
Seorang wanita muda sedang mematut dirinya di cermin. Ia melenggok ke kanan dan kiri memperhatikan baju yang baru dipakainya. Memastikan penampilannya sudah lebih baik dari sebelumnya.
"Ternyata berguna juga Mas Rasya memesan baju ini untukku. Aku kan enggak mungkin langsung ke bandara dengan masih memakai kostum hitam putih. Enggak mungkin juga kalau harus pulang ke rumah untuk hanya berganti pakaian. Suamiku itu mungkin punya indra ke enam kali ya," gumam Nadia.
Tiba-tiba ada tangan yang melingkar di perut Nadia, mengendus-endus di belakang lehernya.
"Bajunya pas 'kan, Sayang?" tanya Rasya yang telah selesai melaksanakan sholat dhuhur.
"Mas hebat banget, seperti punya indra ke enam," puji Nadia membalas ucapan suaminya.
"Siapa dulu dong istrinya?" sergah Rasya membuat hati Nadia berbunga-bunga.
Nadia melepas lengan kekar suaminya, lalu berbalik menghadap ke arah Rasya.
"Ayo, Mas! Tatan sama Pipim udah menunggu di lobi. Mereka bilang mau mengikuti mobil Mas Rasya sebagai penunjuk arah. Soalnya Tatan 'kan belum lama bisa nyetir jadi belum hafal jalan," jelas Nadia.
"Ayo! Baju kotor kamu sekalian dibawa, Sayang. Nanti kita langsung pulang," timpal Rasya.
"Iya, ini udah ku kemas sekalian kok, Mas," sahut Nadia.
Rasya menggandeng tangan Nadia keluar dari ruangan menuju ke pintu lift. Mereka masuk ke dalam lift setelah pintunya terbuka. Lift bergerak turun ke bawah. Saat di lantai 7 lift berhenti dan pintunya terbuka. Seorang gadis masuk ke dalam. Tangan Rasya yang sebelumnya menggamit pinggang Nadia pun ia lepas seketika.
"Mbak Linda, kita ketemu lagi. Apa kabar?" tanya Nadia setelah mengenali siapa yang baru saja masuk ke dalam lift. Dia adalah sang sekretaris bapak mertuanya - Linda. Linda merupakan keponakan dari Pak Baskoro.
"Eh, Nadia. Alhamdulillah baik," sahut Linda. "Kalian kok bisa bareng?" tanyanya heran. Karena setahu Linda Nadia itu temannya Rayan.
"Oh, aku kan magang PKL selama dua bulan di kantor ini, Mbak. Tepatnya di divisi Litbang. Barusan aku dari ruangan Pak Rasya karena ada yang pengen aku konsultasikan tentang pembuatan laporan. Pas udah selesai bimbingan kebetulan Pak Rasya juga mau ada urusan keluar jadi ya kita bareng," jelas Nadia.
"Betul begitu, Mas?" tanya Linda pada Rasya.
"Iya, benar." Rasya menjawab singkat.
"Memangnya Mas Rasya mau kemana? Ini kan belum ada jam dua siang?" tanya Linda pada saudara sepupunya.
"Aku mau ke bandara jemput Rayan, hari ini dia pulang," sahut Rasya tanpa menutupi tujuannya keluar.
"Apa? Sayangnya aku lagi ada pekerjaan, kalau tidak aku pasti ikut Mas Rasya ke bandara. Aku juga sudah kangen sama Mas Rayan. Aku nitip salam saja buat Mas Rayan ya, Mas," timpal Linda. Rasya mengangguk.
Pintu lift terbuka dan mereka keluar di lobi.
"Loh, Tan. Kamu bawa Atar?" tanya Rasya pada Tania yang tengah memangku sang putra.
"Maaf, Pak. Atar nangis tadi enggak mau ditinggal," sahut Tania.
"Kalau kamu memang enggak bisa, enggak usah dipaksain buat jemput. Saya bisa menjemput adik saya sendiri kok," ucap Rasya.
"Tidak apa-apa kok, Pak. Saya enggak enak sama Mas Rayan yang udah dari minggu lalu meminta saya yang jemput. Lagian Atar udah enggak rewel lagi kok," timpal Tania.
"Ayo Atar sama Mama Nanad saja," ajak Nadia mengambil alih untuk menggendong Atar.
"Sini dulu tas kamu, Sayang. Berat 'kan?" Rasya mengambil alih tas ransel Nadia sebelum ia menggendong Atar.
Mereka keluar menuju ke halaman. Masuk ke dalam mobil masing-masing, Prima ikut mobil Tania sementara Nadia bareng suaminya. Rasya melajukan mobilnya pelan supaya bisa mengimbangi kecepatan mobil Tania.
"Kasihan Atar ya, Mas. Hanya tiga bulan merasakan kasih sayang dari ayahnya," ucap Nadia dengan mata berkaca-kaca sembari menciumi pipi Atar.
