
"Sampai kapan sih aku seperti ini terus, Mas?" tanya Nadia pada suaminya.
Saat ini posisinya tengah berbaring dengan pinggul dialasi dengan sebuah bantal serta kaki diluruskan ke atas headboard ranjang sehingga posisi perut lebih rendah dari pada pinggul. Setiap selesai melakukan hubungan badan Rasya selalu meminta Nadia melakukan hal itu.
"Cuma 25 menit, Sayang. Dan ini berlaku sampai kamu benar-benar dinyatakan hamil," jawab Rasya yang tengah berbaring sambil sesekali melihat layar ponselnya yang sudah disetel alarm.
"Mas 'kan juga sudah tahu, kalau dokter sudah memvonis aku bisa hamil cuma lima persen," sergah Nadia.
"Apa salahnya kita mencoba dan berusaha? Makanya besok siang kita periksa ke dokter spesialis kandungan. Kamu sejak operasi itu juga tidak pernah kontrol lagi bukan? Kita cari pendapat dokter lain," timpal Rasya masih membujuk Nadia.
"Besok pagi aku ada rapat panitia ospek, Mas. Setelah itu aku mau main ke tempat Tania, aku sudah kangen banget sama baby Atar. Aku takut kalau mendengar vonis dokter masih sama seperti yang dulu," tolak Nadia.
"Panitia ospek? Siapa yang ngijinin kamu heh?" tanya Rasya.
"Ih, Mas ini nyebelin banget deh. Orang aku udah jadi panitia sebelum nikah sama Mas Rasya kok," elak Nadia.
"Awas saja kalau kamu nyari perhatian sama para junior cowok kamu," ancam Rasya.
"Berarti kalau nyari perhatian sama senior boleh ya?" sergah Nadia yang langsung mendapat pelototan dari Rasya.
"Besok kegiatannya enggak sampai sore kan? Jam dua siang kita ke dokter kandungan," paksa Rasya.
Nadia mendesah tidak terima. "Udah dibilang siangnya aku mau ke rumah Tania. Ke dokter bisa besoknya lagi kan, Mas? Lagian aku belum mau hamil. Aku masih mau kuliahku selesai. Nikah saja umurku belum cukup, masih hutang satu tahun lagi kan, masa sudah mau hamil," imbuhnya.
"Teman kamu Tania juga hamil pas kuliah," ucap Rasya mencoba menguatkan alasannya.
"Iya, tapi kuliahnya kan jadi tersendat-sendat karena harus ambil cuti, udah satu tahun baru melewati satu semester doang," timpal Nadia.
"Umur Mas sudah berapa kalau nunggu kamu lulus kuliah, Sayang? Sekarang saja sudah 33 tahun," tanya Rasya.
"Hitung saja sendiri. Paling nunggu tiga tahun atau tiga setengah tahun lagi," sahut Nadia. "Ini udah 25 menit belum sih, Mas? Kok rasanya lama sekali, capek aku. Pegal juga pinggangku. Kebelet pipis juga nih," kesal Nadia.
"Sabar, Sayang. Biar adonannya lekas jadi, tidak ambyar. Tinggal nunggu lima menit lagi," bujuk Rasya.
"Tapi udah kebelet pipis banget ini," keluh Nadia.
"Kalau kamu pipis, bisa terbuang sia-sia nanti benih yang sudah Mas tanam bersama air seni kamu," decak Rasya.
"Analisa darimana itu? Udah ah, udah enggak tahan," ucap Nadia menurunkan kakinya lalu beringsut bangkit dan berlari menuju ke kamar mandi. Rasanya ia sudah tidak tahan lagi, bisa-bisa jebol kemihnya kalau sampai menunggu beberapa saat lagi.
Nadia sekalian melakukan mandi besar sebelum tidur, biar perasaannya tenang dan ketika bangun tidak perlu memikirkan untuk mandi lagi. Keluar dari kamar mandi, Nadia langsung mengganti pakaiannya dengan piyama tidur. Ia lalu berbaring di samping suaminya.
"Selamat tidur, Suamiku," ucap Nadia seraya mencium kening suaminya.
Suasana kini hening, tidak ada pembicaraan yang lagi. Mereka terlelap tenggelam dalam mimpi masing-masing. Mereka tidur dengan saling berpelukan.
******
Pagi hari sebelum berangkat kuliah, Nadia menyempatkan diri untuk memasak seadanya, nasi goreng. Sementara Nina pagi ini memasak buntil isi ikan teri nasi ditambah ikan pakang goreng kerupuk.
Setelah semuanya siap di atas meja, Nadia segera kembali ke dalam kamarnya untuk untuk mandi dan bersiap-siap sambil menunggu sang suami pulang dari jalan pagi.
