Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Melangkah Beriringan


__ADS_3

Prima masih setia menunggu Nadia ke luar dari ruang rektor di kantin. Namun, sampai nasi dan es jeruk yang ia pesan habis, Nadia belum juga menampakkan batang hidungnya. Ia merogoh ponselnya, mengecek siapa tahu apa pesan dari Nadia, ternyata kosong, lalu ia mengetiknya.


[Nad, udah selesai belum? Aku masih nunggu di kantin nih, jadi pergi bareng nggak?]


send


Pesan WhatsApp tersebut langsung bertanda centang biru. Nampak tulisan Nadia sedang mengetik, Prima menunggu pesan balasan tersebut muncul.


Nadia


[Belum, Prima. Pak Rasya ternyata menyuruhku untuk mengoreksi semua makalah yang kita bawa ke ruangannya tadi. Jadi, pergi barengnya besok lagi saja ya. Soalnya harus selesai hari ini juga, dan nggak boleh dibawa pulang. Maaf ya, Prima πŸ™]


Anda


[O, kalau gitu aku pulang duluan ya, maaf juga nggak bisa nemenin kamu.]


Nadia


[Iya nggak apa-apa, Prima☺️]


Prima bangkit dari bangku tempat duduknya, melangkah mendekati Bu Ida sang pemilik kantin untuk membayar makanan yang ia makan. Dengan langkah santai ia menuju ke tempat parkir untuk mengambil motornya yang terparkir di sana, sekarang tujuannya adalah pulang ke rumah, rencana yang telah disusun bersama Nadia kini gatot sudah alias gagal total karena gadis rantau tersebut mendapatkan tugas dadakan dari sang dosen.


Sementara itu di ruang rektor, Nadia mulai membuka dan membaca makalah dari salah satu teman sekelasnya. Sedangkan Rasya masih memeriksa miliknya, lalu menghampirinya.


"Ini punya kamu sudah saya koreksi," tutur Rasya menyerahkan makalah milik Nadia kepada sang empunya. "Kamu tulis poin dan tanggal pada halaman terakhir seperti ini ya di makalah teman-teman kamu, nanti saya yang tandatangani," imbuhnya membuka kembali halaman terakhir makalah milik Nadia.


"Baik, Pak," sahut Nadia melirik sebentar muka sang dosen.


Rasya kemudian mengambil selembar kertas daftar nilai, meletakkannya juga di meja depan Nadia. "Nanti tolong nilainya disalin sekalian di kertas ini," pintanya.


Nadia hanya mengangguk sambil berucap, "Iya, Pak."


"Jam satu sebentar lagi saya ada jadwal ngisi kuliah di kelas Akuntansi. Sebaiknya kamu makan dulu, nanti nasinya keburu dingin enggak enak. Kalau mau sholat itu ada ruangan di dekat toilet kamu bisa pakai ruangan itu untuk sholat," tutur Rasya lagi menunjuk ke arah ruangan di samping toilet.


"Iya, Pak. Bapak tidak usah khawatirkan saya," sahut Nadia tersenyum, ia memberikan diri untuk menatap wajah orang yang mengajaknya bicara meskipun rasanya grogi. Rasya seketika terpesona melihat senyumannya.


'Ternyata gadis ini memiliki lesung pipit yang akan terlihat jika ia tersenyum tulus, manis sekali' batin Rasya. Sementara yang dipandangi sudah kembali membuka lembar demi lembar makalah yang dipegangnya. "Kamu bawa mukena?" imbuhnya bertanya.

__ADS_1


Nadia kembali mendongak, "Bawa pak, saya selalu bawa mukena praktis jika sedang tidak uzur," sahutnya.


"Ya sudah, saya ke kelas dulu ya. Tunggu sampai saya kembali," pamit Rasya.


"Silakan, Pak," sahut Nadia singkat.


Nadia memandangi punggung Rasya hingga laki-laki yang terpaut usia 14 tahun darinya tersebut hilang di balik pintu. Setelah kepergian laki-laki tersebut, rasanya paru-parunya bisa kembali terisi dengan oksigen. "Huh, mana bisa aku makan di depan dia, waktu itu saja aku sudah buat diriku malu setengah mati," rutuknya pada diri sendiri. "Makan dulu saja dech, nanti baru sholat. Dari pada pas sholat pikiran tidak tenang gara-gara merasakan perut yang lapar," cetusnya.


