Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Syahdu


__ADS_3

Nadia agak sedikit gentar untuk menyampaikan maksudnya pada sang mamak. "Tidak, Mak. Sebenarnya bukan Nadia yang mau bicara sama Nindy, tetapi Pak Rasya yang mau bicara sama Mamak," jawab Nadia dengan gemetar.


"Apa?! Kamu masih berhubungan sama dosen kaya itu?" sergah Mamak dengan nada tinggi.


"Mak, dengarkan dulu apa yang mau disampaikan oleh Pak Rasya ya! Nadia mohon!" pinta Nadia penuh harap.


"Ya sudah, mana Mas Rasya kamu? Serahkan ponselmu padanya." Mamak akhirnya luluh.


Nadia menyerahkan ponselnya pada Rasya, "Ini mamak mau ngomong sama Pak Rasya," ucapnya. Rasya meraih ponsel tersebut dan mendekatkan ke telinganya.


Rasya bangkit dari posisi tidurannya menjadi posisi duduk sebelum mulai berbicara. "Assalamu'alaikum, Mak. Ini Rasya," sapa Rasya pada Mamak via sambungan telepon.


"Iya, Mas Rasya. Nadia bilang Mas Rasya mau bicara sama Mamak, ada apa?" sahut Mamak.


"Iya, Mak. Begini." Rasya nampak sedikit grogi dalam menyusun kata-katanya. "Nadia bilang bahwa Mamak telah menerima khitbah dari seorang laki-laki untuk Nadia. Apakah Khitbah itu masih bisa dibatalkan, Mak?" tanya Rasya berusaha setenang mungkin. Ia berusaha agar mamak tidak tersinggung dengan ucapannya.


"Maaf, Mas Rasya. Mamak sudah tidak bisa membatalkan khitbah untuk Nadia tersebut. Mamak tidak enak dengan keluarga mereka, takutnya akan berdampak buruk bagi keluarga kamu di kemudian hari. Keluarga mereka sangat berpengaruh bagi keluarga kami," tutur Mamak penjawab pertanyaan Rasya.


Rasya merasa sangat kecewa, mengapa ia tidak mengkhitbah Nadia saja sekalian saat ia menjemput Nadia untuk Tiara waktu itu. "Tapi saya mencintai Nadia, Mak. Nadia juga mencintai saya. Saya janji akan secepatnya menikahi Nadia jika khitbah itu bisa dibatalkan. Tolong restui kami, Mak!" pintanya.


Mamak mendesah pelan. "Sekali lagi kami mohon maaf, Mas Rasya! Kalaupun mamak menolak khitbah dari pemuda itu, mamak juga sama tidak bisa menerima khitbah dari Mas Rasya," ucap Mamak berat.


"Sudah tidak bisa ya, Mak?" sesal Rasya. "Terima kasih atas waktunya, Mak. Saya kembalikan ponselnya ke Nanad, assalamu'alaikum," ucapnya.


Rasya mengakhiri pembicaraannya, ia lalu mengembalikan ponsel tersebut kepada pemiliknya, Nadia. Ia membaringkan tubuhnya lunglai di tempat tidur di sisi Nadia.


Nadia kembali mendekatkan ponselnya ke telinganya. "Mak," panggilnya, berharap mamaknya masih mendengar teleponnya di seberang sana.


"Nadia, kalau kamu masih berhubungan dengan dosen kamu itu, mamak terpaksa akan memajukan tanggal pernikahan kamu," ancam Mamak. "Mamak tutup teleponnya, assalamu'alaikum," imbuhnya mengakhiri panggilan.


"Mamak!" panggil Nadia memelas.


Tut tut tut ....


"Mamak! Wa'alaikumussalam," sahut Nadia. "Mamak enggak sayang sama Nadia," ucapnya sedih.


Nadia meletakkan ponselnya di kasur sampingnya, tangannya terasa lunglai untuk memegang benda ringan tersebut. Rasya menggenggam telapak tangan gadis itu.


"Sayang, kita kawin lari saja yuk!" ajaknya ngawur.


"Enggak mau, aku tetap akan menunggu restu dari mamak," pekik Nadia menolak mentah-mentah ajakan Rasya.

__ADS_1


"Kamu suruh kakak kamu Nadhif pulang buat jadi wali nikah kamu," cetus Rasya.


"Pak, kok ngawur gini sih? Mamak itu masih hidup belum mati, yang utama menjadi wali nikahku itu ya Mamak. Aku enggak mau ya nikah tanpa restu dari mamak!" tolak Nadia lagi.


