Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Teka-teki


__ADS_3

Rayan menghentikan motornya di depan rumah kost Nadia, setelah Nadia memberi kode. Nadia langsung turun tanpa mempersilakan Rayan untuk ikut masuk, karena ia akan terlambat sampai ke kampus jika banyak basa-basi. Nadia segera masuk ke dalam kamar untuk mengambil handuk dan baju ganti. Lalu secepat mungkin ia berlari ke kamar mandi untuk membersihkan bagian tubuhnya yang kotor dan mengganti bajunya dengan baju yang masih bersih.


Nadia kembali ke kamarnya untuk merapikan dandanannya. Ia menggendong lagi tas punggungnya, dan menyambar segelas air putih sebelum keluar rumah. Nadia keluar rumah menyerahkan segelas air yang ia pegang kepada Rayan yang tengah duduk di kursi teras. Ia nampak sudah melepas atribut hujannya.


"Nih, minum dulu, Mas." ucapnya sambil duduk di kursi di sebelah Rayan yang terhalang meja kecil. Nadia masih memperhatikan wajah Rayan, seperti pernah melihat.


Rayan menerimanya, "Makasih," ucapnya. ia meneguk air tersebut hingga tandas. "Nama kamu siapa?" tanyanya sambil menyerahkan gelas yang sudah kosong.


Nadia menerima gelas tersebut sambil berucap, "panggil saja Nadia." Nadia menerima kembali gelas tersebut dan meletakkan di meja, ia berfikir nanti saja mengembalikan gelas tersebut ke dalam rumah.


Hujan mulai reda, hanya tinggal titik-titik saja. Nadia membuka tas ranselnya, mengambil tas kresek yang berisi sepatu, lalu memakai sepatu tersebut. Rayan hanya tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Nadia. Gadis yang unik, pikirnya.


"Sudah siap?" tanya Rayan melihat Nadia yang sudah siap untuk berangkat kembali.


"Sudah," jawab gadis itu singkat.


Rayan bangkit dan menstarter motornya. "Ayo naik!" ajaknya.


Nadia pun kembali naik ke atas boncengan dan Rayan mulai melajukan motornya. Rayan menghentikan motornya persis di depan pintu masuk aula, sehingga Nadia tidak sampai jalan kaki terlalu jauh.


Nadia turun dari atas motor sambil berucap "terima kasih, Mas Rayan."


"Sama-sama, udah masuk sana! Aku langsung pulang ya," sahut Rayan yang langsung membawa sepeda motornya pergi meninggalkan tempat itu.


Nadia melangkah memasuki aula. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang lewat, tetapi acara belum dimulai. Mungkin karena tadi sempat hujan jadi peserta dan para senior banyak yang belum hadir.


15 menit kemudian baru 90% dari calon mahasiswa baru telah berkumpul, acara pun segera dimulai. Dua orang senior maju ke depan memperkenalkan diri dan menjelaskan apa saja kegiatan dan peralatan yang harus dipakai dan dibawa besok Senin, hari pertama Ospek. Kelas dibagi menjadi 5 sesuai jurusan yang diambil oleh masing-masing calon mahasiswa. Setiap kelas dipandu oleh 2 orang senior. Mereka dibawa ke sebuah ruangan kosong agar tidak tercampur dengan kelas yang lain.


Di kelas Nadia ada 40 orang calon mahasiswa, mereka akan dibagi menjadi 4 kelompok, sehingga masing-masing kelompok beranggotakan 10 orang calon mahasiswa. Setiap kelompok menunjuk salah seorang untuk menjadi ketua dan wakil ketua yang nantinya akan bertanggung jawab atas kelompoknya.


******


Acara pembekalan Ospek telah selesai, Nadia telah mencatat semua bahan atau barang-barang yang harus dibawa atau dipakai untuk besok hari Senin, hari pertama Ospek. Namun, ia bingung mau mencari barang-barang itu semua di mana, sedang ia sendiri belum mengenal seluk-beluk kota ini. Di kampus ini yang ia kenal baru Rayan, itupun Nadia tidak tahu nomor teleponnya. Oh iya, di tempat kostnya kan ada satu kakak angkatannya kuliah di tempat Nadia kuliah juga, tetapi Nadia belum begitu mengenalnya. Entah, ia bisa dimintai bantuan atau tidak.


Nadia belum beranjak dari bangkunya, sementara teman-teman sekelasnya sudah berbondong-bondong ke luar dari kelas.


"Hei! Melamun aja, kamu yang tadi satu kelompok sama aku kan?" tiba-tiba seorang gadis menepuk pundaknya dan tanpa permisi duduk di samping Nadia.


