
Nadia mempercepat langkahnya sesaat setelah keluar dari dalam mobil. Ia sudah tidak sabar ingin segera mengetahui siapa tamu yang ingin bertemu dengan dia dan Rasya-suaminya.
Sampai di ambang pintu masuk ruang tamu, Nadia menghentikan langkahnya melihat sesosok pria bule yang mungkin umurnya sepantaran dengan suaminya dengan Tiara yang tengah berceloteh di pangkuannya. Ada rasa cemburu yang bercokol di hatinya melihat kedekatan mereka.
Rasya memegang kedua pundak istrinya dari belakang. "Ayo kita masuk, Sayang!" ajaknya.
Mereka masuk beriringan karena Rasya menggandeng tangan Nadia dan membimbingnya duduk di sofa ruang tamu yang panjang.
"Good afternoon, sir. I'm Rasya and this is my wife Nadia (Selamat siang, Tuan. Saya Rasya dan ini istri saya Nadia)," ucap Rasya mengulurkan tangannya.
"Good afternoon, Mr. Rasya. I'm Jack Wilson, Celine Wilson's first husband, Tiara's father (Selamat siang, Tuan Rasya. Saya Jack Wilson, suami pertama Celine Wilson, ayah dari Tiara)," sahut pria tersebut menjabat tangan Rasya.
"Mas," ucap Nadia memeluk lengan Rasya dengan mata berkaca-kaca.
"Sabar, Sayang. Kita belum tahu maksud kedatangan tuan Jack ini apa." Rasya mengelus punggung tangan Nadia mencoba untuk menenangkan istrinya tersebut.
"Dia pasti mau mengambil Tiara dari kita untuk tinggal bersamanya, Mas," tebak Nadia khawatir.
Memang darah lebih kental dari pada air. Ikatan antara ayah dan anak itu begitu kuat. Tiara terlihat begitu mudah akrab dengan Jack Wilson, padahal mereka baru pertama kali bertemu.
"Sorry, Mr. Rasha. I came here to invite Tiara to stay with me in Boston for a while. My parents miss him very much. Well maybe one month I will borrow Tiara (Maaf, Tuan Rasya. Kedatangan saya kemari untuk mengajak Tiara tinggal bersama saya di Boston untuk sementara waktu. Orang tua saya sangat merindukannya. Yah mungkin satu bulan saya akan meminjam Tiara)," ungkap Jack.
"Sorry, Mr. Jack, this Tiara is young and has never traveled far. Shouldn't Mr. Jack wait for Tiara until she grows up. You can visit him anytime if you miss. k house door (Maaf, Tuan Jack, Tiara ini masih kecil dan belum pernah bepergian jauh. Apa tidak sebaiknya Tuan Jack menunggu Tiara hingga ia besar. Tuan bisa mengunjunginya kapan saja jika Tuan rindu. Pintu rumah kami selalu terbuka untuk kedatangan anda)." Rasya berusaha membujuk Jack agar tidak membawa Tiara.
"Papa, mama, Aya penen temu cama Glenma. Tadi Glenma cama Glenpa tepon," Tiara memohon.
Tiara berusaha turun dari pangkuan daddy-nya. Gadis kecil tersebut berlari dan duduk di pangkuan Nadia. "Mama Nanad napa nangis?" tanyanya pada sang Mama.
"Mama enggak mau berpisah jauh dari Tiara," jawab Nadia.
"Daddy bilang cuma bentalan Aya temu Glenpa cama Glenma, Mama jangan cedih," bujuk gadis kecil tersebut. Tangan mungilnya menyeka air mata Nadia.
"Does Mr. Jack have to take Tiara away today? At least stay here a few days for you to rest (Apa harus hari ini juga Tuan Jack akan membawa Tiara pergi? Setidaknya tinggallah beberapa hari di sini untuk anda beristirahat)," cetus Rasya.
"I've been in this city for a week, looking for Celine and Tiara. It's time for me to go back to Boston (Sudah satu minggu saya di kota ini, mencari keberadaan Celine dan Tiara. Sudah saatnya saya kembali ke Boston)," tolak Jack.
Nadia semakin tidak dapat menahan air matanya. Memang Jack bilang hanya satu bulan ia akan membawa Tiara untuk menemui kakek dan neneknya di Boston, tetapi bukan tidak mungkin kalau ia akan berubah pikiran mengingkari janjinya dan tidak akan pernah mengembalikan Tiara. Bagaimanapun juga Jack adalah ayah kandung Tiara dan dia berhak atas hak asuh gadis kecil tersebut.
"Tiara jangan lupakan Mama Nanad ya!" pinta Nadia pada gadis kecil tersebut.
