Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Kebahagiaan Linda


__ADS_3

Nadia memandangi derasnya tetesan air hujan yang jatuh dari atap mengenai tanah dari balik jendela kamarnya. Sudah dua bulan dia berada di Indramayu. Sedangkan Rasya keesokan paginya setelah sampai di sana saat mengantarnya, ia langsung balik ke Jakarta karena urusan pekerjaan. Setiap malam pria itu bertanya kepada istrinya kapan ia mau pulang kembali ke Jakarta lewat video call. Setiap kali pula Nadia menjawab masih betah di kampung. Ia akhirnya memutuskan untuk mengikuti kuliah semester akhirnya secara daring di google classroom.


Tot tok tok


"Ang Nanad," terdengar ketukan disertai panggilan untuknya dari balik pintu kamar.


"Iya, Dek. Masuk saja, A'ang enggak kunci pintunya kok," sahut Nadia.


Pintu dibuka pelan dari luar kamar, Nada muncul di ambang pintu.


"A'ang belum siap-siap? Sebentar lagi mobil yang mamak sewa sampai loh," ucap Nada pada sang kakak.


"A'ang tinggal pakai kerudung sama sweater saja kok, Dek," sahut Nadia.


"Ya udah A'ang pakai kerudung dulu ya, koper A'ang Nada yang bawa ke depan," tawar Nada.


"Oke, Nada Sayang," ucap Nadia mengacungkan jari jempolnya.


Nada keluar dari kamar Nadia dengan menyeret koper milik sang kakak. Nadia meraih kerudung segi empat yang telah ia persiapkan di atas kasur untuk dipakai. Di luar masih terdengar rinai hujan. Namun, keluarga besar Pak Gunawan harus tetap berangkat siang ini ke Bandung, karena besok pagi acara akad nikah antara Nadhif dan Aghni dilaksanakan dan dilanjutkan resepsi di hotel tempatnya bekerja.


Nadia mematut dirinya di cermin setelah kerudungnya tersemat di kepala. Tangannya mengelus perutnya yang rata. "Mudah-mudahan di sana kita ketemu Papa ya, dek. Sudah waktunya mama jujur tentang keberadaan mu," ucapnya.


Segera gadis itu meraih tas selempang dan sweater yang sudah ia persiapkan di atas kasur lalu bergegas keluar dari dalam kamar. Bumi masih terguyur air hujan saat ia sampai di halaman. Mamak, mimik serta sanak familinya yang lain sudah menunggu di teras. Sebagian juga ada yang sudah menunggu di mobil. Mamak memilih untuk menyewa mobil elf milik tetangganya supaya muat banyak orang.


Nadia menunggu seseorang yang akan memayunginya menuju ke mobil bergantian dengan sanak familinya yang lain. Ia bergabung dengan orang-orang yang juga sedang menunggu giliran. Mereka duduk di atas tikar.


"Eh Nadia, masih di kampung ternyata," sapa seorang wanita.


"Iya, Bi. Ini sekalian pulang bareng rombongan nanti," sahut Nadia.


"Kamu ini bagaimana, Bihah? Katanya nanti kita kan menginap di rumahnya Nadia," timpal yang lain lagi.


"Bukan rumah, Neli, tetapi vila," bantah wanita yang tadi yang dipanggil Bihah.


"Hebat banget kamu, Nad, punya vila segala," timpal Neli.


"Bukan punya Nadia kok, Bi, Itu punya suami Nadia. Nadia cuma bagian merancang bangun saja kok," elak Nadia.


"Hebat kamu, Nad, bisa kuliah gratis dan dapat suami orang tajir pula meskipun duda. Mertua kamu juga tidak pelit ngasih duit mamak kamu buat bangun rumah ini," tutur Bihah.


"Alhamdulillah, Bi," sahut Nadia tersenyum.


"Ayo, siapa yang mau dipayungi ke mobil? Atau kalian mau ngerumpi saja di sini?" sergah seorang laki-laki tetangga Nadia menghampiri mereka.


Nadia pun bangkit sambil tersenyum mendekat ke pria yang memakai payung tersebut.


"Terima kasih, Mang," ucapnya saat sampai di dalam mobil. Ia lalu melangkah dan duduk di salah satu kursi yang kosong.


Nadia menyandarkan tubuhnya di kursi. Tiba-tiba saja Nada - adik bungsunya sudah duduk di sampingnya. "Geser, Ang," ucap gadis manis itu.

__ADS_1


Di antara saudara-saudaranya yang lain, gadis yang saat ini duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah tersebut memang paling terlihat cantik. Nadia memang manis, tetapi kulitnya kuning langsat tidak seputih Nada.


