Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Barang Bekas Masih Segel


__ADS_3

Setelah menyelesaikan makan malam ala-ala kadarnya. Rasya mengajak Nadia langsung berpamitan dengan kedua orang tuanya untuk kembali ke Jakarta malam itu juga.


Mamak dan Mimik mengantarkan anaknya sampai di depan rumah. Tidak lupa Mimik membawakan dua kardus buah mangga cengkir khas Indramayu untuk oleh-oleh.


"Nadia pamit, Mik, Mak," Ucap Nadia mencium punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian.


"Hati-hati, Nak!" pesan mamak pada putrinya. "Hati-hati ya, Pak Supri bawa mobilnya. Jangan sampai ngantuk," tukas Mamak beralih pada Pak Supri.


"In sya Allah tidak ngantuk, Mak. Tadi siang saya sudah tidur setengah harian," jawab Pak Supri.


Nadia duduk di kursi belakang, sedangkan Rasya duduk di kursi depan di samping Pak Supri. Meskipun pernah akrab, tetapi sikap antara Rasya dengan Nadia terlihat canggung seperti belum pernah saling dekat.


Perjalanan mereka memakan waktu hingga tiga jam. Kira-kira pukul dua belas malam mereka sampai di kediaman Pak Baskoro Nadia masih terlelap. Rasya membangunkan gadis tersebut. Namun, Nadia masih bergeming sepertinya dia sangatlah mengantuk hingga tidur terlelap.


"Pak Supri tolong bukakan pintu depan saja, biarkan saya gendong dia," pinta Rasya.


Rasya pun meraih tubuh Nadia dan menggendongnya ala bridal style. Namun, Nadia tetap saja bagai putri tidur yang tidak terusik sedikit pun. Rasya terpaksa membawa Nadia ke kamarnya karena takut kamar tamu belum dipersiapkan. Sebab sebagian penghuni rumah sibuk di rumah sakit mengurusi Tiara.


Dengan hati-hati Rasya menidurkan gadis berkerudung yang selama ini bayangannya tidak pernah hilang dari benaknya. Lalu ia ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah itu ia membaringkan tubuhnya di samping gadis itu, bertukar selimut dengannya.


Rasya kembali merengkuh Nadia ke dalam pelukannya, menciumi puncak kepala gadis itu dengan lembut. Rasanya begitu lama ia tidak bertemu dengan gadis itu. Sekuat apapun ia berusaha menghilangkan bayangannya, tetapi usahanya gagal juga. Ia tidak dapat memungkiri jika ia begitu mencintainya. Mata Rasya pun akhirnya terpejam ikut membaur dalam mimpi indah bersama gadis pujaan hatinya.


Nadia terbangun karena alarm alaminya berbunyi membangunkannya setiap pukul empat pagi. Badannya terasa berat seperti sedang ditindih batu. Ia membuka matanya, mengerjap-ngerjap tidak percaya dengan apa yang ia lihat di depan matanya saat ini.


"Pak," panggil Nadia. Tidak ada sahutan.


"Pak Rasya," panggilnya lagi.


"Hemm ..." hanya desahan yang keluar dari mulut Rasya. "Masih dini, tidur lagi saja, Asa," imbuhnya malah mengeratkan pelukannya.


"Ih," Nadia mencebik seraya memukul dada laki-laki dewasa tersebut. "Bentar lagi subuh, Pak. Lepasin tangan sama kaki bapak," pinta Nadia.


"Kalau aku lepasin tangan sama kakiku, nanti buntung donk aku. Memangnya kamu mau punya suami buntung yang nanti enggak bisa peluk-peluk kamu hemm?" sergah Rasya masih dengan mata terpejam yang malah mengeratkan pelukannya.


"Aku kebelet pipis, Pak. Kalau Pak Rasya mau aku pipis di sini ya enggak apa-apa sih, tapi aku enggak mau bersihin," timpal Nadia agak sedikit mengancam.


Seketika mata Rasya terbuka dan langsung melotot dengan mata yang merah menatap Nadia yang tersenyum mengejek. Nadia yang merasa pelukan pria itu sedikit longgar segera mengibaskan tangan dan kaki Rasya. Bangkit dan langsung menyeret langkahnya ke kamar mandi.


Setelah kepergian gadis itu, Rasya meneruskan kembali tidurnya karena kantuk masih menggelayut di matanya.


