Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Jalan Belakang


__ADS_3

Rayan yang hendak keluar dari ruangan Rasya, tiba-tiba berhenti diambang pintu karena teringat sesuatu. "Oh iya, Mas, laptop Mas Rasya yang ada di perpus rumah yang enggak kepakai itu, apa boleh dijual?" tanyanya.


"Sejak kapan kamu jadi pengepul barang second?" sergah sang kakak.


Dengan terpaksa handle pintu yang sudah dipegangnya itu ia lepas lagi, kembali menghampiri sang kakak dan duduk di hadapannya.


"Temanku minta dicarikan laptop, Mas. Tapi uangnya cuma tiga juta," ungkap Rayan.


"Yang benar saja kamu, Ray! Masa laptop canggih ku itu kamu hargai tiga juta? Belikan saja notebook baru. Di toko banyak kan yang harga segitu," sergah Rasya.


Rayan mengedikkan bahunya, "Yah, kalau Mas ngijinin sih, enggak juga enggak apa-apa kok namanya juga usaha menyenangkan teman, daripada mubazir tuh laptop," ucapnya pasrah dan berdiri kembali.


"Memangnya buat temanmu yang mana lagi sih? Bukannya Prima kemarin sudah dapat laptop?" tanya Rasya penasaran.


"Ini buat temannya Prima, Mas. Nadia," jawab Rayan singkat.


"Apa? Maksud kamu Asa Nahdiana?" Tanya Rasya terkejut, Rayan mengangguk. "Ya udah, kasihkan saja ke dia enggak usah minta bayar. Pasti itu uang hasil koreksi tugas dariku kemarin," imbuhnya.


"Makasih, Mas," ucap Rayan singkat yang sudah mau pergi.


"Oh iya, Rai. Apa kamu tahu kenapa dia tadi tidak datang ke ruangan ini? Di kantin juga Mas tidak melihatnya?" Rasya mengungkapkan pertanyaannya yang sejak tadi pagi hanya tersimpan di benaknya.


"Kenapa Mas Rasya tidak menanyakan langsung ke orangnya, menelpon misalnya?" sergah Rayan.


"Mas tidak menyimpan nomor ponselnya, Ray," sesal Rasya.


"Dia tadi pagi sakit, Mas. Badannya lebam-lebam dan panas tinggi. Aku heran, masa kerja mengoreksi tugas makalah saja sampai lebam-lebam gitu?" jawaban Rayan seperti menyindir Rasya dengan tatapan mengintimidasi.


"Terus kamu curiga sama Mas? Kamu pikir Mas kamu ini mukulin dia di ruangan ini, gitu?" Seringai Rasya. Rayan masih menunggu penuturan sang kakak. "Asal kamu tahu ya, Ray. Kemarin sore tepat waktu Maghrib dia berkelahi melawan tiga preman yang mencoba melecehkannya di depan kampus ketika hendak pulang. Hebat sekali 'kan dia?" Rasya bercerita tentang gadis itu disertai dengan pujian karena tidak terima dengan tuduhan adiknya.


Seketika mata Rayan membulat mendengar penuturan sang kakak. "Apa, Mas? Berkelahi?Melawan tiga preman sekaligus? Gadis kurus itu?" Tanyanya beruntun tidak percaya tetapi hanya dijawab dengan sekali anggukan oleh sang kakak.


"Dia itu gadis yang istimewa 'kan, Ray? Ternyata tidak hanya otaknya yang encer, tetapi dia juga jago beladiri. Sayangnya kemarin kekuatan mereka tidak seimbang satu lawan tiga, sehingga dia lengah dan kena pukul," ungkap Rasya membanggakan mahasiswinya.


"Hemm ... Iya-iya, dia memang istimewa, Mas. Tetapi ingat, Mas jangan gegabah! Jangan sampai nasibnya seperti Wina dulu, karena Celine pasti tidak akan tinggal diam jika mengetahui akan hal ini," Rayan mengingatkan kembali kepada sang kakak tentang kejadian dua tahun yang lalu.


"Kamu pikir kakak kamu ini pedofil apa? Menyukai muridnya sendiri. Aku cuma kasihan dan kagum saja sama dia, Ray. Seorang gadis hidup di kota besar ini sendirian," sanggah Rasya.


"O ... cuma kasihan? Kagum ya?" sindir Rayan. "Terserah, Mas deh. Mulut Mas boleh ngomong tidak, tetapi mata Mas nggak bisa bohong kalau Mas Rasya itu suka sama dia. Aku pulang saja ah, Mas," pamitnya langsung beranjak keluar tanpa memperdulikan reaksi dari sang kakak.