"Lebih kasihan lagi adiknya 'kan belum pernah merasakan kasih sayang dari ayahnya," timpal Rasya.
"Kalau boleh sih kita adopsi saja salah satu, Mas. Mengasihi anak yatim itu pahalanya kan besar sekali," cetus Nadia.
"Iya, kata orang tua sekalian buat pancingan agar kita lekas mendapatkan keturunan, tetapi keluarga mereka 'kan orang kaya, mana boleh anaknya diadopsi oleh kita," timpal Rasya tersenyum.
"Mas mau kita mengadopsi anak? Kita bisa ambil dari panti asuhan," cetus Nadia lagi.
__ADS_1
"Enggak dulu deh kayaknya, Sayang. Mas takut kita enggak punya waktu mengurusnya. Nanti saja kalau kamu udah lulus kuliah, baru boleh kalau mau mengadopsi anak. Sukur-sukur sebelum lulus kamu sudah melahirkan anak sendiri," harap Rasya.
Tiba-tiba Atar memukul-mukul tangan Nadia berharap mendapat atensi dari perempuan itu.
"Ada apa, Sayang?" tanya Nadia menatap Atar.
"Mama, pipis," sahut Atar.
Nadia meraba bokong Atar. "Kok pipis? Atar kan udah pakai diaper?" Tanya Nadia keheranan.
"Gimana ini, Mas?" Nadia beralih kepada suaminya.
"Mungkin kebiasaan di rumah enggak pakai diaper dia. Nanti kita mampir di pom bensin," sahut Rasya. "Kamu coba hubungi Prima, bilang padanya kalau kita mau mampir di pom bensin biar Prima yang sampaikan kepada Tania. Kalau hubungi Tania langsung takutnya dia enggak fokus nyetir," pintanya.
"Gimana hubungi Primanya? Ponselku 'kan ada di tas, tasnya tadi mas taruh di jok belakang," cebik Tania.
"Ini pakai ponsel Mas," tunjuk Rasya ke saku kemejanya di mana ponselnya berada.
Nadia mengambil ponsel suaminya dari dalam saku kemejanya. "Password nya?" tanyanya saat membukanya.
"Tanggal lahir kamu," sahut Rasya.
"Ternyata udah ganti. Bentar ya, Sayang. Mama telepon Mama Pipim. Atar jangan banyak gerak," Nadia segera menggulir mencari icon WhatsApp untuk melakukan panggilan video terhadap Prima.
"Ada apa, Nad?" Prima nampak di layar ponsel.
"Atar merengek minta pipis, padahal diaper yang ia pakai masih kering. Kita bentar lagi mau mampir di pom bensin. Tolong kamu bilang sama Tania ya," pinta Nadia.
Tania tersenyum lalu berkata, "Atar itu enggak biasa pakai diaper kalau di rumah, jadi ya gitu," sela Tania.
Prima lalu membalas ucapan Nadia. "Iya, Nad, Tania nya udah denger sendiri kok," ucapnya.
Saat hendak menutup ponsel, Nadia sekilas melihat beberapa chat di akun WhatsApp ponsel yang dipegangnya. Kebanyakan nama akunnya ia kenal, tetapi ada beberapa juga yang tidak ia kenal. Nadia penasaran dengan salah satu nama, Wina. Ia pun membukanya.
"Siapa?" tanya Nadia.
"Wina, dia mau kasih kejutan buat Mas, katanya dia sekarang juga sudah di Bandara Soekarno Hatta," sahut Nadia ketus.
"Enggak usah diladeni," pinta Rasya.
"Nih, dia video call sekarang, jawab atau tidak?" Nadia menunjukan layar ponsel kepada pemiliknya.
"Terserah kamu saja, Sayang. Mas sudah tidak ada urusan sama perempuan itu," sahut Rasya.
"Aku blokir, boleh?" tanya Nadia lagi.
"Boleh, Sayang," jawab Rasya singkat.
Nadia menolak panggilan Videocall dan melakukan apa yang ia ucapkan, memblokir akun WhatsApp wanita tadi. Mobil pun berhenti. Ternyata sudah sampai di pom bensin.
"Ayo Atar pipis sama Papa Rasya." Rasya sudah membuka pintu di samping kiri Nadia dan hendak mengambil alih Atar.
"Biar sama saya, Pak," sela Tania yang sudah berada di belakang Rasya.
"Oh iya, Tan. Silakan!" Rasya pun menggeser tubuhnya, membiarkan Tania mengambil Atar dari pangkuan Nadia.
"Ayo Sayang Atar sama bunda!"
Tania mengambil alih Atar dan membawanya pergi ke toilet. Rasya kembali duduk menempati kursi kemudi. Memperhatikan istrinya yang masih saja sibuk mengubek-ubek isi ponselnya.
"Mas hutang penjelasan sama aku," tagih Nadia.
