Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Bimbingan


__ADS_3

Temperatur udara di sekitar vila pada pagi itu masih begitu dingin. Ini terbukti dari asap yang keluar dari mulut ketika orang sedang berbicara.


"Kamu serius masih tidak mau ikut Mas pulang ke Jakarta?" tanya Rasya pada Nadia beberapa waktu lalu saat ia harus kembali lagi ke Jakarta urusan pekerjaan yang tidak bisa digantikan ataupun ditunda. Rasya merasa khawatir meninggalkan istrinya sendirian di villa hanya ditemani Bi Titin dan Mang Dudung. Seluruh keluarganya sudah kembali ke rumah masing masing esok lusanya setelah pesta pernikahan Nadhif dan Aghni.


"Serius lah, Mas. Tidak apa-apa kan Mas Rasya sendirian ke Jakarta? Berani kan?" goda Nadia membuat Rasya bermuka masam.


"Mas itu mengkhawatirkan kamu, Sayang. Mas tidak bisa meninggalkan kamu yang dalam keadaan hamil, tetapi juga tidak bisa meninggalkan pekerjaan," cicit Rasya.


"Jangan terlalu khawatir, Mas. Kan ada Mang Dudung dan Bi Titin, Nindya juga nanti Nanad minta tinggal di sini buat nemenin. Kang Nadhif dan Mbak Aghni juga kadang menginap di sini." Nadia masih berusaha tersenyum saat melepas kepergian suaminya.


Setelah drama yang alot itu akhirnya Rasya pergi juga. Itu terjadi beberapa bulan lalu. Pria itu juga sempat bolak balik Jakarta-Bandung demi melihat perkembangan kehamilan istrinya.


Satu semester telah dilalui Nadia dengan kuliah via daring. Kini waktunya ia datang ke kampus untuk mengajukan proposal skripsi, tetapi ia sengaja tidak memberitahukan suaminya jika ia datang ke Jakarta.


Nadia menumpang mobil kakaknya - Nadhif yang kebetulan ada urusan pekerjaan di kantor pusat. Aghni juga ikut serta pulang ke rumah orang tuanya di Jakarta. Nadhif mendrop adik perempuannya di halaman kampusnya sekitar pukul sebelas siang.


Nadia berjalan menyusuri koridor kampus menuju ke ruang pegawai administrasi. Perempuan yang kini tengah hamil tersebut langsung masuk ke dalam ruangan, tetapi bukan ruangan kelas atau ruang kerja Rasya. Perempuan itu menutupi kehamilannya dengan pakaian serba hitam dengan potongan longgar serta memakai cadar.


"Maaf, Dek. Kamu mau cari siapa kok tidak mengetuk pintu dulu?" tanya seseorang yang ada di ruangan itu.


Nadia duduk di sofa lalu berkata, "Maaf, Mbak. Saya mau bertemu dengan Mbak Ifada. Apa ini masih ruangannya?" sahut Nadia sembari melepas tali niqobnya.


"Kamu?" pekik Ifada sembari mengacungkan jari telunjuknya. Namun, Nadia hanya menyunggingkan senyumnya.


"Asa Nahdiana? Istrinya Pak Rasya, hei?" pekik Ifada. Wanita itu mendekat ikut duduk di sofa yang sama dengan Nadia dan segera merangkulnya.


"Mbak Ifada apa kabar?" tanya Nadia masih dengan senyum manisnya.


"Alhamdulillah sehat. Kamu sendiri? Ih, udah berapa bulan ini?" tanya Ifada seraya mengelus perut Nadia.


"Masuk bulan ke tujuh, Mbak."


"Wah, udah mau launching dong ya," timpal Ifada.


"Em, Mbak aku mau mengajukan proposal skripsi, tetapi aku tidak tahu siapa dosen pembimbingku," Nadia mulai mengungkapkan tujuannya datang ke ruangan Aghni.


"Kok bisa? Memangnya dosen wali kamu siapa? Kenapa tidak tanya sama Pak Rasya saja?" cecar Ifada.


"Aku balik ke Jakarta saja tidak kasih tahu sama Pak Rasya, mau bikin surprise," sahut Nadia sambil tertawa.


"Tanya dosen wali kamu. Siapa? Pak Irsyad ya?" tanya Ifada lagi.


"Iya, Pak Irsyad," sahut Nadia.


"Sebentar, Mbak carikan datanya," ucap Ifada sembari bangkit dari duduknya kembali duduk di kursi kerjanya.