Sambil membuka dan menikmati nasi kotak dari rumah makan yang dibelikan oleh Pak Rasya, dalam hati Nadia berfikir, mengapa harus dia yang disuruh Pak Rasya untuk mengoreksi tugas makalah kelasnya? Mengapa bukan kakak tingkatannya saja yang lebih senior dan kompeten. Kalau dia semakin dekat dengan dosen kontraktor eh diktator begini 'kan pasti bakal sulit untuk membuang jauh-jauh perasaan yang entah sejak kapan bercokol di dalam hatinya.


Namun, Nadia juga tidak dapat menolak perintah dari dosen yang memaksa tersebut, ia takut nanti akan hal andalan yang selalu menjadi ancaman sang dosen akan diberikan padanya, Nilai E. Bagaimana mungkin seorang yang diterima kuliah dengan jalur prestasi mendapat nilai E? Apa kata dunia? Seorang Asa Nahdiana, gadis yang selalu menjadi bintang kelas sejak di bangku sekolah dulu kala dengan tingkat kecerdasan di atas rata-rata, pada semester pertama kuliahnya mendapatkan nilai E. Oh, tidak! Bisa-bisa beasiswa kuliahnya dicabut tanpa syarat, lalu dipulangkan ke kampung dengan tangan hampa, apa kata para tetangga nanti? Oh Mamak, Mimik, maafkan anakmu ini.


Nadia juga tidak dapat memungkiri kalau dia juga tergiur dengan bayaran yang dijanjikan oleh Pak Rasya, 100 ribu rupiah per makalah. Kalau boleh minta lebih, tidak hanya makalah di kelasnya yang ia koreksi. Semoga saja Pak Rasya juga memintanya untuk mengoreksi juga tugas makalah dari kelas lain, harapnya.


"Habis juga ternyata, gitu lah Nadia, sekali-sekali makan enak, jangan mi ayam, bakso sama bubur ayam melulu," gerutunya pada diri sendiri.


Sudah kenyang, sekarang waktunya ia melaksanakan sholat Dzuhur dengan tenang tanpa memikirkan cacing-cacing yang demo karena minta jatah makan siang. Nadia pun melangkah menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Untung di kamar mandi tersebut disediakan kran air khusus untuk wudhu. Di samping kamar mandi tersebut ada sebuah ruang berukuran 1,5 x 2 meter, Nadia akan melaksanakan sholat di sama. Karena ia tidak membawa sajadah, maka ia akan menggunakan sajadah yang ada di tempat itu sebagai alas sholat.


"Pasti ini bekas dipakai Pak Rasya," gumamnya sambil tersenyum menggelar sajadah tersebut.


Awas lho Nad, saat kamu sujud jangan dibayangin seperti kamu sedang mencium Pak Rasya, karena itu tidak boleh!(Author).


"Ayo pulang! Lanjutkan besok lagi saja!" suruh Rasya yang kasihan melihat tubuh kurus gadis yang masih duduk di sofa ruangannya.


"Memang boleh, Pak? Ini tinggal dikit lagi loh, atau saya bawa pulang saja?" Nadia menjawab dengan pertanyaan.


"Tidak usah, kamu pasti sudah capai, istirahat saja jangan diforsir," cegah Rasya yang kemudian membuka dompetnya. "Ini saya bayar separo dulu, besok sisanya saya lunasi kalau pekerjaan kamu sudah selesai," imbuhnya sambil menyerahkan segenggam uang berwarna merah.


Nadia menerimanya dengan senang hati seraya berucap, "Masya Allah, ini banyak sekali, Pak. Saya belum pernah memegang uang sebanyak ini. Alhamdulillah ya Allah, akhirnya saya bisa makan enak. Terima kasih banyak, Pak."


Rasya menyunggingkan senyum menyaksikan reaksi gadis tersebut yang terlihat lucu. "Kalau hasil kerjamu memuaskan, saya akan tambah pekerjaanmu untuk mengoreksi tugas dari kelas lain," janjinya.