Nadia merapatkan tubuhnya ke jendela. "Koper A'ang kamu taruh di mana, Nada?" tanyanya menoleh ke arah Nada.


"Tadi Nada titip sama Mang Jamil buat ditaruh di mobil ini, mungkin di belakang jok paling belakang, Ang. Nanti tanya mang Jamil saja ya," sahut Nada.


Mereka kembali diam. Mobil mulai berjalan. Nadia berjengkit kaget saat ponselnya bergetar. Tidak mungkin Rasya yang menelponnya saat ini, karena suaminya itu tidak pernah absen meneleponnya atau video call sebelum ia tidur.


Nadia melihat layar ponsel untuk melihat siapa yang menelepon. Ternyata memang bukan suaminya yang menelpon.


"Sudah berangkat belum?" tanya si penelepon langsung.


"Ini baru jalan mobilnya, Kang," sahut Nadia.


"Kenapa baru berangkat?" Suara Nadhif di seberang sana terdengar was-was.


"Duh yang mau buka barang bersegel enggak sabaran banget sih. Hujan deras banget dari pagi, Kang jadi mobilnya baru sampai karena terjebak banjir. Lagian kan enggak mungkin Nanad yang nyetir mobilnya. Bisa dikasih khutbah Mamak nanti, apalagi kalau sampai mas Rasya tahu Nanad nyetir mobil dari Indramayu sampai Bandung, bisa-bisa Nanad dikungkung di dalam kamar tujuh hari tujuh malam," sahut Nadia panjang lebar.


"Siapa juga yang nyuruh kamu nyetir, yang enggak-enggak saja kamu kalau ngomong. Sudah ah, hati-hati di jalan ya," timpal Nadhif.


"Iya, Kang. Kakang juga yang sabar ya nunggunya. Assalamu'alaikum," ucap Nadia.


"Wa'alaikumussalam."


Nadia menutup ponselnya, ketika ia akan memasukkannya ke dalam tas selempang, terlihat notif chat masuk. Ternyata dari suaminya.


Nadia tersenyum membaca. Lalu mengetikkan balasan.


[Ini baru berangkat mobilnya, Mas. Mas nanti juga ke sana 'kan?]


[Iya, Mas nyusul nanti malam, Sayang. Tapi nanti jangan chat ke nomor whatsapp yang ini ya. HP ini mau Mas simpan di laci kantor.]


"Iya, Mas. Jangan lupa Mas setelah ini hapus chat aku. Siapa tahu Linda menemukan ponsel Mas yang ini dan membaca chat kita. Nanad takut dia berbuat macam-macam lagi.]


[Iya, Sayang. Kamu hati-hati di jalan ya.]


[Mas juga hati-hati di jalan. Mas ikut rombongan Ibu atau bawa mobil sendiri?]


[Kayaknya Mas naik pesawat saja dech. Kalau ikut rombongan ibu, pasti Linda bakal tahu. Takutnya kalau dia sampai ikut dan melihat kamu pasti dia akan menyakiti kamu lagi.]


[Kalau gadis gila itu mengamuk karena tidak menemukan Mas, gimana?]


[Mas sudah bilang sama dia kalau Mas lembur di kantor sampai malam. Makanya Mas mau simpan HP ini di laci meja kantor biar pas gadis itu ngecek GPS, dia mengira Mas masih di kantor.]


[Ya udah, sampai ketemu nanti malam ya, Sayang. Assalamu'alaikum.]


[Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokaatuh.]


Rasya mengetik chat terakhir itu sambil tersenyum mengingat ide konyolnya tersebut. Masalahnya dengan Linda memang belum berakhir, tetapi ia sedikit lega karena berhasil menemukan bapak dari bayi yang dikandung oleh Linda. Meskipun Linda mengira kalau Rasya lah yang menjadi suaminya, tetapi iasemua itu dapat ia siasati berkat kerjasama dengan Fahri. Laki-laki yang mau bertanggung jawab atas kehamilan Linda. Laki-laki yang begitu mencintai gadis gila itu, tetapi selalu ditolak mentah-mentah. Bahkan gadis gila itu sampai kembali mengancam akan bunuh diri jika ia tidak menikah dengan Rasya - saudara sepupunya sendiri.

__ADS_1


Rasya memasukan ponselnya ke dalam laci meja lalu menutupnya kembali. Ia beranjak keluar dari ruangannya. Tidak lupa mengunci pintu ruangan tersebut.