Wanita berbusana kerja muslimah itu lalu memegang mouse, menggerakkan kursor pada layar komputer yang sejak tadi masih menyala. Nadia menunggunya dengan memerhatikan kegiatan yang dilakukan oleh Ifada dengan memainkan ponselnya.


"Nah, ketemu nih, Nad," ucap Ifada nampak menekan tombol enter pada keyboard komputernya.


"Siapa, Mbak?" tanya Nadia mengalihkan perhatiannya dari layar ponselnya


"Sini lihat sendiri," suruh Ifada.


Nadia bangkit lalu mendekat. "Pembimbing satu Rasya Abdillah, Pembimbing dua Mona Salsabila," ucapnya. "Bu Mona yang mana ya, Mbak?" tanyanya kemudian.


"Bukannya Bu Mona ngajar di Manajemen juga?" Ifada bertanya balik.


"Iya sih, tapi Nanad belum ketemu langsung sama orangnya. Kan satu semester kemarin Nanad kuliah daring," ungkap Nadia.


"Oo, bentar Mbak carikan biodata Bu Mona. Dia memang dosen baru, baru lulus S3 masih lajang lagi. Kabarnya dia sejak sekolah sering ikut kelas akselerasi. Mungkin usianya juga seumuran sama kamu," tutur Ifada.


Seketika wajah Nadia berubah suram. Ada rasa iri di hatinya mendengar cerita gadis seusianya sudah mengantongi gelar S3. Sementara dirinya untuk mendapatkan gelar S1 saja tersendat-sendat. Satu lagi yang membuat Nadia khawatir, ia takut suaminya akan jatuh cinta pada gadis dosen pembimbingnya itu.


"Kamu kenapa? Muka kamu kok pucat begitu?" tanya Ifada khawatir.


Nadia seketika tersadar dari lamunannya. "Eh, tidak apa-apa, Mbak. Mungkin karena sudah waktunya makan, perut minta diisi," ucapnya.


"Iya ini memang sudah waktunya istirahat. Ayo kita ke kantin saja," ajak Ifada. "Eh, tapi kamu mesti nyamar saja, Nad. Biar surprise nanti kalau dia tahu istrinya datang. Sini Mbak Ifa make over lagi wajah kamu, kalau cuma pakai cadar kayak tadi Pak Rasya bisa mengenali pandangan mata kamu yang penuh kerinduan padanya," cetusnya.

__ADS_1


Ifada kembali duduk di sofa di samping Nadia dengan membawa pouch kosmetiknya. Mereka kini duduk berhadapan. Pegawai TU bagian administrasi keuangan itu kini mulai mencoret-coret wajah Nadia terutama bagian mata. Ifada menambahkan bulu mata anti badai palsu pada kedua sisi bulu mata Nadia dan terakhir ia menambahkan sebuah titik bundar berwarna hitam di dahi antara kedua mata Nadia. Nadia hanya menurut saja dengan apa yang dilakukan oleh Ifada terhadapnya.


"Selesai, sekarang pakai cadar kamu," suruh Ifada. Nadia memakai cadarnya. "Tuh kan, kayak bukan Nadia, kalau nggak mengenali postur tubuh kamu pasti Pak Rasya tidak mengenali kamu, Nad," imbuhnya.


Nadia berdiri melangkah menghampiri cermin besar yang ada di ruangan itu. Ia memandangi penampilannya sendiri sekarang. Ini memang bukan dirinya. "Tapi Nanad kan belum sholat Dzuhur, Mbak," ucapnya ragu.


"Sholatnya nanti saja setelah selesai bimbingan, paling tidak sampai jam dua siang," cetus Ifada.


"Baiklah, ayo Mbak kita keluar. Kasihan yang di dalam perut nih," ajak Nadia.


"Yuk," sahut Ifada sambil berdiri menghampiri meja, menyambar tas lalu melangkah mensejajari Nadia yang telah lebih dulu sampai di ambang pintu.


Mereka keluar dari ruangan secara beriringan. Menyusuri koridor kampus melewati teras ruang demi ruang. Pemandangan halaman menyapa dengan anging sepoi-sepoi menghampiri mereka, menerpa tubuh mereka yang tidak remaja lagi. Karena asik bercengkrama kini mereka tidak menyadari jika telah sampai di kantin.


"Mau makan bakso atau nasi, Nad?" tanya Ifada kepada perempuan hamil itu.


"Nasi saja, Mbak. Kira-kira Mbak Asih mengenaliku tidak ya?" terka Nadia.