"Mas, bagaimana kalau Tuan Jack ingkar janji? Dia tidak mengembalikan lagi Tiara ke kita," ucap Nadia khawatir pada suaminya namun pandangan dan tangannya tidak beralih sedikitpun dari Tiara.
"Sayang, kalau sampai itu terjadi kita juga tidak bisa berbuat apa-apa. Secara hukum Jack memang ayahnya Tiara karena dia dan Celine tidak pernah bercerai. Dan dia berhak atas hak asuh terhadap Tiara," ungkap Rasya.
'Aku yakin saat kamu memiliki anak sendiri yang lahir dari rahim kamu suatu saat nanti, berangsur-angsur kamu bisa melupakan Tiara, Nanad,' ucap Rasya yakin dalam hati. 'Aku juga tidak habis pikir, kenapa orang-orang di rumah ini begitu mencintai Tiara? Padahal setiap kali melihatnya aku seperti melihat betapa liciknya ibunya, tidak menutup kemungkinan jika gadis kecil ini kelak menuruni sifat sama seperti ibunya itu, buah itu jatuhnya tidak jauh dari pohonnya. Meskipun buah kelapa jatuh di bawah pohon nangka, tumbuhnya nanti juga akan jadi cikal juga,' imbuhnya membatin lagi.
"Sejak Tiara lahir Mas ini sudah menjadi ayahnya, tetapi kenapa sekarang sepertinya Mas tidak menginginkan dia?" tanya Nadia yang curiga dengan sikap suaminya.
__ADS_1
"Mas cuma kasihan dengan Tuan Jack, Sayang. Jauh-jauh dia dari Boston datang ke sini hanya ingin bertemu dengan anaknya. Kenapa kita harus menghalanginya? Sedangkan kita tidak ada pertalian darah sedikitpun dengan seseorang yang sangat diharapkan oleh Tuan Jack dan orang tuanya," tutur Rasya memberikan argumen.
Beberapa saat kemudian Nina dan Bu Nastiti tiba di ruang tamu dengan membawa koper berisi pakaian dan barang-barang lainnya milik Tiara.
"Is Mr. Jack from here directly to the airport? (Apa tuan Jack dari sini langsung ke bandara?)" tanya Bu Nastiti.
"I'm going to the hotel first, madam. My stuff is still left there (Saya akan ke hotel dulu, Nyonya. Barang-barang saya masih tertinggal di sana)," jawab Jack.
Setelah menikmati jamuan makan siang yang disuguhkan oleh Bu Nastiti, Jack pamit undur diri dengan membawa Tiara beserta barang-barangnya. Rasya mengantar mereka menuju hotel hingga ke bandara. Nadia dan Bu Nastiti juga ikut dalam mobil yang sama. Mereka menunggu di bandara sampai pesawat yang ditumpangi oleh Tiara dan daddy-nya tinggal landas.
"He, ini kenapa Nyonya Rasya dari tadi mukanya ditekuk begitu hemm?" goda Rasya sambil memegang setir pada sang istri yang kini menyandarkan kepalanya di bahunya saat dalam perjalanan pulang dari bandara. Nadia hanya diam saja.
"Jadi jenguk baby Atar tidak nih?" tawarnya mengingatkan.
Seketika rona wajah Nadia berubah sumringah. "Iya jadi," ucapnya antusias.
"Baby Atar? Siapa, Sya?" tanya Bu Nastiti yang duduk di kursi belakang ikut nimbrung.
"Anaknya Tania, Bu. Teman kuliah Nadia," jawab Rasya.
"Oo, bayi yang nangis pas acara pernikahan kalian itu?" ucap Bu Nastiti paham.
"Iya, Bu. Ibu mau ikut sekalian ke rumah Om Ardi atau Rasya antar ke rumah saja dulu?" tawar Rasya pada sang ibu.
"Ikut saja sekalian, lagian ibu di rumah juga tidak ada kegiatan yang penting. Ibu juga sudah lama tidak berkunjung ke rumah mereka sekalian silaturahmi," tutur Bu Nastiti menjawab pertanyaan anak sulungnya.
"Mampir dulu ke baby shop ya, Mas," jawab Nadia meminta.
"Sendiko dawuh, Kanjeng Ratu," sahut Rasya tersenyum.
"Ih, kok Kanjeng Ratu sih. Kanjeng Ratu kan ibu." Nadia menolak julukan Rasya untuknya dalam candaan Rasya. Menurutnya itu terlalu tua.
"Kan sekarang kamu ratu di hati Mas Rasya," timpal Rasya.
"Tapi aku enggak mau dapat julukan itu, mending Nyonya Rasya atau apa kek," protes Nadia.
"Iya deh, Nyonya Rasya Tercinta," sahut Rasya menuruti keinginan istrinya.
