Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Debaran jantungku


__ADS_3

"Papa belum mandi ya?" suara cempreng Tiara dengan cadelnya memprotes papanya yang baru selesai joging langsung duduk di kursi meja makan.


"Papa cuma mau ambil minum, sama lihat menu sarapan yang dibuat Mbak Nina pagi ini, Sayang." Rasya mengambil air putih di dalam kulkas lalu kembali duduk di hadapan putrinya.


"Papa mandi cana, nanti calapan cama Aya," titah Tiara seperti tertular virus sok tua dari eyangnya.


"Iya, Bu Tiara yang bawel." Rasya bangkit mendekati putrinya dan berhasil mencubit sebelah pipi gembulnya lalu setengah berlari menuju ke kamarnya di lantai dua.


"Ih, tanan papa kotol," cebik Tiara dengan bibir manyunnya.


"Kenapa, Sayang?" tanya Bu Nastiti yang muncul dari dapur membantu Mbak Nina membawakan masakan.


"Papa beyum mandi, Yangti. Papa cubit pipi Aya," gerutu gadis kecil tersebut.


"Pasti Papa sudah cuci tangan, Sayang. Ini dimakan buburnya, mau ditambahin kecap tidak?" hibur Bu Nastiti.


"Iya, Yangti. Tapi Aya mau nambah kecap cendili," pinta Tiara.


"Sebentar ya, Eyang Putri ambilkan," sela Bu Nastiti. Tiara mengangguk setuju.


30 menit kemudian Rasya turun ke lantai bawah sudah rapi dengan celana warna abu dipadukan dengan kemeja berwarna abu muda dengan tekstur dobby, serta dasi garis warna senada. Dia mengambil kursi di samping Tiara yang belum selesai makan buburnya. Pak Baskoro dan Rayan sudah bergabung di sana.


"Lho, anak Papa belum selesai mamam juga toh?" Rasya mengomentari putrinya dan membelai lembut rambut Tiara.


"Aya undu Papa," sahut Tiara.


"Mau papa suapi?" tanya Rasya.


"No no no," sahut Tiara.


"Sudah kenyang?" Tiara mengangguk.


Rasya membuka piring di depannya, mengisinya dengan nasi dan lauk. Lalu menikmati sarapan paginya tanpa suara.


"Hari ini kamu tidak ke kantor, Sya?" Pak Baskoro bertanya di sela sarapannya pada Rasya.


Rasya mengunyah pelan makanannya seraya menjawab. "Nanti siang, Pak. Hari ini Rasya ada jadwal mengajar kuliah perdana di dua kelas sampai pukul 12 siang."


"Kamu Rayan, Kapan kamu mau menginjak kantor?" tanya Pak Baskoro beralih pada putra bungsunya.


"Hehehe, Rayan kan sudah biasa menginjak lantai kantor, Pak," sahut Rayan sekenanya.


"Maksud Bapak, kapan kamu mau membantu pekerjaan Bapak di kantor?" Pak Baskoro menjelaskan maksudnya.


"Nanti lah, Pak. Skripsi Rayan saja belum beres," jawab Rayan.


"Kapan beresnya?" tantang Pak Baskoro.

__ADS_1


"Belum tahu, Pak. Proposal saja bolak balik revisi. Rayan pusing, apa Rayan berhenti saja ya, bantu kerjaan Bapak di kantor," ungkap Rayan menyunggingkan senyum.


"Ngawur kamu, Ray! Masa putra Pak Baskoro S1 saja nggak lulus? Apa kata relasi bisnis Bapak nanti," cela Rasya.


Bu Nastiti yang makan sambil menyuapi Tiara pun jadi tertawa. "Masa kalah sama Ibu kamu, Ray," celanya. "Apa dosen pembimbing kamu itu tidak tahu kalau kamu adiknya rektor di tempatnya bekerja?" tanyanya.


"Siapa sih dosen pembimbing kamu? Apa perlu bantuan dari Bapak, atau Mas Rasya?" tanya Pak Baskoro penasaran.


"Tidak usah, Pak. Rayan akan berusaha sendiri, Rayan akan buktikan kalau Rayan bisa. Yah, meskipun agak lama," ucap Rayan yakin.


"Bagus, itu baru putra Pak Baskoro," puji Pak Baskoro.