Nadia menoleh menghadap gadis yang sekarang duduk di samping kirinya. "Eh, iya. Aku masih bingung mencari semua barang-barang ini di mana? Sedang aku belum mengenal kota ini," ungkapnya menunjuk catatan di blok notenya.


"Em, mau hunting sekarang? Kan masih ada dua hari lagi, besok pagi hari Sabtu dan besoknya Minggu," tawar gadis itu.


"Kamu ngajak aku? Iya sekarang aja, biar besok pagi udah tenang," tanya Nadia antusias.


"Oke, nama kamu siapa tadi? Asa ...,"


Nadia mengulurkan tangannya. "Asa Nahdiana, panggil saja Nadia. Nama kamu?"


"Prima," ucap gadis itu menjabat uluran tangan Nadia. "Kamu bawa kendaraan?" tanyanya kemudian.


"Tidak, kostan aku dekat kok dari kampus ini," sahut Nadia.

__ADS_1


"Oh, ya? Kamu bisa pinjam helm nggak? Soalnya aku bawa motor, tetapi hanya bawa satu helm."


"Mampir ke tempat kost aku dulu saja ya, Prim," usul Nadia.


"Ayo!" ajak Prima dan dia langsung berdiri menunggu Nadia bangkit.


Mereka berdua keluar dari ruangan melangkah menyusuri lorong menuju ke tempat parkir motor. Lalu berboncengan menuju ke tempat kost Nadia untuk meminjam helm. Namun sesampai di tempat kost Nadia, mereka tidak langsung ke luar.


"Sebentar, Nadia. Kita pahami dulu perintahnya, lalu kita catat barang-barang yang harus kita beli. Nanti atau besok baru kita beli barang-barang tersebut," usul Prima yang sudah duduk di teras.


"Oke, aku ambilkan minum dulu ya," ucap Nadia menyetujui.


Nadia menaruh tas punggungnya di kursi, lalu masuk ke dalam rumah, tidak lama kemudian ke luar lagi dengan 2 buah gelas kosong dan teko berisi air putih serta cemilan di toples.


"Coba buka buku catatan kamu," pinta Prima sambil menuang air putih ke dalam gelas.


Nadia menuruti apa yang diminta prima, mengambil blok notenya dari dalam tas. Kemudian membacanya. "Ada 10 perintah, yang pertama tentang pakaian dan aksesoris yang harus kita pakai. Ah harusnya tadi kita bahas dulu bareng kelompok kita maksud kalimat-kalimat ini apa?" sesalnya.


"Mau gimana lagi, mereka udah pada ngacir duluan," timpal Prima. "Oh iya, teman kost kamu ada yang masih kuliah enggak?mungkin bisa membantu," cetus Prima.


"Ada cewek kakak angkatan kita, bentar ya," sahut Nadia kemudian masuk ke dalam rumah. Di ruang tengah bertemu dengan Mbak Rumi. "Mbak Rumi, lihat Mbak Nisa enggak?" tanyanya.


"Tadi kayaknya dijemput pacarnya jalan-jalan dech," jawab Mbak Rumi.


"Yah," sesal Nadia.


"Ada apa?"


"Kamu ini ada-ada saja, Mbak Rumi kan enggak pernah makan bangku kuliahan, Nad."


"Ini juga bukan pelajaran kuliah kok, Mbak. Perintahnya itu pada nyeleneh, bikin pusing. Kalau salah nanti dapat hukuman," jelas Nadia.


"Coba, mana perintahnya. Di sini saja sambil nonton tivi. Ajak teman kamu masuk," cetus Mbak Rumi.


"Iya, tunggu bentar, Mbak. Aku panggil Prima dulu," pamit Nadia.


"Namanya Prima? Kok mirip artis film laga ya," seloroh Mbak Rumi diiringi tawa tipis.


Nadia tidak menghiraukan tawa dari ibu kostnya tersebut, ia keluar hendak memanggil Prima untuk masuk ke dalam rumah. Tidak lama kemudian mereka masuk beriringan dengan Nadia membawa nampan berisi minuman dan cemilan yang dibawa keluar oleh Nadia tadi. Mereka duduk di sofa di samping Rumi.


Akhirnya mereka bisa menyelesaikan perintah yang berupa teka-teki tersebut. Sekarang sudah tercatat di blok note Nadia daftar barang-barang yang harus dibeli Mereka untuk keperluan hari pertama Ospek. Karena waktu sudah sore dan barang-barang tersebut kebanyakan hanya ada di pasar tradisional, sebenarnya di mall sih banyak, tetapi harganya tidak sesuai untuk kantong mereka, maka mereka memutuskan untuk mencarinya besok pagi. Prima pamit untuk segera pulang ke rumah dan besok pagi akan menjemput Nadia untuk berangkat mencari barang-barang di pasar tradisional.


