Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Menjaga Tiara


__ADS_3

Mereka pun masuk ke dalam ruang makan dan duduk di kursi yang melingkari meja makan. Hari ini Nina hanya memasak nasi goreng untuk sarapan mereka.


"Nad, kalau kamu sudah merasa baikan, Kamu bisa langsung masuk kuliah kembali. Kamu gagalkan saja cuti kamu. Bukankah semester kemarin Tania juga masuk beberapa bulan saja di akhir semester? Kamu juga bisa melakukan hal yang sama seperti dia. Mengerjakan tugas-tugas yang tertinggal," tutur Rasya sambil menuang nasi goreng ke dalam piring.


"Iya, Pak. Tapi nanti saja ya Pak, kalau Tiara sudah boleh pulang dari rumah sakit?" jawab Nadia. 'Waktu itu Tania banyak yang membantu, sekarang hanya Prima saja. Tania sudah mau melahirkan pasti sedang repot-repotnya. Semoga aku bisa menyelesaikannya,' batinnya bermonolog.


"Terserah kamu saja," timpal Rasya.


Setelah menyelesaikan sarapan, Nadia kembali ke dalam kamarnya untuk membersikan diri dan bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit. Nadia meminta kepada Nina untuk membungkus mangga yang ia bawa dari kampung ke dalam sebuah kantong kresek untuk dimakan di rumah sakit.


Hari ini matahari nampak begitu cerah, bayangan benda begitu kalas terlihat. Rasya mengemudikan mobilnya membelah jalanan ibukota yang tidak pernah ada kata sepi meski dini hari. Di sampingnya ada Nadia, tetapi Nadia yang sekarang sepertinya berbeda dengan Nadia ia kenal saat mereka bekerjasama membangun villa di Bandung, sebelum peristiwa penusukan itu terjadi.


Nadia sekarang kembali ke masa saat mereka baru pertama kali bertemu, menjaga jarak dan lebih banyak diam. Rasya sadar, mungkin karena dua bulan ini ia tidak pernah sekalipun peduli terhadapnya. Tidak menemaninya di saat ia terpuruk dalam kesedihannya.


Rasya memarkirkan mobilnya di area parkir sebuah rumah sakit. Nadia langsung keluar dari dalam mobil dan melangkah ke luar dari area parkir tersebut.


"Tunggu, Nanad!" cegah Rasya.


Rasya baru melepas sabuk pengamannya dan keluar perlahan dari dalam mobil. Tergesa-gesa ia mengejar gadis itu.


"Tunggu!" serunya berusaha menggapai tangan kanan Nadia.


Nadia menepis tangan Rasya seraya berkata, "Enggak usah sok akrab deh!"


"Kamu kenapa sih, Nad? Kenapa jadi berubah gini sih, sekarang jadi judes?" cecar Rasya.


"Pak Rasya yang kenapa? Kemarin-kemarin Bapak kemana saja enggak pernah kasih kabar?" sergah Nadia.


Rasya terdiam tanpa punya alasan. Nadia mempercepat langkahnya meninggal pria itu. Rasya dengan santai melanjutkan langkahnya tertinggal jauh di belakang Nadia. Namun, ketika sampai di koridor persimpangan, Rasya mendapati gadis itu bersandar pada sebuah tiang.


"Kenapa berhenti?" tanya Rasya.


"Mana saya tahu kamar Tiara ada di sebelah mana?" Nadia tersungut.


"Kamu punya mulut bisa untuk bertanya 'kan? Atau biasanya kamu bisa menggunakan feeling," jawab Rasya dengan pertanyaan sangat enteng.


"Tadi nanya sama orang yang aku kenal saja yang ditanya cuma diam, apalagi kalau nanyanya sama orang yang tidak aku kenal," timpal Nadia tidak kalah enteng.


"Makanya nurut sama orang yang lebih tahu," sergah Rasya mencekal lengan Nadia dan menyeretnya pergi.


"Aku bisa jalan sendiri, lepasin ih!" seru Nadia mencoba dengan perasaan dongkol menghempaskan pegangan Rasya namun tidak bisa.


Hingga sampai di depan pintu sebuah ruangan, Rasya langsung membuka pintu tersebut tanpa mengetuknya. "Assalamu'alaikum, Tiara sayang," ucapnya seraya masuk ke dalam ruangan. Barulah Rasya mau melepaskan pegangannya.


"Ibu," panggil Nadia seraya mencium punggung tangan Bu Nastiti yang duduk di samping brangkar


"Kapan sampai, Sayang?" tanya Bu Nastiti.


"Tadi malam, Bu. Nadia tidak tahu jam berapa," jawab Nadia.


"Mana bisa tahu kalau kamu tidurnya ngebo," timpal Rasya.


