Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Mandi


__ADS_3

"Nanad!"


Tiba-tiba ada yang memanggil sapaan akrab Nadia. Serempak Rasya dan Nadia menoleh ke arah sumber suara.


"Mama Nanad!" seru seorang anak laki-laki berusia tiga tahunan yang berusaha melorot dari gendongan ibunya.


"Atar," ucap Nadia. Nadia ingin menyambut Atar, tetapi ditahan oleh Rasya.


"Sama Papa Sya saja ya, Atar," ucap Rasya merengkuh tubuh Atar ke dalam gendongannya.


"Atay mau cama Mama Nanad, Papa Sya," rengek Atar.


Rasya tersenyum sebelum menjelaskan kepada anak kecil tersebut. "Di perut Mama Nanad ada dedek kecil, Sayang. Nanti dia bisa sakit kalau Atar minta gendong Mama Nanad."


"Dedek ecil? Tayak Bita, Pa?" tanya Atar dengan gaya polosnya. Rasya mengangguk tersenyum.


Tiba-tiba Atar menutup hidungnya. "Tapi Papa Sya bau," ucapnya meronta ingin turun dari gendongan Rasya.


"Hahaha," tawa Tania dan Nadia menggelegar tidak tertahankan.


Tania meraih kembali Atar ke dalam gendongannya. "Papa Rasya sama Mama Nanad biar mandi dulu ya, Kak. Nanti Kakak bisa ikut lagi kalau Papa Sya udah tampan dan wangi," bujuknya membuat Rasya bermula masam.


"Kalian sudah dapat kamar?" tanya Tania beralih ke Nadia dan Rasya.


"Sudah tadi Mamak yang boking," sahut Nadia.


"O, Mamak di kamar 102 kayaknya," terka Tania.


"Iya kamar nomor 102," Rasya menandaskan setelah melirik sebentar ke layar ponselnya.


"Kamu enggak ajak Pipim, Tan?" tanya Nadia.


"Kan kalian yang malah serumah?" sergah Tania.


"Kan kamu tahu sendiri aku berangkat dari Indramayu," sergah balik Nadia.


Sudah lebih dari dua bulan perempuan itu meninggalkan Jakarta, jadi hanya bertemu sahabat-sahabatnya lewat udara.


"Pipim kayaknya mabuk berat beberapa hari kemarin. Mungkin hanya Rayan nanti yang datang," ucap Rasya menyela percakapan mereka.


"Hahaha kalian hebat ya, iparan bisa hamil bareng," timpal Nadia tertawa.


"Apa? Pipim hamil juga?" ucap Nadia belum percaya, Tania mengangguk. "Kamu tadi mau kemana, Tan? Kok cuma berdua? Bita sama siapa?" lanjutnya mencecar.


"Bita sama Mama nungguin Aghni dirias di kamar pengantin. Aku mau nganterin Atar ke ballroom. Dia ingin makan es krim," sahut Tania.


"Es krim?" Tania mengangguk.


Mendengar Tania menyebut kata es krim Nadia meneguk ludahnya kasar. Ia jadi ingat kalau belum sempat menikmati es krim sejak semalam karena ketiduran. Bahkan sampai sekarang perutnya belum sempat kemasukan apapun.


"Mas kita makan dulu aja yuk, perutku lapar banget nih," Nadia merengek. "Lagian badan aku enggak bau-bau amat kok, enggak kaya punya Mas," sambungnya seraya mengendus kedua ketiaknya sendiri.


Rasya menatap tajam wanita yang kini sedang mengandung benihnya. Saat pandangan mereka bertemu Nadia hanya nyengir kuda.


"Atar juga bilang badan Mas bau kan?" ucap Nadia mencari benteng.


"Enggak usah ditegasin begitu, Mas juga tahu kok. Memang Mas sejak kemarin sore belum mandi karena udaranya dingin banget. Terakhir mandi kemarin pagi saja waktu mau berangkat ke kampus," ungkap Rasya.


"Mas jorok ih. Nah, itu nyadar," timpal Nadia. "Mas mandi saja dulu, aku ikut Tatan ke ballroom ya," imbuhnya pamit.


Rasya mengernyitkan keningnya. "Yakin kamu ke ballroom pakai setelan piyama begini?" tanya Rasya tersenyum miring. Bahu Nadia seketika merosot. Masa di ballroom yang nota bene tempat berlangsungnya pesta para konglomerat ada gadis yang datang dengan memakai piyama.


Tania cekikikan melihat raut wajah Nadia.

__ADS_1


"Tan, aku nanti nyusul ya. Mau mandi dulu," ucap Nadia dengan tidak rela.


"Iya, Nad. Duluan ya. Mandi dan dandan yang cantik, aku tunggu di ballroom," sahut Tania tersenyum.