Rasya meninggalkan mobilnya di area parkir kampus. Ia memesan taksi online untuk sampai ke bandara. Sesuatu yang seumur hidupnya baru kali ini ia lakukan selama ia berada di tanah air.


*****


Sementara di rumah tempat Linda tinggal, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam saat perempuan gila itu sedang duduk di ruang tengah. Ia masih memantau alat pendeteksi yang ia pasang di ponsel Rasya. Ia boleh merasa lega karena alat pendeteksi tersebut menginformasikan kalau Rasya masih berada di ruangannya sampai saat ini, berarti laki-laki tersebut tidak berbohong.


Seorang wanita yang bernama Indri datang membawa nampan, dia khusus dibayar untuk melayani Linda.


"Waktunya minum susu, Nyonya," wanita itu mengangsur gelas berisi susu hamil untuk Linda ke meja di hadapannya. Fahri memang menjadwalkan Linda untuk meminum susunya sebelum tidur.


"Oh iya, Indri. Biar anak yang aku kandung sehat ya dan Mas Rasya pasti akan semakin mencintaiku," ucap Linda senang.


Linda pun meraih gelas berisi susu tersebut dan meminumnya hingga tandas. Beberapa menit setelah meminum susu tersebut, Linda mulai merasa mengantuk. Linda pun meminta Indri untuk membimbingnya ke kamar.


Setelah membantu membaringkan Linda di tempat tidur, Indri menyelimuti wanita itu hingga sampai ke leher. Setelah itu ia mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur yang remang-remang, lalu ia keluar dan menutup pintu.


Indri menemui seorang laki-laki yang sedang duduk di ruang tamu. "Dia sudah tidur, Mas," ucapnya kepada laki-laki tersebut.


"Terima kasih, Indri. Kamu boleh istirahat" ucap laki-laki tersebut.


"Sama-sama, Mas Fahri." Indri mengangguk lalu pergi meninggalkan laki-laki itu.


Fahri bangkit dari duduknya, melangkah seperti biasa menuju ke kamar Linda. Dalam keremangan, ia tersenyum mengamati wajah wanita yang sudah sejak lama dicintainya itu. Fahri berbaring di samping Linda dan memeluk dan menciumi gadis itu.


Fahri terperanjat ketika mendapat respon dari Linda. Gadis itu membuka mata dan membalas pelukannya. Matanya mengerjap memandangi Fahri. Rasanya saat ini Fahri seperti sedang terjun payung dari tebing yang tinggi. Atau seperti anak usia SD yang ketahuan sedang mencuri mangga.


Namun beberapa detik kemudian Linda tersenyum mengeratkan pelukannya sambil menggumamkan nama seseorang. "Mas Rasya."


Linda menempelkan wajahnya ke dada laki-laki itu. Fahri tentu saja hatinya merasa sakit mendengar wanita yang dicintainya memanggil nama orang lain sedang ia berada di pelukannya. Namun, ia membuang jauh-jauh rasa sakit hati itu mengingat Rasyalah yang telah berjuang menyatukannya dengan gadis yang sekarang berada di pelukannya ini. Bahkan ia tahu pasti kalau Rasya begitu mencintai istrinya.


Fahri begitu bahagia menikah dengan Linda meskipun ia harus sembunyi-sembunyi mengungkapkan perasaannya kepada gadis itu. Laki-laki itu masuk ke dalam kamar dan tidur dengan Linda ketika gadis itu telah tidur dan keluar meninggalkan kamar Linda sebelum gadis itu bangun. Entah sampai kapan sandiwara ini terus berlangsung.


Sementara Linda, yang gadis itu ketahui Rasyalah yang menikah dan menemani tidurnya setiap malam. Karena saat akan nikah berlangsung Linda tidak diperkenankan keluar dari kamar sebelum kalimat ijab qobul selesai diucapkan oleh mempelai pria.


Saat Linda keluar dari kamar, matanya ditutup dengan kain hitam. Ia mencium tangan mempelai pria dan merasakan keningnya dikecup oleh pasangan pengantinnya. Saat kain penutup matanya dibuka, yang ia dapatkan adalah Rasya yang berdiri dengan senyum semanis madu kepadanya.


Linda merasa bahagia dinikahi oleh orang yang dicintainya. Ternyata pengorbanannya selama ini dengan menyayat kulit di pergelangan tangannya dan berkali-kali kembali mengancam akan bunuh diri tidak sia-sia. Ia juga tidak pernah lagi melihat Nadia di rumah keluarga Baskoro. Mungkin gadis itu telah diceraikan oleh Rasya dan pulang kampung karena frustasi, pikir Linda.


.


.


.


TBC


terima kasih all 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2