
Suatu malam ketika Nadia tengah berkumpul dengan teman-teman kostnya sambil membuka buku untuk persiapan menghadapi ujian semester. Ponsel pintarnya bergetar, menandakan ada panggilan video telekonferensi. Tania, Prima dan Rayan sedang menunggunya di sambungan video call. Nadia langsung menggeser ikon berwarna hijau.
"Assalamu'alaikum, sayang-sayang akoh. Kangen nih," sapa Nadia merajuk manja pada teman-temannya. "Tan, maaf ya. Aku enggak jadi ambil cuti kuliah dan mengulang semester depan bareng kamu," pintanya pada Tania.
"Enggak apa-apa kok, Nanad, tapi kamu masih bisa bantu buat tugas-tugas aku donk," sahut Tania.
"Siap, Bos." Nadia menjawab dengan menempelkan jarinya di kening tanda hormat. "Eh, Tan. Liatin baby Atar donk! Udah ganteng kayak ayahnya belum?" celetuk Nadia meminta.
Tania mengarahkan ponselnya ke arah baby Atar yang sedang pulas tertidur sebentar. Lalu kembali menampakkan wajahnya lagi.
"Kapan jadinya kalian balik ke Jakarta, Tan?" Prima mulai urun pertanyaan yang sejak tadi hanya menyimak saja.
"Insya Allah satu bulan lagi, biar bekas jahitan ku sembuh dulu sekalian lebih longgar untuk menyusun persiapan awal kuliah," sahut Tania.
"Kamu lagi dimana, Nanad?" tanya Rayan.
"Lagi ngumpul di kosan nich, Mas Rayan. Kenapa?" tanya Nadia balik.
"Udah enggak tinggal di rumah bapak sama ibuku lagi? Katanya kamu tinggal di sana?" cecar Rayan lagi.
"Sejak ibu sama bapak ke Kendal nengok cucu, aku pindah ke kostan, Mas. Di sana aku enggak ada Teman, Tiara ikut sama ibu sedangkan Pak Rasya juga pergi ke Bandung buat ngecek perkembangan pembangunan villa. Kan aku jadi takut tinggal di rumah segede itu sendirian," ungkap Nadia.
"Kamu enggak balik ke sana lagi, kan mereka sudah pulang?" tanya Rayan.
"Enggak ah, Mas. Aku mau fokus persiapan buat ujian biar dapat nilai bagus, 'kan nggak lucu kuliah karena beasiswa kok nilainya ambles hahaha. Lagian Tiara juga sudah enggak rewel lagi 'kan?" jawab Nadia disertai kekehan.
Tiba-tiba baby Atar bangun dan menangis kencang. Tania pamit dan memutus sambungan video callnya. Rayan juga ikutan pamit. Tinggal Nadia dan Prima yang video call hanya berdua.
"Lagi belajar apa kamu, Nad?" tanya Prima.
"Lagi video call kali, mana bisa belajar." Nadia hanya mencebik.
"Hahaha, ngapain kita video call? Orang kita ketemu tiap hari juga. Kita ini kayak orang lagi pacaran saja," sergah Prima.
Terlihat notif panggilan dari Mamak di ponsel Nadia.
"Udah dulu ya, Pim. Mamak aku telepon nih, takutnya penting, aku angkat dulu ya," pamit Nadia.
"Ya udah. Angkat saja, selamat kangen-kangenan sama Mamak ya, Nanad sayang. Assalamu'alaikum," Prima pamit dan memutus video callnya. Nadia kini berpindah ke luar rumah.
"Assalamu'alaikum, Mamak," sapa Nadia pada ayahnya.
"Wa'alaikumussalam, Sayang. A'ang lagi ngapa?" jawab dan tanya Mamak.
"Nadia lagi kumpul bareng teman kost, Mak. Ada apa telepon malam-malam?" tanya Nadia yang sedikit heran tidak biasanya sang ayah telepon malam-malam.
"Kamu sudah tidak tinggal di rumah Pak Rasya kan, Ang?" Mamak malah menjawab pertanyaan Nadia dengan pertanyaan pula.
"Tidak, Mak. Nadia sudah kembali tinggal di rumah Mbak Rumi. Tiara juga sudah tidak rewel lagi," jawab Nadia.
"Syukurlah kalau memang begitu. Sebenarnya ada sesuatu yang mau Mamak sampaikan sama A'ang." Mamak berbicara seperti menahan beban berat.
"Ngomong saja, Mak. Nadia siap mendengarkan," sahut Nadia yang masih penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh ayahnya.
"Mamak sudah menerima khitbah untuk kamu dari seseorang dan mamak tidak enak untuk menolaknya," ungkap Mamak.
