
Hari-hari menjelang akhir PKL Nadia dan teman-temannya. Itu artinya pernikahan antara Prima dan Rayan semakin di depan mata. Persiapan yang mereka lakukan sudah sangat matang. Baik untuk acara akad maupun resepsi. Dari gedung, baju pengantin, bahkan undangan sudah tersebar. Berbeda dengan acara pernikahan untuk Rasya dan Nadia yang seakan terkesan mendadak dan tertutup.
"Kamu ingin kita mengadakan resepsi seperti Rayan sama Prima?" tanya Rasya pada istrinya suatu malam ketika mereka melakukan pillow talk.
"Tidak, aku hanya ingin kita tinggal di rumah kita sendiri. Di sini terlalu ramai, apalagi nanti Prima dan Rayan juga pasti akan tinggal di sini, setelah menikah," sahut Nadia.
"Tapi Bapak sama Ibu tidak mengijinkan kalau kita pindah dari sini," timpal Rasya.
"Kan sekarang sudah ada Raka di sini. Biar dia yang menemani eyangnya," ucap Nadia.
"Nanti saja kalau kamu sudah lulus kuliah. Kita pindah ke Bandung dan tinggal di villa, gimana?" cetus Rasya.
"Beneran, Mas?" tanya Nadia dengan wajah sumringah.
"Iya, Sayang. Yang penting kamu senang," ucap Rasya seraya menyentil hidung istrinya.
"Kenapa kita tidak tinggal di apartemen saja?" usul Nadia.
"Mas enggak enak sama Tomi. Selama ini apartemen itu sudah ditempati Tomi, jadi enggak enak ngomongnya." tutur Rasya.
Nadia bangkit dan beringsut untuk turun dari tempat tidur.
"Mau kemana, Sayang?" tanya Rasya.
"Ke dapur, mau ambil air minum," sahut Nadia.
"Bikinin Mas teh tawar hangat ya. Bawa ke taman belakang saja. Kita ngobrol di sana," pinta Rasya.
"Oke. Ada lagi," sahut Nadia lalu bertanya.
"Tidak ada," sahut Rasya.
Nadia keluar dari kamar langsung menutup pintu. Saat hampir di dapur ia berpapasan sama Raka.
"Belum tidur, Tante?" tanya Raka.
"Belum ngantuk, Ka," jawab Nadia. "Tante mau bikin teh tawar hangat buat papa, Raka mau dibikinin teh hangat juga enggak?" tanyanya.
"Boleh, Tante. Tapi yang manis ya," sahut Raka. Ia terlihat kini mengikuti Nadia di belakangnya.
"Tunggu di kursi makan saja, Raka. Tante buatin," pinta Nadia.
"Iya, Tante."
Raka duduk dengan manis di kursi makan yang ada di dapur. Ia memperhatikan sang Mama tiri yang tengah merebus air dan meracik teh untuknya dan sang papa. Ia teringat ibu dan adiknya di kampung. Ia hanya dapat mengunjungi mereka saat liburan semester.
Merasa diperhatikan Nadia pun menoleh kepada anak sambungnya dan tersenyum. Ia membawa secangkir teh manis hangat untuk pemuda itu. "Ini teh kamu, Raka," ucapnya.
Raka jadi penasaran ketika mama tirinya itu membawa teh dalam teko kaca yang katanya untuk papanya melewati pintu belakang.
"Tante mau kemana?" tanya Raka.
Nadia menoleh lalu menjawab, "Papa kamu menunggu di taman belakang. Kalau kamu mau gabung, ayok!"
"Emang boleh, Tante?" Raka mengernyitkan dahinya.
"Boleh lah," jawab Nadia singkat. Ia pun langsung meninggalkan Raka.
Namun, Raka malah meninggalkan dapur sambil membawa cangkir keramik teh manisnya kembali ke ruang tengah. Di sana sudah ada omnya - Rayan yang tengah duduk sambil menekan tombol remote yang diarahkan ke arah layar segi empat dengan setoples keripik singkong di pangkuannya.
__ADS_1
"Bikin kopi kok Om Rayan enggak sekalian di bikinin sih, Kak?" desis Rayan.
"Mana Raka tahu kalau Om Rayan mau menemani Raka nonton TV? Biasanya Om Rayan juga sibuk," seringai Raka. Ia meletakkan cangkir tehnya di meja lalu duduk di samping Rayan.
Rayan mengambil cangkir itu, lalu menyesapnya perlahan. "Loh, teh tho? Om kira kopi," ucapnya dengan logat jawanya yang masih kental.
"Jangan Om habisin dong! Itu kan teh spesial buatan mama muda," cegah Raka.