Rasya bangkit dan duduk. Ia menghembuskan napasnya dengan kasar. "Mungkin kamu memang enggak cinta sama aku," cicit Rasya. "Yuk, jadi ke pantai enggak nih?" ajaknya bangkit dari tempat tidur dan berdiri menghadap ke Nadia yang masih berbaring.


"Bapak enggak bisa ngertiin posisi aku," pekik Nadia.


Rasya mendesah pelan sebelum menjawab ucapan Nadia. "Kamu juga tidak ada niat untuk memperjuangkannya." ucapnya menyudutkan Nadia. "Apa aku per**sa saja kamu? Biar kita bisa menikah," cetus Rasya tersenyum devil.


Mendengar itu mata Nadia membola, dengan reflek kakinya menendang sesuatu di milik Rasya yang ada di bawah sana.


"Aw! Sakit banget," pekik Rasya memegangi bagian dari tubuhnya yang terasa sangat sakit. "Ini aset Mas satu-satunya buat jadi suami kamu kenapa kamu tendang sih? Pakai tenaga dalam lagi nendangnya. Sakit tahu!" ucapnya masih dengan meringis kesakitan.


"Bodo amat! Makanya jangan coba-coba punya pikiran macam-macam sama aku!" sergah Nadia memberi peringatan.


"Kamu ini sama penjahat yang enggak kamu kenal rela menyerahkan tubuhmu juga nyawamu, kenapa sama orang yang kamu cintai kamu pelit sekali?" protes Rasya saat sakitnya mulai reda.


"Bapak belum puas aku tendang satu kali? Mau ku tendang lagi itu burung?" ancam Nadia menatap tajam ke arah Rasya. "Udah tua enggak bisa membedakan mana perbuatan mulia dan mana perbuatan dosa," gerutunya.


"Iya-iya Mas cuma bercanda. Ayo bangun! Kita ke pantai sekarang. Sampai di pantai ini pas waktunya sunset pasti," ajak Rasya mengulurkan tangannya kepada gadis itu.


"Jangan lupa tutup dan kunci pintunya kembali," pinta Rasya mengingatkan sambil terus melangkah lebih dulu.


"Pak, tunggu! Aku ambil sepatu dulu di kamarku," pinta Nadia.


Rasya menoleh ke belakang, "Ya udah, ambil gih! Mas tinggu di sini," suruhnya.


Nadia membuka pintu kamar dengan kunci yang dirogohnya dari dalam tas selempang. Ia masuk ke dalam kamar tersebut, sebentar kemudian ia keluar sudah memakai sepatu sneaker. Ia kembali menutup pintu dan menghampiri Rasya yang tengah bersandar di dinding menunggunya sambil membuka ponsel.


"Ayo!" ajak Nadia.


Rasya memandang ke arah Nadia, menegakkan tubuhnya lalu menghampiri gadis itu. Mereka melangkah beriringan memasuki lift untuk menuju ke lantai satu.


"Kita bawa mobil saja ya, Sayang. Supaya nanti begitu mataharinya tenggelam kita bisa langsung kembali ke hotel," cetus Rasya saat di dalam lift, ia hanya takut kalau tidak membawa kendaraan akan melewatkan waktu untuk sholat maghrib.


"Boleh, terserah pak Rasya saja," sahut Nadia.


Rasya menggandeng tangan Nadia saat keluar dari dalam lift hingga menuju ke tempat parkir. Sampai mendekati tempat mobilnya diparkir, Rasya membukakan pintu depan untuk gadis itu. Nadia masuk dan duduk di samping kursi kemudi, sesaat kemudian Rasya telah duduk di kursi kemudi dan mulai melajukan mobilnya.


"Mas heran sama kamu, Nanad. Kamu itu jago silat, kenapa saat kejadian itu kamu malah membiarkan tubuh kamu ditusuk oleh penjahat suruhannya Celine? Bukannya kamu bisa melawan?" ungkap Rasya bertanya pada gadis yang duduk di sampingnya sambil fokus menyetir.

__ADS_1


"Kejadiannya terlalu cepat, waktu itu yang ada di pikiranku hanya menyelamatkan Tania dan bayi yang ada di dalam kandungannya. Sementara posisiku saat itu sedang menggendong Tiara. Aku takut jika aku menurunkan Tiara malah akan membuang-buang waktu dan penjahat itu berhasil menusuk Tania." Nadia mengungkapkan kejadian saat itu berdasarkan pandangannya.