__ADS_1
"Apa, Mak?" Nadia terperanjat tidak percaya. 'Bagaimana dengan Pak Rasya?' pikirnya.
"Dia pemuda yang baik dan juga salih, Nad. Mamak sudah pernah menolaknya, bahkan sudah menceritakan semuanya tentang kamu, tetapi dia terus berusaha untuk bisa menikah dengan kamu," tutur Mamak menjelaskan.
"Tapi, Mak. Bagaimana dengan Pak Rasya?" tanya Nadia frustrasi.
"Lupakan hubungan kamu yang nggak jelas itu dengan Pak Rasya. Kita ini dari kalangan orang miskin, Nad. Tidak pantas berhubungan dengan keluarga kaya seperti mereka."
Mamak mencoba menasehati. Namun, bagi Nadia nasehat itu seperti godam besar yang memukul kepalanya.
"Iya, Mak. Kalau menurut Mamak orang itu baik, Nadia akan berusaha menerimanya. Tapi apa dia akan mengijinkan Nadia tetap meneruskan kuliah, Mak?" tanya Nadia sedikit ragu.
"Pasti, Sayang. Dia itu sudah lama memendam perasaan sama kamu. Dia pasti juga menginginkan kamu bahagia. Mulai sekarang kamu harus jaga jarak dengan laki-laki manapun kecuali mahram kamu ya, Nad," jawab Mamak meminta pada Nadia.
"Iya, Mak. Tapi sekarang Nadia bingung bagaimana caranya bilang sama Pak Rasya?" Ucap Nadia.
"Bilang saja terus terang pada laki-laki plin-plan itu. Sudah ya, Mamak tutup dulu teleponnya. Sudah malam kamu harus istirahat. Jangan terlalu dipikirkan. Assalamu'alaikum." Mamak mengakhiri panggilannya.
"Wa'alaikumussalam," jawab Nadia lesu.
Dengan langkah gontai Nadia melangkah masuk ke dalam rumah, langsung menerobos ke dalam kamar. Ia menghempaskan tubuhnya miring di kasur busa usangnya. Seketika butir-butir air matanya bergulir tak dapat ia tahan lagi. 'Mudah sekali mamak bilang tidak usah dipikirkan. Bagaimana mungkin aku bisa membuang perasaan cintaku pada Pak Rasya ini begitu saja. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupanku kelak menikah dengan seorang pria yang sama sekali tidak pernah ada dalam bayanganku.'
Hingga dini hari Nadia belum bisa memejamkan mata. Berkali-kali ia membuka kolom chat dengan Rasya tetapi ia urungkan kembali. Akhirnya ia malah tidak sengaja menekan ikon panggilan. Ternyata orang yang ditelepon mengangkatnya.
"Nanad Sayang, kamu belum tidur?" tanya Rasya dengan suara serak khas bangun tidur.
Nadia masih terdiam, hanya mendengarkan suara Rasya.
"Ada apa, Sayang hemm?" Tanya Rasya lagi.
"Kenapa suara kamu jadi sengau? Kamu sakit?" cecar Rasya yang merasa sedikit aneh dengan gadis tersebut.
"Tidak, Pak. Aku tidak lagi sakit. Aku baik-baik saja. Aku hanya lagi kangen sama Bapak. Pengen dengar suara bapak," jawab Nadia.
"Mas juga kangen sama kamu kok, Sayang. Besok pagi Mas pulang ke Jakarta, kita ketemu setelah jam kuliah kamu selesai ya, Sayang," bujuk Rasya.
"He'eh," sahut Nadia.
"Ya udah, kamu tidur ya. Apa perlu Mas nyanyi lagu Nina Bobo?" tawar Rasya.
"Tidak perlu," jawab Nadia singkat.
"Met bobo, Sayang. Assalamu'alaikum." Rasya menutup panggilan.
"Wa'alaikumussalam."
Karena sudah sangat lelah, akhirnya Nadia pun terlelap.
******
Paginya sekitar pukul tujuh, di restoran Merysta Hotel Bandung. Rasya tengah menikmati sarapan pagi bersama Amir.
"Kita harus pulang ke Jakarta pagi ini, Mir," ungkap Rasya begitu tiba-tiba di sela-sela ia menikmati sarapannya.
Amir membelalakkan matanya. "Kenapa mendadak sekali, Pak?" tanyanya.
__ADS_1
"Entahlah, perasaanku tidak enak, Mir. Aku tidak bisa menunggu hingga nanti sore," jawab Rasya.
"Iya, Pak. Tidak apa-apa, setelah selesai sarapan saya akan siap-siap," timpal Amir.
