Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Akhirnya Pulang Kampung


__ADS_3

Hari sudah semakin siang, matahari tengah berada di atas kepala kita. Nadia menuju ke kamarnya hendak membangunkan Mamak dan Mimik untuk sholat dhuhur juga makan siang. Saat ia membuka pintu kamarnya, nampak olehnya sepasang suami istri yang tidak lain dan tidak bukan adalah dua orang pabrik yang menghasilkan dirinya beserta kakak dan ketiga adiknya sedang berebut tempat tidur.


'Kalau seperti ini nanti malam aku harus tidur di mana? Kasihan mereka kalau nanti malam harus tidur di lantai, sementara aku harus tidur di tempat tidur yang mereka saat ini tempati,' pikir Nadia. 'Mendingan nanti malam aku ajak mamak dan mimik tidur di rumah Om Ardi saja, di sana kan banyak kamar yang kosong. Biar besok pagi bisa langsung berangkat dari sana, mobil travel juga tidak kelamaan menunggu. Sekalian ajak Mamak dan Mimik menginap di rumah mewah bak hotel berbintang secara gratis," cetusnya tersenyum sendiri.


Nadia memutuskan untuk menelpon Tania terlebih dahulu sebelum memberitahu mamak dan mimiknya tentang kepulangan mereka besok pagi.


"Ada apa, Nad?" tanya Tania saat teleponnya terhubung.


"Aku sama mamak dan mimik nanti malam mau menginap di rumah kamu ya, Tan. Boleh ya? Soalnya kalau mereka tidur di kamarku uyel-uyelan, nanti aku tidur di mana? Kasihan mamak nanti kalau harus tidur di lantai," tanya Nadia berharap.


"Wah kebetulan sekali, boleh-boleh. Sebenarnya tadi pagi saat di rumah sakit aku udah mau nawari kamu untuk menginap di sini, Nad, tetapi aku tidak enak sama Bu Nastiti - ibunya Mas Rayan," ungkap Tania.


"Jadi boleh ya, Tan?" tanya Nadia sekali lagi untuk memastikan.


"Tentu saja boleh," sahut Nadia.


"Terima kasih, Nad. Udah ya, aku mau bangunin mamak dan mimik dulu," pamit Nadia.


"Iya, jam berapa nanti ke sini ya? biar dijemput sama Edos."


"Jam delapan malam, udah ya, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Setelah menutup ponselnya, Nadia membangunkan Mamak dan mimiknya untuk sholat dhuhur.


*****


Seperti yang telah kita ketahui, Tania dan Edos memutuskan untuk pulang kampung saja, dan menunggu kelahiran putra mereka di kampung halaman. Kasihan Edos kalau harus bolak balik antara Batang-Jakarta. Karena tidak mungkin ia terus tinggal di Jakarta sementara pekerjaannya di pabrik milik orangtuanya menunggunya.


Hari ini Tania dan Nadia berencana untuk pulang kampung dengan menyewa sebuah mobil travel, karena tujuan perjalanan ke kampung mereka searah. Nadia beserta kedua orang tuanya akan pulang ke kota udang Indramayu, sementara Tania dan Edos akan pulang ke Pekalongan.


Mobil yang akan mereka sewa telah terparkir di halaman rumah Tuan Ardiansyah sejak pukul setengah delapan pagi. Untuk mempercepat kepulangan mereka, sejak tadi malam Nadia beserta kedua orang tuanya telah menginap di rumah tersebut.


Setelah menyelesaikan semua persiapan, mereka keluar dan kembali berkumpul di halaman. Barang-barang yang akan mereka bawa ke kampung sudah dimasukan ke dalam bagasi dan bagian belakang mobil.


"Kamu tidak berpamitan sama Bu Nastiti, Nad?" tanya Tania pada Nadia.


"Sudah, tadi pagi lewat telepon, aku takut Tiara akan menangis kalau aku pamit ke rumah beliau langsung," jawab Nadia.


"Kalau ke rumah 'kan bisa sekalian ketemu sama Pak Rasya," goda Nadia.


"Kata Mas Rayan, Pak Rasya lagi di Bandung untuk mengecek perkembangan pembangunan villa," timpal Nadia.


"Kamu percaya?" tanya Tania memastikan.