"Kita lihat saja, yuk masuk," ajak Ifada.


Mereka masuk ke dalam kantin dan mencari tempat duduk yang kosong. Pandangan Nadia tiba-tiba menangkap seseorang yang ia kenal sedang duduk di bangku sudut kantin ditemani seorang wanita cantik.


"Mbak, lihat itu," bisik Nadia memegang lengan Ifada. "Siapa perempuan cantik itu?" tanyanya.


Ifada mengikuti arah pandang Nadia. "Nah, itu yang namanya Bu Mona. Dia dosen pembimbing dua kamu, Nad," ungkap Ifada.


"Oo ... Kita tidak usah ke sana ya, Mbak. Kita duduk di bangku itu saja," pinta Nadia menunjuk ke bangku panjang yang tidak jauh darinya.


"Ya udah ayo, kita duduk di bangku itu," Ifada menyetujui permintaan Nadia. Mereka duduk di bangku yang tadi ditunjuk oleh Nadia. "Kamu mau makan nasi sama apa? Biar Mbak ambilkan," tawarnya.


"Nasi ditambah sayur asem sama telur dadar, jangan lupa kasih sambal," sahut Nadia. "Oh iya, minumannya es lemon ya," sambungnya.


"Oke, jangan kemana-mana," ucap Ifada.


Perempuan itu pergi meninggalkan Nadia yang kini sedang mengarahkan pandang ke arah Rasya. Tidak berselang lama Ifada kembali dengan membawa nampan berisi 2 piring nasi diikuti Asih di belakangnya yang membawakan minuman.


"He, kamu jangan memandang ke arah mereka terus, nanti suami kamu bisa curiga," bisik Ifada sambil meletakkan nampan yang ia bawa ke atas meja.


"Ya buka sedikit saja ketika mau menyuap makanan atau minum, nggak usah semuanya. Gitu saja kok repot," cetus Ifada.


Nadia pun menuruti ucapan Ifada. Ia meminum es lemonnya dengan membuka sedikit bagian bawah cadarnya. "Mbak sepertinya mereka sekarang memperhatikan kita deh," ucapnya seraya menyiapkan nasi ke mulutnya.


"Biarin saja," sahut Ifada acuh. "Eh, kamu udah buat janji sama Pak Rasya kalau hari ini mau bimbingan?" tanyanya.


"Udah tadi," sahut Nadia.


"Pakai nama siapa?" tanya Ifada lagi.


"Putri," sahut Nadia lagi. Ifada tersenyum menanggapi jawaban Nadia.


*****


Setelah selesai makan dan membayarnya, Nadia langsung menuju ke ruangan Rasya. Sementara Ifada kembali ke ruangannya. Nadia berdiri di depan ruang rektor.


Tok tok tok


"Masuk," terdengar seruan dari dalam ruangan.


Nadia meraih gagang pintu lalu mendorong pintu tersebut seraya melangkah masuk. "Permisi, Pak. Nama Saya Putri. Saya yang tadi kirim pesan mau bimbingan skripsi," ucapnya dengan suara dibuat-buat ngapak.


Rasya nampak tersenyum menahan tawa. "Silakan duduk!" ujarnya.


Nadia pun duduk dan langsung membuka tasnya untuk mengambil proposal lalu meletakkan di atas meja.


"Oo, baru mau mengajukan judul atau proposal?" tanya Rasya.


"Proposal, Pak," sahut Nadia kembali dengan logat ngapaknya. Ora ngapak ora kepenak.


Rasya kembali menahan tawa, lalu meraih proposal yang diajukan oleh wanita di hadapannya. Ia mulai membuka-buka buku tersebut. "Proposal apaan ini?" ucapnya mengejek. "Judulnya mengada-ada, sistematika penulisannya juga masih acak-acakan," sambungnya.

__ADS_1


Rasya meletakkan buku itu kembali di atas meja dalam keadaan terbuka. "Mana buku panduan penulisan skripsi kamu? Buka bagian sistematika penulisan!" serunya.


"Buku apa, Pak? Saya belum punya," sahut Nadia. Ia yang panik seketika lupa dengan penyamarannya dan menjawab Rasya dengan suara normal khas Nadia.


"Kamu ini bagaimana? Mau bikin skripsi kok tidak punya buku panduan? Minta sana sama pegawai TU! Dan ini perbaiki lagi judul dan penulisannya," ucap Rasya dengan nada sedikit naik.


"Baik, Pak. Terima kasih, saya permisi," sahut Nadia sedikit menahan emosi atas perlakuan suaminya.


