Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Diblokir


__ADS_3

Rasya melangkah tergesa-gesa ke luar dari ballroom hotel menuju lift dengan Nadia berada dalam gendongannya, mata gadis itu terpejam. Tania ikut berlari mengejar kemana Rasya membawa Nadia pergi.


Sampai di basemen parkir Rasya langsung menuju ke mobilnya. Susah payah pria itu membuka pintu mobil bagian belakang. Tania maju untuk membantu membukakan pintu bagian belakang.


"Biar saya yang menjaganya di belakang, Pak," ucap Tania menawarkan diri.


Rasya membiarkan Tania untuk masuk ke dalam mobil terlebih dahulu. Kemudian ia meletakkan Nadia di kursi dengan bagian kepala berada di pangkuan Tania. Setelah menutup pintu mobil, Rasya memutari bagian depan mobil lalu duduk di kursi kemudi. Dengan segera ia membawa mobil tersebut menuju ke rumah sakit terdekat.


Meskipun penerangan di dalam mobil remang-remang, tetapi Tania dapat melihat ada darah yang merembes di bagian bawah gamis yang dipakai Nadia. Nadia mengalami pendarahan. Jika terjadi sesuatu terhadap Nadia, Tania lah yang paling merasa bersalah atas kejadian itu.


Sampai di rumah sakit, Nadia langsung ditangani oleh petugas medis di ruang UGD. Rasya dan Tania duduk di kursi tunggu di luar ruangan tersebut dengan gelisah.


"Maafkan saya, Pak. Tidak bisa melindungi Nadia," ucap Tania merasa bersalah.


"Ini bukan kesalahan kamu, Tan. Jadi kamu tidak perlu meminta maaf," tolak Rasya. "Sebaiknya kamu pulang saja, Tan. Kasihan Atar dan Bita kalau kamu menginap di sini," suruhnya.


"Iya, Pak. Ini lagi nunggu Kak Bizar sebentar lagi sampai," jawab Tania.


Benar saja, tidak lama kemudian Abizar sampai di tempat tidak jauh dari mereka duduk. "Mau pulang sekarang? Gimana keadaan Nanad?" tanyanya pada gadis yang dipandanginya.


"Nanad masih ditangani dokter di dalam. Kita pulang sekarang, Kak. Tadi Nur bilang Bita bangun," sahut Nadia.


Mereka meninggalkan rumah sakit setelah berpamitan dengan Rasya. Abizar merangkul mesra pundak Tania berjalan menjauhi ruang UGD. Rasya memandangi mereka hingga hilang di kejauhan.


*****


Nadia sudah keluar dari ruang UGD dan kini ia sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Dokter mengatakan kalau janin di dalam kandungan gadis itu tidak dapat dipertahankan dan terpaksa dilakukan tindakan kuret. Janin yang masih berusia 5 minggu di dalam kandungan Nadia itu harus luruh sebelum sang ibu menyadari keberadaannya. Beruntung benturan itu tidak sampai melukai organ reproduksi lainnya, sehingga kemungkinan Nadia untuk hamil lagi masih tetap ada.


Kini gadis itu terkulai lemah di atas brangkar dengan selang infus menempel di tubuhnya. Nadia telah sadar dari pingsan, tetapi ia tertidur karena pengaruh obat. Sesekali terdengar rintihan dan tangis dari bibir gadis itu. Rasya yang duduk di kursi di samping brangkar semakin merasa bersalah melihat keadaan istrinya. Tangannya menggenggam erat tangan Nadia yang bebas dari jarum infus.


Pria itu menyesal karena tidak menuruti pesan Gus Hamdan adik iparnya untuk menjaga Nadia yang sedang hamil muda. Harusnya tadi ia tidak melepaskan gadis itu tanpanya. Harusnya ia tadi terus berada di samping Nadia.


Sebenarnya apa yang dilakukan Linda tidak keterlaluan, dia hanya mendorong Nadia karena merasa kesal gadis yang tidak ada istimewanya itu dekat dengan saudara sepupu yang selama ini disukainya. Namun, ternyata gadis kutilang darat itu ternyata sedang hamil muda, dan benturan akibat dorongan itu menyebabkan pendarahan. Setelah ini Linda tidak tahu lagi apa yang akan terjadi dengan keluarga dan karirnya. Mungkin Pakde dan Budenya akan sangat marah besar terhadapnya. Cucu yang sudah diharapkan selama lebih dari dua tahun pernikahan Rasya dan Nadia kini telah tiada sebelum dilahirkan ke dunia.


Rasya memandangi wajah pucat Nadia, tangan kanannya terulur membelai puncak kepala gadis itu yang masih terbungkus hijab meski pakaiannya sudah diganti dengan pakaian pasien. Tiba-tiba perutnya berbunyi nyaring di ruangan yang sunyi itu yang hanya terdengar detak jarum jam dinding. Rasya baru menyadari kalau ia belum sempat memakan apapun tadi. Ia segera meraih ponsel pintarnya dan mengetik sesuatu di sana. Lalu menyimpan kembali ponsel tersebut ke dalam saku celananya.


