Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Melamar Prima


__ADS_3

Kesibukan kini nampak terlihat kentara di kediaman Pak Baskoro. Karena malam ini keluarga mereka akan bertandang ke rumah orang tua Prima. Yah, malam ini Rayan akan melamar Prima sebagai calon istrinya.


"Aku pakai baju yang mana ya, Sayang?" tanya Rasya pada Nadia.


Setumpuk baju, jas dan tuksedo sudah berpindah dari lemari ke atas ranjang.


"Astaghfirullah Al'Adzim, Mas Rayan yang mau lamaran kenapa Mas Rasya yang ribet sih?" sergah Nadia yang capek melihat suaminya yang mengobrak-abrik pakaian yang sudah dirapikannya. "Pakai baju jasko saja, Mas! Acaranya kan enggak resmi- resmi amat," cetusnya.


"Yang mana?" tanyanya yang hendak mencari jasko yang dimaksud Nadia.


"Stop! Aku carikan," tukas Nadia yang tidak ingin baju-baju suaminya tambah berantakan. "Ini!" ucapnya menyerahkan sebuah jas koko dengan warna senada dengan gamis yang ia pakai.


Rasya segera menerima dan memakai jas koko yang dipilihkan oleh Nadia. Sementara Nadia merapikan kembali baju-baju yang diporakporandakan oleh suaminya. "Yang perempuan di sini sebenarnya siapa sih?" gerutunya.


Tok tok tok


Terdengar ketukan pintu dari luar kamar. Nadia tergerak untuk membukakan.


"Ada apa, Raka?" tanya Nadia kepada sang anak tiri yang berdiri di hadapannya.


"Semua sudah menunggu di bawah siap berangkat. Tinggal menunggu Tante sama Papa," sahut Raka.


"Iya, suruh tunggu sebentar ya, Raka. Papa kamu tuh yang dandannya kayak perempuan," pinta Nadia. "Oh iya. Raka mau ikut mobil siapa?" tanyanya kemudian.


"Raka ikut mobil Om Rayan, Tante. Kalau gitu Raka turun ya, Tan," sahut Raka.


Raka kembali ke bawah. Sementara Nadia kembali masuk ke dalam kamar.


"Mas, sudah selesai belum. Semua sudah menunggu di bawah jadi ikut apa tidak?" ucap Nadia.


"Sudah, yuk turun," sahut Rasya yang kemudian menggandeng tangan Nadia untuk turun.


"Tas aku masih di nakas, Mas," ucap Nadia.


"Biar Mas ambilkan." Rasya meraih tas selempang yang sudah dipersiapkan oleh Nadia di atas nakas.


Rasya menyerahkan tas tersebut kepada istrinya. Lalu kembali menggandeng tangan wanita tersebut turun ke lantai dasar. Suasana sudah sepi, mereka menunggu Rasya di dalam mobil dan siap berangkat jika sepasang suami istri yang terpaut usia 14 tahun tersebut keluar dari dalam rumah.


"Mas sih dandannya kelamaan kayak cewek," gerutu Nadia saat ia telah duduk dan mobil siap jalan.


"Salah kamu sendiri kenapa tadi enggak mau menyiapkan baju yang mau Mas pakai," elak Rasya malah menyalahkan Nadia sambil menjalankan mobilnya.


"Aku kan dandannya lama, kalau Mas Rasya kan tinggal pakai baju saja enggak usah pakai bedak," timpal Nadia.


"Bagaimana pun juga nanti 'kan Mas yang disuruh mewakili Bapak untuk melamar Prima, jadi Mas harus tampil maksimal lah, Sayang."


"Masa pak dosen grogi sih?" Nadia mencebik.


"Ya sudahlah, sudah terlanjur juga. Besok lagi enggak akan diulangi deh," ucap Rasya tidak ingin memperpanjang adu mulutnya dengan sang istri.


Sementara di mobil Rayan.


"Om, nyetirnya yang fokus dong. Bisa-bisa kita enggak sampai ke rumah Tante Pipim malah ke rumah sakit kalau Om nyetirnya gelisah gitu," ucap Raka mengingatkan Rayan.


"Om takut Tante Pipim nolak menikah sama Om. Kita kan udah lama pisah," timpal Rayan.


"Om harus percaya diri kalau Tante Pipim cintanya sama Om. Buktinya dia tidak dekat dengan cowok manapun selama berpisah dengan Om Rayan," ucap Raka menguatkan.


"Kenapa kamu bisa yakin?" tanya Rayan.


"Kalau Tante Nanad, Tante Tatan sama Tante Pipim ngerjain tugas di rumah, Raka biasanya ikut gabung kok. Raka bisa lihat dari obrolan mereka kalau Tante Pipim itu sangat mencintai Om Rayan. Jadi pasti Tante Pipim bakal menerima lamaran Om Rayan deh," tutur Raka memberikan dukungan kepada Omnya.