"Sebenarnya saat awal masuk ke dalam mall, Tiara sudah ketakutan melihat orang tersebut, tetapi kami tidak mencurigai sama sekali. Karena sudah berkali-kali kami berempat jalan ke mall dan belum pernah terjadi apa-apa sebelumnya," imbuhnya lagi. "Sudahlah, Pak. Jangan ingat-ingat kejadian itu lagi! Aku jadi sedih, karena kejadian itu aku kehilangan sebelah peranakan ku," pinta Nadia menepis semua kenangan buruk tersebut.


Rasya terdiam ikut merasakan kesedihan gadis itu. Tangan kirinya terulur menggenggam telapak tangan gadis itu, mencoba menguatkan. "Maafkan, Mas! Mas tidak bermaksud membuat kamu merasa sedih. Mas ingin membuat hidupmu bahagia, asalkan kamu mau menikah dengan Mas," tuturnya.


"Sudahlah, tidak usah bahas pernikahan lagi, Pak! Aku mau fokus menghadapi ujian semester dulu," tepis Nadia.


Rasya menghentikan mobilnya. Kini mereka telah sampai di sebuah pantai dengan pemandangan langsung menghadap ke arah matahari terbenam.


"Kita di sini saja ya, Sayang. Tidak usah turun," cetus Rasya menoleh ke arah gadis yang duduk di sampingnya. Maksudnya juga biar mereka tidak tertarik untuk bermain air dan pasir laut supaya tubuh mereka tidak kotor dan tidak usah mandi lagi. Nadia hanya mengangguk tanda setuju.


Matahari telah berwarna jingga, ukurannya sebesar tampah, perlahan-lahan turun ke bawah. Di bawahnya ombak pantai bergulung-gulung, berkilauan terkena cahayanya. Seperti bongkahan emas besar yang bergerak-gerak.


Matahari tenggelam dengan sangat perlahan. Sebagian wajahnya telah tenggelam di air laut. Sungguh pemandangan sore yang indah, yang tidak bisa kita dapatkan saat berada di kota besar Jakarta. Larut dalam penatnya kesibukan ataupun karena terhalang oleh gedung-gedung bertingkat yang menjulang tinggi hingga ke angkasa.


Mereka menikmati indahnya ciptaan Tuhan ini dengan hanya saling diam. Nadia menyandarkan kepalanya di pundak kekar pria itu. Rasya pun membalasnya dengan mengelus pundak kiri gadis tersebut.


Malam kini datang menjelang. Suasana menjadi meremang. Bintang-bintang di langit mulai bermunculan menampakkan diri.


"Kita pulang sekarang ya, Sayang," ajak Rasya yang mulai menyalakan mesin mobilnya. Nadia hanya mengangguk.


"Iya atau tidak? Kok enggak jawab?" Rasya memastikan.


"Iya. Kan aku udah mengangguk," sahut Nadia.


"Mana Mas lihat?" protes Rasya yang mulai melajukan mobilnya.


Sampai di hotel Nadia langsung turun dari dalam mobil. Begitupun Rasya. Mereka melangkah beriringan masuk ke dalam hotel hingga ke depan kamar mereka.


"Sayang, kalau mau sholat maghrib bareng, ke kamar Mas ya," cetus Rasya saat Nadia hendak masuk ke dalam kamarnya.


"Iya sebentar, aku ambil wudhu di kamarku saja," sahut Nadia mengiyakan.


Nadia masuk ke dalam kamar, langsung menerobos menuju ke dalam toilet, lalu keluar lagi dengan kerudung di tangannya, membuka tas selempangnya. Merogoh mukena parasut kecil praktis yang selalu ia bawa kemana-mana saat ia sedang tidak berhadas besar atau haid.


Gadis kurus itu langsung memakai mukena tersebut, meraih kerudung segi empat dan tas selempangnya dibawa serta ke dalam kamar Rasya. Nadia membuka pintu, di dalam kamar Rasya sudah menunggunya duduk di atas karpet. Tidak ada persiapan untuk membawa sajadah dari rumah, maka mereka menggunakan alas untuk sholat seadanya.


Rasya berdiri setelah melihat kedatangan gadis yang dicintainya masuk, ia mengumandangkan iqomah. Nadia berdiri di belakang pria itu menghadap ke kiblat. Sesaat kemudian mereka melaksanakan sholat maghrib berjamaah layaknya sepasang suami istri. Sungguh sebuah pemandangan yang syahdu andaikan itu semua bisa menjadi kenyataan.


Namun apakah semua itu akane jadi kenyataan? Ikuti terus ceritanya☺️☺️☺️

__ADS_1


__ADS_2