Mereka menyelesaikan sarapan paginya. Setelah itu mereka kembali ke kamar masing-masing untuk packing barang-barang. Pukul 08.00 mereka telah meninggalkan hotel Merysta.
Tepat waktu duhur tiba, mobil mereka memasuki kawasan gedung Baskoro Groups. Keluar dari mobil, Rasya langsung menaiki lift menuju ke ruangannya. Sampai di ruangan ia langsung merebahkan diri di sofa. Ia ingin memberi kabar kepada Nadia bahwa ia telah sampai di Jakarta. Maka ia mengirim chat WhatsApp messenger kepada gadis tersebut.
[Sayang, Mas sudah sampai di Jakarta nih, kamu lagi dimana?]
Chat tersebut langsung mendapat balasan dari Nadia.
[Di kosan]
Rasya membalas pesan Nadia tersebut.
[Siap-siap Mas jemput. Pakai celana ya, Mas bawa motor milik Rayan.]
Nadia membalasnya lagi.
[Iya]
Rasya sejenak berfikir, 'ada apa dengan kamu, Nanad? Kenapa kamu sekarang berubah jadi gadis penurut? Mana diri kamu yang pembangkang?'
Rasya mengambil tas selempang dari dalam kamar khusus yang ada di ruangan kantornya, memasukan ponsel, dompet, serta kunci motor ke dalam tas tersebut. Meletakkan tas tersebut di atas kasur busa. Ia menyeret kakinya menuju ke toilet, lalu keluar lagi dengan wajah yang cerah.
Keluar dari ruangan Rasya masuk ke dalam lift khusus direksi yang langsung menuju ke basemen parkir. Dengan mengendarai motor milik adiknya Rasya langsung meluncur ke tempat kost Nadia.
20 menit berlalu motor yang di kendarai Rasya telah sampai di halaman rumah Mbak Rumi. Nadia sudah menunggunya dengan duduk di kursi yang ada di teras rumah. Tidak seperti biasanya yang polosan tanpa make up, kali ini wajah Nadia nampak dipoles bedak dan lipstik yang menghiasi bibirnya. Hal ini membuat Rasya semakin bertambah heran.
Nadia berjalan menghampiri Rasya dengan senyum yang dipaksakan. Tanpa banyak bicara ia segera memakai helm dan duduk bertengger di belakang Rasya. Rasya langsung melajukan motornya menembus jalanan ibukota yang padat di siang hari. Mereka melalui perjalanan dengan hanya diam. Nadia memeluk pinggang Rasya dengan erat, menyandarkan tubuhnya pada punggung pria itu. Rasya tidak banyak bertanya atas sikap gadis cantik yang sekarang duduk di belakangnya tersebut.
Hingga Rasya membawa motornya memasuki gerbang sebuah rumah makan pun Nadia nampak diam saja.
"Kita makan siang dulu ya, Sayang!" ajak Rasya menatap gadis itu saat ia telah memarkir motornya. Nadia hanya mengangguk.
"Mau atau tidak kok enggak jawab?" tanya Rasya memastikan.
"Iya mau," jawab Nadia menegaskan.
Rasya menggandeng tangan Nadia, menyeret gadis itu masuk ke dalam rumah makan. Rasya membawa Nadia ke sebuah ruang privat yang sudah ia reservasi saat berada di Bandung pagi tadi. Ia juga sudah memesan makanan dan minuman untuk mereka berdua. Mereka duduk berhadapan.
"Kamu kenapa sekarang lebih banyak diam. Kamu bilang kangen sama Mas? Sekarang kita sudah ketemu, tapi Mas seperti tidak mengenal siapa kamu," tanya Rasya dengan segala rasa herannya. "Setelah makan kita akan fitting baju pengantin, lalu kita cari cincin pernikahan, kamu suka?" lanjutnya.
Mendengar itu Nadia membuka lebar matanya, seketika hatinya berbunga-bunga, ternyata Pak Rasya sungguh-sungguh mencintainya. Namun, sesaat kemudian wajahnya kembali muram manakala ia teringat apa yang telah disampaikan oleh mamaknya.
"Maaf, Pak, tapi aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita sampai ke jenjang pernikahan," ucapnya dengan bulir air mata yang mulai menyeruak.
"Kenapa, Sayang? Apa tidak ada secuil pun rasa cintamu untuk Mas? Apa kamu merasa Mas ini terlalu tua untukmu? Atau karena Mas duda? Kamu mau memilih calon suami yang sepantaran dengan kamu? Atau kamu mau kita menunda pernikahan sampai kamu lulus kuliah? Mas akan sabar menunggu kalau itu mau kamu," cecar Rasya. Nadia menggeleng tak kuasa menjawab.
.
.
.
__ADS_1
TBC