
Malam ini sepertinya langit tertutup awan kelabu. Ini terbukti karena tak satupun bintang hadir menyapa. Mungkin sisa hujan tadi pagi hingga sore hari masih melekat di jalanan yang licin. Bau basah juga masih tercium di hidung.
Waktu sudah menunjukkan lewat dari pukul sebelas malam saat sebuah mobil berhenti di halaman sebuah villa. Seorang laki-laki keluar setelah sebelumnya membayar ongkos taksi yang mengantarnya. Di halaman vila tersebut ada beberapa mobil yang terparkir.
Laki-laki yang masih mengenakan pakaian kerja tadi siang dengan jas yang ia sampirkan di pundak kirinya itu melangkah menuju ke pintu masuk.
Ia membuka pintu sambil mengucap salam. Ternyata di dalam vila banyak orang yang masih terjaga sambil menonton televisi. Mereka menoleh ke arah pintu saat Rasya membukanya.
"Baru sampai, Sya?" tanya Bu Nastiti pada anak sulungnya.
"Iya, Bu. Tadi mampir ke hotel dulu menemui Kang Nadhif untuk mengecek kesiapan acara besok pagi. Ibu belum tidur?" tanyanya setelah Rasya mencium takdim punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian. Matanya memutari ruangan mencari keberadaan seseorang. Seseorang yang tentu saja sangat berarti dalam hidupnya.
"Cari siapa? Nadia sudah tidur," ucap Bu Nastiti lagi. Rasya tersenyum bahagia, sebentar lagi dia akan bertemu dengan Nadia. Melepaskan kerinduan yang sudah berada di ubun-ubun. Rasa lelahnya kini sirna sudah. "Nadia tidur sana Nada - adiknya, kamu tidur di kamar lain saja, Sya."
Senyum yang sempat terbit di bibir Rasya seketika redup. Rasya menghempaskan pantatnya di samping Bu Nastiti. Pak Baskoro dan Pak Gunawan tertawa melihat muka Rasya yang kusut itu.
"Mentang-mentang besanan, kompak ya kalian!" sungut Rasya kesal.
Rasya meletakkan kepalanya di pangkuan Bu Nastiti. Ia memejamkan matanya yang sudah tinggal lima Watt itu. Bu Nastiti mengelus rambut anak laki-laki itu dengan lembut, berharap dapat mengurangi rasa lelah yang menggelayut di tubuhnya. Raka memejamkan matanya yang secepat kilat memasuki alam mimpi.
"Pa, tempat itu punya Raka," seru pemuda yang kini berdiri menatap papanya dengan kesal. Raka tiba-tiba sudah berdiri tidak jauh dari sofa.
Rasya membuka mata beratnya karena kaget. "Ya Allah, Ka. Pinjam sebentar saja tidak boleh, kamu itu udah besar masa masih suka dielus-elus eyang putri sih," dengkusnya. .
"Baru Raka tinggal ke toilet sebentar udah diembat sama Papa. Papa kan udah punya Tante Nanad, ngapain masih merebut tempat favorit Raka sih?" Raka masih belum mau mengalah.
"Diembat? Astaga Raka, memangnya pangkuan eyang putri mu ini makanan apa?" sergah Rasya. "Dito, kamar kamu di sebelah mana? Mas mau tidur sama kamu saja," tanyanya pada adik iparnya. Rasya akhirnya mau mengalah, malu sebenarnya berdebat sama anak sendiri. Alih-alih melepas lelah malah diusir oleh anak kandungnya.
"Di paviliun belakang, Mas," sahut Nandito. Adik laki-laki Nadia. Pemuda itu baru masuk kuliah semester satu, setingkat dengan Raka.
"Eh, tunggu, Pa! Kamar Dito bareng Raka loh ya," cegah Raka. Rasya membuang napasnya kesal. Kalau tidak ingat bahwa Raka adalah putranya yang dulu pernah diterlantarkannya, rasanya Rasya sudah kepengen menjitak kepala pemuda itu.
"Lalu Papa harus tidur di mana, Raka? Di pangkuan eyang putrimu tidak boleh. Tidur sekamar sama Dito juga tidak boleh. Kamu pelit sekali sama papa sendiri," Rasya kembali mendengkus.
Raka hanya menahan senyum, padahal di hati bersorak ria karena telah berhasil mengerjai sang papa. Sementara Rasya akhirnya bangkit dengan muka cemberutnya. Malu juga jika ia tidak mau mengalah dengan sang anak.
"Tidak boleh begitu sama Papa," ucap Bu Nastiti kepada Raka saat kepala pemuda itu sudah kembali berada di pangkuannya.
"Dito, ikut ke kamar Mas Rasya yuk. Pindahkan tidur adik kamu ke kamarmu!" pinta Rasya beralih pada Nandito.