"Demi Allah dia bukan siapa-siapa nya Mas. Mas nggak pernah menjalin hubungan sama dia, Sayang," tutur Rasya.
__ADS_1
"Awas saja kalau ada Rasya junior dari perempuan lain lagi selain Raka. Mas akan tanggung akibatnya karena sudah bohong sama aku berkali-kali." Nadia mengancam.
'Waduh! Alamat bakalan lama enggak dikasih jatah ini. Semoga marahnya paling lama sampai dia selesai menstruasi saja ya Allah," harap Rasya dalam hati.
Tania kembali menyerahkan Atar kepada Nadia karena pria kecil itu yang meminta. Nadia menaruh ponsel suaminya ke dalam sakunya sebelum menerima kembali Atar duduk di pangkuannya.
"Udah selesai pipisnya, Sayang?" tanya Nadia yang tidak perlu mendapat jawaban.
Rasya kembali melajukan mobilnya meninggalkan pom bensin. Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di bandara. Mobil memasuki terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta.
"Ayo masuk! Kita tunggu di dalam saja," ajak Rasya kepada ketiga perempuan yang mengitarinya. "Atar sama Papa Rasya yuk! Mama Nanad pasti capek gendong Atar terus," ajaknya meraih Atar dari gendongan Nadia.
"Ponsel Mas Rayan belum aktif," ucap Prima.
"Mungkin masih di pesawat, Pim," timpal Tania.
"Itu bukannya Mas Rayan yang pakai Hoodie dan kacamata hitam," tunjuk Nadia.
"Hadeuh, adik bungsuku kenapa jadi kayak ******* sih," sesal Rasya yang malah membuat kaum perempuan tertawa.
"Mas Rayan!" panggil Prima sambil melambaikan tangan.
Menyadari ada yang memanggil Rayan menoleh, mencari sederetan orang yang ia kenal.
"Kami di sini Mas Rayan Bayu Bagaskara!" seru Tania.
Akhirnya Rayan menemukan orang yang dicarinya. Ia melangkah mendekat dengan menyeret koper di tangan kanannya.
"Kalian di sini," ucapnya. Ia langsung melepas kopernya dan menghambur ke pelukan Prima. "Mas kangen," ucapnya mengecup kening Prima.
"Ponsel Mas Rayan belum aktif ya?" tanya Prima.
"Oh iya, Mas lupa," sahut Rayan.
"Eh, jangan lama-lama pelukannya belum halal," seru Rasya mengingatkan.
Rayan mengurai pelukannya dengan Prima, menoleh ke sang kakak. "Eh, fotokopiannya Rayan. Tambah tua tambah ganteng aja," ucap Rayan.
"Enak saja, kamu bilang Mas kamu ini tua," elak Rasya.
Rasya menyerahkan Atar kepada bundanya, laku ia berpelukan dengan sang adik dengan pelukan ala sesama pria. Sesaat kemudian ia mengurai kembali. "Jahat kamu, Ray. Kakak kamu sendiri malah enggak dikasih tahu tentang kepulangan kamu," ucapnya seraya memukul pundak sang adik.
"Niat Rayan mau kasih kejutan, Mas," sahut Rayan terkekeh.
"Ayo langsung pulang! Kasihan Bita kalau ditinggal lama," ajak Tania menyela temu kangen antara kakak beradik tersebut.
"Eh iya. Maaf Tan sudah merepotkan kamu," ucap Rayan sungkan. "Sini Atar sama Papa Yayan. Papa kan juga kangen sama Atar," ajaknya meraih Atar dari gendongan Tania.
Rayan menggendong Atar, Prima mengambil alih menyeret koper Rayan. Sepulang dari Bandara mereka langsung menuju ke kediaman Pak Baskoro. Ternyata di sana Nina dan Bu Nastiti mengundang koki restoran untuk masak besar menyambut kepulangan putra bungsu keluarga tersebut.
"Mas Rayan, Pipim, aku pulang dulu ya. Kasihan Bita kalau ditinggal lama," pamit Tania.
"Enggak masuk dulu, istirahat sebentar," cegah Rayan.
"Makasih, Mas. Bita udah aku tinggal dari tadi pagi," tolak Tania.
"Atar biar sama aku aja ya, Tan. Kamu pasti kesusahan kalau harus nyetir sambil gendong Atar. Besok pagi aku pulangin deh," cetus Nadia.
"Memang enggak ngerepotin, Nad? Iya tadi aku lupa bawa Car seat punya dia. Terus nanti susu sama baju gantinya gimana?" tanya Tania.
"Gampang lah itu," sahut Nadia.
"Makasih ya, Nad. Aku pulang dulu. Salam buat Ibu," ucap Tania lega.
__ADS_1
Tania langsung memacu mobilnya keluar dari pintu gerbang rumah Pak Baskoro. Bu Nastiti meminta agar semua yang ada di halaman agar masuk ke dalam rumah.