Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Sesal


__ADS_3

Saat ini Rasya dan adiknya - Rayan - tengah menemui dokter yang tadi menangani operasi Nadia. Menanyakan bagaimana kondisi dan perkembangan Nadia saat ini.


"Luka akibat tusukan itu telah melukai rahimnya hingga merusak indung telur bagian kanannya, kami terpaksa harus mengangkat sebelah indung telur tersebut. Dengan hanya memiliki sebelah indung telur, kemungkinan gadis itu untuk hamil di masa yang akan datang hanya lima persen. Kita hanya bisa menunggu gadis itu hingga sadar. Saat ini dia tengah koma, tetapi dia bisa mendengar suara-suara yang ada di dekatnya. Tetap berikan kepada dia semangat untuk agar gadis itu segera bangun," ungkap dokter yang menangani Nadia.


Seketika Rasya shock setelah mendengar penuturan dokter. Baru saja ia shock mendengar kekasihnya ditusuk oleh orang, lalu koma, sekarang ia harus mendengar bahwa Nadia kemungkinan besar akan boleh dikatakan mandul. Bagaimana mungkin Rasya akan menikahi gadis yang sudah jelas-jelas kemungkinan untuk hamil hanya lima persen. Sementara dia sendiri belum memiliki keturunan. Tiara yang selama ini dianggap sebagai anaknya sendiri bukanlah anak kandungnya. Suatu saat orang tua kandungnya bisa saja merebut hak asuh anak kecil itu.


Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa apa yang saat ini menimpa Nadia penyebabnya adalah dirinya sendiri. Rasyalah yang menyebabkan Celine melakukan tindakan nekat. Menghabisi siapa saja yang dianggapnya menjadi penghalang baginya untuk mendapatkan apa yang ia mau.


Dengan langkah gontai Rasya melangkah ke luar dari ruang dokter menuju ke ruang ICU. Ia masuk melalui ruang steril, memakai jubah steril dan mengoleskan hand sanitizer di kedua telapak tangan dan punggung tangannya, lalu masuk ke dalam ruang ICU tempat Nadia dirawat.


Terlihat olehnya gadis yang saat ini berbaring tidak berdaya di atas brangkar dengan berbagai selang menempel di tubuhnya. Rasya mendekat ke arah brangkar, mengambil kursi untuknya duduk. Ia pandangi gadis yang masih setia memejamkan mata tersebut dengan pandangan pilu. Tangannya membelai surai itu lembut. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga gadis itu.


"Maafkan aku, Nanad. Aku tidak bisa melindungimu. Ternyata ucapan kamu waktu di Bandung saat itu adalah firasat. Aku yang berjanji akan membiayai pengobatan kamu hingga ke ujung dunia manapun. Ternyata cacat kamu tidak bisa diobati. Bangun, Sayang, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri seandainya kamu tidak segera bangun." Rasya berbisik dengan sesal yang mendalam.


Lama ia berada di ruangan tersebut, menjalin komunikasi dengan Nadia meskipun gadis tersebut tidak bisa menjawab apa yang diucapkannya. Rasya menonaktifkan ponselnya selama ia berada di ruang ICU. Ia menemani Nadia hingga malam, keluar hanya untuk sholat dan membeli makanan di kantin rumah sakit.


Sementara itu Rayan sampai di rumah pukul sembilan malam, setelah tadi sore mengantar Tania, Prima, Ibunya dan Tiara pulang ia segera ke rumah sakit kembali. Ia menghempaskan tubuhnya di kasur empuknya, sesaat ia melepaskan lelah yang sudah menderanya. Ponselnya berdering kembali, Rayan mengecek ponselnya langsung menggeser berwarna hijau.


"Sudah ada kabar?" tanya Rayan pada anak buahnya di telepon.


"Mereka berada di sebuah bangunan gedung yang belum berfungsi, Bos. Jumlah mereka ternyata tidak hanya tiga orang, sekitar 20 orang," jawab orang di seberang sana.


"Tolong share lok. Tetap awasi saja mereka sampai polisi datang membekuk mereka. Jangan lakukan sesuatu tindakan apapun tanpa perintah," tukas Rayan.


"Baik, Bos," sahutnya.


Rayan memutus sambungan telepon nya. Ia bangun dan mengenakan jaket kulitnya. Lalu ia menghubungi temannya yang bekerja di kepolisian.


