Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Menjadi Pelindung


__ADS_3

Siang ini Nadia dan kedua temannya pulang kuliah. Mereka akan mencari buku sambil hang out ke Mall, tentu saja dengan Rayan yang menjadi sopir dan bodyguard mereka, dan kali ini mereka mengajak serta si kecil Tiara.


Dari area parkir, Tiara meminta digendong oleh Tania. Tidak tahu kenapa hari ini sedikit manja. Karena perut Tania sudah semakin membesar, maka ia hanya bisa menggendong Tiara di punggungnya.


Dari balik dinding seseorang sedang mengintai mereka.


"Kamu lihat cewek yang sedang menggendong gadis kecil itu? Itu sasaran kita," ucap seseorang tersebut dalam sambungan telepon.


"Beres, Bos. Yang penting jatah kita dua kali lipat," sahut seseorang yang ditelpon.


Sampai di depan pintu masuk mall, Tania menurunkan Tiara. Sekarang Tiara berpindah gendongan Nadia. Tiara memeluk erat leher Nadia, menyembunyikan wajahnya di dada Nadia tidak berani menoleh ke belakang. "Mama Nanad, Aya atut ada olang jahat," ucapnya.


"Jangan takut, Sayang. Ada Mama Nanad, Mama Pipin, Mama Tatan dan Om Rayan juga di sini," bujuk Nadia.


Mereka berjalan santai memasuki Mall, di samping kanan Nadia ada Tania, di samping kirinya ada Prima dan Rayan berada di paling ujung kiri di samping Prima.


Nadia melihat seorang laki-laki berjalan dari arah berlawanan menuju ke arah mereka. Laki-laki tersebut memakai pakaian dan atribut serba hitam. Kaca mata dan topi hitam yang ditutup dengan jaket Hoodie warna hitam pula. Tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket yang ia pakai.


Makin lama orang tersebut semakin mendekat lurus dengan arah Tania berjalan, hingga jarak mereka kini hanya tinggal dua meter. Orang itu berjalan semakin cepat mendekati Tania. Menyadari bahaya sedang mengancam sahabatnya, Nadia berlari ke hadapan Tania dengan posisi berbalik menghadapnya dan membelakangi laki-laki misterius itu, sementara tangannya masih memegang tubuh Tiara yang menempel di dada kirinya.


"Tania!" Pekiknya dengan mata melotot merasakan sesuatu yang teramat sakit di pinggang kanannya. Perlahan pandangannya mulai kabur.


"Nadia!" pekik Tania.


Tania meraih Tiara yang hampir saja terlepas, Nadia terkulai lemas dengan darah mengucur dari pinggang kanannya.


Tania dan Tiara menangis histeris melihat Nadia tergeletak tidak berdaya. ia terduduk dengan Tiara di pangkuannya.


Rayan dengan sigap menekan tombol di jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Memberikan kode kepada bodyguardnya yang mengawasi mereka di setiap penjuru.


"Bangun, Tan!" Prima yang sudah meraih Tiara dan menggendongnya.


Dua orang berpakaian seragam serba hitam mendekat.


"Maafkan kami, Bos," ucap kedua orang tersebut kompak.


"Mana yang lain?" tanya Rayan.


"Mereka mengejar pembunuh itu, Bos."


"Cepat angkat gadis ini dan bawa ke rumah sakit," perintah Rayan kepada kedua bodyguard-nya.


Kedua pria tersebut segera mengangkat tubuh Nadia dan membawanya pergi. Tania nampak masih shock dan histeris melihat kejadian yang baru saja dilihatnya di depan matanya.


"Kamu mau dibopong juga, Tan? Ayo kita ke rumah sakit," aja Rayan pada Tania yang masih menangis.


"Mas, aku nggak kuat jalan ke parkiran," rengek Tania.


"Sebentar saja, kita lewat jalan pintas, yuk! Nggak mungkin kalau mobilnya dibawa ke sini." bujuk Rayan.


"Memangnya Mas Rayan nggak punya mobil seperti milik agen 007? Ini darurat, Mas?" tanya Tania serius. Namun Rayan menganggapnya bercanda.


'Ini bumil dalam keadaan genting masih saja pakai pertanyaan ngaco,' batin Rayan.


"Masih dipesan belum selesai, ayo bangun! kasihan Nanad sendirian," ajak Rayan mengulurkan kedua tangannya.


