
Nadia keluar dari dalam mobil lalu melangkah menuju koridor yang menghubungkan jalan dengan ruang sekretariat BEM.
"Asa!" seru seseorang memanggil nama depan Nadia.
Nadia pun menoleh, "eh, Didit," ucapnya. Ternyata yang memanggilnya adalah teman seangkatannya dari fakultas lain yang juga tergabung dalam BEM.
"Kok kamu tadi dari area parkir khusus pegawai sih?" tanya pemuda itu penasaran.
Nadia sempat berfikir, 'Aduh, aku harus menjawab apa ini?' tanyanya dalam hati.
"Oh, tadi ada salah satu pegawai yang minta COD-an di area parkir khusus pegawai," sahut Nadia akhirnya.
"Kamu jualan online?" tanya pemuda itu lagi yang kini sudah berjalan beriringan di samping Nadia.
"Enggak sih, tapi pegawai itu tahu kalau aku berasal dari Indramayu, makanya dia pesan mangga cengkir yang asli dari Indramayu sama aku dari sebelum liburan," timpal Nadia berbohong.
'Duh, bakal berbohong berkali-kali lipat nih kalau dia nanya terus,' keluh Nadia dalam hati.
"Sepertinya di ruang sekretariat BEM sudah banyak yang datang, yuk kita langsung masuk saja," ajak Didit.
Nadia merasa lega. Mereka masuk ke dalam ruang sekretariat BEM. Sementara tidak jauh dari mereka ada cctv berjalan yang mengamati setiap gerak-gerik mereka.
Rasya meneruskan langkahnya menuju ke ruangannya, setelah membuntuti istrinya hingga hilang masuk ke dalam ruang sekretariat BEM, lebih tepatnya berbalik arah, karena ruang sekretariat BEM dengan ruang rektor letaknya berseberangan. Ia nampak kesal melihat Nadia dekat dengan teman cowoknya yang bahkan tidak satu kelas dengannya.
Rasya masuk ke dalam ruangannya melewati ruangan dosen. Saat sampai di ruangannya, dia terkejut. Seorang wanita sedang merapikan meja kerjanya.
"Bu Siska, apa yang anda lakukan di ruangan saya?" tanya Rasya penuh selidik.
Perempuan yang ternyata Bu Siska - rekan dosen Rasya itu pun menoleh, "Eh, Pak Rasya. Maaf Pak, saya tidak meminta ijin dulu untuk merapikan meja Bapak," ucapnya.
"Sejak kapan Bu Siska merangkap jadi cleaning servis?" tanya Rasya lagi.
Bu Siska melongo mendengar ucapan rekan kerjanya ini. 'Ih ini pak Rasya kenapa pedes banget sih ucapannya, udah dibantuin malah tidak tahu terima kasih,' batinnya.
"Terima kasih atas bantuannya, Bu. Kalau sudah selesai anda bisa keluar sekarang," ucap Rasya yang sudah duduk di sofa meminta Bu Siska untuk keluar.
'Dasar tidak peka!' gerutu Bu Siska dalam hati. "Sudah kok, Pak. Kalau begitu saya permisi," ucapnya.
Rasya yang melihat gelagat Bu Siska sudah mau keluar pun bangkit berdiri hendak duduk di kursi putarnya. Namun, kaki Bu Siska tiba-tiba terantuk kaki meja dan hilang keseimbangan tubuhnya. Reflek tangan Rasya menangkap tubuh Bu Siska yang hampir jatuh. Sejenak tatapan mereka bertemu. Bu Siska mengedipkan matanya tiga kali.
"Hati-hati dong, Bu," ucap Rasya mengingatkan.
"Assalamu'alaikum," Nadia mengucap salam langsung membuka pintu tanpa mengetuknya. Ia kaget melihat sepasang manusia berpelukan di dalam ruangan. "Maaf, Pak, Bu, saya lupa mengetuk pintu dulu," ucapnya menunduk dengan perasaan berkecamuk.
Rasya dengan segera melepaskan pelukannya dan langsung duduk di kursinya. Sementara Bu Siska menatap tajam ke arah Nadia sebelum keluar dari dalam ruangan.
Setelah Bu Siska keluar dari ruangan Rasya, Nadia segera menutup dan mengunci pintu. Rasya pun harus siap dengan apa yang akan dilakukan istrinya.
Rasya menghampiri Nadia. "Sayang, Mas mohon jangan marah ya. Mas tidak sengaja memeluknya, barusan dia hampir jatuh dan mas reflek menangkapnya. Sumpah demi Allah Mas tidak ada hubungan apa-apa sama dia," racau Rasya berusaha menjelaskan kepada Nadia yang masih berdiri bersandar di pintu, sebelum gadis itu membuka mulut.
Nadia masih diam dengan tatapan tajam bak elang siap menerkam mangsa. Ia menghindar dari Rasya yang hendak memeluknya, melangkah menuju ke meja. Nadia mengambil dua buah benda dari atas meja lalu kembali menghampiri Rasya yang masih bingung dengan sikapnya.