"Titi deje, Ray!" sahut Rasya.


Rayan yang sudah berada di luar pintu ruang rektor, mendengar seruan dari kakaknya pun terkekeh geli. "Hahaha, bahkan gaya kalian pun sama," gumamnya.


Sementara Rasya yang masih duduk di kursi kehormatannya. Ia nampak menyandarkan punggungnya yang terasa pegal akibat kebanyakan aktivitas duduk seharian. "Apa benar aku menyukainya?" tanya pria itu pada diri sendiri. "Aku lebih rela harta bendaku menjadi miliknya, dari pada dimiliki oleh Celine, istri durhaka itu," gumamnya.

__ADS_1


"Ponsel? Mana ponsel itu?" Rasya seketika teringat ponsel duplikat dari ponsel Celine yang dibuat oleh sahabatnya, Doddy. Ia merogoh tas laptopnya, dimana ia selalu menyimpan ponsel canggih tersebut sejak ia menerimanya dari sang peretas.


"Mumpung lagi waktu senggang, aku akan membukanya sekarang. Aku akan segera tahu siapa dirimu yang sebenarnya wanita ular," gumamnya.


Rasya mulai membuka ponsel tersebut mulai dari galeri foto, bahkan foto-foto lama yang sudah musnah di ponsel Celine pun juga ada di ponsel canggih tersebut. Rasya melihat foto sepasang pengantin yang tengah mengikat janji suci di atas altar. Ketika ia melihat waktu ketika foto tersebut diambil, dia terperangah.


"Foto ini diambil satu tahun sebelum aku menikah dengan Celine," cicitnya. "Jadi selama ini seorang Rasya Abdillah Bagaskara telah ditipu oleh Celine mentah-mentah dengan pernikahan palsunya. Pantas selama ini dia tidak pernah mau melayaniku sebagai seorang suami, ternyata dia masih punya suami. Aku harus menyelidiki siapa laki-laki bule dalam foto ini, pasti dia berasal dari negara yang sama dengan Celine," umpatnya.


Rasya menutup galeri foto dalam ponsel yang dipegangnya. Kini ia beralih ke aplikasi m-banking dan membukanya. Rasya tercengang saat melihat saldo dalam rekening milik Celine tersebut. Seratus milyaran? Memang jumlah tersebut hanya berapa persen saja dari kekayaan keluarga Baskoro, tetapi ia tidak rela harta itu dimiliki oleh perempuan selicik Celine. Mendingan diinfakkan ke masjid atau didonasikan ke Gaza biar lebih manfaat. Ia meraih ponselnya yang ia letakkan di meja. Ia ingin menelpon Doddy saat ini juga.


"Halo, Brow. Gimana kabar? Sudah buka ponselnya?" tanya Doddy langsung setelah panggilan tersambung.


"Alhamdulillah tidak sampai terkena stroke saat mengetahui saldo di rekening Celine," jawab Rasya berusaha setenang mungkin.


"Hahaha, sekarang kamu tahu 'kan siapa istri kamu yang sebenarnya. Eh, maksud aku istri palsu kamu. Aku heran, kamu dapat darimana perempuan licik seperti ular itu?" Ucapan Doddy seketika membuat hati Rasya terpojok.


"Sudahlah enggak usah bahas itu dulu! Sekarang yang terpenting, bagaimana caranya memindahkan uang dalam rekening Celine tanpa ia tahu kalau uang itu sudah berpindah?" Rasya memfokuskan pembicaraan pada tujuannya semula.


"Itu masalah kecil, Brow. Tinggal tekan enter doank, selesai. Aku kasih ponsel itu supaya kamu bisa tahu siapa perempuan itu sebenarnya, biar mata kamu terbuka. Untungnya dia ceroboh. Memang uang itu mau kamu alihkan ke mana?" tanya Doddy.


"Sebentar aku kirim via chat WA saja, aku tutup panggilan dulu ya."


"Oke," sahut Doddy.


Sesuai janjinya, Rasya mengetik nomor rekeningnya dan mengirim via chat WA. Dalam hitungan detik chat tersebut mendapat balasan dari Doddy.


Rasya membuka kembali aplikasi m-banking milik Celine, benar saja apa yang dikatakan Doddy. Di dalam saldo rekening Celine tinggal 5 digit saja dan tidak ada rekaman mutasi sama sekali di sana. Rasya kemudian membuka m-banking rekening yang dikirimkannya ke Doddy tadi yang sebenarnya rekening tersebut hanya dikhususkan untuk donasi, sekarang uang tersebut telah pindah ke rekening donasi tersebut.