"Entahlah, percaya tidak percaya. Yang aku rasakan dia seperti sengaja menghindar dariku," jawab Nadia.


Perbincangan mereka hentikan sementara, karena waktu semakin siang. Sebelum masuk ke dalam mobil, Tania menghampiri Dewi, memeluk dan mencium pipi sang mama. "Tania pamit, Ma. Do'akan Tania selamat sampai di rumah, dan melahirkan cucu Mama dengan lancar dan sehat," ucapnya dengan bulir bening yang tak mampu ditahannya.

__ADS_1


"Aamiin ... selalu, Sayang. Do'a terbaik selalu buat anak-anak Mama. Jaga diri kamu dan calon cucu Mama baik-baik," balas Dewi tidak kalah sedihnya. "Kabari kami kalau sudah sampai ya, Nak," pintanya.


"Iya, Ma," sahut Tania. Kini ia beralih mencium punggung tangan Pak Ardi, diikuti oleh Edos.


Setelah semuanya masuk ke dalam mobil dan siap, sang sopir segera menjalankan mobil. Mobil pun bergerak meninggalkan halaman kediaman keluarga Ardiansyah. Mamak Nadia duduk di depan di samping sopir, di kursi bagian tengah diduduki Tania dan Edos, sementara di kursi jok bagian belakangnya duduk Nadia dan mimiknya.


*******


Sementara di rumah Bu Nastiti. Mereka masih berkumpul di ruang keluarga sebelum berpisah dan kembali pada aktivitas masing-masing.


"Rasya, hari ini Nadia akan pulang ke kampungnya, kamu tidak mengantarnya?" tanya Bu Nastiti pada anak sulungnya.


"Rasya ada jadwal mengajar pagi, Bu. Lagi pula Rasya siapanya dia? Sudah cukup buat Rasya menungguinya setiap malam selama dia koma," sanggah Rasya.


Bu Nastiti menyipitkan matanya mendengar jawaban sang anak sulung. Tergurat kekecewaan di wajahnya. "Kamu kenapa jadi berubah tidak peduli sama dia sih, Sya? Ibu kecewa sama kamu. Dia itu sudah cukup menderita karena ulah Celine, ya karena kamu juga yang telah salah membawa wanita jahat itu ke dalam kehidupan kamu."


"Ini yang kalian bicarakan Nadia siapa lagi, Bu?" tanya Pak Baskoro.


"Gadis korban penusukan itu, Pak, dia itu yang waktu itu diceritakan oleh Rayan magang jadi OG di perusahaan." Bu Nastiti menjawab pertanyaan Pak Baskoro, lalu beralih kembali pada putra sulungnya. "Tiara butuh dia sebagai pengganti mamanya, Rasya. Sebaiknya kamu buka hati kamu untuk kembali mengambil hatinya. Susah mencari wanita yang bisa menyayangi Tiara seperti Nadia," timpal Bu Nastiti lagi.


"Umurnya jauh di bawah Rasya, Bu. Dia berhak mempunyai pendamping juga yang lebih muda, yang belum menikah serta punya anak," kilah Rasya.


"Kamu tahu bagaimana kondisi Nadia saat ini kan, Rasya?"


"Saya sudah menemui dokter yang menanganinya, Bu. Luka akibat tusukan itu menyebabkan kerusakan rahim sebelah kanannya, dan sebelah indung telurnya harus diangkat. Dokternya bilang kemungkinan Nadia untuk mengandung dan melahirkan keturunan hanya 5%," tutur Rasya.


"Astaghfirullah al'adzim, kasihan sekali gadis itu," pekik Pak Baskoro.


"Dia masih terlalu muda, Bu. Umurnya saja belum genap 19 tahun, sementara Rasya sudah 32 tahun, duda lagi. Mana dia mau?" bantah Rasya.


"Ibu yakin itu hanya alasan kamu saja," sergah Bu Nastiti.


"Kasihan dia loh, Mas. Kemarin dia menanyakan Mas Rasya. Rayan terpaksa berbohong dengan mengatakan kalau Mas Rasya sedang di Bandung untuk mengecek perkembangan pembangunan villa," timpal Rayan ikut bicara.


"Nanti Rasya pikirkan lagi, Bu. Rasya berangkat dulu, Bu, Pak. Takut terlambat," pamit Rasya kemudian mencium punggung tangan kedua orangtuanya secara bergantian. Lalu pergi meninggalkan ruang tengah.