*****


Ospek atau MPLK (Masa pengenalan lingkungan Kampus) hari pertama telah tiba. Sebelum pukul tujuh pagi calon mahasiswa baru sudah harus berada di lapangan untuk melaksanakan apel pagi. Setelah apel pagi selesai, mereka berkumpul di aula untuk mengikuti upacara pembukaan Ospek.


Nadia begitu terpukau dengan seseorang yang berpidato mewakili dosen pada upacara pembukaan. 'Dia dosen yang waktu itu, benar-benar mirip Mas Rayan, tetapi rahangnya lebih tegas, sementara Mas Rayan agak chubby. Ternyata namanya Rasya, pasti dia sudah punya istri dan anak.' Nadia hanya berbicara dalam hati sambil memperhatikan orang yang saat ini sedang berpidato mewakili dosen tersebut.


Ospek hari ini usai pukul 15.00 WIB, Nadia dan Prima berjalan menyusuri lorong menuju ke tempat parkir kendaraan.


"Mas Rayan?" sapa Nadia pada seorang pemuda yang bersandar di dinding seperti sedang menunggu seseorang.

__ADS_1


Pemuda itu menoleh, "Nadia, temani aku cari buku untuk bahan referensi skripsi, yuk!" ajaknya.


"Wah, kebetulan aku mau nyari barang untuk tugas Ospek besok bareng teman aku, Mas. Kita bisa bareng, Nih kenalin taman aku, Mas. Namanya Prima," ucap Nadia sumpringah. "Prima, kenalin ini Mas Rayan," beralih ke Prima. Rayan dan Prima pun saling menjabat tangan dan menyebut nama masing-masing.


"Aku bonceng Prima saja ya, Mas. Kita mau kemana?" tanya Nadia.


"Siniin HP kamu, biar nanti aku mudah untuk hubungi," pinta Rayan.


"Oh iya, aku belum punya nomor HP Mas Rayan." Nadia merogoh ponsel di dalam saku tas punggungnya, lalu menyerahkannya pada Rayan. "Prima, ponsel kamu mana? Sekalian minta nomor Mas Rayan gih," pintanya pada Prima.


"Nanti minta sama kamu aja lah, Nad," tolak Prima.


Rayan membuatkan kontaknya di ponsel Nadia, lalu mengembalikan ponsel tersebut kepada pemiliknya. "Udah aku simpan nomorku, coba kamu missed call dech," pintanya.


Nadia pun menuruti permintaan Rayan, melakukan panggilan pada nomor telepon yang baru disimpan oleh Rayan di ponselnya. Terdengar nada dering di ponsel milik Rayan.


"Udah masuk," ucap Rayan yang langsung menyimpan nomor tersebut di daftar kontaknya.


"Apa kita tidak sebaiknya ke kantin dulu, Mas? Untuk sekedar minum es teh sambil menerjemahkan teka-teki tugasku besok," cetus Nadia.


"Boleh, tetapi jangan lama-lama, nanti kita bisa kemalaman pulangnya. Ayok!" ucap Rayan menyetujui.


Mereka bertiga berjalan menuju ke kantin. Sampai di kantin, memesan 2 gelas es teh dan 1 cangkir capuccino instan.


"Mas Rayan ini siapanya Pak Rasya?" tanya Nadia saat menunggu pesanan mereka.


"Aku mahasiswanya lah, kenapa kamu tiba-tiba tanya seperti itu?" tanya Rayan tanpa guratan kemarahan di wajahnya.


"Maaf, saya penasaran saja. Soalnya wajah kalian begitu mirip," ucap Nadia canggung.


"Kalau begitu, aku saudara kembarannya aja, lah," jawab Rayan sekenanya. Nadia hanya tertawa menanggapi jawaban Rayan.


"Kembaran dari Hongkong? Masa Pak Rasya udah tua, sementara Mas Rayan masih muda," seloroh Nadia.


"Enggak percaya ya sudah," pasrah Rayan.


Prima hanya menjadi pendengar setia, sesekali ia memperhatikan Rayan.


"Oh iya, satu lagi Mas. Meskipun yang pertama jawaban Mas Rayan tidak memuaskan. Kenapa Mas Rayan mengajak aku? Memangnya Mas Rayan tidak punya teman atau Pacar?" tanya Nadia lagi.


Mendengar pertanyaan Nadia, Rayan mendesah pelan. Sementara Prima ikutan fokus menunggu jawaban darinya.


.


.


.


Maaf baru bisa up lagi,


Terima kasih ya yang masih setia, love you all 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2