"Ish, mama muda. hahaha ... Sejak kapan kamu memanggil Nadia dengan mama muda?" tanya Rasya yang baru mendengar sebutan baru Raka. Ia meletakkan cangkir yang dipegangnya ke atas meja kembali. Cangkir itu langsung diambil oleh Raka.
"Hehehe ... sejak sekarang," jawab Raka sekenanya lalu menyeruput teh buatan mama tirinya yang masih mengepulkan asap.
"Eh, Kak, kamu sudah punya pandangan belum mau kuliah dimana?" tanya Rayan tiba-tiba.
"Belum, Om. Udah pegang brosur banyak sih."
"Kok belum, tinggal nunggu beberapa bulan lagi kamu kan lulus SMA. Jadi sudah harus menentukan mau kuliah di mana?" timpal Rayan.
"Iya, kalau lulus," canda Raka.
"Awas ya kalau enggak lulus. Bisa digantung kamu sama Papa kamu," ancam Rayan.
"Ih, takut. Memangnya papa semengerikan itu apa. Bercanda, Om. Alhamdulillah Raka masuk lima besar kok, tapi bingung mau kuliah dimana? Dulu Raka malah pengennya nyantri di pesantren," tutur Raka.
"Kamu pengen kuliah di universitas yang berbasis agama? Di dalam negeri atau luar negeri?" tanya Rayan lagi. "Atau mau ikut Om saja kuliah di Australia. Setelah menikah dengan Om rencananya akan ambil gelar Doktor sekalian di sana," tawarnya.
"Terus Om ninggalin Tante Pipim dong? Kasihan sekali nasibnya Tante Pipim, ditinggal-tinggal terus," sesal Raka.
"Kalau begitu kamu kuliah di tempat Tante Pipim kuliah saja, biar bisa jagain Tante Pipim buat Om Rayan. Tinggal satu tahun lagi saja," cetus Rayan.
"Ide bagus, Om. Raka memang belum siap kalau kuliah jauh-jauh apalagi ke luar negeri. Raka kasihan sama ibu yang bekerja keras untuk membantu ayah membiayai adik-adik sekolah," tutur Raka menyetujui usulan Rayan.
"Om enggak khawatir atau cemburu apa? Kalau Tante Pipim nanti suka sama Raka gimana? Secara Raka kan mirip sama Om Rayan, lebih ganteng dari Om Rayan malahan," ucap Raka dengan pedenya.
"Tante Prima nggak mungkin lah suka sama anak kecil," cela Rayan.
"Ye, Raka ini sebentar lagi anak kuliahan loh, Om. Masa dibilang anak kecil," tolak Raka.
"Maksud Om, Tante Pipim itu enggak mungkin menyukai laki-laki yang usianya lebih muda dari usianya," terang Rayan.
"Kenapa enggak mungkin?"
"Kalau sampai itu terjadi, maka kita perang," ancam Rayan. "Jadi gimana? Kamu mau tidak jagain Tante Pipim buat Om?" tanyanya sekali lagi.
"In sya Allah, Om, tapi kan masih lama, Raka saja belum ulangan semester satu. Pas Raka masuk Tante Pipim pasti udah hampir lulus. Mungkin juga sudah lulus," sahut Raka.
Kedua orang Om dan keponakan yang tampak begitu akrab tersebut menghabiskan akhir pekan hingga larut malam dengan obrolan sekenanya. Bahkan sepertinya Raka lebih akrab dengan omnya daripada dengan papanya sendiri.
*****
SuamiQ
[Sayang, nanti jam istirahat ke ruangan Mas ya. Ada yang ingin kenalan sama kamu. Mas juga sudah pesankan makan siang untukmu.]
Nadia mengembalikan ponselnya ke atas meja setelah membaca pesan dari suaminya. Ia kembali fokus menatap ke layar laptop di depannya. Beberapa saat kemudian ia mematikan laptop tersebut.
Sesaat setelah waktu istirahat tiba, Nadia segera men shut down laptopnya. Ia laku bangkit dari tempat duduknya. Menyambar tas lalu memasukan ponsel ke dalamnya.
Nadia melangkah menghampiri kubikel teman sesama PKL-nya. "Arif, kalian makan berdua saja ya. Aku sudah ditunggu sama suamiku," pamitnya.
__ADS_1
"Iya, Nad. Tidak apa-apa," sahut pemuda itu.
Setelah berpamitan dengan temannya, Nadia keluar dari kubikel dan berjalan santai menuju ke lift. Ia menekan tombol ke lantai 12 di mana ruangan suaminya berada.
Saat sampai di depan ruangan Rasya. Ia tidak langsung masuk ke dalam ruangan tersebut, tetapi hanya berdiri saja di depan ruangan. Pandangannya terfokus pada orang-orang yang berada di dalam ruangan Rasya. Sepertinya mereka juga baru datang.