"Beneran, Pak? Sekali lagi terima kasih, Pak," ucap Nadia senang, kembali menyunggingkan senyuman yang menampilkan lesung pipitnya, membuat Rasya kembali terpana.


"Iya. Ayo pulang bareng!" ajak Rasya.


Rasya bangkit dari duduknya, Nadia mengikuti langkahnya di belakang sambil menunduk, hingga mereka melewati koridor, Rasya mengentikan langkahnya. Karena belum siap dengan tindakan Rasya yang berhenti mendadak tersebut, seketika Nadia menabrak punggung laki-laki tersebut.

__ADS_1


"Aduh," pekik Nadia. "Maaf, Pak. Saya tidak sengaja," ucapnya sambil menundukkan kepala dengan jantung berdebar kencang, tidak bisa digambarkan bagaimana bentuk wajahnya sekarang, mungkin warnanya sudah seperti kepiting saus Padang kali ya. Betapa malunya Nadia saat ini, ia sekarang menjadi pusat perhatian orang-orang yang masih berada di kampus tersebut.


Rasya menoleh ke belakang. "Kenapa kamu jalannya di belakang saya begitu, Asa? Saya 'kan jadi kesusahan mau bincang-bincang sama kamu. Sini saja, jalan di samping saya," tegurnya.


"Maaf, Pak. Saya di belakang Bapak saja. Saya tidak mau dibilang mahasiswa sembrono karena berjalan sejajar dengan Pak Dosen," sahut Nadia sungkan.


"Aturan dari mana itu? Asa, kita ini manusia, derajat kita sama di mata Allah kecuali orang yang paling takwa. Jadi tidak ada kata sembrono hanya karena berjalan beriringan dengan seorang dosen," tutur Rasya menolak pendapat Nadia.


"Tapi, tetap saja saya merasa risih, Pak," tolak Nadia.


"Atau kamu mau saya rangkul?" ancam Rasya dengan senyuman licik yang seketika membuat mata Nadia melotot.


"Eh tidak-tidak, Pak. Iya-iya, saya akan berjalan di samping Bapak," selanya. "Apa-apaan sih Pak Rasya? Main rangkul-rangkul sembarangan, bisa merosot jauh ke bawah nanti image aku, apa kata orang-orang nanti? memangnya aku cewek apaan?" gerutunya. Dengan terpaksa ia menuruti perintah sang dosen. Berjalan beriringan di sampingnya.


Sudut bibir Rasya kembali tertarik ke atas membentuk lengkungan, "Gadis yang manis," gumamnya. "Makanya kalau jalan lihat depan, jangan nunduk terus seperti lagi nyari uang yang hilang saja," hardiknya sambil terus memandangi gadis yang sekarang berjalan masih dengan kepala menunduk di sampingnya.


Mereka berjalan beriringan menyusuri koridor hingga sampai di depan area parkir.


"Tunggu di sini, Asa! Saya antar sampai di tempat kost kamu," titah Rasya mencegah Nadia untuk terus melangkah.


"Tidak usah, Pak. Terima kasih. Tempat kost saya dekat kok, lagian ini masih siang, saya jalan kaki saja," tolak Nadia yang merasa risih kalau harus satu mobil dengan dosennya. Ia terus saja melangkah sampai di pintu gerbang.


"Dasar gadis bandel, disuruh tunggu juga," sungut Rasya.


Rasya berjalan cepat menghampiri mobilnya dan segera menjalankannya ke luar dari area parkir. Ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan seseorang, siapa tahu Nadia masih berada di sana. Namun sepertinya gadis tersebut sudah menghilang dari area kampus. Pelan, mobil Rasya meninggalkan pintu gerbang.


Dari kejauhan nampak sosok gadis berhijab seperti yang Rasya kenal sedang berjalan di trotoar. Ia masih mengawasi gadis tersebut sampai hilang masuk ke dalam gang, barulah ia menambah kecepatan mobilnya.


.


.


.


TBC


Semoga suka 😍😍😍

__ADS_1


Terima kasih udah setia😘😘😘


__ADS_2