Nadia keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk untuk kemben, sehingga kaki dan lehernya yang jenjang terekspos. Sementara rambutnya yang basah ia bungkus dengan handuk kecil. Saat ia tengah bersenandung kecil sambil membuka lemari pakaian untuk mempersiapkan pakaian kuliah untuk dirinya sendiri dan pakaian untuk Rasya, tiba-tiba ada tangan kekar melingkar di pinggangnya dan mengendus di belakang lehernya.
"Melihat kamu cuma pakai handuk seperti ini, Mas jadi pengen nambah yang tadi habis subuh," ucap pria itu parau sambil mengendus tubuh wangi Nadia yang beraroma sabun dari leher hingga ke pundak
"Mas, aku udah mandi," ucapnya menepis tangan Rasya.
"Mas pengen nyelup sebentar saja, Sayang. Nanti kita mandi bareng," bisik Rasya tepat di telinga Nadia.
__ADS_1
Sementara jemari pria itu dengan mudahnya menyibak bagian bawah handuk, bermain di tempat favorit daerah terlarang milik istrinya.
"Mas, akh ..." Nadia pun tak kuasa untuk menolak ajakan suaminya.
Pelan, Rasya membimbing wanita pujaan hatinya menuju ke ranjang, tetapi tidak melepas kegiatan jarinya. Pria itu menepati janjinya mereka hanya bermain celup-celupan sekitar 15 menit, setelah itu mereka mandi bersama.
Kini mereka telah rapi dan siap untuk berangkat. Mereka keluar dari kamar dan turun ke lantai dua bergandengan.
Sampai di ruang makan, Nadia duduk di samping Tiara. Rasya duduk di sampingnya.
"Mama, kapan antal Aya colah?" Tanya Tiara tiba-tiba kepada Nadia.
Sudah tiga bulan Tiara dimasukan ke PAUD, karena umurnya sudah empat tahun.
"Aduh, kapan ya, Sayang? Soalnya Mama kan juga kuliah. Nanti kalau Mama pas libur dan Tiara enggak libur pasti Mama antar Tiara," jawab Nadia hati-hati takut membuat Tiara menangis. Tiara pun mengangguk.
"Dandi ya, Mama!" ajaknya menyodorkan jari kelingkingnya, berharap Nadia menyebutnya dengan menautkan jari kelingkingnya juga.
Nadia pun mengabulkan harapannya, ia menautkan jari kelingking kanannya ke jari kelingking mungil Tiara. Sesaat mereka melakukan janji kelingking.
Nadia kemudian mengambilkan nasi goreng untuk Tiara dan meletakkan di depan gadis bule tersebut. Ia lalu mengambil piring yang masih tertelungkup di hadapan Rasya.
"Papa mau makan apa? Nasi goreng atau nasi putih?" tanya Nadia beralih pada sang suami.
"Nasi goreng saja, Sayang," sahut Rasya.
Nadia mengambilkan nasi goreng untuk suaminya, kemudian ia mengambil untuk dirinya sendiri. Mereka menyantap sarapan pagi tanpa ada lagi pembicaraan.
Setelah menghabiskan sarapan, Nadia dan Rasya pamit untuk berangkat ke kampus.
"Mas akan daftarkan kamu kursus nyetir mobil," ucap Rasya saat mereka berada di dalam perjalanan ke kampus.
"Kenapa tidak Mas langsung yang ngajarin aku?" tanya Nadia.
"Mas sekarang gampang sekali mes*m, dulu gimana? kok bisa nahan saat enggak dikasih sama Celine?" tanya Nadia penasaran.
"Mas cari pelampiasan lain lah," sahut Rasya santai.
"Pelampiasan lain? Dijepit di pintu? Hahaha ..." Nadia tertawa dengan pertanyaannya sendiri.
"Rahasia donk, yang pasti Mas enggak melakukan dosa," jawab Rasya.
"Wallahu a'lam lah dosa apa enggak. Terus kenapa Mas pengen aku bisa nyetir mobil? Mas mau belikan aku mobil?" tanya Nadia lagi.
"Tabungan Mas belum cukup untuk membelikan kamu mobil, Sayang, sabar ya!" ucap Rasya menggenggam telapak tangan Nadia. " Maksud Mas gini, jadwal Mas dan jadwal kamu kan enggak setiap hari sama, kadang Mas bisa saja ada jadwal ngasih kuliah mahasiswa yang ambil program ekstensi akhir pekan sampai malam. Jadi Mas tidak bisa selalu antar jemput kamu setiap saat. Kalau kamu sudah bisa nyetir, kamu bisa pinjam mobil ibu atau mobil lain yang ada di garasi," tutur Rasya panjang lebar.