"Merem!" suruh Nadia. Rasya pun menuruti apa yang diperintahkan kepadanya. Ternyata Nadia menyemprotkan cairan antiseptik dengan jarak agak sedikit jauh ke tubuh Rasya agar baju suaminya itu tidak basah.
Nadia kembali meletakkan botol cairan antiseptik ke atas meja. Lalu kembali menghampiri Rasya.
"Buka telapak tangannya!" perintahnya lagi.
Rasya pun kembali menurut. Nadia menuangkan hand sanitizer ke kedua telapak tangan Rasya. Rasya lalu mengoleskan rata cairan tersebut ke seluruh telapak dan punggung tangannya.
"Biar virus pelakor musnah," ucap Nadia yang tidak bisa menahan senyum untuk suaminya, lalu memeluknya.
Rasya pun membalas pelukan gadis itu. "Udah selesai rapatnya. Sayang?" tanyanya.
__ADS_1
"Belum mulai, ketuanya juga belum datang," jawab Nadia. "Aku kemari mau ambil ponselku, kan masih di dalam tasnya Mas Rasya," imbuhnya.
"Oh iya, Mas tadi lupa ngasih pas tadi kamu mau turun dari mobil." Rasya baru ingat kalau Nadia tadi menitipkan ponselnya karena ia tidak membawa tas saat berangkat, sedangkan celana yang ia pakai tidak berkantong. "Nggak usah ikut rapat panitia ospek saja ya, temani Mas di sini," pintanya ngelunjak.
"Mau ngapain?" tanya Nadia heran.
"Kita rapat sendiri sambil celup-celupan," jawab Rasya tersenyum jahil.
"Ih, Pak Dosen enggak tahu tempat dech," Nadia mencebik.
Tok tok tok
Tiba-tiba terdengar pintu ruangan tersebut diketuk. Rasya melepaskan pelukannya lalu kembali duduk di kursinya. Nadia membukakan pintu, memastikan siapa yang datang. Terlihat seorang wanita berhijab di depan pintu dengan berkas-berkas di tangannya.
"Mbak Ifada?"
"Pak Rasya ada, dek?" tanya Ifada.
"Ada, Mbak. Silakan masuk!" sahut Nadia. Nadia menutup kembali pintu ruangan setelah Ifada masuk dan duduk di kursi berhadapan dengan Rasya.
Nadia masuk kembali dan duduk di sofa, merogoh ponselnya yang ada di dalam tas Rasya yang teronggok di sudut sofa tersebut.
"Pengantin baru belum satu bulan kok sudah mulai bekerja sih, Pak?" tanya Ifada membuka percakapan. Ifada menyodorkan berkas-berkas yang dipegangnya. "Ini, Pak, silakan di periksa dulu," pintanya.
"Pengantin baru tapi kan stok lama," timpal Rasya.
Nadia bangkit berdiri, "Mas, aku mau balik ke ruangan BEM dulu ya," pamitnya.
"Iya, Sayang. Nanti kalau sudah selesai langsung ke sini saja ya," sahut Rasya.
"Iya," jawab Nadia sambil mengangguk. "Mari Mbak Ifada," ucapnya beralih pada Ifada.
"Silakan, Dek," sahut Ifada.
"Hahaha ... Yang benar saja, masa Bu Siska dianggap virus sama Nadia," ujar Ifada yang belum reda tawanya.
"Aku kira dia bakal marah dan melakukan tindakan yang membahayakan, kamu ingat kan waktu itu dia memergoki aku mau meniup mata kamu yang kelilipan di ruangan ini?" Timpal Rasya bertanya.
"Iya saya ingat. Dia cemburu sampai mau makan bakso beranak jontor yang super duper pedas, lalu bapak berakhir di rumah sakit karena Bapak yang akhirnya menghabiskan bakso tersebut," jawab Ifada.
Rasya mendesah pelan sebelum melanjutkan ceritanya sambil mengistirahatkan jemarinya. "Kemarin aku ketemu dengan dr. Albert," ungkapnya.
"Kalau tidak salah dia dokter spesialis kandungan 'kan, Pak?" tanya Ifada.
"Iya kamu benar, dia dokter yang mengoperasi Nadia setelah peristiwa penusukan itu," sahut Rasya.
"Ada apa dengan dr. Albert, Pak?" tanya Ifada penasaran.
"Dia sudah mengundurkan diri dari profesi dokter karena ia merasa telah melanggar sumpah dan janjinya sebagai seorang dokter," tutur Rasya.
"Maksud Pak Rasya?" tanya Ifada lagi.
Tok tok tok
Terdengar pintu ruangan diketuk.
"Permisi, Pak. Saya mau bimbingan," ucap seorang mahasiswa.
Ifada bangkit dan berpindah ke sofa. "Silakan, Mas!" ucapnya pada mahasiswa itu.
"Terima kasih, Mbak," sahut mahasiswa tersebut lalu duduk di kursi yang tadi diduduki oleh Ifada dan meletakkan berkasnya di atas meja.