"Kenapa Bapak enggak minta bantuan sama Mbak Rania atau suaminya saja untuk bekerja di perusahaan. Sayang kan ijazahnya, udah kuliah tinggi-tinggi sampai S3, ujung-ujungnya cuma jadi ibu rumah tangga doang," cetus Rayan.


"Hamdan itu anak laki-laki satu-satunya Kyai Abdun, jadi dia yang harus meneruskan menjadi pimpinan pondok pesantren milik abahnya. Sementara kakak kamu Rania, karena dia seorang istri ya harus patuh pada suami. Dia itu aset Bapak di akhirat nanti kalau Bapak sudah meninggal, Rayan. Nanti kamu kalau cari istri ya yang kayak Mbak Rania, taat pada suami," tutur Pak Baskoro panjang lebar.


Rasya jadi merasa tersindir dengan penuturan bapaknya. Andai waktu bisa diputar kembali. Andai dia tidak pernah bertemu dengan Celine. Semua sudah terlanjur. Nasi sudah menjadi bubur. Kini yang ada hanya penyesalan yang tiada berguna.


"Kalau Bapak menginginkan Rayan punya istri yang taat, kenapa Bapak sama Om Ardi menjodohkan Rayan sama Aghni?" timpal Rayan.


Pak Baskoro menarik napas dan menghembuskan pelan lalu berkata, "Tadinya Bapak kira kalian bakal cocok, ternyata Aghni malah minggat, hahaha. Bapak salah, tapi baik Bapak maupun Om Ardi tidak memaksa kalian kok, Kalau kalian mau pertunangan kalian bubaran, kami tidak melarang," tuturnya diselingi kekehan.


"Iya, Pak. Rayan cuma perlu ketemu sama Aghni untuk bicara, tetapi dia selalu menghindar. Apa wajah Rayan ini menakutkan ya?" celetuk Rayan. Mereka jadi tidak bisa menahan tawa, kecuali Tiara yang memang tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.


Setelah sarapan pagi bersama selesai, Pak Baskoro, Rayan dan Rasya berangkat dengan mengendarai kendaraan masing-masing. Bu Nastiti mengumpulkan piring dan gelas kotor, membawanya ke dapur.


Hari ini Rasya akan mengisi di ruang semester 3 jurusan Manajemen dari pukul 07.30 sampai dengan pukul 09.30. Kemudian jadwal selanjutnya dari pukul 10.00 sampai dengan pukul 12.00 di ruang semester 1 jurusan Manajemen.


"Sepertinya sudah semua, kenapa perasaanku menjadi gugup begini ya? Padahal ini sudah biasa," gumamnya. Ia mengecek kembali barang-barang yang sudah ia masukkan ke dalam tas laptopnya. "Ah, kacamata. Tapi dimana kacamataku? Apa masih tertinggal di ruang B3 ya?" gumamnya lagi.


Rasya keluar dari ruang rektor, sampai di ruang dosen. "Bu Siska, Pak Dani dan yang lainnya, maaf ada yang melihat kacamata saya, tidak?" tanya Rasya pelan takut menyinggung perasaan mereka.


"Kalau boleh tahu, Pak Rasya bawa kacamata berapa?" Bu Siska balik bertanya.


"Saya cuma punya satu kacamata, Bu," jawab Rasya bingung. Bu Siska malah tersenyum.


"Itu sudah bapak pakai," timpal Pak Dani tersenyum menunjuk ke mata Rasya.


Rasya menyentuh keningnya, "Astaga! hahaha," serunya sambil tertawa. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Seisi ruangan pun ikut tertawa.


"Bapak kenapa jadi gugup?" tanya Bu Siska masih dengan senyuman.


"Tidak tahu, Bu. Kenapa sekarang saya gugup ya. Padahal tadi saya juga sudah dari ruang B3," jawab Rasya gamang.


"Semangat, Pak! Baca Alfatihah sebelum masuk," timpal dosen lain menyemangati.


"Terimakasih, Kawan-kawan," sahut Rasya.

__ADS_1


Rasya memantapkan langkahnya ke luar dari ruang dosen, menenteng tas laptopnya menyusuri koridor kampus. Sampai di depan pintu ruang A1, langkahnya terhenti. Jantungnya Kian berdebar kencang. "Bismillahirrahmanirrahim," ucapnya memantapkan diri.


Rasya membuka pintu pelan, melangkah dengan gagah menuju tempat duduk dosen dan meletakkan tasnya di meja. Duduk dan membuka laptopnya, menghubungkan dengan proyektor LCD. Entah mengapa tampilan laptopnya tidak bisa tampil di layar. Kembali mencabut kabel VGA yang terhubung dengan laptopnya kemudian menancapkan kembali, tetapi hasilnya tetap sama, nihil.


