Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Bendera Jepang


__ADS_3

Nadia terjaga dari tidur saat mendengar azan subuh berkumandang. Ia melihat di sampingnya masih ada Rasya yang tengah tertidur pulas. Gegas ia menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat subuh.


Selesai sholat subuh Nadia meninggalkan kamarnya untuk membantu Nina memasak di dapur. Ia sengaja tidak membangunkan pak dosen.


"Mbak Nina mau masak apa pagi ini? Nanad bisa bantu apa?" cecar Nadia menawarkan diri saat sampai di dapur dan melihat Nina sedang mengupas bawang.


"Mbak Nina mau masak tumis kangkung sama tempe bacem. Mbak Nanad bisa bantu petikin kangkungnya nggak?" sahut Nina.


"Bisa, Mbak. Dengan senang hati," jawab Nadia antusias langsung mengambil dua ikat kangkung dan baskom.


"Pakai pisau saja petik kangkungnya Mbak Nanad, biar kuku jarinya enggak rusak," usul Nina.


"Biasa aja kali, Mbak. Aku enggak suka petik kangkung pakai pisau, nanti hasilnya kaku," sanggah Nadia yang masih terus memetik kangkung dengan jari-jari tangannya.


Nina hanya bisa tersenyum mendengar alasan gadis yang membantunya tersebut.


Pukul lima pagi Nadia beranjak dari dapur menuju ke kamarnya untuk membangunkan Rasya. Namun sampai di kamar sosok orang yang tadi saat ia bangun tersebut masih tertidur sekarang sudah tidak ada di sana. Akhirnya dia kembali lagi ke dapur.


Sekitar pukul tujuh seluruh anggota keluarga telah berkumpul di ruang makan, termasuk Nadia dan Lusi juga ikut duduk di salah satu kursi yang melingkari meja makan.


"Lusi, nanti sehabis sarapan temui saya di ruang kerja!" suruh Rasya pada sang baby sitter Tiara.


"Baik, Mas," sahut Lusi sumringah. Lusi berfikir sepertinya duda tampan tersebut akan memberikan kejutan yang menyenangkan buatnya.


Mereka menikmati sarapan pagi tanpa ada pembicaraan lagi kecuali Nadia dan Tiara yang terlibat aksi suap-suapan. Nadia yang menyuapi Tiara maksudnya.


"Tiara sama Mama Nanad saja ya! Nggak usah ikut Yangti. Apa nanti Tiara enggak mabuk perjalanan? Kan jauh melewati rumahnya Mama Tatan," cecar Nadia mencoba merayu gadis kecil yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri tersebut sambil menyuapinya.


"Tapi Aya penen temu Kaka Aqil," tolak Tiara.


"Nanti Tiara minta sama Yangti saja, supaya Kaka Aqil diajak ke sini. Kalau Tiara pergi Mama Nanad di sini main sama siapa donk?" Nadia masih berusaha merayu.


"Tan ada Papa Aya, Nina duga ga itut, Mama Nanad itut aja ya," jawab Tiara malah mengajak Nadia untuk ikut.


"Mama udah libur kuliah lama, Sayang. Sebentar lagi mau ujian jadi Mama nggak boleh libur lagi deh," sesal Nadia.


Selesai sarapan mereka berkumpul di halaman rumah untuk mengantar kepergian rombongan Pak Baskoro ke Sukorejo yang masuk wilayah Kabupaten Kendal Jawa Tengah.


Setelah mobil yang membawa rombongan Pak Baskoro menghilang dari halaman, Rasya meminta kepada Lusi untuk mengikutinya ke ruang kerja. Sementara Nadia bersiap-siap untuk berangkat kuliah.


Nadia telah siap, tetapi ia menunggu sang sopir yang belum turun juga dalam kamarnya di lantai dua, yakni dosennya sendiri. Ia memutuskan untuk menunggu di teras rumah saja. Beberapa saat kemudian muncullah Lusi dari dalam rumah dengan menyeret koper memandang sinis ke arahnya.


"Kok gitu amat sih tatapannya sama aku? Salahku sama dia apa?" gumam Nadia bertanya pada diri sendiri, mencoba mengoreksi apakah ia pernah berbuat salah pada gadis baby sitter tersebut.


Bib bib

__ADS_1


Sebuah mobil berhenti di depan Nadia. Ia bergegas menghampiri mobil, masuk dan duduk di kursi samping sopir. Mobil langsung melaju setelah sang sopir memastikan penumpang barunya sudah memakai seat belt.


