Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Amukan Linda


__ADS_3

Ballroom hotel Merysta telah dihias dengan mewah meskipun dengan konsep tradisional. Konsep yang diambil dari perpaduan antara budaya dan adat Jawa dengan Sunda untuk dipersembahkan kepada pasangan pengantin antara putri pemilik hotel dengan General Manager hotel itu sendiri.


Pernikahan antara Kusumaning Ayu Aghni Kamalia binti Ardiansyah dengan Raden Bagus Muhammad Nadhif bin Gunawan Salim adalah pernikahan yang paling meriah di antara saudara-saudaranya yang lain bahkan yang terjadi di Merysta Hotel.


Tamu undangan berasal dari berbagai kalangan. Dari keluarga, rekan bisnis Tuan Ardiansyah dan Bramantyo sampai Pak Ardan bahkan Keluarga dan sanak famili Pak Gunawan Salim selaku besan tidak luput diundang.


Kedua calon pengantin telah siap. Mereka duduk bersanding berhadapan langsung dengan penghulu dan Tuan Ardi sebagai wali dari Aghni. Temperatur udara kota Bandung yang dingin terasa bertambah dingin di tubuh kedua mempelai terutama bagi Nadhif yang akan mempersunting anak dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja.


Di belakang calon pasangan pengantin di deretan kursi paling depan duduk di tengah, Mamak dan Mimik di damping Rasya di sebelah kanan dan Nandito di sebelah kiri.


Sementara Farel yang tadi datang ke ballroom bersama Rasya duduk di antara deretan kursi yang ditempati oleh rombongan keluarga mempelai wanita. Di deretan kursi paling depan nampak Dewi didampingi Bram dan Ardan serta istrinya.


"Nadia belum sampai juga, Sya?" tanya Mimik kepada menantunya


"Belum, Mik. Dia baru sarapan tadi saat Rasya turun," sahut laki-laki itu.


"Acaranya sebentar lagi mulai loh," Mimik mengingatkan.


"Tidak apa-apa, Mik. Kasihan dia, sejak tadi malam ngidam es krim belum sempat menikmatinya, eh tadi pagi malah mau ditangkap polisi," timpal Rasya. "Lagian kalau sampai terlewat pas kang Nadhif ijab qobul mungkin itu sudah menjadi karmanya kang Nadhif kan, Mik?"


"Maksud kamu apa, Sya? Karma?" Mimik menoleh ke arah Rasya.


"Maksud Rasya, dulu saat kami menikah Kang Nadhif tidak pulang untuk menyaksikan dan sekarang kalau Nadia tidak sempat menyaksikan Kang Nadhif saat ijab qobul ya mungkin sudah karma begitu. Mik," imbuhnya yang membuat jari Mimik mendarat di lengan Rasya yang tertutup baju Koko.


"Bisa wae kamu, Sya."


"Ah, Mimik."


Terdengar tawa dari bibir Mimik dan Rasya. Mimik tidak habis pikir jika ternyata Rasya yang kelihatannya adalah orang yang serius ternyata bisa juga percaya tentang karma. Padahal kejadiannya tidak seperti itu, Rasya hanya tidak ingin Mimik menahan perasaan karena khawatir dengan putra pertamanya yang akan mengucapkan ijab qobul.


Sesaat pandangan para hadirin terpusat ke arah pintu masuk dari arah depan. Padahal mempelai pengantin wanita telah duduk di samping calon mempelai pria. Pak penghulu pun sedang mempersiapkan berkas-berkas yang nanti akan ditandatangani oleh kedua mempelai. Lalu siapa yang menjadi pusat perhatian saat ini?


Dua perempuan berjalan dengan anggun berbalut seragam Bridesmaids berwarna lavender membuat kecantikan keduanya terpancar paripurna.