"Baik, Mas," sahut Dito meski awalnya sempat kaget. Dito pun bangkit dari duduknya dari atas karpet dan melangkah beriringan dengan Rasya.
"Gimana kuliah kamu?" tanya Rasya mengusir kecanggungan di antara mereka.
"Alhamdulillah lancar, Mas," sahut Nandito.
Rasya membuka pintu dengan perlahan. Nandito mengikuti di belakangnya. Pemuda itu langsung meraih tubuh adiknya ke dalam gendongannya lalu bergegas keluar dari dalam kamar kakaknya.
Rasya tidak tega jika harus membangunkan adik iparnya untuk pindah tempat tidur. Takut nanti gadis itu tidak bisa tidur lagi. Padahal besok pagi sampai malam kegiatan full seharian. Karena Rasya sendiri saat sudah terlelap tiba-tiba dibangunkan, maka ia tidak bisa terlelap lagi karena kaget.
__ADS_1
Setelah menutup pintu kembali, pria itu mendekati ranjang lalu berbaring di samping istrinya. Memeluk erat tubuh wanitanya tersebut hingga ia sendiri terlelap tidak lama kemudian.
Nadia yang merasa terusik dengan pelukan dari belakang tubuhnya pun membuka mata. Ia menyingkirkan lengan kekar yang melingkar di perutnya. Jiwa auto proteksinya muncul demi melindungi sesuatu yang sekarang kehadirannya belum diketahui oleh sang ayah. Ia pun membalikkan badan. Menatap lekat-lekat wajah lelah sang suami yang berada di hadapannya saat ini. Wajah yang dua bulan ini hanya bisa ia pandang dari layar ponselnya. Jarak mereka begitu dekat hingga hembusan napas Rasya terasa sekali di wajah Nadia. Senyum semanis gula batu pun terbit dari bibir perempuan itu.
"Eh, kok tiba-tiba pengen es krim ya," gumam Nadia.
Nadia berusaha memejamkan matanya kembali. Mungkin dengan tertidur ia dapat melupakan keinginannya yang tiba-tiba muncul tersebut. Tengah malam begini dengan cuaca habis hujan dan suhu udara Bandung yang dingin. Hadeuh! Ada-ada saja si Nanad ini.
Namun, Nadia berulangkali memejamkan matanya tidak juga terlelap. Bahkan keinginan untuk menikmati kelembutan es krim yang manis dan lezat semakin menjadi-jadi. Ia pun berusaha membangunkan Rasya.
"Mas," ucapnya sambil menepuk pelan dada suaminya, tetapi pria itu tetap bergeming.
"Mas!" panggilnya lagi. Kali ini sampil mengguncangkan tubuh laki-laki itu hingga telentang. Namun, tetap saja tidak terjaga.
Nadia gemas, kesabarannya pun berkurang. Ia pun memencet hidung Rasya sambil teriak, "Bangun, Mas!"
Rasya yang tidak bisa bernapas seketika membuka matanya dan menyingkirkan tangan Nadia. "Ada apa, sih?" tanyanya penuh emosi. Matanya nampak berwarna merah menatap Nadia.
"Aku mau makan eskrim," sahutnya.
Rasya menghela napas. "Sayang, ini sudah malam. Besok pagi saja kita beli. Di acaranya kang Nadhif juga pasti ada. Sekarang tidur ya," ucapnya berusaha meredam emosi.
"Tapi maunya sekarang," Nadia mulai merajuk.
"Ini sudah jam berapa, Nanad? Lagian cuaca dingin habis hujan begini mau makan es krim. Kamu pengen sakit," sergah Rasya.
Nadia tidak membalas lagi ucapan Rasya. Ia membalikkan badan membelakangi suaminya tersebut. Rasya kembali memejamkan matanya tidak peduli. Dia pikir Nadia juga akhirnya tertidur. Rasya pun kembali terlelap.
Satu jam berlalu, Rasya kembali membuka mata. Ia meraba kasur di sampingnya. Kosong. Kemana Nadia? Dari kamar mandi juga tidak terdengar ruangan itu ada penghuninya. Tapi malam-malam yang dingin begini mana mungkin Nadia berada di luar rumah. Rasya berfikir mungkin Nadia bergabung di kamar saudara-saudaranya yang lain.
Namun, samar-samar terdengar seperti isakan tangis perempuan. Lama kelamaan isakan itu semakin jelas. Rasya yang belum bisa kembali terlelap pun menajamkan pendengarannya. Ya benar, isakan itu berasal dari arah balkon.
Rasya pun bangkit dan berjalan menuju ke balkon. Pria itu melihat istrinya duduk di kursi meringkuk memeluk lututnya. "Sayang, kenapa malam-malam kamu di luar, nanti sakit. Ayo masuk!"