Tania meninggalkan Nadia dan Rasya dengan Atar kembali ia gendong. Sementara Rasya merangkul tubuh Nadia melanjutkan perjalanan mencari kamar dengan nomor yang telah dikirim via WA oleh sang ibu.


"Kamu enggak mual mencium bau badan Mas, Sayang?" tanya Rasya memastikan istrinya yang biasa-biasa saja ketika berdekatan dengannya.


Nadia malah mengeratkan memeluk pinggang suaminya tersebut. "Aku malah suka menghirup bau badan Mas Rasya kayak gini kok. Nggak usah mandi ya," sahutnya yang malah menginginkan Rasya untuk tidak mandi membuat Rasya membelalakan matanya.


"Kalau Mas tidak mandi nanti mereka pada menjauh dari kita," timpal Rasya menolak.


"Biarin saja, mungkin dengan begitu enggak akan ada lagi cewek yang tergila-gila sama Mas Rasya selain Nanad," ucap Nadia acuh. "Eum, mungkin juga Linda si gila itu bakal benci sama Mas Rasya," imbuhnya.


Rasya kali ini diam mendengarkan penuturan Nadia. Ia membenarkan ucapan istrinya tersebut. Tapi mana mungkin ia tidak mandi kali ini, sudah sehari semalam tubuhnya tidak diguyur air bersih. Apa kata teman-temannya nanti? Seorang Rasya Bagaskara yang tingkat ketampanan paripurna meski sudah tidak remaja lagi ternyata punya masalah dengan bau badan. Oh, big no!


Tiba-tiba saja seorang office boy menghampiri mereka. "Maaf Pak, Bu. Apakah Anda Bapak Rasya dan Ibu Nadia?" tanyanya.


"Iya benar. Ada apa?" tanya Rasya balik.


"Ini kartu akses pintu kamar Bapak dan Ibu," ucap OB tersebut menyerahkan sebuah kartu.


"Oh, terima kasih, Mas," ucap Rasya menerima kartu tersebut.


"Sama-sama, Pak. Saya permisi," ucap OB tersebut membungkukkan badan lalu berlalu dari hadapan mereka.


"Mas kok bisa tahu kalau Pipim mabuk berat kemarin-kemarin, katanya Mas sibuk di kampus?" ucap Nadia menuntut penjelasan saat mereka telah berada di dalam kamar dan duduk di sofa.


"Tiga hari yang lalu kan Pipim baru pulang dari rumah sakit karena kekurangan cairan. Mas tahu dari Rayan karena Bapak memanggil Mas untuk menggantikan dia meeting bersama klien," ungkap Rasya.


"Oo," Nadia hanya ber-o ria.


"Tapi kamu enggak muntah-muntah sampai mabok kayak Pipim kan, Sayang?" tanya Rasya memastikan.


"Enggak, cuma satu kali di mobil pas kita berangkat ke Indramayu waktu itu saja," sahut Nadia.


Rasya menangkup kedua pipi Nadia. Lalu mendekatkan bibirnya ke kening perempuan itu. Pipi dan bibir pun tidak luput dari targetnya. "Mas kangen, Sayang. Kita anuan dulu ya sebelum mandi," cetusnya di antara ciumannya.


Nadia membalas perlakuan suaminya karena ia sendiri juga rindu dengan suaminya tersebut. "Tapi perutku lapar, Mas," rengeknya manja. Rasya tidak mempedulikan rengekan istrinya tersebut. Tangannya mulai menyelinap di balik piyama yang dikenakan Nadia, bermain-main dengan sesuatu di sana.


Ting tong


Terdengar bel pintu berbunyi. Rasya melepaskan tubuh Nadia. "Mas juga sama laparnya," ucapnya terkekeh sambil melangkah ke arah pintu. Rasya membukakan pintu untuk tamu yang datang. Sesaat kemudian ia mendorong sebuah meja troli berisi makanan menghampiri istrinya lalu kembali duduk di sampingnya.


"Mas pesan makanan banyak banget," ucap Nadia penuh selidik.


"Bukan Mas yang pesan. Ini ibu yang pesanin. Dia tidak mau calon cucunya kekurangan makanan," sahut Rasya. "Cuci muka dulu sana baru kita sarapan," suruhnya.


Ponsel dari dalam saku celana Rasya bergetar. Rasya merogoh dan membukanya.


"Ibu telepon," ucap Rasya. Nadia yang sudah mau melangkah ke kamar mandi menjadi duduk kembali.


"Iya, Bu?" tanyanya.


"Makanan yang Ibu pesan sudah sampai, Sya?" tanya Bu Nastiti dalam sambungan telepon.


"Sudah, Bu. Baru saja sampai," sahut Rasya.


"Mana Nanadnya? Ibu mau bicara sama dia."


"Nih Ibu mau ngomong sama kamu," ucapnya seraya menyerahkan ponselnya kepada Nadia. Nadia menerimanya.