Sesaat kemudian mereka telah sampai di halaman kediaman orang tua Prima. Ayah dan Bunda Prima mempersilakan mereka masuk dan duduk di lantai yang telah dialasi karpet permadani.


"Papa Yayan," panggil Atar dengan langkah tertatih-tatih digandeng sang bunda dari ruang tengah menghampiri Rayan.


Tania menyalami Bu Nastiti dan duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Mama Pipim mana, Sayang?" tanya Rayan kepada Atar yang kini telah duduk di atas pangkuannya.


"Tana," jawab Atar dengan jari tangannya menunjuk ke arah ruang tengah.


"Mama Pipim lagi apa? Kok belum keluar?" tanya Rayan lagi.


"Auk" sahut Atar.


"Papa Yayan udah enggak sabar pengen ketemu Mama Pipim tuh, Sayang." Tania menimpali.


Para rewang muncul dari ruang tengah membawakan minuman dan camilan. Prima muncul di belakang mereka ikut membantu meletakkan minuman sambil menyalami tamu yang hadir. Terakhir ia duduk di samping Rayan.


"Mama Pipim, Papa anen," celetuk Atar mengadu yang seketika membuat yang hadir tertawa.


Sesaat kemudian Rasya mulai mempersiapkan diri untuk mewakili sang ayah melamar Prima kepada kedua orang tuanya. Diawali dengan salam, lalu sepatah dua patah kata, selanjutnya berakhir pada pokok tujuan kedatangan mereka di rumah keluarga Prima.


"... Selanjutnya pada inti maksud kedatangan keluarga kami ke sini adalah untuk melamar putri bapak dan ibu yang bernama Prima Putri Aprillia untuk menjadi calon istri dari adik saya yang bernama Rayan Bayu Bagaskara. Apakah niat baik kami ini bisa diterima? Mungkin itu saja yang dapat kami sampaikan, kurang lebihnya mohon maaf, selanjutnya saya serahkan kepada pihak Bapak Irfan Affandi sebagai orang tua dari Prima. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokaatuh."


Pak Irfan selaku ayah Prima mewakili dirinya sendiri menyambut.


"... Sebagai orang tua saya hanya bisa memberikan restu, selanjutnya yang akan menjalani adalah putri kami sendiri yaitu ananda Prima Putri Aprillia. Bagaimana, Prima? Apakah lamaran dari Mas Rayan bisa diterima? Apakah kamu mau menikah dengan Rayan? Apakah kamu bersedia menjadi istri dari Rayan?" Sambutan Pak Irfan diakhiri pertanyaan beruntun.


"Mas, kenapa dulu aku tidak ditanyai seperti itu?" bisik Nadia pada suaminya. Rasya hanya tersenyum.


"Kalau mau protes sama ibu saja. Mas juga tidak tahu proses lamarannya seperti apa," jawab Rasya berbisik pula.


Prima hanya diam menunduk, padahal semua yang hadir sedang fokus memandang ke arahnya, menanti jawaban dari bibirnya.


"Gimana, Ayang?" bisik Rayan menyenggol lengan Prima.


"Maaf, aku tidak bisa," ucap Prima yang seketika membuat sebagian orang yang hadir menghela napas kecewa.


"Tunggu bapak-bapak, ibu-ibu. Kita dengarkan dulu maksudnya Prima apa?" Tania menginterupsi. "Maksud kamu apa sih, Pim? Jangan buat kita kecewa. Bukankah selama dua tahun ini kamu menunggu kepulangan Mas Rayan untuk melamar kamu?" tanyanya kepada Prima.


"Emmm ... Sekali lagi maaf. Maksudku, aku tidak bisa menolak lamaran Mas Rayan," ulangnya lirih masih dengan menunduk tetapi masih bisa didengar oleh tamu yang hadir.


"Alhamdulillah," ucap sebagian yang hadir lega.


"Nah, karena Prima sudah menerimanya, sebaiknya niat baik jangan ditunda-tunda. Kita langsung tentukan saja tanggal pernikahannya. Bagaimana Pak Irfan?" Cetus Pak Baskoro menyela.


"Ya, begitu lebih baik Pak Baskoro. Bagaimana Nak Rayan? Kira-kira kapan kalian mau menikah?" Pak Irfan malah balik bertanya kepada Rayan.


"Kita cari hari libur saja biar tidak mengganggu kuliahnya Prima, Yah," sahut Rayan.


"Memangnya liburan kuliahnya kapan, Prima?" tanya Pak Irfan lagi.


"Selesai PKL kita langsung liburan sambil menyelesaikannya laporan PKL. Sekitar satu setengah bulan lagi, Yah," jawab Prima.


"Berarti awal liburan saja kita lingkari tanggalnya," cetus Pak Baskoro.


"Ya. Saya setuju, Pak Baskoro," ucap Pak Irfan.


"Baiklah, deal ya kalian nikah satu setengah bulan lagi?" tanya Pak Baskoro pada Prima dan Rayan.


"Iya, Pak," sahut Rayan.