Nadia keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar karena wudhu. Ia nampak melihat ke sekeliling kamar untuk mencari sesuatu, tetapi tidak menemukannya.

__ADS_1


"Pak Rasya," kembali Nadia membangunkan Rasya.


Rasya yang tidur ayam-ayaman pun menyahut, "ada apa lagi?"


"Tas ranselku di mana?" tanya Nadia.


"Tas ransel kamu yang mana? Memangnya kamu bawa?" cecar Rasya malas.


"Bawa, Pak. Di mana?" tanya Nadia lagi. Rasya kembali memejamkan mata.


"Masih di mobil kali ah, dari tadi ganggu orang tidur saja," gerutu Rasya.


"Aku mau sholat, Pak. Mukena ku ada di dalam tas ransel," timpal Nadia.


Rasya dengan terpaksa membuka matanya, bangkit dan memandang ke arah Nadia dengan pandangan yang sulit diartikan. "Di lemari paling ujung itu ada mukena, coba kamu ambil sendiri," ucapnya. "Tunggu aku kalau mau sholat," imbuhnya meminta. Rasya segera masuk ke dalam kamar mandi.


Nadia menghampiri lemari, membuka lemari pakaian yang paling ujung tersebut sesuai dengan yang ditunjuk oleh Rasya. Ia tercengang saat melihat tiga stel mukena potongan mahal dengan merek terkenal. Nadia mengambil satu stel mukena tersebut dan mengenakannya. Lalu ia mengambil dua buah sajadah dan menggelarnya di atas permadani.


Rasya keluar dari kamar mandi, menghampiri lemari untuk mengambil sarung dan baju koko. Lalu kembali masuk lagi ke dalam kamar mandi. Sebentar kemudian ia keluar dengan pakaian yang sudah berganti dari sebelumnya. Ia memakai kopiah dan berdiri di atas sajadah yang paling depan. Sebelum memulai sholat, ia membaca iqomah terlebih dahulu.


"Ini mukena siapa, Pak. Di lemari masih baru semua?" tanya Nadia saat melihat Rasya melipat sajadahnya.


"Punyanya Celine. Setiap bulan Ramadhan saya selalu membelikan dia mukena, tetapi dia tidak pernah mau memakainya," jawab Rasya.


"Memangnya kamu mau memiliki barang bekas orang lain?" Rasya malah bertanya.


"Kenapa mesti tidak mau, ini kan mukena mahal. Lagipula biarpun barang bekas ini kan masih baru dan berlabel," sahut Nadia.


Pluk


Ucapan Nadia seperti menyentil Rasya. 'Sama seperti pusaka ku, Nanad. Biarpun bekas juga masih tersegel meskipun tidak berlabel.' Rasya bergumam dalam hati. "Ambil saja semua kalau kamu mau," imbuhnya.


Seketika mata Nadia berbinar. "Terima kasih, Pak," ucapnya.


"Masih banyak barang-barang mahal milik Celine kalau kamu mau. Semua ada di ruangan sebelah. Di belakang lemari yang tadi kamu buka itu ada pintu tembus ke ruangan itu, tinggal dorong saja lemari itu," tutur Rasya.


"Tidak, Pak. Saya tidak mau ketularan seperti Celine," tolak Nadia menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah, kamar kamu ada di lantai bawah, tetapi belum sempat ada yang membersihkan. Kamu bisa membersihkannya sendiri, Kan?" jelas Rasya.


"Iya, bisa Pak," sahut Nadia.

__ADS_1


"Yang dekat dengan ruang makan ya. Nanti jam sembilan aku antar kamu ke rumah sakit, sekalian aku berangkat ke kampus," tukas Rasya.


Nadia melipat mukenanya dan membawanya melangkah meninggalkan kamar Rasya. Ia menuruni anak tangga menuju ke lantai bawah. Tidak jauh dari tangga itu, ia malah menghentikan langkahnya dan termenung tidak tahu arah.


"Tadi Pak Rasya bilang dekat ruang makan, ruang makannya di mana saja aku belum tahu," gerutu Nadia sendirian.


Saat itu Nina kebetulan hendak bergerilya mencari peralatan makan atau minum yang kotor di ruang tamu atau ruang tengah. Ia melewati tempat Nadia berdiri, "Eh. Mbak Nadia kenapa melamun di pojokan sendirian?" tanyanya.