Rasya langsung menerobos ke dalam kamar mandi. Ia tidak hanya cuci muka, tetapi langsung mandi sekalian. Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Setelah selesai ritual mandinya, ia keluar dengan hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya.

__ADS_1


"Mas mandi sekalian?" tanya Nadia yang melihat rambut suaminya masih basah.


"Iya," sahut Rasya singkat. Lalu melangkah menghampiri nakas.


"Baguslah," tandasnya.


"Kenapa?" tanya Rasya saat memilah-milah isi tas dari bahan spunbond yang ada di atas nakas.


Nadia mendekat membawa piring berisi nasi dan lauk yang ia makan. Ia menyuapkan sesendok nasi ke mulut Rasya Rasya pun menyantapnya sambil memakai pakaian yang telah disediakan oleh keluarga mempelai pengantin wanita.


"Nindi bilang Mas Rasya mau mendampingi Kang Nadhif saat ijab qobul," sahutnya sambil menyuapkan kembali nasi ke mulut suaminya bergantian dengan mulutnya sendiri.


Nadia menyuapi suaminya hingga beberapa suapan. Terakhir ia memberikan segelas air putih kepada laki-laki tersebut. Lalu mengelap bibir Rasya dengan tisu setelah laki-laki tersebut meminum air putih.


"Mas, udah ditunggu kang Nadhif tuh di bawah," ucap Nindy yang tiba-tiba masuk tanpa menekan bel. Di belakangnya muncul Farel yang juga ikut masuk.


"Astaghfirullah, Dek. Masuk kamar orang nggak permisi bikin kaget saja. Bawa laki-laki bukan mahram lagi," hardik Nadia. Yang diomongi hanya nyengir kuda.


"Astaghfirullah, A'ang belum mandi? Bentar lagi perias A'ang datang loh," tanya Nindy dengan hebohnya. Nadia hanya memutar bola matanya jengah. Tidak tahu saja adiknya tersebut kalau kakaknya hampir mendekam di kantor polisi saat pernikahan kakaknya.


"Mas ke bawah dulu ya, Sayang," pamit Rasya pada Nadia. "Awas jangan baper kamu, Nindy!" beralih ke Nindy.


Rasya meraih tengkuk Nadia lalu mendaratkan kecupan di kening perempuan itu. Lalu ia berlutut mensejajarkan kepalanya dengan perut istrinya dan menciumnya. "Baik-baik disini ya, Dek. Jangan nyusahin Mama," ucapnya.


Nadia tersenyum geli seperti ada yang menggelitik perutnya. "Iya, Papa," sahutnya menirukan suara anak kecil.


"Ya Allah, mata suci ku ternodai," keluh Nadia.


Rasya memiringkan sebelah alisnya ke arah Nindy. "Yakin mata kamu masih suci?" godanya. "Yuk, Farel. Kita turun," beralih ke Farel.


"Mas Rasya tega banget sih fitnah Nindy gitu," geram Nindy.


Rasya tersenyum puas sudah menggoda adik iparnya itu. Dua laki-laki tersebut keluar dari kamar tanpa mempedulikan Nindy yang geram.


"Tutup pintunya, Nindy. A'ang mau mandi dulu," pamit Nadia. Ia langsung masuk ke dalam kamar mandi.


*****


Sementara di Jakarta, Linda yang sedang memantau GPS di ponselnya yang terhubung ke ponsel Rasya nampak berfikir.


"Ponsel Mas Rasya sejak kemarin sampai sekarang keberadaanya tidak berpindah, masih di kampus saja. Padahal tadi malam ia pulang dan tidur denganku."


"Hari ini kan jadwal aku kontrol ke dokter, tapi chat yang aku kirim sejak tadi belum berwarna biru. Aku samperin saja Mas Rasya di kampus Ah."


Linda memasukan buku pink ke dalam tas selempang yang bergelayut di pundaknya. Dan keluar dari kamar turun ke lantai bawah.


"Mbak Linda mau ke mana?" tanya Indri yang melihatnya seperti mau pergi.


"Hari ini jadwal aku kontrol kandungan, Indri," sahut Linda.


"Oh iya, Mbak Linda mau ke dokter diantar siapa? Atau mau Indri dampingi?" Indri menawarkan diri.


"Tidak perlu Indri, terima kasih. Aku mau didampingi oleh Mas Rasya. Aku mau sekalian jemput dia di kampus," sahut Linda. "Aku pergi dulu ya, Indri. Itu taksi yang aku pesan sepertinya sudah sampai di depan," sahutnya.


"I-iya, Mbak," sahut Indri gugup.


Linda pergi meninggalkan Indri yang berdiri dengan perasaan campur aduk. Cemas, khawatir, takut dan semacamnya. "Duh, gawat ini," gumamnya.


.


.


.

__ADS_1


TBC


Terima kasih teman-teman yang sudah kasih dukungan.


__ADS_2