Tania menerima uluran tangan Rayan untuk berdiri. Mereka menuju ke basemen parkir melalui lift darurat. Rayan segera melajukan mobil setelah semua telah masuk. Membawa mereka menuju ke rumah sakit.


Sampai di rumah sakit, Nadia langsung dibawa ke ruang operasi,


lampu di pintu ruangan tersebut masih berwarna merah saat mereka tiba di sana. Tiara yang masih berada di gendongan Prima kembali menangis tersedu-sedu.


"Aya mau Mama Nanad, huuuhuhu ..."

__ADS_1


"Tiara pulang saja ya? Di rumah sama Eyang Putri," bujuk Rayan.


"Mas Rayan enggak boleh ke mana-mana sebelum kita tahu keadaan Nadia!" tukas Tania.


"Tapi, Tania. Kasihan Tiara, dia juga anak kecil seharusnya tidak boleh berada di rumah sakit," ucap Rayan memelas.


"Kalau begitu papanya atau neneknya saja suruh menjemput kemari," ucap Tania yang tidak mau dibantah. "Mas Rayan tahu kan kalau sasaran pembunuh itu aku, Nanad itu cuma sok-sokan jadi Dewi Persik," ucapnya yang kembali disertai isakan.


Rayan memicingkan sebelah alisnya.


"Kok Dewi persik sih, Tan?" protes Prima.


"Aku tadi bilang Dewi Persik ya? Maksudku Dewi Penolong, Pipim," jelas Tania.


"Sebentar, aku telfon Ibu atau Mas Rasya," tutur Rayan.


Panggilan pun terhubung.


"Iya, Ray?" sapa Rasya pada sambungan teleponnya.


"Mas sudah pulang? Tolong jemput Tiara di rumah sakit." pinta Rayan menjawab Rasya.


"Tiara masuk rumah sakit?" Rasya malah shock mendengar anaknya di rumah sakit.


"Bukan Tiara yang sakit, Mas, Tapi Nadia. Aku ceritakan nanti," Jelas Rayan.


"Apa? Nadia? Baiklah, aku ke sana, share saja tempatnya," ucap Rasya menyanggupi.


"Cepat ya, Mas. Tiaranya udah rewel nih, kalau bisa ajak Ibu sekalian," pinta Rayan mengakhiri panggilannya.


Rasya menyimpan ponselnya, dia menerima telepon dari Rayan ketika ia sedang duduk di balkon. Ia hendak masuk ke dalam kamarnya, tetapi langkahnya terhenti saat melihat Celine baru saja masuk dan menutup pintu. Rasya mencoba menajamkan telinganya supaya bisa mendengar percakapan Celine dengan seseorang yang entah siapa.


'Wanita ular itu, apalagi yang ia lakukan?' batin Rasya.


"Oke, kita ketemu di rumah kosong," ucap Celine pada si penelepon yang langsung memutus sambungan teleponnya.


Untung saja tadi Rasya telah mengaktifkan perekam video, mungkin suatu saat bisa berguna untuk mengusir Celine dari kehidupannya. Buat apa punya istri yang tidak mau melayani kebutuhan suaminya. Kerjanya hanya menghamburkan uang. Hanya uang saja yang ada dalam otaknya.


Rasya menunggu Celine keluar dari kamarnya terlebih dahulu. Setelah beberapa menit Celine tidak terdengar suaranya ataupun gerak-geriknya, barulah Rasya keluar dari persembunyiannya.


"Ibu!" panggil Rasya mencari ibunya di dapur.


"Ada apa, Rasya?" tanya Bu Nastiti yang muncul di ambang pintu.


"Ikut Aku, Bu. Menjemput Tiara," jelas Rasya.


"Bukannya Tiara tadi sama Rayan dan teman-temannya?" tanya Bu Nastiti memastikan.


"Rayan bilang temannya- Nadia dirawat di rumah sakit, Bu," jawab Rayan.


"Apa? Nadia masuk rumah sakit?" tanya Bu Nastiti shock.


Bu Nastiti dan Rasya segera menuju ke rumah sakit yang di beritahukan oleh Rayan. Sampai di depan ruang ICU, mereka menjumpai Tania yang masih menangis karena shock. Tiara yang melihat papanya datang langsung turun dari pangkuan Prima dan menghambur ke pelukan papanya.


"Papa!" serunya.


"Sayang," sahut Rasya mengecup pipi putrinya.


Rasya kemudian mengalihkan perhatiannya pada Rayan, adiknya.


"Nadia kenapa, Ray?" tanya Rasya pada Rayan.