Tinggallah kini Bu Nastiti, Pak Baskoro dan Rayan yang sejak tadi hanya jadi pendengar setia.


"Rayan, apa kamu sudah putuskan mau ambil S2 di mana?" tanya Pak Baskoro pada putra bungsunya.


"Rayan masih menunggu balasan dari Harvard, Pak. Kalau di sana tidak lolos seleksi, ya terpaksa Rayan mau nyusul bang Arya ke Australia," jawab Rayan yang mengambil alternatif untuk menyusul jejak kakak sepupunya.


"Di manapun kamu menempuh pendidikan, Bapak berharap semoga bermanfaat buat kemajuan perusahaan kita," ucap Pak Baskoro penuh harap.


"In sya Allah, Pak," sahut Rayan. Ia bangkit hendak pergi.


"Mau ke mana kamu, Ray?" tanya Bu Nastiti.


"Rayan mau antar Prima kuliah, Bu. Mumpung Rayan belum berangkat ke luar negeri."

__ADS_1


"Ya sudah sana, salam dari ibu ya," seru Bu Nastiti.


"Siap, Bos!" sahut Rayan.


"Bapak juga mau berangkat ke kantor, Bu," pamit Pak Baskoro.


"Iya, hati-hati di jalan ya, Pak."


"Iya, ibu juga jaga rumah baik-baik."


Bu Nastiti mengantar kepergian suaminya sampai di halaman. Ia meraih punggung tangan Pak Baskoro dan menciumnya. Pak Baskoro masuk ke dalam mobil.


"Jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya ya, Supri," seru Bu Nastiti pada sopir pribadi suaminya, Supriyanto.


"Baik, Bu," jawab Supri.


Mobil pun berjalan pelan meninggalkan pelataran dan hilang di balik pintu gerbang. Bu Nastiti masuk kembali ke dalam rumah dan tidak lupa menutup pintu. Ia melanjutkan langkahnya ke kamar Tiara yang pagi ini absen tidak ikut sarapan bersama.


"Bagaimana, Nina?" tanya Bu Nastiti pada asisten rumah tangga yang saat ini di tangannya masih memegang mangkuk berisi makanan untuk Tiara.


"Tiara tetap tidak mau makan, Bu. Mulutnya terkunci," jawab Nina.


"Ya sudah kamu kembali ke dapur saja, sini mangkuknya biar Tiara Ibu yang suapi," ucap Bu Nastiti mengambil alih mangkuk yang dipegang oleh Nina.


Nina pun bangkit meninggalkan kamar Tiara untuk melanjutkan pekerjaannya di dapur.


"Tiara, ayo bangun, Sayang! Eyang putri suapi. Nanti kalau Tiara makannya habis banyak, eyang putri bakal ajak Tiara ke mall, beli boneka Teddy bear yang besar," bujuk Bu Nastiti.


"Te mol cama Mama Nanad, Yanti?" tanya Tiara memastikan.


"Iya kalau Tiara mau, kita ajak Mama Nanad juga," sahut Bu Nastiti berbohong.


"Acik, Aya mau mam, mau cemu Mama Nanad!" teriak Tiara girang.


"Sekarang aa' ...." Bu Nastiti mulai menyuapi. Tiara menyantap setiap suapan dengan lahap.


'Bagaimana jadinya jika Tiara sampai tahu kalau Mama Nanadnya sudah pulang ke kampung. Dan entah bisa kembali ke Jakarta atau tidak? Semua karena mommy dan papa kamu, Tiara,' batin Bu Nastiti Risau.


Ah itu bisa dipikirkan lagi nanti, yang penting sekarang anak kecil itu mau makan. Pikiran Bu Nastiti kembali menimpali.


Sementara di kampus tempat Nadia menuntut ilmu, Rasya sedang duduk kursi ruang Rektor, pikirannya kacau. Tidak dapat dipungkiri ia memang sangat merindukan gadis itu yang sejak sadar dari koma belum ia temui sama sekali.


Seorang pegawai bagian administrasi datang menemuinya setelah dipersilahkan masuk.


"Ini ada surat pembatalan dan pengalihan beasiswa yang harus segera bapak tandatangani," ucap pegawai tersebut menyerahkan sebuah map.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2