Merasa putus asa, ia meraih daftar hadir, bangkit kemudian mendekat ke bangku mahasiswa. Mengedarkan pandangannya menyapu seluruh wajah mahasiswa yang hadir. 'Ternyata dia di kelas ini,' batinnya setelah menemukan wajah gadis yang belakangan ini membuat hatinya gundah gulana.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokaatuh," ucapnya mengawali pertemuan. Terdengar jawaban dari sebagian mahasiswa.


"Selamat, pagi semuanya. Biar lebih akrab, saya harus memanggil kalian gimana nih enaknya? Anak-anak? Adek-adek? Mas-Mbak? Saudara-saudara atau teman-teman?" tanya Rasya.


"Terserah bapak saja enaknya gimana," celetuk salah seorang mahasiswa.


"Ya sudah, kondisional saja sesuai suasana hati saya," jawab Rasya diselingi candaan. "Sudah tahu nama saya semua kan?" tanyanya memastikan.


"Sudah, Pak," jawab semua mahasiswa kompak.


"Sambil mengenal saya lebih jauh, silakan isi daftar hadir sesuai yang hadir saja," Rasya menyerahkan buku yang dipegangnya kepada mahasiswa yang duduk di bangku paling depan. "Tidak ada titip tandatangan!" tukasnya. "Saya akan membacakan satu-persatu nama-nama mahasiswa yang sudah tandatangan langsung. Jika nama yang saya panggil tidak ada orangnya di ruangan atau sedang tidak ijin keluar, saya tidak akan segan-segan memberikan poin D," imbuhnya tegas.


"Ternyata aslinya mengerikan, dasar dosen killer," gerutu Nadia yang masih didengar oleh Prima. Prima menyenggol lengan Nadia.


"Ada yang bisa membantu saya, layar laptop saya kenapa tidak bisa muncul?" Rasya meminta bantuan pada mahasiswa.


Seorang mahasiswa maju menghampiri proyektor langsung menekan-nekan tombol yang ada di sana. Langsung terpampang di layar profil keluarga Rasya di sana.


"Sudah, Pak. Ada lagi yang bisa dibantu?" tanya sang mahasiswa menawarkan bantuan.


"Cukup, terimakasih, Mas. Siapa nama kamu?" sahut Rasya dilanjutkan bertanya.


"Saya Radit, Pak," sahut mahasiswa tersebut.


"Oke, Radit. Terimakasih, silahkan duduk kembali," ucap Rasya. "Oke Mas dan Mbak, saya panggil Mas dan Mbak saja ya? Kita lanjutkan perkenalan kita. Silakan lihat di layar, itu ada profil saya, bisa dibaca ya," berjalan menghampiri meja mengambil laser pen, kemudian menyorot layar dengan benda tersebut. "Ini nomor WA saya, kalian bisa kirim pesan jika hendak meminta ijin tidak masuk jam mata kuliah saya. Jika ada yang tidak masuk pada mata kuliah yang saya ampu, tetapi tidak ada keterangan apapun, saya tidak akan segan-segan untuk memberi nilai D," imbuhnya.


"Saya sudah memberikan toleransi kepada kalian untuk meminta ijin hanya dengan mengirim pesan WhatsApp, saya sudah bermurah hati," tutur Rasya lagi.


Nadia menyimpan nomor ponsel Rasya, disimpan di dalam kontak ponselnya dengan nama My Killer Dosen diakhiri dengan emot 😘.


"Sudah cukup ya perkenalannya?" tanya Rasya.


Seorang mahasiswi mengangkat tangan kanannya. "Pak Rasya, apa masih membuka lowongan buat istri kedua?" celetuk mahasiswi tersebut. Nadia nampak fokus memandang Rasya.


"Istri ke dua ya? Emmm ... kasih tahu enggak ya?" sahut Rasya pura-pura berfikir dengan jari telunjuk kanan mengetuk-ngetuk keningnya. Tiba-tiba tatapan mata Rasya terbentur dengan mata Nadia yang tengah menatapnya juga. Secepat mungkin gadis tersebut mengalihkan pandangannya.


.


.


.

__ADS_1


TBC


Terimakasih yang sudah mau menunggu 😘😘😘


__ADS_2