"Tadi sewaktu di mall dia kena tusuk orang saat menggendong Tiara," jawab Rayan.

__ADS_1


"Mama Nanad tatit, Papa. Mama Nanad dendong Aya," Tiara menambahi.


"Tiara sama Eyang Putri yuk!" ajak Bu Nastiti merengkuh tubuh Tiara ke dalam gendongannya.


Rasya kembali teringat kejadian sebelum ia pergi ke rumah sakit.


"Apa Celine pernah menjumpai kedekatan kalian dengan Tiara?" tanya Rasya pada Prima dan Tania.


"Kemarin sore kami bertemu dia di rumah Bapak," jawab Prima.


'Celine, kenapa kamu tidak jera juga menyakiti orang yang dekat dengan anakmu? Kamu pikir itu bisa membuatku untuk tidak menceraikan mu? Kamu salah Celine, aku semakin muak denganmu,' batin Rasya.


"Apa Mas Rasya tahu sesuatu?" tanya Rayan penuh selidik.


"Sepertinya aku tahu dalang dibalik semua ini, tapi kita harus mengumpulkan lebih banyak bukti," jawab Rasya.


"Maksud Mas Rasya?" tanya Rayan semakin penasaran.


"Kamu lihat ini!" ucap Rasya menunjukkan rekaman video yang ada di ponselnya.


"Anak buahku belum berhasil menangkap pembunuh itu, sepertinya mereka tergabung dalam komplotan yang sudah terorganisir," tutur Rayan.


"Aku sudah memasang alat untuk melacak keberadaan Celine di ponselnya, dan menyuruh orang untuk menyelidikinya," timpal Rasya.


"Kasihan Nadia yang tidak tahu apa-apa harus menjadi korban," ucap Rayan mendesah pelan.


"Sebenarnya sasaran pembunuh tadi bukan Nanad, tetapi aku, Pak," timpal Tania. "Tapi Nanad mencoba jadi tamengku," imbuhnya kembali menangis.


Rasya beralih menatap Tania, gadis rekomendasi pemegang saham di kampusnya tersebut masih saja menangis.


"Sudahlah, Tania. Kamu tidak perlu menyesal semua yang terjadi sudah kehendak Allah," ucap Rasya membujuk agar Tania berhenti menangis.


Hubungan Rasya dengan Celine sudah tidak dianggap sebagai hubungan. Wanita itu ada atau tidak ada rasanya sama saja. Dia hanya memanfaatkan Rasya sebagai sumber pundi-pundi yang bisa menopang hidupnya yang suka berbelanja barang-barang mewah. Rasya sudah muak dengan kelakuan Celine yang tidak pernah memperhatikan anak dan suaminya. Celine akan melakukan apa saja terhadap gadis yang dekat dengan Rasya atau Tiara.


Lampu ruangan operasi sudah berubah menjadi warna hijau setelah tiga jam lamanya. Itu berarti operasi Nadia sudah selesai, namun belum ada petugas yang keluar dari ruangan.


Beberapa menit kemudian dokter dan 2 orang petugas medis keluar dari ruangan. Rayan dan Rasya mendekat ke arah dokter tersebut.


"Bagaimana kondisi teman saya, dokter?" tanya Rayan.


"Pasien akan dipindahkan ke ruang ICU, dia belum sadarkan diri, untuk lebih jelasnya nanti saya jelaskan di ruangan saya. Saya permisi," jawab dokter tersebut, lalu meninggalkan tempat tersebut.


"Apa kamu punya nomor telepon keluarganya Nadia, Ray?" tanya Rasya pada adiknya.


"Bukannya Mas Rasya lebih dekat sama dia?" sergah Rayan.


Rayan mendekati Prima yang duduk di kursi. "Yank, apa kamu tahu orang tua Nadia tinggal dimana? Kita harus memberitahukan kondisi Nadia ke mereka."


"Bapak dan Ibunya Nadia tinggal di Indramayu katanya, Mas, tetapi aku tidak tahu nomor teleponnya," jawab Prima.


"Ray, coba kamu telepon Aghni. Minta nomor ponsel Nadhif padanya!" pinta Rasya pada adiknya.


"Aku malah tidak tahu nomor telepon Aghni, Mas," sergah Rayan.


"Apa maksud Pak Rasya Aghni adik saya, Pak?" tanya Tania memastikan.


"Ah iya, Tan. Kamu telepon tolong ya, Tan,' jawab Rasya.


"Baik Pak," sahut Tania.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2