"Alhamdulillah, semoga uang ini lebih bermanfaat nantinya," Rasya bersyukur satu masalah terselesaikan.


[Thanks ya, Brow.]


Doddy


[Sama-sama.]


**********


Selama 5 hari Nadia beristirahat di rumah tanpa melakukan aktivitas apapun kecuali tidur dan ke kamar mandi, apalagi untuk berangkat kuliah. Ia tidak mau dibawa ke rumah sakit bukan hanya takut dengan tagihan biayanya, tetapi juga takut didiagnosis bahwa dia terkena virus covid.


Hari ini ia akan kembali berangkat kuliah. Namun ia masih trauma bertemu dengan preman waktu itu jika akan melewati jalan raya untuk menuju ke kampusnya. Ia menanyakan kepada Mbak Rumi barangkali ada jalan lain menuju ke kampusnya selain melewati jalan raya. Nadia menemui ibu kostnya tersebut yang sedang berada di dapur.


"Mbak, apa ada jalan lain ke kampusku selain melewati jalan raya? Aku takut ketemu kawanan preman lagi kalau pas berangkat atau pulang kuliah sendirian," tanya Nadia.


"Ada jalan menuju ke kampusmu, di ujung gang depan rumah ini, tetapi nanti tembusnya di pintu gerbang belakang kampus. Mbak Asih kakak Mbak Rumi pelayan di kantin milik Bu Ida, juga sudah terbiasa lewat jalan itu," ungkap Mbak Rumi panjang lebar menjawab pertanyaan Nadia.

__ADS_1


Wajah Nadia kini mulai berbinar. "Iya kah, Mbak?" tanyanya.


"Kalau kamu mau, ayo Mbak bisa antar?" tawarnya.


"Iya aku mau Mbak," jawab Nadia antusias. "Aku ambil tas dulu ya, Mbak," pamitnya yang segera melangkah menuju ke kamarnya dengan setengah berlari, senyum mengembang seakan terpatri di bibirnya.


Nadia masuk ke dalam kamar, sesaat kemudian ia keluar dan sudah siap untuk berangkat kuliah. Tidak lupa ia mengunci pintu kamar, Mbak Rumi sudah menunggu di depan kamarnya tersebut. Mereka pergi dengan berjalan kaki supaya Nadia bisa menghafal jalannya.


"Kalau kamu mau pulang sampai sore atau malam, kamu bisa ke kantin. Pulang bareng Mbak Asih," cetus Mbak Rumi.


"Iya, Mbak," sahut Nadia.


Sepuluh menit kemudian mereka telah sampai di gerbang belakang kampus.


"Nah, sudah sampai, Nad. Mbak pulang dulu ya? Kamu hati-hati," pamit Mbak Rumi.


"Iya, Mbak. Ternyata lebih dekat lewat sini ya. Terima kasih banyak, Mbak," ucap Nadia senang.


Nadia menghembus napas dalam-dalam kemudian membuangnya perlahan-lahan. Ia pandangi bangunan megah berlantai tiga di depannya dengan senyum menghiasi bibirnya. Ia merasa bersyukur gadis miskin sepertinya bisa kuliah di perguruan tinggi elite tersebut.


Gadis kurus yang wajahnya masih terlihat sedikit pucat tersebut melangkahkan kakinya memasuki gerbang dan langsung menuju ke kelasnya.


"Nadia!" seru Prima yang hendak memeluk Nadia.


Namun, tangan Nadia menahannya. "Jaga jarak!" ucapnya.


"Kangen," cicit Prima cemberut.


"Aku juga kangen kalian kok," sahut Nadia.


Prima merangkul Nadia untuk duduk di bangku yang masih kosong. Mereka sejenak terlihat obrolan ringan dan serius karena Nadia menanyakan apakah ada tugas selama lima hari ini sebelum akhirnya Bu Siska datang untuk memberikan kuliah. Mereka mengikuti mata kuliah yang diampu oleh Bu Siska hingga selesai.


Saat Rasya masuk untuk mengisi jadwal kuliah berikutnya. Matanya nampak berbinar memandangi gadis yang selama lima hari kemarin tidak dilihatnya tersebut.


'Wajahnya masih nampak pucat, ingin rasanya kuberikan dadaku untuk dia menyandarkan kepalanya dengan nyaman,' batin Rasya memandangi Nadia.


"Pak Rasya, apa mata Bapak terkena penyakit tidak bisa berkedip?" celetuk salah seorang mahasiswa yang seketika berhasil membuyarkan lamunan dosen berusia kepala tiga tersebut.


Gerrr ....


Seketika tawa memenuhi ruangan.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2