Nadia melihat ibu mertuanya tengah menggendong anak seusia Atar. Terpancar binar bahagia dari matanya. Seorang wanita dengan perut membuncit juga tengah berada di antara mereka. Perempuan berhijab syar'i itu mencium takzim punggung tangan suaminya. Rasya juga tersenyum menatap perempuan tersebut. Sesaat kemudian Nadia melihat Rasya mengelus-elus perempuan berhijab tersebut.
Perasaan Nadia bergejolak. Ia memutuskan untuk kembali saja atau kemana. Asalkan tidak masuk ke ruangan Rasya, ia belum siap. Hatinya bertanya-tanya siapakah perempuan tersebut? Rahasia apalagi yang telah disembunyikan oleh suaminya?
Nadia kembali masuk ke dalam lift yang berjalan ke atas. Roof top kini menjadi tujuannya. Di lantai gedung Baskoro Groups tersebut ternyata dijadikan sebuah kafe oleh pengelola. Kafe yang didesain dengan konsep sederhana namun elegan.
Sesampai di roof top Nadia memilih duduk di sebuah bangku panjang. Ia menyandarkan punggungnya. Dadanya bergemuruh menahan sesuatu yang menyesakkan dada. Ia memesan segelas es kapucino. Berharap dapat menenangkan jiwanya.
"Wanita itu begitu sholihah. Siapa wanita itu sebenarnya? Kenapa Ibu terlihat begitu bahagia? Apa wanita itu istrinya Mas Rasya yang disembunyikan dariku?" Nadia hanya bisa menerka-nerka.
Sementara di ruangan Rasya.
"Nadianya dimana, Sya? Kenapa lama sekali sampainya?" cecar Bu Nastiti pada anak sulungnya.
"Sebentar Rasya telpon, Bu," sahut Rasya mencoba menghubungi Nadia. Namun ternyata ponsel Nadia sedang tidak aktif.
Rasya membuka laptop yang terhubung dengan cctv kantor. Ia melihat di kubikel ruangan Nadia. Namun, terlihat di layar kalau ruangan tersebut telah kosong. Rasya me-replay mundur ke belakang. Ternyata Nadia sudah sampai di depan pintu ruangannya, tetapi tidak masuk.
"Rasya tahu di mana Nadia sekarang berada, Bu. Kalian tunggu di sini, aku akan menyusulnya," pinta Rasya.
Rasya pun beranjak bangkit keluar dari ruangannya. Berjalan menuju ke lift menuju ke roof top. Ia mendapati Nadia duduk sendirian dengan ditemani segelas es kapucino.
Rasya pun menghempaskan pantatnya di samping istrinya. Nadia seketika terlonjak kaget, tetapi tidak berlangsung lama.
"Kenapa tidak masuk ke ruangan Mas, Hem?" tanyanya membelai puncak kepala istrinya yang tertutup kain.
"Siapa perempuan itu?" Nadia bertanya mengesampingkan pertanyaan suaminya.
"Ayo ikut Mas saja! Nanti kamu juga akan tahu sendiri," ajak Rasya menarik tangan Nadia.
Nadia pun dengan malas mengikuti suaminya yang menyeretnya seperti kerbau dicocok hidungnya.
"Kenalin, Sayang. Ini Rania, adik ipar kamu yang nikah dan ikut suaminya tinggal di Kendal. Dia sengaja ke Jakarta karena mau menghadiri acara pernikahan Rayan minggu depan," tutur Rasya pada Nadia.
"Oo ini Mbak Nadia, cantik ya, Mas? Kenalin aku Rania, Mbak. Maaf waktu Mbak Nadia dan Mas Rasya nikahan aku enggak bisa hadir karena baru melahirkan," ucap Rania menjabat tangan Nadia.
"Tidak apa-apa, Mbak. Wah sekarang mau ada lagi nih kayaknya?" sahut Nadia melepas tangannya dari Rania lalu mengelus perutnya.
"Loh, kok panggil Mbak sih, Sayang? Kan dia adik ipar kamu," sela Rasya.
"Aku kan enggak biasa memanggil nama doang kepada yang lebih tua, Mas," elak Nadia.
"Iya, Mbak Nadia. Aku juga enggak enak dipanggil Mbak sama kakak ipar aku," ucap Rania.
"Suami kamu tidak ikut kemari, Rania?" tanya Rasya pada perempuan berhijab yang tengah hamil di depannya.
"Tidak, Mas. Masih ada pekerjaan. Katanya mau menyusul kalau pekerjaan sudah selesai," jawab perempuan tersebut yang ternyata adalah Rania - adik perempuan Rasya.
.
.
.
__ADS_1