"Kamu yang revisi bulan lalu kan," tanya Rasya pada mahasiswa itu, ia mengambil dan membuka catatan revisi di dalam buku bimbingan skripsi dan mulai mencari halaman yang ada dalam berkas skripsi.
__ADS_1
"Iya, Pak," sahut si mahasiswa.
"Kenapa baru datang sekarang?" tanya Rasya lagi.
"Dua kali dari dua minggu yang lalu saya kemari, tetapi bapak selalu tidak ada di ruangan," ungkap pemuda itu.
"Oh iya, saya ada urusan di luar kota," timpal Rasya yang baru mengingat. "Sepertinya tidak ada revisi lagi, ini saya ACC dan kamu bisa langsung mendaftar ujian skripsi," imbuhnya menyodorkan kembali berkas milik mahasiswa tersebut.
"Terima kasih, Pak," ucap mahasiswa tersebut sambil memasukan kembali berkasnya ke dalam tas. "Saya permisi. Mari Pak, Mbak," imbuhnya pamit dan keluar dari ruangan.
Ifada kembali duduk di depan Rasya. "Yang tadi kenapa dr. Albert merasa telah melanggar sumpah dan janji sebagai dokter, Pak? Saya masih penasaran, bisa diterusin?" tanyanya.
Rasya mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan sebelum melanjutkan cerita.
"Dia telah memberikan vonis palsu terhadap Nadia, dia bilang luka akibat tusukan itu mengakibatkan kerusakan di rahimnya, sehingga sebelah indung telur gadis itu harus diangkat." Rasya kembali menjeda ceritanya. "Ternyata dia diancam oleh orang-orang suruhan Celine. Istri dan anaknya saat itu diculik dan diancam akan dibunuh jika dia tidak melakukannya," imbuhnya.
"Luka di pinggang Nadia hanya merobek jaringan kulitnya saja. Saat itu dr. Albert memang melakukan operasi di rahim Nadia dan hendak melakukan apa yang diperintahkan oleh Celine, tetapi saat ia menemukan sesuatu di rahim gadis itu, sisi kemanusiaannya muncul dan sesuatu itu yang akhirnya diangkat oleh dokter tersebut." Rasya kembali menjeda kalimatnya.
"Sesuatu?" tanya Ifada.
"Ternyata di rahim Nadia ada kista sebesar kepalan tangan orang dewasa. Mungkin ini yang menyebabkan gadis itu setiap kali menstruasi merasakan sakit yang luar biasa dan setelah operasi itu ia sama sekali tidak merasakan sakit saat menstruasi," imbuh Rasya.
Dari arah pintu terdengar isak tangis seseorang. Rasya menoleh, "Sayang, Sejak kapan kamu di situ?" tanyanya.
Rasya bangkit dari kursi dan melangkah menghampiri istrinya. Ia merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukannya dan membimbingnya ke sofa.
"Pak, ini berkas yang sudah ditandatangani saya bawa ya," sela Ifada yang merasa kehadirannya di ruangan tersebut hanya sebagai obat nyamuk.
"Iya, Ifada. Maaf ya," sahut Rasya sungkan.
Ifada bangkit untuk meninggalkan ruangan tersebut dengan membawa sebagian berkasnya.
"Rapatnya sudah selesai, Sayang?" tanya Rasya pada Nadia yang masih saja terisak.
Nadia mengangguk, "Cuma membahas pembagian job untuk besok pagi," jawabnya. "Kenapa Mas enggak langsung cerita sama aku?" tanyanya menuntut.
"Mas masih menunggu momen spesial untuk menceritakan hal itu sama kamu, Sayang. Dan sekarang semuanya kacau karena kamu sudah mendengarnya," sahut Rasya.
"Jadi sekarang dokter Albert kerja apa? Bagaimana dia bisa menghidupi anak dan istrinya, Mas?" tanya Nadia.
"Kamu tenang saja tidak perlu khawatir, Sayang. Orangtuanya punya perusahaan yang sangat besar di bidang properti. Dia kembali membantu mengelola perusahaan itu. Bahkan dia bilang, keluarganya tidak ada yang setuju dia berprofesi sebagai seorang dokter," tutur Rasya. Nadia kini lega mendengarnya.
Ponsel Rasya di atas meja berdering.
"Sebentar, Sayang. Mas angkat telepon dulu siapa tau penting," pamit Rasya merenggangkan pelukannya.
Rasya bangkit untuk mengambil ponsel dan mengecek siapa yang meneleponnya. "Ibu telepon, Sayang," ucapnya.
"Angkatlah, Mas," pinta Nadia.
"Assalamu'alaikum, Bu," ucap Rasya kepada ibunya di ponsel.
"Wa'alaikumussalam, Rasya. Cepat pulang, Nak, ada tamu datang dari jauh mau ketemu kalian," sahut Bu Nastiti.
"Tamu dari jauh? Siapa, Bu?" tanya Rasya.
Kira-kira tamu siapa ya 🤔🤔🤔
.
.
.
__ADS_1
TBC