Rayan menciumi pipi dan dada Atar dengan gemas. "Papa Yayan sama Mama Pipim akan segera di menikah, Sayang. Atar senang 'kan?" tanyanya. Atar hanya tertawa karena kegelian tidak tahu urusan orang dewasa.


Bu Shofi, ibunya Prima kemudian mempersilakannya kepada semua yang hadir untuk menikmati hidangan makan malam yang disediakan di ruang tengah.


"Atar sini sama Mama Nanad!" ucap Nadia melambai-lambai kepada Atar.


Atar pun bangkit dari pangkuan Rayan, melangkah setapak demi setapak dan duduk di pangkuan Nadia.


"Adik Bita lagi apa, Sayang? Kok enggak diajak," tanya Nadia.


"Bubu," sahut Atar.

__ADS_1


"Sama siapa?" tanya Nadia lagi.


"Ani," jawab Atar. Maksudnya Nany pengasuh Bita.


Rasya duduk di samping Nadia menyuapi makanan ke mulut istrinya tersebut. Karena perempuan itu sedang menyuapkan puding ke mulut Atar.


"Bu, Nanad pengen dilamar kayak Prima katanya," adu Rasya pada sang ibu sambil menyuap nasi ke mulut istrinya.


"Ih siapa bilang? Enggak ding, Bu," sanggah Nadia.


"Lha tadi kamu tanya sama Mas, kenapa dulu tidak ditanyai seperti Prima," timpal Rasya.


"Terus menurut Mas itu menunjukkan kalau aku pengen dilamar gitu?" sergah Nadia. "Kalau pengen dilamar ya sama perjaka asli, enggak sama duda yang ngaku perjaka," celetuknya bercanda.


"Serius?" Rasya memastikan.


"Enggak-enggak, bercanda Mas Rasya Sayangkuh," ralat Nadia. "Aku cuma pengen seumur hidup nikah cuma satu kali, ya dengan orang yang tulus mencintai aku dan mau menerima kelebihan dan kekurangan aku," ucap Nadia menatap dalam mata suaminya.


"Mas jadi pengen kita cepat pulang. Ayo habiskan makannya," ucap Rasya kembali menyuapkan makanan ke mulut Nadia.


"Lamar saja dia sekarang, Sya!" sahut Bu Nastiti menjawab ucapan Rasya tadi.


"Beli cincin dulu sana!" suruh Nadia.


"Yah, enggak jadi deh. Kita langsung kawin saja hahaha," kekeh Rasya.


"Mama agi," pinta Atar.


"Pudingnya lagi?" tanya Nadia. Atar mengangguk.


Nadia mengambil dan menyuapi Atar dengan puding kembali. "Setelah ini udah ya, jangan banyak makan manis-manis, Sayang. Nanti gigi kamu bisa gupis loh," larangnya. "Nanti sebelum bobo gosok gigi dulu ya, Sayang," suruhnya.


"Cok gigi," ucap Atar mengangguk paham.


"Pak Irfan dan Bu Shofie, kami rasa sudah cukup keberadaan kami di sini. Mohon maaf sudah merepotkan keluarga Bapak serta Ibu dan terima kasih atas sambutan baik dan hidangannya. Kami sekeluarga mohon undur diri," ucap Pak Baskoro.


"Terima kasih kembali, Pak Baskoro. Kami tidak merasa direpotkan kok. Justru kami malah merasa senang," timpal Pak Irfan.


"Mama Nanad mau pulang, Atar mau ikut?" tanya Nadia pada batita yang masih ada di pangkuannya.


"Tut Mama Nanad," sahut Atar.


"Beneran?" Nadia memastikan. Atar mengangguk. "Izin dulu sama bunda yuk!" ajaknya.


Nadia bangkit dan melangkah menghampiri Tania. "Tan, Atar mau ikut aku katanya," ucapnya.


"Beneran, kakak mau ikut Mama Nanad?" tanya Tania beralih pada Atar. Atar hanya mengangguk.


"Nanti jangan rewel ya, Sayang!" timpalnya mencium pipi Atar. "Bentar, Nad. Aku ambilkan barang-barang keperluan Atar di dalam," pamitnya beralih pada Nadia.


Tania masuk ke dalam, sebentar kemudian ia keluar dengan menenteng sebuah tas. "Ini, di dalamnya ada susu dan baju gantinya Atar," ucapnya menyerahkan tas tersebut kepada Nadia.


Seluruh anggota keluarga Pak Baskoro akhirnya pergi meninggalkan rumah orang tua Prima setelah berpamitan.


"Kenapa harus ajak Atar sih, Sayang. Nanti malah ganggu kita bikin kandidat jodoh buat dia lagi," ucap Rasya mencebik sambil mengendalikan mobilnya.


"Mas pernah bilang buat pancingan. Siapa tahu aja nanti malam kita bikin terus besok pagi di sini langsung kandidatnya," timpal Nadia mengelus perutnya.


"Yakin?"


"Semoga."


.


.


.

__ADS_1


TBC


Terima kasih dukungannya🙏


__ADS_2