Rasya pun seperti terdorong untuk memutar kepalanya 45 derajat searah jarum jam. Ia juga tidak menyadari siapa yang datang jika saja kedua perempuan itu tidak duduk di deretan bangku di belakangnya. Kedua perempuan itu adalah Nindya dan Nadia. Istrinya itu memang tubuhnya sekarang lebih berisi tidak seperti sebelumnya yang seperti kutilang darat. Membuat perempuan itu terlihat lebih seksi meskipun pakaian yang dipakainya tidak ketat sama sekali, tetapi aura kecantikannya semakin terpancar.


Rasya menggeser bangkunya demi menutupi postur tubuh istrinya yang masih saja menjadi perhatian kaum Adam yang hadir di ballroom tersebut.


Sang Pranoto acoro mulai menempatkan diri, memulai acara dengan penuh khidmad meski masih diselingi dengan humor. Acara pun berjalan dengan lancar hingga Nadhif dapat mengucapkan kalimat sakralnya dengan satu tarikan napas dan terdengar kata "Sah" dari para saksi.


Setelah do'a dipanjatkan langsung diadakan resepsi pernikahan. Nadhif dan istrinya duduk di kursi pelaminan diapit oleh orang tua dari kedua mempelai.


Saat Nadia hendak mengucapkan selamat kepada sang kakak, Rasya dengan posesif memeluk pinggang istrinya. Ia masih trahuma dengan kejadian yang menimpa wanitanya tersebut pada saat resepsi pernikahan antara Rayan dan Prima hingga membuatnya kehilangan calon bayi yang dikandungnya.


"Sudah tahu lagi hamil kenapa mesti pakai sepatu hak tinggi begini sih?" sungut Rasya yang khawatir kalau Nadia kakinya sampai keseleo karena memakai sepatu hak tinggi dan terjadi sesuatu pada kandungannya.


"Lha wong cuma ini adanya mau gimana lagi? Atau Nanad harus ganti pakai sandal jepit yang tadi pagi kupakai?" cicit Nadia.

__ADS_1


"Udah tidak usah, malah repot bolak-balik naik-turun lift," cegah Rasya.


Saat melangkah menuju ke pelaminan Nadia sempat melihat stand es krim di sisi kirinya, air liurnya hampir saja jatuh. "Mas, mau es krim," rengeknya.


"Sebentar, kita kasih ucapan selamat dulu kepada Kang Nadhif," ucap Rasya.


"Habis kasih ucapan selamat foto-foto, nanti ketemu teman terus ngobrol ngalor ngidul jadi lupa deh," sungut Nadia.


Rasya mencoba tersenyum menghadapi wanita hamil di sampingnya yang mungkin bisa menguras energi karena emosi. Perubahan hormon pada perempuan hamil bisa saja mempengaruhi moodnya. Rasya harus mempersiapkan diri menjadi suami siaga semenjak awal kehamilan.


"Ya udah ayo kita makan es krim dulu. Mas takut bayi kita ngeces nanti kalau tidak kita turuti keinginannya."


Nadia pun tersenyum begitu manis semanis gulali membuat Rasya semakin klepek-klepek dibuatnya. Timbul keinginan Rasya untuk melepaskan rindu yang sudah semakin menggunung bersama istrinya yang tersenyum manis tersebut. Ia ingin segera pergi meninggalkan pesta pernikahan ini dan kembali ke kamar hotel menghabiskan waktu hanya berdua di sana. Namun, ia harus menahan kerinduannya tersebut demi mempertahankan restu dari keluarga istrinya tersebut. Bagaimana mungkin Rasya menculik Nadia dan mengurungnya di kamar hotel sementara di ballroom ini keluarganya sedang berkumpul. Apalagi yang menikah saat ini adalah kakak laki-laki Nadia, yang menjadi wali kedua bagi Nadia.


Nadia dengan senyum mengembang berjalan tergesa menarik lengan Rasya menuju ke stand es krim.


"Pelan-pelan jalannya, Sayang. Es krimnya masih banyak belum mau habis. Nggak akan lari juga kalau kita jalan pelan," cegah Rasya.


"Tapi Nanad sudah kepengen banget, Mas," kekeuh Nadia.