"Kasihan dia loh, Pak. Tapi tatapannya sama aku kok sinis gitu ya? Menakutkan," ucap Nadia saat mobil melewati Lusi yang sedang berdiri entah menunggu taksi atau ojek online.


"Lebih kasihan lagi Tiara, gadis sekecil dia harus dimarahi dan dipukul oleh wanita jahat seperti dia. Kamu harus hati-hati sama dia," Rasya menimpali.


"Tapi aku lebih takut sama Pak Rasya, sekarang di rumah besar itu cuma ada aku sama Bapak. Sedangkan Nina dan para pekerja yang lain ada di belakang. Nanti aku pulang ke kosan saja ya, Pak?" cetus Nadia.


"Iya nggak apa-apa, Mas juga nanti sore rencananya mau ke Bandung untuk ceking terakhir pembangunan villa kita," ungkap Rasya.


"Ceking terakhir? Berarti udah jadi ya, Pak?" tanya Nadia antusias.


"Nih, lihat saja sendiri fotonya di galeri album villa," suruh Rasya menyodorkan ponselnya yang dirogoh dari saku dalam jasnya.


Nadia meraih ponsel tersebut, tetapi ketika ia akan membuka ponsel tersebut ia tidak bisa membuka layar kuncinya.


"Kuncinya?" tanya Nadia menyodorkan ponselnya pada Rasya.


Rasya menekan sidik jari jempolnya di layar ponsel tersebut. Barulah Nadia dapat menscroll dengan mudah, membuka Album galeri yang berisi foto-foto villa yang sudah 80% proses pembangunannya.


Setelah puas membuka-buka galeri foto, Nadia kini penasaran dengan akun sosmed bapak dosen yang sekarang sedang mengemudi mobil tersebut. Ia membuka akun Instagram milik pak dosen. Ternyata follower Pak Rasya banyak juga, tetapi sudah lama Pak Dosen tidak mengunggah sesuatu di akunnya. Terakhir kali ia mengunggah foto dan video saat acara reuni tiga tahun yang lalu.


Nadia menutup aplikasi Instagram dan kini ia membuka kamera. Ia berselfi ria memfoto dirinya dan Rasya yang sedang fokus menyetir dengan berbagai pose. Rasya hanya tersenyum melihat tingkah gadis yang dicintainya tersebut. Nadia mengirim foto-foto tersebut ke akun WhatsApp messenger nya sendiri. Setelah itu ia menutup kembali ponsel Rasya karena tiba-tiba kepalanya mendadak terasa pusing. Ia menaruh ponsel tersebut di dashboard mobil. Lalu menyandarkannya tubuhnya di sandaran kursi.


"Pusing," jawab Nadia singkat.


"Jangan tidur, sebentar lagi sampai," pinta Rasya.


"Iya," sahut Nadia.


"Bukan apa-apa, kamu kalau sudah tidur susah dibangunin," timpal Rasya.


"Nanti turunin aku di depan gerbang saja ya, Pak," pinta Nadia seperti biasa.


Nadia tidak mau jadi bulan-bulanan warga kampus yang ngefans sama dosen sekaligus duda tampan tersebut. Terutama Bu Siska, dosen yang masih berstatus perawan tua di usianya yang sudah hampir kepala empat tersebut saat ini sedang gencar mendekati Rasya sesaat setelah tahu bahwa Rasya sudah bercerai dengan istrinya.


Tanpa menjawab Rasya menuruti permintaan Nadia. Ia menghentikan mobilnya di depan gerbang masuk kampus. Nadia segera melepas seat belt sesaat setelah mobil berhenti. Ia membuka pintu dan langsung keluar dari mobil melangkah menuju gerbang tanpa menoleh.


Rasya terkejut saat melihat bercak merah di kursi bekas diduduki oleh Nadia. Lalu ia melihat bagian belakang gadis itu. "Aneh, apa dia enggak sadar kalau dia lagi datang bulan? Padahal pas datang selalu merasakan sakit," gumam Rasya.


"Nanad!" teriak Rasya memanggil gadis itu.


Nadia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah orang yang memanggilnya. Untungnya ia belum masuk gerbang. "Apa?" tanyanya.


"Kembali ke sini cepat, ini genting!" suruh Rasya panik.