"Nggak usah sok peduli," sungut Nadia.
Rasya menghela napas, "Dua bulan tidak ketemu kenapa kamu malah jadi seperti anak kecil sih?"
Tangis Nadia malah bertambah keras. "Aku menyesal ketemu Mas. Mas udah enggak sayang lagi sama aku."
"Lah, kamu mintanya yang aneh-aneh. Masa dingin-dingin begini ingin makan es krim. Harusnya dingin-dingin begini minta anuan biar badan jadi hangat."
"Memangnya kalau aku minta anuan Mas mau nuruti? Enggak capek? Lagian ini juga bukan kemauanku," elak Nadia terisak.
Rasya tertawa sinis, "Kalau bukan keinginan kamu lalu keinginan siapa? Jelas-jelas kamu yang tadi bilang ingin makan es krim." sergahnya. "Kamu mau bilang kalau itu keinginan mahluk yang merasuki tubuh kamu?" tebaknya asal.
"Memang iya, Mas puas?" seru Nadia masih sambil terisak. "Ini keinginan baby kita tahu!" imbuhnya.
Rasya terperanjat, "Hah, siapa? Baby? Kamu hamil," tanya Rasya tidak percaya.
__ADS_1
"Sabar ya, Dek. Papa memang enggak sayang sama kita. Mungkin karena dia mau dapat Dedek dari mama yang lain," sindir Nadia sambil mengelus dan memandangi perutnya.
Rasya mendekat lalu memeluk dan menciumi Nadia. "Kenapa enggak bilang dari tadi kalau kamu hamil, hemm?" tanyanya. Sebenarnya dia merasa tersinggung dengan kalimat Nadia selanjutnya, tetapi langsung hilang tertutup oleh kabar bahagia itu.
"Niatnya mau kasih surprise," sahut Nadia.
"Ayo! Memangnya kamu mau makan es krim di mana? Mas akan mengantar kamu kemana pun," Rasya menarik lengan Nadia.
"Pengen di kafe tapi pasti udah pada tutup," Nadia mengimbangi langkah suaminya. "Kalau enggak ketemu kafe ke minimarket tempat Kang Nadhif dulu kerja saja kan buka 24 jam," cetusnya.
"Oke, Sayangku. Kemana pun kamu mau, Mas siap," sahut Rasya. "Oh iya, kamu tahu ibu tidur di kamar yang mana, Sayang?" tanyanya. Sepertinya kantuk pria yang tidak lain adalah suami Nadia itu sudah hilang terbawa hawa dingin.
"Di kamar ibu seperti biasanya kalau ke sini kayaknya. Kamar yang berhadapan langsung dengan taman samping. Memangnya mau apa sama ibu?" sahut Nadia lalu bertanya.
"Minta kunci mobil lah, kita pinjam mobil ibu atau Bapak. Memangnya kamu mau kita jalan kaki ke kota?" sergah Rasya.
"Kapan nyampainya?" Nadia mencebik.
Sampai di depan kamar Bu Nastiti Rasya mengetuk pintu sambil memanggil nama penghuni kamar. Namun, berkali-kali mereka memanggil tidak jua terdengar sahutan. Ya iyalah, orang mereka baru saja masuk ke dalam kamar, mungkin baru saja terlelap.
Rasya lalu membuka pintu yang memang tidak terkunci. Masuk ke dalam, menekan saklar lampu. Seketika kamar yang semula gelap menjadi terang.
"Bu," kembali Rasya memanggil sang ibu sambil mengguncang tubuhnya.
"Eeuhh," hanya erangan yang keluar dari tubuh berbalut selimut tebal itu sebagai jawaban.
"Bu, kunci mobil di mana?"
"Tas," jawab Bu Nastiti singkat.
"Tas ibu di mana?"
"Di mall."
"Ibu mengigau ih," cebik Rasya. Lagian orang baru tidur dibangunin. "Bu, bangun dong!" Kali ini guncangannya lebih keras.
Bu Nastiti pun mengerjapkan matanya kaget. "Ada apa sih, Sya? Baru saja ibu terlelap," kesal Bu Nastiti terhadap anak sulungnya.
"Kunci mobil ibu mana? Menantu ibu ngidam pengin makan es krim sekarang," sahut Rasya sudah tidak sabar.
"Itu di atas nakas," sahut Bu Nastiti tanpa membuka mata.
Rasya dengan cepat menoleh ke arah nakas. Terlihat olehnya kunci mobil yang dicarinya itu di samping termos stainless. "Kenapa enggak dari tadi aku melihat kamu, kan enggak usah bangunin ibu," gerutu Rasya.
.
.
.
__ADS_1
TBC
Terima kasih semuanya yang sudah membacaš