Rasya hanya bisa membuang napas kasar. Sampai di depan stand es krim, Nadia kurang puas hanya dengan melihat cup wadah es krim yang kecil-kecil.


"Mas cup es krimnya kecil-kecil, Nanad nggak puas kalau makan es krim segitu. Ambilkan mangkuk bakso yang di sana ya, ya, ya," rayu Nadia kepada Rasya dengan puppy eyes menunjuk stand penjual bakso.


Rasya pun menuruti kemauan istrinya tanpa membantah sekalipun meskipun di hatinya memendam rasa kesal. Ia melangkah menuju ke stand penjual bakso dan meminta sebuah mangkuk juga sendok kepada pelayan di sana lalu kembali lagi ke stand es krim. Pria itu langsung menyerahkan mangkuk kepada pelayan stand es krim.


"Mbak, istri saya sedang hamil. Dia lagi ngidam pingin makan es krim. Tolong isi mangkuk ini seperti gambar ini ya," pinta Rasya kepada maid es krim dengan menunjukkan layar ponsel barunya.


Rasya menggandeng lengan istrinya untuk duduk di sebuah kursi sambil menunggu es krimnya jadi.


"Mas beli hape baru ya?" tanya Nadia yang baru menyadari ponsel suaminya berbeda sejak tadi menunjukkannya kepada pelayan es krim.


"Iya, yang lama kan Mas tinggal di laci ruang rektor," sahut Rasya.


"Cuma beli satu?" Rajuk Nadia.


Rasya yang sudah bisa membaca situasi pun langsung menjawab. "Dua, yang satu masih di Jakarta."


"Kok ditinggal? Kalau ketemu sama Linda bagaimana?" Nadia khawatir.


"Mas simpan ditempat yang aman kok, Sayang."


"Syukurlah," Nadia mendesah lega.


'Aman, karena masih ada di counter he he he,' batin Rasya menambahkan.


Es krim yang dipesan Rasya datang, pelayan meletakkan mangkuk berisi es krim tersebut di meja di hadapan Nadia. Nadia dengan wajah ceria menikmati setiap suapan es krim ke dalam mulutnya. Rasya tidak henti-hentinya menyunggingkan senyum memerhatikan istrinya yang memakan es krim seperti anak kecil di hadapannya. Es krim itu belepotan ke bibir Nadia. Jika saja tidak berada di tempat umum mungkin ia sudah membantu membersihkan es krim itu dengan bibirnya. Tentu saja semua itu hanya ada dalam pikiran Rasya. Dasar Rasya!

__ADS_1


*****


Matahari tengah merangkak naik ke atas ketika jarum jam hampir menunjuk angka 10. Hari ini langit begitu cerah menggantikan kemarin yang seharian dirundung hujan, tetapi masih terlihat sisanya dari air yang menggenang di jalan yang berlubang.


Seorang perempuan hamil nampak berjalan memasuki gerbang sebuah kampus universitas swasta ternama di Jakarta. Ia lebih dulu menuju ke area parkir kendaraan khusus untuk pegawai dan karyawan. Memperhatikan satu persatu mobil yang terparkir di sana.


"Mobil Mas Rasya ada di sini, berarti dia memang masih di sini. Mungkin dia sibuk, tapi aku harus menemuinya untuk mendampingiku kontrol ke dokter kandungan," gumam Linda.


Linda menyusuri lorong dan juga anak tangga untuk mencapai ke ruangan dosen yang berada di lantai dua, tetapi tidak lebih dari 15 menit perempuan itu sudah sampai di depan ruang dosen. Kini ia mulai memegang handel pintu untuk membukanya. Pintu ruang dosen memang bisa dibuka hanya dengan di dorong, begitupun dengan pintu ruang rektor. Namun, pintu tersebut kali ini memang sedang dikunci. Teman-teman di kantornya diminta Rasya agar bilang bahwa Rasya sedang lembur mengerjakan tugas yang sebentar lagi deadline kepada Linda kalau perempuan itu datang nanti.