Rasya membelokkan mobilnya ke sebuah baby shop yang ada di kiri jalan dan memarkirkan mobil tersebut dengan indah di depan baby shop tersebut.
"Ibu nunggu di mobil saja ya Nak, tapi jangan lama-lama kalian di dalam," ucap Bu Nastiti mencegah.
"Iya, Bu," jawab Nadia.
Sampai di dalam toko, Nadia malah tertarik ketika pandanganya jatuh pada deretan dress bayi. Ia mengambil salah satu dan menunjukan dress bayi tersebut kepada Rasya.
"Mas, cantik kan?" ucap Nadia sambil memegang dress yang diambilnya.
__ADS_1
Rasya menautkan kedua alisnya. "Buat siapa? Baby Atar bukannya cowok?" sergahnya.
"Buat jodohnya baby Atar," jawab Nadia asal. Wong Nadia cuma tertarik pada modelnya yang lucu doang kok, batinnya.
"Jodohnya baby Atar kan belum lahir, Yang. Nanti sampai di rumah kita bikin ya!" Rasya menggoda istrinya dengan menaikturunkan kedua alisnya.
"Kok mas bisa yakin jodohnya baby Atar itu kelak anak kita? Jodoh itu kan Tuhan yang menentukan, Mas. Aku tidak mau menjodoh-jodohkan anak-anak kita kelak, biar mereka yang menentukan pasangannya sendiri. Waktu mamak bilang aku sudah dikhitbah oleh seseorang yang tidak kukenal saja aku sudah takut setengah mati," timpal Nadia panjang lebar.
"Widih setengah mati, men. Kalau memang bukan jodoh, yah minimal kita buat kandidatnya lah, Sayang," kekeuh Rasya.
Nadia tertawa dengan istilah baru yang diucapkan oleh Rasya, terdengar lucu. "Kandidat Jodoh?" ulangnya. Rasya mengangguk.
"Yuk ah kita cari pakaian buat bayi cowok! Nanti malah kelamaan di sini. Kasihan ibu lama menunggu sendirian di dalam mobil kegerahan," ajak Rasya menarik tangan Nadia.
Sampai di stand rak-rak penjualan pakaian bayi cowok. Nadia kembali tersenyum melihat banyak sekali model pakaian bayi yang bagus-bagus.
"Modelnya lucu-lucu semua ya, Mas. Jadi pengen borong semuanya," ucap Nadia.
"Boleh kok, Sayang. Sekalian borong sama toko dan pelayannya juga boleh," timpal Rasya meladeni ucapan Nadia.
"Hemm, sombongnya suamiku ini. Buat beliin mobil saja bilangnya tabungannya belum cukup pakai bilang beli toko sama pelayannya juga," sergah Nadia.
"Beda dong, Yang. Kalau mobil kan enggak buat usaha, sedangkan toko kan kita beli buat investasi," jelas Rasya.
"Iya deh terserah suamiku saja," ucap Nadia. Lalu Ia mengambil beberapa stel baju yang menurutnya modelnya paling bagus dan bahannya pun lembut menyerap keringat. "Aku ambil yang ini semua ya, Mas?" tanyanya meminta ijin kepada Rasya.
"Iya, ayo bawa ke kasir!" sahut Rasya kembali menggandeng tangan Nadia menuju ke kasir.
Setelah membayar beberapa stel pakaian bayi di kasir, mereka langsung meninggalkan baby shop. Rasya membawa mobilnya menuju ke kediaman Ardiansyah. Sampai di halaman rumah Ardiansyah, Rasya memarkirkan mobilnya di halaman. Nadia langsung membuka pintu dan keluar dari mobil menuju ke teras rumah. Siti membukakan pintu untuk mereka setelah mendengar bunyi bel beberapa kali.
"Eh, Mbak Nanad. Sepertinya bawa pasukan ya? Tumben," sapa Siti yang muncul dari balik pintu.
"Mbak Siti ada-ada saja deh. Cuma ibu mertua sama suami kok, Mbak. Tania ada di rumah kan, Mbak Siti?" jawab Nadia diakhiri pertanyaan.
"Ada di kamar kok, Mbak. Lagi nen*nin baby Atar. Tapi kapan Mbak Nanad nikah ya? Kok tiba-tiba udah punya mertua dan suami?" tanya Mbak Siti agak terkejut.
"Belum genap sebulan kok, Mbak. Aku langsung masuk ke kamar Tania ya, Mbak Siti," pamit Nadia yang segera nyelonong masuk ke dalam rumah.
Mbak Siti hanya geleng-geleng kepala. Kemudian mempersilakan suami dan ibu mertua Nadia untuk masuk dan duduk di kursi ruang tamu.
.
.
.
TBC
__ADS_1