Rasya melepas genggaman tangannya di telapak tangan Nadia. Ia bangkit dari duduknya dan melangkah menuju ke pintu.


"Mas," panggilan itu berasal dari mulut Nadia.


Rasya menghentikan langkahnya dan menoleh, "Iya, Sayang. Kamu sudah bangun?"


"Jangan pergi!" pinta Nadia dengan suara seraknya. Matanya kembali tergenang mengingat sesuatu yang baru dialaminya.


Rasya kembali mendekat dan memeluk perempuan itu. Menghujaninya dengan ciuman di puncak kepala kemudian turun ke kening, kedua mata, pipi dan bibirnya bertubi-tubi. Memberikan dukungan moril bagi wanita yang dicintainya itu.


"Mas enggak akan pergi, Sayang. Mas lagi nunggu pesanan makanan. Tadi bahkan kita belum menikmati hidangan apapun."


"Mas," panggil Nadia lagi mengabaikan ucapan Rasya tentang makanan.

__ADS_1


"Iya, Sayang." Rasya menatap kedalaman mata Nadia, menunggu apa yang ingin diucapkan istrinya tersebut.


"Sekarang Mas Rasya percaya 'kan kalau Mbak Linda beneran suka sama Mas?" tanya Nadia menatap tajam mata Rasya.


"Maafin, Mas," sesal Rasya. "Sebenarnya Mas sudah tahu sejak lama. Mas cuma tidak mau kamu berpikiran macam-macam. Hubungan Mas dengan Linda selamanya hanya hubungan saudara, tidak akan berubah lebih," imbuhnya.


"Kenapa Mas bisa seyakin itu?" tanya Nadia cemberut.


"Waktu Linda masih bayi, dia seumuran sama Rayan hanya terpaut beberapa bulan saja. Ibunya sering menitipkan Linda sama Ibu, dan Ibu sering menyusuinya," ungkap Rasya. "Jadi jika pun Mas sama Linda saling cinta, hubungan kami terlarang untuk menikah karena kami satu susuan," simpulnya.


Rasya tersenyum melihat sikap Nadia yang cemburu terhadapnya. Namun, wajah Nadia semakin terlihat sedih. "Ikhlaskan, Sayang! Mungkin ini takdir kita, Allah belum memberikan kepercayaan kepada kita untuk memiliki anak. Mungkin juga Allah hanya memberitahu kita bahwa kamu selama ini tidak mandul. Kita masih punya kesempatan untuk berusaha," hibur Rasya.


"Mas bisa ngomong gitu karena Mas tidak merasakan sakitnya," cebik Nadia.


Rasya kembali tersenyum. "Kalau memang bisa tidak hanya sakitnya saja, tapi mas juga pengen merasakan hamilnya," ucap Rasya diakhiri kekehan membuat Nadia mau tidak mau juga ikut tersenyum juga membayangkan kalau suaminya itu hamil besar dengan perut buncit.


"Mas bisa saja, aku enggak bisa bayangin kalau mas Rasya yang hamil," akhirnya Nadia bisa tertawa juga, meskipun tawanya hanya sebentar karena ia masih merasakan sakit di area perutnya.


Melihat istrinya menyeringai kesakitan tangan Rasya terulur mengelus lembut perut istrinya yang tertutup kain. Nadia memandangi wajah tampan suaminya itu. Dulu, ia sama sekali tidak menyangka jika dosen yang dianggapnya killer dan menyebalkan itu akan menjadi suaminya. Dan kini pernikahan mereka sudah bertahan hingga dua tahun.


"Kenapa?" tanya Rasya yang mendapati mata Nadia menatapnya intens.


"Tidak apa-apa," jawab Nadia tertunduk malu. Sesaat kemudian ia merasa dagunya ditarik dan benda kenyal berada di bibirnya. Nadia membalas ciuman itu.


Tok tok tok


"Mungkin itu kurir yang ngantar makanan, Mas. Bukakan pintu dulu," pinta Nadia.


Dengan enggan Rasya bangkit dari kursi tempat ia duduk lalu melangkah menghampiri pintu. Benar saja, seorang kurir mengantarkan pesanan makanan Rasya.


Rasya kembali duduk di kursi. Meletakkan kantong kresek berisi pesanan makanan di nakas lalu membimbing Nadia untuk duduk. Rasya kemudian mendekatkan cup berisi teh manis hangat ke bibir Nadia. Nadia menyesapnya. Pria itu lalu menyuapi nasi dan lauk ke mulut Nadia dan mulutnya sendiri.