Mendapati ruangan Rasya yang tertutup, Linda mengetuk dan memanggil namanya. Namun tidak ada tanda-tanda kehidupan dari dalam. Linda mulai menggedor pintu sambil melakukan panggilan terhadap Rasya, tetapi kembali tidak ada hasil yang ia dapatkan.


"Linda! Pak Rasya sedang sibuk, jangan ganggu dia!" seru Tomi yang baru saja tiba menginterupsi.


"Bohong! Kamu saudaranya, makanya membelanya 'kan?" elak Linda. "Mas Rasya! kalau kamu ada di dalam keluar! Kalau kamu tidak keluar -" Linda mulai berteriak.


"Apa bedanya sama kamu? Kita sama-sama saudaranya bukan? Kenapa kamu harus terobsesi dengan saudara sepupu kamu sendiri?" Tomi menghela napas.


Tomi dan Linda sama-sama saudara sepupu Rasya. Tomi itu anaknya Roos Milarsih adik kandung Roos Nastiti - ibunya Rasya. Sementara Ida Linda anak dari Purnomo adiknya Pak Baskoro.


Linda tidak peduli lagi dengan ucapan Tomi, ia menggedor pintu ruangan Rasya yang terbuat dari kaca dan aluminium itu. Semua orang menahan napas. Kalau ditendang oleh seorang perempuan sekalipun pintu itu pasti akan ambruk.


"Mas! Buka pintunya kalau kamu di dalam!" teriak Linda.


"He kalian, berikan padaku kunci ruangan ini! Kalau tidak akan ku hancurkan pintu ini dan ruangan ini," ancam perempuan gila itu.


"Sabar, Linda. Ayo duduk dulu! Sebentar lagi Pak Rasya sampai kok. Dia sedang mengisi kuliah di kelas," rayu rekan kerja Rasya.


"Kalau dalam waktu lima menit kalian tidak memberikan kunci pintu ruangan Mas Rasya, aku akan obrak-abrik tempat ini," ancam Linda lagi.


Akhirnya seorang penjaga kampus datang untuk membuka pintu karena ada seseorang yang memberi tahu. Linda langsung melesat masuk ke dalam ruangan Rasya, tetapi tidak ditemukan Rasya di ruangan tersebut. Padahal barusan ia mengetahui keberadaan ponsel pria itu di ruangan tersebut. Linda memeriksa ke seluruh ruangan. Ia lalu membuka laci meja kerja Rasya. Perempuan itu kaget mendapati ponsel Rasya dalam keadaan mati.


Linda tidak terima dalam keadaan hamil susah payah ia mencari Rasya, tetapi tidak menemukan pria itu. Apalagi ia menemukan ponsel Rasya dalam keadaan mati. Dalam keadaan emosi dengan tingkat paling tinggi perempuan yang kini tengah hamil lima bulan tersebut membanting ponsel milik Rasya yang ditemukannya di laci meja hingga hancur berkeping-keping.


Belum puas ia membanting ponsel android milik Rasya, perempuan itu juga melempar barang-barang yang ada di atas meja. Emosinya menjadi kian bertambah manakala ia mendapati foto pernikahan Rasya dengan Nadia yang terpasang dalam bingkai, tetapi bingkai itu sengaja ditutup dan ditumpuk bersama berkas-berkas yang lain. Linda membanting bingkai tersebut ke tembok. Dan bunyi yang dihasilkan amat sangat gaduh.


Tiba-tiba datang dua orang satpam menyergap tubuh Linda dan seorang tenaga medis menyuntikkan cairan penenang ke tubuh wanita itu. Linda pun perlahan tidak berdaya.


"Maaf Pak, Bu, atas semua kekacauan yang telah istri saya perbuat," ucap Fahri yang datang bersama petugas medis.


Fahri langsung datang ke kampus setelah tadi mendapat telepon dari Indri - asisten rumah tangganya saat di kantor.


Fahri dengan dibantu oleh petugas medis dan satpam membopong Linda menuju ke mobilnya untuk dibawa ke rumah sakit.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2