Nadia meraih proposalnya lalu bangkit dan beranjak pergi meninggalkan ruangan itu.


"Tunggu!" seru Rasya.


Nadia pun berhenti sebelum sempat memegang gagang pintu.


Rasya bangkit dari kursi lalu mengejar Nadia. "Mau kemana kamu?" tanyanya.


"Mau ke ruang TU, Pak."


"Kamu pikir saya tidak mengenali istri saya sendiri, hah?" sergahnya.


Rasya menarik punggung Nadia sehingga perempuan hamil itu kini menghadapnya. Ia menarik tali di belakang kepala Nadia, seketika cadar yang dipakai Nadia terlepas, terlihatlah wajah wanita itu yang sedang nyengir kuda karena kedoknya terbongkar.


"Duduk sini!" Rasya merangkul Nadia, membawanya untuk duduk di sofa.


"Mas jahat," ucap Nadia sembari memukul lengan suaminya.


"Kamu juga jahat ke sini kok enggak kasih tahu Mas. Ke sini sama siapa?" Rasya bertanya.


"Ikut kang Nadhif kebetulan ada urusan pekerjaan di kantor pusat katanya. Berarti Mas tadi udah tahu Nanad pas di kantin?" tanya Nadia.


"Bahasa tubuh kamu meskipun kamu tutup pakai baju longgar kebesaran kayak gini, Mas itu udah hapal, Sayang."


Nadia memeluk tubuh Rasya, menghidu aroma wangi tubuh suaminya itu yang sudah menjadi candu. "Kangen," ucapnya.


"Mas juga kangen, Sayang." Rasya menangkup kedua pipi Nadia agar menghadapnya. Pria itu lalu menci*mi puncak kepala dan wajah wanita tersebut dengan rakus. Ci*man yang semula hanya biasa saja menjadi ci*man yang menuntut dan penuh ga*rah.


"Emmh, Mas, Nanad belum sholat Dzuhur," ucap Nadia seraya memberontak melepas pelukannya.


"Ya udah, ayo kita sholat berjamaah, habis itu kita lepas kangen berjamaah pula hehehehe. Mas juga belum sholat," ucap Rasya dengan tidak rela namun tetap disertai kekehan.


Nadia langsung beranjak menuju ke kamar mandi karena memang sudah tidak tahan menahan untuk buang air kecil sekalian berwudhu. Kehamilannya yang semakin besar membuatnya sering ke toilet untuk buang air kecil.


*****


Sore harinya Rasya membawa pulang ke kediaman Keluarga Baskoro. Ini adalah pertama kalinya bagi Nadia setelah kepulangannya ke Indramayu waktu itu, keesokan harinya setelah Purnomo dan Windarti meminta Rasya untuk menikahi Linda.


Rasya menghentikan mobilnya di halaman depan teras supaya Istrinya tidak berjalan terlalu jauh menuju ke dalam rumah. Baru ia membawa mobilnya ke garasi.


Nadia keluar dari mobil dan berjalan dengan santai menuju pintu rumah. Wanita hamil itu berhenti di depan pintu lalu menekan bel.


Pintu dibuka dari dalam dan keluarlah Nina - asisten rumah tangga yang sementara menjadi satu-satunya di keluarga itu.


"Siapa ya? Mau bertemu siapa, Bu?" tanya Nina.


"Mbak Nina, masa tidak mengenaliku sih?" sahut Nadia balik bertanya.


"Lha anda siapa kok ngaku-ngaku kenal sama saya?" Tanya Nina lagi mencoba mengenali Nadia.


Nina belum mengenali Nadia. Bagaimana tidak? Wanita di hadapannya sekarang ini sedang hamil besar dan berat badan hampir dua kali lipat dan pakaian jubah yang kebesaran dan kembali memakai niqobnya. Sementara Nadia dulu lebih suka memakai celana baggy dan kaos lengan panjang, kerudung segiempat dengan tubuh masih kurus ramping seramping kutilang darat.


"Heh, sudah berani datang ke sini kamu!" Ini bukan ucapan Nina, tetapi ucapan seorang perempuan yang juga sedang hamil seperti Nadia. Perempuan itu berdiri dengan berkacak pinggang di belakang tubuh Nina. Siapa dia?


.


.


.


TBC

__ADS_1


Terimakasih semuanya yang sudah membaca


mungkin 2 bab lagi TITIAN CINTA NADIA akan tamat 🙏🙏🙏


__ADS_2