"Rasya, enggak boleh gitu ah." Bu Nastiti menasehati anaknya.


"Rasya sekalian pamit ke kampus, Bu," pamit Rasya seraya mencium punggung tangan ibunya.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan," sahut Bu Nastiti.


Rasya meninggalkan ruangan tersebut. Bu Nastiti pindah duduk di sofa. Nadia menempati kursi yang semula diduduki oleh Bu Nastiti. Mengelus-elus dan menciumi puncak kepala Tiara.


"Maafkan Mama Nanad, Sayang," ucap Nadia tanpa bisa menahan bulir-bulir bening yang menerobos pertahanan melewati pipinya.


"Duduk sini, Nak! Tiara baru minum obat jadi mungkin dia tidur akan agak lama," ucap Bu Nastiti menepuk sofa di sampingnya.


Nadia pun beranjak dari kursi samping brangkar dan menghampiri Bu Nastiti lalu duduk di sampingnya.


"Apa lukamu sudah sembuh?" tanya Bu Nastiti.


"Alhamdulillah sudah, Bu," sahut Nadia.


"Bagaimana perkembangan hubungan kamu dengan Rasya?" tanya Bu Nastiti lagi.


"Maksud ibu?" Nadia malah balik bertanya tidak mengerti dengan maksud wanita paruh baya yang duduk di sampingnya.


"Maksud ibu apa dia pernah menyinggung pernikahan dengan kamu atau meminta kamu menjadi ibu sambung buat Tiara?" Bu Nastiti mencoba mengubah kalimatnya menjadi detail.


"Tidak, Bu. Hubungan kami bahkan lebih kaku seperti saat kami belum saling mengenal. Saat aku di kampung juga dia tidak pernah sekalipun menghubungiku," ucap Nadia mengingat perlakuan Rasya terhadapnya untuk menjawab pertanyaan Bu Nastiti.


"Sabar ya, Nak. Ibu yang sebagai ibunya saja juga kadang tidak mengerti sikapnya, tetapi ibu tahu betul dia itu sangat mencintai kamu. Dia itu tipe orang yang tidak pandai berterus terang tentang perasaannya," Bu Nastiti mencoba memberikan dukungan kepada Nadia.


"Iya, Bu," sahut Nadia singkat.


"Dia itu orang yang tidak mudah jatuh cinta, dulu dia itu pernah pacaran dengan teman SMAnya, tetapi ketika mereka lulus mereka putus begitu saja. Ibu tidak pernah mendengar lagi dia sempat dekat dengan seorang gadis. Setelah sekian lama ibu baru mendengar kalau dia menaruh hati sama kamu, itupun Rayan yang cerita," tutur Bu Nastiti panjang lebar.


Nadia terkejut mendengar penuturan Bu Nastiti. Lalu bagaimana dengan Celine? Kenapa bisa ada Tiara?


"Lalu mengapa Pak Rasya bisa menikah dengan Celine, Bu? Dan Tiara?" tanya Nadia dengan segudang penasarannya.


"Sumpah?" tanya Nadia penasaran.


"Di usianya yang sudah menginjak 29 tahun dia belum juga mempunyai calon pendamping atau pun pernah membawa teman perempuan untuk diperkenalkan sama Ibu dan Bapak. Lalu ibu mengucapkan sumpah padanya, jika ia sampai membawa seorang wanita pulang ke rumahnya maka ibu akan menikahkan mereka." Bu Nastiti menjeda kalimatnya. Nadia masih antusias untuk mendengarkan penuturan Bu Nastiti.


Bu Nastiti mendesah pelan, lalu kembali melanjutkan ceritanya. "Dan waktu itu pergi ke Boston untuk menghadiri acara reuni Akbar teman-teman kuliah Doctornya, saat pulang ke Jakarta dia membawa Celine. Sesuai sumpah yang telah ibu ucapkan, maka kami sebagai orang tua menikahkan mereka. Ternyata Celine sudah hamil dan lima bulan kemudian lahirlah Tiara." Bu Nastiti menjeda kalimatnya lagi.


"Apa sebelum lima bulan itu mereka sudah sering bertemu, Bu?" tanya Nadia yang sudah tidak sabar menunggu Bu Nastiti untuk melanjutkan ceritanya.


"Bahkan itu pertemuan mereka untuk pertama kalinya," jawab Bu Nastiti.


"Jadi ...?" Nadia tidak meneruskan kalimatnya. ia hanya menyimpan kesimpulannya di dalam hati saja.


"Tiara bukan lahir dari hasil pernikahan antara Rasya dan Celine," pungkas Bu Nastiti menyimpulkan.


Saat itulah Tiara menggeliat bangun, matanya bergerak mencari sesuatu. "Mama Nanad?" ucapnya serak.