"Iya, aku mau belajar nyetir kok, aku juga pengen bisa nyetir mobil. Mas Rayan melanjutkan kuliah ke luar negeri, mobilnya Tania jadi nggak ada sopir, kan nanti aku bisa bawa kalau sudah bisa nyetir," timpal Nadia.
"Mas Rayan? Dia itu sekarang adik ipar kamu loh, Sayang," ucap Rasya mengingatkan.
"Hehe ... Dari pertama kenal udah manggil Mas, jadi susah ngerubahnya," timpal Nadia terkekeh.
"Pelan-pelan saja," ucap Rasya.
Mereka kini hampir sampai di area kampus.
"Mas, anterin aku ke rumah Mbak Rumi ya," pinta Nadia.
"Mau apa?" tanya Rasya.
__ADS_1
"Mau ambil jas almamater, kan masih tertinggal di sana. Nanti langsung tinggal saja, aku mau jalan kaki lewat jalan belakang," jawab Nadia.
"Oke," timpal Rasya menyanggupi.
Rasya menghentikan mobilnya di jalan depan rumah Rumi tanpa masuk ke halaman. Nadia langsung membuka pintu sampingnya dan keluar dari dalam mobil setelah mencium punggung tangan suaminya.
"Mas tunggu di sini saja, Sayang. Kita ke kampus bareng. Nanti kamu turun di depan gerbang. Mas enggak mau kamu jalan kaki panas-panasan, nanti kulit kamu jadi eksotis lagi," ucap Rasya mencegah Nadia.
"Iya deh, Mas."
"Kamu beneran cuma mau ambil jas almamater 'kan?" tanya Rasya memastikan.
"Iya, ya udah aku masuk dulu ya, Mas," pamit Nadia. Rasya mengangguk.
Nadia melangkah menuju rumah Mbak Rumi. Ia langsung membuka pintu rumah tersebut yang jarang dikunci kalau siang hari seraya mengucapkan salam. Nadia langsung menyeret langkahnya menuju ke dapur untuk mencari si pemilik rumah sambil memanggil namanya.
"Eh, ada pengantin baru. Apa kabar?" tanya Mbak Rumi basa-basi.
"Alhamdulillah baik, Mbak," sahut Nadia yang lalu duduk di kursi meja makan.
"Ada apa pagi-pagi sudah mampir kemari, enggak mungkin cuma kangen sama Mbak Rumi 'kan?" tanya Rumi lagi.
"Hehe, mau ambil jas almamater tetapi kunci yang ku pegang ketinggalan di tas selempang, Mbak," jawab Nadia nyengir kuda.
"Oo ... ambil sendiri saja gih! Di lemari bufet samping TV ya. Nanti kalau sudah selesai langsung balikin lagi saja ke situ," suruh Rumi.
"Makasih, Mbak," sahut Nadia.
Setelah memakai jas almamater, Nadia menyambar tas ransel lalu keluar dari kamar dan tidak lupa mengunci pintu. Ia mengembalikan kunci pintu kamar ke tempat semula lalu keluar dari rumah menghampiri mobil Rasya yang masih setia menunggunya.
"Sudah, Sayang?" tanya Rasya yang pada istrinya yang telah duduk disampingnya dengan balutan jas almamater.
"Sudah, Mas. Mas masih mau nunggu?" jawab Nadia diselingi gurauan.
"Kalau sudah turun gih!" suruh Rasya.
"Sudah ambil jas maksudku." Nadia mengoreksi ucapannya.
Rasya melajukan mobilnya ke luar dari gang menuju ke jalan raya.
"Turun langsung di parkiran kampus saja ya, Sayang? Kan belum banyak yang masuk juga," cetus Rasya yang tidak mau mahasiswa kesayangannya itu berjalan kaki di tengah terik matahari.
"Iya deh," sahut Nadia.
Rasya memarkirkan mobilnya di area parkir pegawai kampus. "Nanti kalau udah selesai kegiatan kirim kabar ke Mas, atau langsung ke ruangan Mas ya," pintanya.
"Oke, aku pamit ya, Mas," ucap Nadia mencium punggung tangan Rasya.
Nadia pun keluar dari dalam mobil lalu melangkah menuju koridor yang menghubungkan jalan dengan ruang sekretariat BEM.
"Asa!" seru seseorang memanggil nama depan Nadia.
Nadia pun menoleh, "eh, Didit," ucapnya. Ternyata yang memanggilnya adalah teman seangkatannya dari fakultas lain yang juga tergabung dalam BEM.
"Kok kamu tadi dari area parkir khusus pegawai sih?" tanya pemuda itu penasaran.
Hadeuh, Nadia harus menjawab apa ya?
.
__ADS_1
.
TBC