"Halo, Ray. Bagaimana?" Tanya seseorang dalam sambungan telepon.


"Anak buahku sudah menemukan keberadaan komplotan mereka di sebuah gedung yang belum berfungsi, jumlah mereka ada sekitar 20 orang. Nanti aku kirim lokasinya," tutur Rayan.


"Baiklah, akan segera kami kirim pasukan untuk melakukan penyergapan," jawab polisi tersebut.


"Kita bertemu di lokasi." Rayan mengakhiri panggilannya.


Ia mulai memacu motornya dengan kecepatan tinggi menuju lokasi yang telah diberitahukan oleh anak buahnya. Rayan memarkirkan motornya agak jauh dari lokasi. Bukannya takut ketahuan, tetapi memang kekuatannya tidak seimbang dengan kekuatan mereka. Anak buah Rayan hanya 6 orang, ditambah bantuan dari anak buahnya Ardi-Papa tiri Tania hanya 4 orang. Kalau benar apa yang dikatakan oleh anak buahnya di telpon tadi bahwa komplotan mereka berjumlah lebih dari 20 orang, maka kekuatannya hanya satu banding dua.


"Aku sudah berada di sekitar lokasi, aku share lok," ucap Rayan menelpon kembali temannya.


Sementara di dalam gedung, dua orang baru saja masuk menemui ketua geng mereka.

__ADS_1


"Bos, sepertinya polisi sudah mengetahui keberadaan dan aksi kita," ucap salah seorang di antaranya.


"Sialan! Semua gara-gara wanita ular yang licik itu. Sudah menggunakan tenaga kita, tetapi tidak mau membayar. Dasar perempuan licik. Kalau kita bisa menemukan keberadaan perempuan itu, bunuh langsung dia. Dia sudah membahayakan kita," umpat seseorang yang dipanggil sebagai bos. "Kamu sih, nusuk orang saja sampai salah sasaran, kayak baru pertama kali bekerja saja, makanya perempuan itu tidak mau membayar sepeser pun," imbuhnya menyalahkan anak buahnya.


Gimana bisa membayar, orang Celine sudah tidak punya uang sepeser pun. Bukan karena kalian salah sasaran.


"Aku sudah tepat di depan sasaran bos, tiba-tiba gadis itu menghalanginya," kilah si anak buah tidak mau disalahkan. "Lalu apa yang harus kita lakukan, Bos? Dimana-mana sudah dipasang foto kami," tanyanya mengeluh karena tidak bisa pergi kemana-mana. Sepertinya orang ini yang telah berhasil menusuk Nadia.


"Tetap di gedung ini saja sampai suasana tenang kembali, dan orang-orang melupakan kejadian penusukan itu," sahut si bos.


"Angkat tangan! Kalian sudah dikepung!"


Tiba-tiba suara seorang polisi mengagetkan mereka, ternyata di ruangan tersebut sudah ada beberapa petugas polisi yang menodongkan pistol ke arah mereka. Dalam waktu yang singkat komplotan mereka dapat diringkus. Kini tinggal mencari keberadaan dalang dibalik penusukan terhadap Nadia yang sudah diketahui oleh Rasya. Namun Rasya masih menunggu waktu yang tepat untuk menyergap wanita ular tersebut.


"Terima kasih, Ray," ucap polisi tadi menjabat tangan Rayan.


"Sama-sama, Bro," jawab Rayan.


Rayan pun bisa kembali ke rumah dan istirahat nyaman dini hari itu. Hingga pagi menjelang Rayan dikagetkan dengan ponselnya yang terus berdering. "Siapa sih ganggu orang tidur saja?" gerutunya.


"Ada apa?" tanya Rayan dengan suara serak di sambungan telepon.


"Mas Rayan, ih jam berapa ini kok baru bangun?" gerutu Tania.


"Iya enggak apa-apa kok, Mas," jawab Tania. 'Memang aku mau bilang Mas Rayan enggak usah jemput kok, hihihi,' batin Tania.


'Tumben nih anak enggak protes kayak biasanya,' batin Rayan.


"Terus kamu ngapain telepon aku pagi-pagi begini? Ganggu orang lagi istirahat saja," hardik Rayan.


"Hehehe, mau bilang kalau hari ini Mas Rayan enggak usah antar jemput Tania, Mas," jawab Tania polos.