"Iya, Sayang. Tiara sudah bangun ya?" sahut Nadia bangkit dan mendekati Tiara. Ia mencium pipi kiri dan kanan gadis kecil tersebut. "Mama Nanad kangen banget sama Tiara," imbuhnya.


"Aya cama tangen," ucap Tiara.


Nadia memeluk gadis kecil itu dengan posisi duduk di kursi sementara badan bersandar di brangkar.


Sementara itu di kampus, saat waktu jeda Prima keluar dari kelas. Ia melihat Rasya keluar dari kelas lain yang selesai diampunya. Prima mengejar kakak kandung dari kekasihnya tersebut.

__ADS_1


"Pak Rasya!" panggil Prima.


Rasya pun menoleh ke arah si pemanggil. Menunggunya dan mensejajarkan langkahnya. "Hai Prima, Mau kemana kamu?" tanyanya.


"Mau ke kantin, Pak. Tiara masih di rumah sakit?" tanya Prima.


"Masih," jawab Rasya singkat.


"Lalu siapa yang gantiin ibu nungguin Tiara?" tanya Prima lagi.


"Kemarin-kemarin saya, tapi mulai nanti malam Nanad yang akan gantiin," jawab Rasya dengan binar di matanya.


"Nanad? Dia sudah kembali, Pak? Kapan?" cecar Prima nampak antusias.


Rasya mengangguk, "tadi malam di sampai, katanya dia mau kembali masuk kuliah lagi setelah Tiara pulang dari rumah sakit. Tolong kamu bantu dia untuk mengerjakan tugas-tugasnya yang tertinggal ya, Prima!" pinta Rasya.


"In sya Allah, Pak. Kok dia enggak kasih tahu aku kalau dia sudah kembali ya? Jahat sekali dia," sahut Prima.


Rasya pun hanya mengedikkan bahunya seraya berkata, "mungkin belum kepikiran dia."


"Ya udah Pak, saya ke kantin dulu," pamit Prima.


"Silakan, Prima," sahut Rasya.


Mereka pun berpisah, Prima berjalan menuju ke kantin, sementara Rasya meneruskan langkahnya menuju ke ruangannya.


Rasya menghempaskan pantatnya segera setelah sampai di ruangannya. Memutar-mutar kursinya ke kiri dan kanan sambil berfikir, ia kembali teringat kepada Nadia.


"Nanad ... Nanad, aku akan melamar kamu segera setelah pembangunan villa impian kita selesai 100%, kamu yang sabar dong jangan judes gitu," gumam Rasya.


Pria itu lalu membuka ponselnya perlahan ia membuka galeri foto menggulir mencari foto Nadia yang ia curi saat gadis kutilang darat itu sedang tertidur. Sesaat Rasya terlihat seperti orang gila yang menciumi ponselnya sendiri.


Sementara itu di kantin, Prima hanya memesan es teh manis dan menikmati jajanan pasar yang ada di kantin tersebut. Prima teringat akan menghubungi Nadia. ia pun merogoh ponselnya dari dalam saku tasnya. Mencari kontak Nadia dan melakukan video call.


Lama belum ada respon, ternyata ponsel Nadia masih berada di dalam tas ranselnya yang teronggok di samping lemari kecil. Sementara posisi Nadia masih seperti semula duduk sambil setengah badannya bersandar di brangkar dan memeluk Tiara.


Nadia mengurai pelukannya terhadap Tiara. "Mama Nanad terima telpon dulu ya, Sayang," pamit Nadia, Tiara pun mengangguk pelan.


Nadia turun dari kursi menggeser tubuhnya meraih tas ranselnya. Membuka salah satu resleting kantong kecil untuk mengambil ponselnya.


"Pipim," gumamnya saat melihat layar ponselnya.


Setelah menggeser icon berwarna hijau kini tampaklah di layar ponselnya wajah cemberut Prima.


"Hai, Pipim. Enggak ketemu aku satu bulan saja, kenapa wajah kamu jadi terlihat tua begitu? Apa Mas Yayan lupa kasih jatah kamu buat perawatan kulit wajah?" goda Nadia pada Prima.


"Jahara kamu, Nanad. Udah balik enggak kasih kabar ke aku. Kamu anggap apa aku ini?" sergah Prima.


"Hehehe, maaf! Aku baru sempat buka hape. Jadi belum sempat kasih tahu kamu. Eh Pipim, aku bawa mangga cengkir banyak loh di rumah ibu. Kamu ke rumah saja minta sama Mbak Nina, sekalian minta tolong bungkusin buat Mbak Rumi. Aku mungkin seminggu ini enggak sempat ke tempat kost soalnya," tutur Nadia.


Mendengar kata mangga senyum di bibir Prima kini menjadi merekah.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2