__ADS_1


Nadia pun menurut walau dengan bibir mencebik. "Genting memangnya mau perang apa?"


"Buruan!" perintah Rasya lagi.


"Ada apa sih, Pak?" tanya Nadia saat langkahnya sampai di pintu mobil.


"Ada bendera Jepang berkibar di belakang kamu," tunjuk Rasya yang merasa tidak enak untuk mengucapkan kata-kata sensitif kewanitaan kepada Nadia. Saat ini kebetulan Nadia mengenakan rok plisket berwarna putih natural dipadu dengan blus lengan panjang dan kerudung segi empat berwarna pastel.


Nadia yang merasa Pak Dosen hanya mempermainkan dirinya pun menggerutu dan hendak berbalik melanjutkan langkahnya kembali masuk ke pintu gerbang. "Apaan sih Pak Rasya? Enggak penting banget deh, aku lagi buru-buru nih."


"Eits, tunggu dulu dibilangin enggak percaya. Lihat di bagian belakang rok kamu!" Rasya masih berusaha mengingatkan.


Nadia pun menurut, ia menjembreng roknya berusaha melihat bagian belakang rok yang dipakainya tersebut. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati ada noda merah membekas di sana.


"Hahhh!" teriaknya histerin. "Anterin ke kosan!" pintanya merajuk.


"Makanya dibilangin enggak percaya, masuk!" perintah Rasya.


Nadia pun membuka pintu mobil.


"Tuh, bekasnya masih ada di jok!" ucap Rasya menunjuk bekas darah yang menempel di jok bekas duduk Nadia. "Kok aneh? Memangnya kamu enggak merasa sakit seperti biasanya? Dulu saja menangis meraung-raung. Kok bisa enggak tahu kalau kamu lagi dapet?" cecarnya sambil langsung menjalankan mobilnya menuju ke tempat kost Nadia.


"Aku juga enggak tahu, Pak. Kenapa aku tidak merasakan sakit atau PMS? Ini haid pertamaku setelah operasi itu, padahal tadi pas mandi belum ada. Ini kok langsung banyak ya," ungkap Nadia sedikit heran.


"Kok lama ya? Sudah dua bulanan baru datang bulan lagi," ucap Rasya. Nadia hanya mengedikkan bahunya.


Mobil berhenti di halaman rumah kost Nadia. Rasya menunggu di mobil, sementara Nadia keluar meninggalkannya sendirian masuk ke dalam rumah.


Lima menit kemudian Nadia keluar dengan membawa tisu basah. Ia membuka pintu mobil dan menggosok darah yang menempel di jok dengan tisu basah tersebut hingga bersih. Setelah itu ia mengelap nya dengan tisu kering yang diambilnya dari dashboard mobil.


Nadia membuang tisu-tisu yang sudah kotor tersebut ke dalam tong sampah yang ada di depan rumah. Kemudian masuk kembali ke dalam mobil dan duduk dengan tenang di sana.


"Pak, kalau lewat gerbang belakang kampus bisa masuk mobil tidak?" tanya Nadia lebih berupa usulan.


"Bisa, mau lewat gerbang belakang? Oke, I am ready, Honey. Let's go!" Tanya Rasya yang dijawab sendiri olehnya. Ia langsung melajukan mobilnya melewati jalan belakang menuju ke kampus. Nadia hanya tersenyum menanggapinya.


"Mau turun di depan gerbang lagi? Nanti ada bendera Jepang berkibar lagi? Histeris lagi kayak tadi," cecar Rasya menggoda gadis di sampingnya.


"Hahaha, Pak Rasya ada-ada saja deh. Sejak kapan bendera Negara Jepang ganti warna menjadi hitam?" sergah Nadia tertawa. Karena saat ini ia sudah berganti memakai rok plisket berwarna hitam.


Rasya menghentikan mobilnya di depan gerbang lagi sesuai permintaan Nadia. "Silahkan turun, tuan putri!" ucapnya.


Nadia pun keluar dari dalam mobil. "Terima kasih, Pangeran," jawab Nadia tersenyum. "Kodok," imbuhnya menahan tawa.


"Tuan putri asem, untung cantik. Kalau jelek udah ku kutuk kamu jadi kodok betina," gerutu Rasya sambil kembali melajukan mobil meninggalkan Nadia yang tertawa puas sambil berjalan kaki memasuki gerbang kampus sendirian.

__ADS_1


__ADS_2