"Pak Rasya bilang kamarku yang dekat ruang makan, tetapi aku tidak tahu ruang makannya di mana, Mbak," sahut Nadia.


"Oo ... mari ikut Mbak Nina saja," ajak Nina pada gadis pujaan hati anak majikannya tersebut. Nadia pun mengikuti jejak Nina.


Nina membuka pintu sebuah kamar, "Ini kamar Mbak Nadia ya, tas ransel Mbak Nadia sudah ada di dalam tuh," tunjuknya pada sebuah tas ransel yang teronggok sendirian di pojok kamar. "Mbak Nina tinggal dulu ya Mbak Nanad. Kalau ada perlu sama Mbak Nina nanti Mbak Nanad panggil saja di dapur. Dapurnya di sana ya Mbak, arah kiri" pamitnya.


"Iya, Mbak Nina. Terima kasih banyak ya," ucap Nadia.


Nadia melangkah masuk ke dalam kamar setelah Nina hilang dari pandangan matanya. Ia menghempaskan tubuhnya di ranjang yang dialasi dengan kasur busa inoac. "Empuk, beda sama tempat kost dan rumah," gumamnya.


Nadia sejenak berfikir 'kok aku di depan Pak Rasya seperti wanita murahan ya? Apa karena aku bukan wanita yang sempurna makanya dia memperlakukan aku seperti itu? Enak saja dia main peluk-peluk sembarangan tanpa memberikan ikatan apa-apa.'


'Kenapa juga aku mesti tidur ngebo saat di mobil, hingga tidak merasakan apa-apa tiba-tiba saja sudah berada di kamar dan tidur satu ranjang dengan Pak Rasya? Benar-benar bodoh! Bagaimana jika pria itu tidak dapat menahan diri? bisa-bisa habis riwayatku'


Waktu masih menunjukkan pukul setengah enam pagi, Nadia ingin melihat-lihat rumah ini, biar bisa menghafal letak ruangan-ruangannya. Ia keluar dari dalam kamar melangkah mengikuti ke mana saja kakinya berjalan.


'Ini 'kan ruang tamu, dan itu pintu keluar. Aku mau jalan-jalan berkeliling halaman saja sambil menunggu matahari terbit.' cetusnya dalam hati.


Nadia menyeret langkahnya menuju ke luar rumah, ia melangkah menuju ke halaman. Di halaman ia hanya mengelilingi taman, menghirup udara segar di pagi hari. Lalu duduk di di sebuah bangku yang terbuat dari besi. Memandang ke arah timur menunggu terbitnya sang mentari.


Sekitar pukul tujuh lebih Rasya dan ayahnya pulang dari acara joging. Ia mengajak Nadia untuk masuk ke dalam rumah.


"Nanad, ayo masuk. Kita sarapan pagi, sebentar lagi kita siap-siap berangkat ke rumah sakit," ajak Rasya mengulurkan tangannya kepada gadis itu untuk bangun. Sementara Pak Baskoro sudah duluan masuk.


"Enggak usah pegang-pegang lagi deh, Pak. Kita ini belum halal, Nadia enggak suka," tolak Nadia yang berdiri dan melangkah mengabaikan Rasya.


Rasya hanya tersenyum menanggapinya, lalu mengikuti langkahnya di belakang. "Maaf!" ucapnya.


Nadia melangkah ke teras hendak masuk melalui ruang tamu, Rasya mencegahnya. "Nanad, lewat sini saja biar cepat sampai ruang makan," ajaknya untuk melewati jalan pintas menuju ruang makan.


Di teras sebelum masuk ke ruang makan Rasya mencuci dulu tangannya di kran air yang tersedia di sana. Nadia juga melakukan hal yang sama.


Mereka pun masuk ke dalam ruang makan dan duduk di kursi yang melingkari meja makan. Hari ini Nina hanya memasak nasi goreng untuk sarapan mereka.

__ADS_1


"Nad, kalau kamu sudah merasa baikan, Kamu bisa langsung masuk kuliah kembali. Kamu gagalkan saja cuti kamu. Bukankah semester kemarin Tania juga masuk beberapa bulan saja di akhir semester? Kamu juga bisa melakukan hal yang sama seperti dia. Mengerjakan tugas-tugas yang tertinggal," tutur Rasya sambil menuang nasi goreng ke dalam piring.


__ADS_2