"Cuma itu?" tanya Rayan.


"Iya," sahut Tania.


"Baguslah, aku masih ngantuk mau tidur lagi, assalamu'alaikum."


Rayan langsung memutus sambungan teleponnya tanpa menunggu omelan dari gadis itu, eh wanita hamil itu. Ia langsung tidur kembali.


Pada saat bersamaan Rasya membuka pintu rumah, sepertinya ia baru saja pulang dari rumah sakit. Ia langsung menuju ke ruang makan.

__ADS_1


"Kamu baru pulang dari rumah sakit, Sya?" tanya Bu Nastiti pada anak sulungnya.


"Iya, Bu. Kakaknya Nadia tadi subuh sudah datang dari Bandung," jawab Rasya yang tengah duduk di kursi.


"Bagaimana keadaan Nadia sekarang?" tanya Bu Nastiti lagi.


"Masih sama seperti kemarin malam, Bu. Masih koma," jawab Rasya tidak bersemangat. "Mungkin Rasya salah telah membawa Nadia ke dalam kehidupan Rasya," ucapnya lagi penuh sesal.


Terlihat guratan kecewa di wajah Bu Nastiti. "Apa pikiran kamu mulai goyah setelah mengetahui kenyataan yang menimpa gadis itu, Nak?" tanyanya.


"Entahlah, Bu," jawab Rasya galau.


"Rasya, ibu ini seorang wanita. Ibu bisa merasakan bagaimana seandainya ibu yang mengalami kejadian seperti yang dialami oleh gadis itu, ibu tidak dapat membayangkan apakah ibu bisa menjalani hidup ibu." Bu Nastiti menasehati anaknya. "Bagaimana kalau hal itu juga dialami oleh keluarga kita? Ibu harap kamu menjadi laki-laki yang bertanggung jawab, Nak," imbuhnya.


"Rasya akan memikirkannya, Bu."


Pak Baskoro datang bergabung. Bu Nastiti mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya lalu mulai menyuapi Tiara.


"Makan yang banyak, Tiara. Nanti Eyang Putri ajak jenguk Mama Nanad," janji Bu Nastiti pada cucunya.


"Cius, Yanti?" tanya Tiara bersemangat.


"Bu, anak kecil 'kan tidak boleh masuk ruangan itu." Rasya mengingatkan.


"Nanti ibu mau minta ijin sama dokter. Siapa tahu setelah mendengar suara Tiara malah Nadia cepat bangun dari komanya," ucap Bu Nastiti tidak mau menyerah.


"Terserah Ibu deh," ucap Rasya pasrah. "Rayan kok belum turun, Bu. Apa dia belum bangun?" tanyanya.


"Sepertinya adikmu masih tidur, tadi pas mau subuh Bapak dengar suara motornya, sepertinya dia baru pulang," jawab Pak Baskoro mengira-ngira.


"Apa dia sudah berhasil meringkus pelaku penusukan Nadia?" terka Rasya.


"Alhamdulillah kalau iya. Berarti tinggal menangkap dalangnya," timpal Bu Nastiti.


"Sebaiknya kamu cepat cari keberadaan Celine, Rasya. Sebelum dia kembali ke Boston lagi," cetus Pak Baskoro.


"Iya, Pak. Tapi Rasya saat ini masih pengen tidur, ngantuk. Setelah tidur Rasya akan cari keberadaan wanita itu," jawab Rasya.


"Memangnya kamu tidak ke kampus?" tanya Pak Baskoro.


"Hari ini Rasya tidak ada jadwal, Pak. Rasya mau tidur saja. Nanti agak siangan Rasya akan datang ke kantor polisi," jawab Rasya. "Padahal rencananya hari ini Rasya mau berangkat ke Bandung untuk mengecek perkembangan pembangunan villa kita. Ternyata ada kejadian seperti ini," sesalnya.

__ADS_1


"Tidak usah disesali, Sya. Lebih baik kita pikirkan tindakan apa yang harus kita lakukan ke depannya," kembali Bu Nastiti memberikan nasihat.


Setelah menghabiskan sarapan pagi, Rasya naik ke lantai dua menuju ke kamarnya. Mandi air dingin lalu merebahkan diri di kasur. Tidak butuh waktu lama suami tapi perjaka itu pun langsung terlelap dalam mimpi.


__ADS_2