Setelah makan Rasya bersiap untuk tidur. Dia menempati ekstra bed yang di sediakan oleh rumah sakit untuk penunggu pasien. Dia masih mengenakan pakaian yang dipakainya ke pesta pernikahan Rayan dan Prima tadi. Hanya saja baju kokonya ia lepas. Untung tadi ia memakai kaos oblong untuk dalaman. Ia tidak meminta tolong orang rumah untuk membawakan baju ganti. Rasya merasa tidak enak karena pasti semua orang sudah lelah karena sibuk.


Pagi harinya Nadia sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Rasya meminta orang rumah untuk membawakan baju ganti untuknya dan Nadia. Sekitar pukul tujuh Rania diantar suami datang menjenguk sekalian membawakan baju ganti. Rania masuk saat Rasya menyuapi Nadia sarapan pagi.


Nadia kaget saat Rania membawa masuk sebuah koper. "Mas, kenapa bawa koper? Bukankah hari ini aku sudah boleh pulang?" cecarnya pada sang suami.


"Tauk tuh, Rania," jawab Rasya cuek.


"Aku nggak tahu mesti ambil baju yang mana yang cocok buat kalian berdua, Mbak. Jadi ya aku ambil beberapa," elak Rania.


"Enggak apa-apa kok, Dek. Gitu saja kok dibikin ribet sih, Sayang."


"Sini, Mas. Biar Rania yang suapi Mbak Nadia. Mas Rasya mandi saja dulu," ucap Rania yang tengah berdiri di samping Rasya duduk menawarkan diri.


"Sebenarnya aku bisa makan sendiri kok, Mbak. Mas Rasyanya saja yang pengen suapi aku sambil makan sendiri," sela Nadia tersenyum pada Rania.


"Kamu suapi suami kamu saja, Rania. Tuh di meja masih ada, tadi Mas Rasya beli banyak," ujar Rasya menolak tawaran Rania.

__ADS_1


Rania melirik Hamdan yang duduk di sofa, lalu kembali menoleh ke arah Rasya. "Abinya anak-anak kan lagi puasa," cebiknya.


"Kasih saja, Mas Rasya. Daripada keponakan kamu yang ini nanti ngeces," celetuk Hamdan menahan tawa.


Rasya mengernyitkan dahinya. "Ya udah, nih," ucapnya menyerahkan nampan saji berisi makanan dari jatah dari rumah sakit kepada Rania.


Rania dengan antusias menerima nampan dari Rasya. Ia duduk di kursi yang tadi diduduki Rasya karena pria itu memilih duduk di sofa dan menikmati makanan yang ia pesan dari restoran. Rania dengan senang hati menyuapi kakak iparnya seperti menyuapi anaknya sendiri.


Siangnya setelah petugas medis melepas selang infus Nadia, mereka akan segera keluar dari rumah sakit. Bu Nastiti dan Raka baru tiba di ruang rawat Nadia. Sementara Rania dan Hamdan keluar dari ruangan karena di dalam ruangan tidak boleh banyak orang.


"Maafkan Ibu, Nak. Ibu tidak bisa berbuat apa-apa karena yang melukai kamu itu keponakannya Bapak," ucap Bu Nastiti sambil membantu Nadia berkemas merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, Bu. Nadia sudah ikhlas kok. Mungkin memang takdir Nadia belum saatnya untuk memberikan cucu untuk ibu," sahut Nadia.


"Sepertinya kalian harus mengumumkan pernikahan kalian, biar kejadian seperti ini tidak terulang lagi," cetus Bu Nastiti.


"Tapi Nadia malah takut kalau sampai para fansnya Mas Rasya tahu, malah akan membulli Nadia, Bu," tolak Nadia.


"Tapi sampai kapan, Nak?" tanya Bu Nastiti.


"Sampai Nadia lulus kuliah, Bu." Nadia menjawab.


"Raka belum pernah dengar kabar Tante Nanad hamil, tiba-tiba kok udah keguguran, Pa?" sela Raka yang duduk di sofa berdampingan dengan Rasya.


"Mama Nanad nya saja juga belum tahu," sahut Rasya.


"Ayo kita keluar! Masih betah di sini?" ajak Bu Nastiti.


Rasya bangkit menghampiri Nadia. Lalu merangkulnya keluar dari ruangan. Raka menarik koper milik mereka.


"Kopernya taruh di mobil papa ya, Raka," pinta Rasya pada Raka.


"Kenapa, Pa? Kalau Raka bawa ke mobilnya Eyang Putri juga nanti sampai di kamar papa juga," tolak Raka.


"Sudah, nurut saja kenapa," timpal Rasya tidak mau dibantah.


Raka pun akhirnya menuruti apa kata papanya. Sampai di area parkir ia meletakkan koper itu di mobil milik sang papa. Mobil mereka beriringan meninggalkan rumah sakit.


"Kita mau kemana, Mas?" tanya Nadia yang merasa jalan yang dilewati mereka bukan jalan ke rumah.


"Pulang lah masa bulan madu, kan kamu lagi diblokir," sahut Rasya asal.


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2