Mendengar pekikan Nadia dan perlakuan kasarnya, Rasya seketika terjaga. Ia langsung membekap mulut Nadia dengan sebelah tangannya. Matanya yang masih merah dipaksakan untuk terbuka.
"Aku tidak bisa tidur di kamarku, Asa. Aku menghawatirkan kamu. Aku takut kamu menangis kesakitan lagi seperti tadi malam, siapa yang akan membantumu?" lirihnya yang telah mengganti kata saya atau bapak menjadi kata aku. "Aku begitu menyayangimu. Aku mencintaimu, Asa Nahdiana." Rasya menambahi dengan suara yang lembut. Akhirnya ucapan itu lolos juga dari bibirnya. Ia kini sudah pasrah bagaimana reaksi gadis itu terhadapnya. Menerima atau menolaknya.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Rasya, seketika Nadia seperti disiram ribuan kelopak bunga. Ada perasaan bahagia. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Mbak Rumi bahwa dosennya yang ini menaruh hati padanya. Ia pun memberanikan diri untuk menatap kedalaman mata pria yang saat ini ada di hadapannya dan tangannya masih membekap mulutnya, menelisik mencari kebohongan di sana. Namun, ia tidak bisa menemukannya.
Cukup lama mereka saling menatap, menyelami kedalaman perasaan masing-masing. Namun, seketika Nadia menepis perasaannya saat ingat bahwa Rasya adalah pria yang sudah mempunyai istri dan anak. Nadia pun melepaskan mulutnya dari bekapan tangan Rasya.
"Saya tidak mau! Pak Rasya 'kan sudah punya istri dan anak. Saya tidak mau jadi pelakor," seru Nadia menolak.
"Asa ...."
.
.
.
__ADS_1
TBC